Islami

Tesis-tesis Dasar Islam terkait Perempuan; Melempengkan Prasangka yang Tak Tepat

Arina.id — Pandangan Islam terkait perempuan selama ini masih kerap disalahpahami beberapa pihak. Sebagian dari mereka memandang bahwa Islam adalah agama yang tidak ramah perempuan. Benarkah demikian?  Dalam tulisan ini, saya akan mencoba menyajikan beberapa tesis dasar Islam terkait perempuan. Tesis ini yang kemudian menjadi perspektif utama dalam banyak aspek dalam Islam. Saya menyebut ada delapan

Arina.id — Pandangan Islam terkait perempuan selama ini masih kerap disalahpahami beberapa pihak. Sebagian dari mereka memandang bahwa Islam adalah agama yang tidak ramah perempuan. Benarkah demikian? 

Dalam tulisan ini, saya akan mencoba menyajikan beberapa tesis dasar Islam terkait perempuan. Tesis ini yang kemudian menjadi perspektif utama dalam banyak aspek dalam Islam. Saya menyebut ada delapan tesis dasar Islam terkait posisi perempuan. Simaklah tulisan ini! 

Pertama, membersihkan nama perempuan dalam peristiwa kosmis terusirnya nabi Adam dari surga. Sementara ini ada anggapan bahwa nabi Adam terusir dari surga karena digoda oleh Hawa untuk memakan “buah keabadian”. 

Mitos ini terus berkembang hingga kini dan pada akhirnya menjadikan perempuan sebagai sumber kesialan. Padahal dalam al-Qur’an, terusirnya Adam adalah sebab digoda setan bukan Hawa. Dan setan pula yang membuat dua manusia pertama itu keluar dari surga. Al-Qur’an memberi kesaksian: 

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ

Artinya: Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga). (Qs. Al-A’raf [7]: 20)

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ

Artinya: Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan“. (Qs. Al-Baqarah [2]: 36)

Kedua, al-Qur’an menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki nilai kemanusiaan yang sama dan setara. Laki-laki dan perempuan tidak ada yang nilai kemanusiaan yang melebihi satu dengan lainnya. Allah Swt. berfirman dalam beberapa tempat dalam al-Qur’an:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً

Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. (Qs. Al-Nisa’ [4]: 1) 

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ 

Artinya: Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui. (Qs. Al-An’am [6]: 98)

Ketiga, nilai pembeda dan menjadi kemuliaan bagi seseorang bukan justru dari jenis kelamin tetapi ketakwaan pada hati masing-masing. Dalam al-Qur’an ditegaskan bahwa kemulian seseorang (akromiyah al-Insan) itu ditetapkan berdasarkan ketakwaan bukan bergantung pada jenis kelamin. Allah Swt. berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (al-Hujarat [49]: 13) 

Keempat, dalam al-Qur’an reward dan punnishmen tidak terkait dengan jenis kelamin. Manusia baik laki-laki ataupun perempuan berhak mendapat apresiasi sekaligus berhak mendapatkan punnishmen. Ada beberapa ayat yang berkomentar soal ini. misalnya: 

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ 

Artinya: Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Qs. Al-Nahl [16]: 97)

Dan firman Allah yang lain: 

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

Artinya: Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizalimi sedikit pun. (Qs. Al-Nisa’ [4]: 124)

Dan firman Allah Swt.:

مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga. (Qs. Ghafir [40]: 40)

Tiga ayat di atas setidaknya memberikan gambaran bagaimana pandangan al-Qur’an yang adil terhadap laki-laki dan perempuan. Apresiasi dan ancaman tidak berdasarkan jenis kelamin melainkan berdasar amal perbuatan. 

Kelima, memperbaiki sistem pernikahan jahiliyah yang merugikan perempuan. Misalnya dalam masalah poligami, Islam hadir bagaimana mengatur poligami menjadi lebih bermartabat. Bahwa poligami boleh asal memenuhi syarat. Bahkan dalam beberapa kitab kuning seperti kitab Mughni al-Muhtaj karya al-Khatib al-Syirbini, salah satu kitab yang popular dikaji di pesantren disebut bahwa konsep utama dalam pernikahan dalam monogami.

Belum lagi dalam al-Quran ditegaskan berkali-kali bagaimana seharusnya pernikahan dilaksanakan, tentang sakralitas pernikahan dan lain-lain. Misal seperti disebut bahwa pernikahan adalah “Mitsaqan Ghalidha” (ikatan yang kokoh), bahwa dalam pernikahan harus ada  “muasyarah bi al-Ma’ruf” (relasi yang patut/baik) dan beberapa ayat dan hadis lain yang mencoba mendekonstruksi pernikahan di era jahiliyah yang tak bermartabat menuju pernikahan yang bermartabat.

Keenam, Islam memerangi tradisi mengubur dan mendiskriminasi anak perempuan. Al-Qur’an mula-mula menyebut tradisi itu sebagai tradisi yang buruk. 

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ 

Artinya: Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung hinaan ataukah akan menguburkan ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu”. (Qs. Al-Nahl [16]: 58-59)

Dalam ayat lain, Allah berfirman: 

 قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ قَتَلُوا أَوْلَادَهُمْ سَفَهًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui”. (Qs. Al-An’am [6]: 140)

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin tepatnya pada pembahasan adab melahirkan (adab al-Wiladah) menyebut bahwa salah satu bentuk adab pada Allah Swt saat melahirkan adalah tidak membeda-bedakan rasa bahagia dan bentuk syukur pada Allah Swt apapun jenis kelamin anak. Tidak seperti tradisi pada waktu itu, yang jika lahir laki-laki berbahagia dan jika lahir perempuan berduka. Al-Ghazali menulis: 

الْأَوَّلُ أَنْ لَا يَكْثُرَ فَرَحُهُ بِالذَّكَرِ وَحُزْنُهُ بالأنثى فإنه لا يدري الخيرة فِي أَيِّهِمَا فَكَمْ مِنْ صَاحِبِ ابْنٍ يَتَمَنَّى أَنْ لَا يَكُونَ لَهُ أَوْ يَتَمَنَّى أَنْ يكون بنتاً بل السلامة منهن أكثر والثواب فيهن اجزل 

Artinya: Adab yang pertama, tidak bahagia berlebihan saat melahirkan anak laki-laki dan sedih berlebihan saat lahir anak perempuan. Sebab ia tidak tahu di mana di antara keduanya yang lebih baik. Betapa banyak orang yang memiliki anak laki-laki berharap dia tidak memliki anak tersebut dan justru berharap memiliki anak perempuan. Bahkan memiliki anak perempuan potensi selamatnya lebih banyak dan potensi pahalanya lebih besar.

Ketujuh, Islam memerintahkan untuk memuliakan perempuan apapun posisi mereka: ibu, istri dan sebagai anak. Terkait perintah al-Qur’an untuk menghormati ibu misalnya bisa dipahami dari ayat:

 وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ 

Artinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Qs. Luqman [31]: 14)

Sementara untuk istri, misalnya dipahami dari hadis nabi:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Dari Ibnu Abbas, dari nabi Saw.: Paling baiknya kalian adalah mereka yang paling baik pada keluarganya dan aku adalah paling baiknya manusia pada keluargaku”

عنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِنْ أَكْمَلِ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَلْطَفُهُمْ بِأَهْلِهِ

Artinya: Dari Aisyah, ia berkata: Nabi bersabda: “Sesungguhnya  termasuk paling sempurnanya iman orang mukmin adalah mereka yang paling baik akhlaknya dan paling lembut terhadap keluarganya”..

Dan terahir sebagai anak perempuan.

قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَيُّمَا رَجُلٍ كَانَتْ عِنْدَهُ وَلِيدَةٌ، فَعَلَّمَهَا فَأَحْسَنَ تَعْلِيمَهَا، وَأَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا، ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ،

Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Dimana ada seorang laki-laki yang memiliki anak perempuan, lalu ia mengajarinya dengan sebaik-baiknya pelajaran, mendidiknya dengan sebaik-baiknya pendidikan kemudian dia menikahkannya maka ia mendapatkan dua pahala”.

Kedelapan, perempuan sebagaimana laki-laki juga memiliki hak yang sama dalam pendidikan, sosial, ekonomi dan politik. Dalam soal pendidikan misalnya, Islam begitu memperhatikan. Bahwa perintah mencari ilmu dan membaca (iqra’) tak terbatas dengan jenis kelamin tertentu melaikan bersifat umum; laki-laki dan perempuan.

Dalam Hadis riwayat al-Khudri diceritakan di mana para sahabat perempuan meminta waktu khusus kepada nabi agar mereka bisa belajar tentang hukum-hukum dan ajaran agama. Hadis itu secara lengkap berbunyi:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ: جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ الرِّجَالُ بِحَدِيثِكَ، فَاجْعَلْ لَنَا مِنْ نَفْسِكَ يَوْمًا نَأْتِيكَ فِيهِ تُعَلِّمَنَا مِمَّا عَلَّمَكَ اللَّهُ، فَقَالَ: «اجْتَمِعْنَ فِي يَوْمِ كَذَا وَكَذَا فِي مَكَانِ كَذَا وَكَذَا»، فَاجْتَمَعْنَ، فَأَتَاهُنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَعَلَّمَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَهُ اللَّهُ،

 Artinya: Dari Abu Sa’id al-Khudri: datang perempuan kepada nabi Saw. dan berkata: Wahai Rasulullah, laki-laki pergi (membawa) hadismu maka jadikanlah olehmu bagi kami sebuah hari dimana kami mendatangimu, di hari itu anda mengajari kami apa-apa yang diajarkan oleh Allah Swt. lalu nabi menjawab: Berkumpullah di hari ini dan ini di tempat ini dan ini. lalu perempuan itu berkumpul lalu rasul mendatangi mereka dan mengajarkan apa yang diajarkan oleh Allah Swt”.

Sementara hak sosial yang perempuan juga berhak mendapatkan hak-hak sosialnya juga memiliki argumen dalam Islam. Rekognisi hak sosial perempuan adalah ejawantah dari firman Allah Swt.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Qs. Al-Nahl [16]: 97)

Dalam sebuah hadis diceritakan:

عن عمرو بن مخراق قال: مر على عائشة رجل ذو هيئة وهي تأكل فدعته فقعد معها، ومر آخر فأعطته كسرة، فقيل لها؟ فقالت: أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن ننزل الناس منازلهم.

Artinya: Dari Amr bin Mikhraq dia berkata: Seseorang yang memiliki pengaruh berjalan bertemu dengan Aisyah sementara Aisyah sedang makan. Lalu Aisyah memanggilnya dan ia duduk bersamanya dan lewat kembali orang lain lalu Aisyah memberikan potongan roti padanya. Aisyah ditanya soal itu? Itu menjawab: “Kami diperintah untuk memosisikan orang di posisinya”.

Hadis tersebut dan beberapa hadis serupa yang secara spirit sama dengannya menurut Khadijah al-Nabrawi adalah bukti bahwa Islam memberikan hak kepada perempuan untuk aspek sosial. Bagaimana ia memiliki hak dan bisa menempati posisi sebagaimana laki-laki.

Termasuk hak perempuan yang diakui oleh Islam adalah hak politik dan hak ekonomi. Hak politik perempuan dalam Islam adalah bagaimana suara mereka juga didengarkan, diakomodir dan dijadikan pertimbangkan oleh nabi. Misalnya dalam kejadian Fath Mekkah dimana Ummi Hani’, saudari kandung Abi Thalib, meminta jaminan keselamatan atas saudaranya kepada nabi. Dan nabi menjawab:

قَدْ أَجَرْنَا مَنْ أَجَرْتِ يَا أُمَّ هَانِئ

Artinya: Aku menjamin orang yang kau (jamin) keselamatannya Wahai Ummu Hani’”.

Sementara hak ekonomi perempuan didasarkan pada sebuah hadis yang berbunyi:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُمِّ هَانِئٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ لَهَا: «اتَّخِذِي غَنَمًا فَإِنَّ فِيهَا بَرَكَةً

Artinya: Abu Bakar bin Syaibah menceritakan kepadaku. Dia berkata: Waki’ menceritakan dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Ummi Hani’ sesungguhnya nabi berkata padanya: “Wahai Ummu hani, jadikanlah (rawat dan ternaklah) olehmu kambing sebagai ternak karena di dalamnya ada keberkahan”.

Termasuk yang perlu ditegaskan dalam pembahasan ini adalah terkait kebolehan perempuan atau istri beraktivitas atau bekerja di luar rumah. Syaikh Wahbah al-Zuhaili menyebut bahwa pekerjaan adalah hak naluriah manusia. Ia adalah keistimewaan dan kemulian. Dalam bekerja, tak ada bedanya antara laki-laki dan perempuan; baik pekerjaan tersebut dalam ranah keagamaan atau keduniaan.

Penulis al-Tafsir al-Munir: fi al-Aqidah wa al-Syariah wa al-Manhaj itu melanjutkan: baik pekerjaan tersebut pekerjaan dalam atau di luar rumah. Itu semua adalah pekerjaan dan tiap pekerjaan adalah ibadah. Perempuan bekerja itu disyariatkan selama senantiasa berpegang dengan aturan-aturan agama yang sudah ada.

Masih dalam kitab yang sama, Wahbah menceritakan macam-macam pekerjaan atau aktivitas yang bisa dikerjakan oleh perempuan, seperti pekerjaan perkantoran, pendidikan, pertaniaan, perniagaan, perkebunan, produksi, industri, dan bahkan urusan medis.

Dalam urusan medis misalnya, Wahbah mencontohkan bagaimana banyak sahabat perempuan seperti Rufaidah yang dalam perang Khandaq bertindak sebagai bagian medis. Ia mengobati dan menolong sahabat yang terluka. Termasuk bagaimana perempuan di zaman itu berjasa besar dalam menyiapkan akomodasi dan fasilitas kesehatan bagi para tentara perang.

Sementara dalam bidang perniagaan, konon perempuan-perempuan di zaman nabi juga banyak yang berdagang. Bahkan nabi sendiri yang mengajari banyak perempuan cakap dalam berdagang. Asma’ binti Abu Bakar bahkan seorang importir yang mengimpor dagangannya hingga ke Yaman. Jadi sejak zaman dulu, nabi memberi peluang yang sama bagi perempuan untuk berkontrsibusi bagi para perempuan dalam ranah publik.

Dar al-Ifta’ al-Mishriyah menyebut bahwa:

فللمرأة ان تزاول عملا خارج البيت وبخاصة اذا احتاجت اليه أو كان العمل محتاجا اليها بل يكون ذلك واجبا عليها لاحقا لها

Artinya: Boleh bagi perempuan untuk bekerja di luar rumah, apalagi ia memang membutuhkan pekerjaan itu bahkan terkadang menjadi wajib baginya”.

Pengepul kebahagiaan dari temuan abad modern, berupa listrik, internet dan komputer. Hidup harmonis bersama barisan code dan segelas kopi kenangan.

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?


    Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 226
    Awesome
    Awesome

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 15
    EW
    Ew!

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 12
    FUNNY
    Funny

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 9
    LOL
    Lol

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 98
    Loved
    Loved

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 53
    OMG
    Omg!
Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories