Islami

Dua Pengisah Haji: Madinah dan Mekkah

Pada suatu masa, orang-orang pulang dari Tanah Suci membawa oleh-oleh dibagikan ke saudara, tetangga, dan teman. Oleh-oleh itu dianggap sebagai ikatan kasih dalam babak-babak menjadi manusia-haji. Pulang pun membawa foto-foto (cetak) untuk dilihat orang-orang. Foto itu bukti kehadiran di Tanah Suci. Foto dianggap “mengawetkan” peristiwa dialami di sana dengan beragam penampilan dan adegan. Foto-foto cetak

Pada suatu masa, orang-orang pulang dari Tanah Suci membawa oleh-oleh dibagikan ke saudara, tetangga, dan teman. Oleh-oleh itu dianggap sebagai ikatan kasih dalam babak-babak menjadi manusia-haji. Pulang pun membawa foto-foto (cetak) untuk dilihat orang-orang. Foto itu bukti kehadiran di Tanah Suci. Foto dianggap “mengawetkan” peristiwa dialami di sana dengan beragam penampilan dan adegan. Foto-foto cetak perlahan digantikan foto digital. Di ruang tamu atau ruang keluarga, foto-foto dipajang di dinding mengingatkan penggalan hidup sebagai insan beriman dan bertakwa.

Di pilihan berbeda, orang-orang sebelum berangkat ke Tanah Suci sudah memiliki “tebakan” atau hal-hal bakal dialami dan arus pemaknaan bakal mengalir. Perjalanan religius, perjalanan cerita bergelimang makna. Pilihan membuat album cerita itu berbeda maksud dari pembuatan foto-foto. Kata-kata menjadi kekuatan untuk mengajak orang “masuk” ke pengalaman religius.

Di Indonesia, dua pengarang kondang mewariskan dua buku penting bertema ibadah haji. Mereka menghadirkan diri bukan dalam fiksi tapi pengalaman-pengalaman mengandung unik. Beragam peristiwa memberi keinsafan dan kesadaran atas makna hamba, Tuhan, dunia, iman, kematian, dan lain-lain.

Pada hari-hari menjelang ibadah haji untuk umat Islam di dunia, kita di Indonesia membaca lagi pengisahan diberikan oleh Danarto dan AA Navis. Danarto moncer dalam sastra Indonesia dengan cerita-cerita sufistik. AA Navis berlatar Minangkabau biasa menggubah cerita-cerita mengandung protes sosial dan sindiran keagamaan. Dua pengarang itu naik haji, pulang mereka berbagi pengalaman dan makna tapi bukan mempersembahkan fiksi.

Buku sering cetak ulang itu berjudul Orang Jawa Naik Haji (1984). Danarto berbagai pengalaman mencampur kocak, keharuan, sedih, girang, takjub, bingung, dan lain-lain. Buku tipis tapi membujuk orang-orang agar tak sekadar membawa pulang foto tapi tebar cerita-cerita bermakna.

Danarto mengenang selama berada dalam asrama di Madinah: “Pernah kaki yang takk berniat nakal ini mancal sebotol madu. Akibatnya, kasur-kasur jadi manis. Ibu-ibu yang masak sendiri tak kikuk lagi menaruh sayur-mayurnya bertumpuk dengan sepatu dan sandal jepit.” Dulu, orang-orang naik haji mendapat fasilitas-fasilitas sederhana. Di situ, mereka mengusahakan diri sabar tanpa omelan-omelan. Ketulusan tak boleh dirusak dengan keluhan, maki-maki, dan mengumbar cemooh. Hidup sederhana dan menanggungkan keterbatasan justru menjadikan mereka makin mengerti gejolak-gejolak beribadah.

Kita membaca buku itu kadang tertawa. Danarto jujur bercerita segala peristiwa lugu dan lucu. Babak-babak ibadah haji memunculkan sisi-sisi manusiawi. Pengakuan mengandung kebaikan selama Danarto di Masjid Nabawi: “Pagi hari, saya punya tugas khusus dari seroang ibu (satu rombongan) untuk membagi-bagikan peci sebagai kaulnya telah dipanggul untuk menunaikan ibadah haji. Tiap tukang sapu masjid saya sodori peci itu langsung ke tangannya, tanpa berucap sepatah pun. Yang saya kasih cuma bengong. Ada ukuran kecil yang langsung saya pasangkan ke kepala seorang anak yang lalu tersenyum lebar. Barangkali amal ibu inilah yang sedikit banyak ikut menaikkan nama harum jemaah Indonesia di mata bangsa Arab.” Ia memudahkan membuat konklusi. Kita mesem mengetahui gerak Danarto membagikan peci dalam situasi ramai.

Pembaca perlu menemukan perbedaan pengalaman dengan membuka buku berjudul Surat dan Kenangan Haji (1996) susunan AA Navis. Di Masjid Nabawi, AA Navis berusaha meningkatkan ibadah meski sadar pelbagai kesulitan. Ia menunaikan shalat, mendapat tempat di belakang. Kejadian: “Sudah penuh sesak di sana. Jarak antara saf sembahyang menjadi rapat. Sehingga kepala orang di belakang bisa-bisa tabrakan dengan panggul orang di depan di waktu rukuk…” Adegan sempat mau memicu tawa: “Pada saf lain, saya melihat seseorang mengangkat tangannya tinggi-tinggi berdoa yang lama sekali. Di saf depannya, ada orang lagi rukuk. Jika ada Mat Kodak (juru potret) nakal sempat mengambil situasi itu, hasilnya akan menimbulkan banyak tafsir. Saya mau ketawa tapi tiba-tiba ingat bahwa saya lagi dalam melakukan perjalanan haji.”

Di Madinah, jamaah menangis dan tertawa. Kadar bertambah saat mereka berada di Mekkah. Di Masjidil Haram, Danarto menunaikan ibadah dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Kita dikejutkan dengan doa berharap mati. Danarto mengisahkan: “Dua puluh malam telah saya lewatkan dengan tidur di depan Ka’bah atau di lantai Masjidil Haram dengan harapan untuk tidak bangun kembali. Jika doa saya itu diterima Allah, saya bayangkan bagaimana saya melepaskan diri dari daging pakaian saya yang hina dina itu, plong, kelegaan yang luar biasa karena diliputi kasih sayang yang tak berhingga. Lalu, roh saya itu atau apapun namanya, yang telah diampuni Allah berjalan-jalan di surga.” Ia mendambakan kematian terindah. Danarto mengetahui orang-orang pun berdoa kematian. Pengharapan mati di sana itu kelaziman.

Pengamatan dan pengalaman berbeda disampaikan AA Navis: “Sedangkan letak Masjidil Haram seperti terjepit di lembah dua bukit batu yang dijejali oleh berlapis-lapis perumahan sampai hampir ke puncak bukit.” Di situ, ia beribadah dan merasakan ketakjuban. Peristiwa dalam kemudahan dan kesulitan: “Saya bersama isteri telah menikmati pemandangan berkeliling di lantai dua masjid ke arah lantai dasar, di mana Ka’bah berdiri. Mungkin sekitar 1,5 km jauh kelilingnya. Berjalan pelan-pelan sambil melihat suasana orang tawaf atau berzikir ketika menanti waktu sembahyang.”

Ketakjuban itu membuat kita ikut merasakan panas. AA Nabis melihat ratusan ribu orang beribadah di lantai terbuka: “… di bawah marak sinar matahari yang terik dan di atas pantulan panas dari lantai marmer. Mendengar khotbah dan bersembahnyang di bawah terik matahari di sekitar Ka’bah sekalipun, dipercaya banyak jamaah, jauh lebih afdol daripada bersembahyang di relung-relung bangunan masjid yang berudara adem oleh embusan angin kipas listrik atau AC.” Kita mendapat pengisahan berlatar 1990-an. Pada abad XXI, Madinah dan Mekkah telah mengalami perubahan-perubahan besar. Orang-orang beribadah di sana mungkin takjub saat “kemewahan” tampak dibandingkan masa-masa silam.

Dua buku warisan Danarto dan AA Navis pantas dibaca orang-orang dalam perjalanan haji. Bacaan bisa memberi ingatan-ingatan masa lalu. Pengisahan mungkin berpengaruh agar kelak turut membuat tulisan sebagai oleh-oleh dari ibadah haji. Kita menduga sedikit orang mau menulis saat mengetahui kemudahan menghasilkan ratusan foto atau rekaman diri selama berada di Madinah dan Mekkah. Begitu.

Pengepul kebahagiaan dari temuan abad modern, berupa listrik, internet dan komputer. Hidup harmonis bersama barisan code dan segelas kopi kenangan.

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?


    Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 226
    Awesome
    Awesome

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 15
    EW
    Ew!

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 12
    FUNNY
    Funny

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 9
    LOL
    Lol

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 98
    Loved
    Loved

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 53
    OMG
    Omg!
Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories