Islami

Gus Baha Ditanya Umrah atau Haji Dulu? Berarti Itu Orang Ngga Saleh

Arina. id — Gus Baha atau bernama lengkap KH Bahauddin Nursalim, punya kisah menarik seputar hukum berangkat haji dan umrah. Kisah itu berangkat dari pertanyaan salah satu jemaah yang merasa bimbang, apakah ia harus mendahulukan umrah atau menunggu giliran berangkat haji.  Menurut pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul  Qur’an LP3IA di Narukan, Kragan, Rembang, tidak ada dalil yang

Arina.id Gus Baha atau bernama lengkap KH Bahauddin Nursalim, punya kisah menarik seputar hukum berangkat haji dan umrah. Kisah itu berangkat dari pertanyaan salah satu jemaah yang merasa bimbang, apakah ia harus mendahulukan umrah atau menunggu giliran berangkat haji. 

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul  Qur’an LP3IA di Narukan, Kragan, Rembang, tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa umrah itu sunnah. Umrah, kata Gus Baha, juga bisa berstatus wajib.

“Suatu hari ada orang bertanya, ‘Gus saya punya uang Rp25 juta, baiknya umrah apa haji dulu?” kata Gus Baha menirukan.

Mendengar pertanyaan itu, Gus Baha kemudian menimpali. “Kamu jenis orang saleh yang sungguhan atau tidak?” 

Nah, sambung Gus Baha, karena orangnya kebetulan setengah saleh, separuh pelit, maka dia menjawab: “Saya milih haji. Tidak boleh uang 25 juta ini taqdimussunnah alal-fardhi.

Menurut Gus Baha, pikiran yang menyebut taqdimussunnah (mendahulukan umrah karena sunnah), itu berarti pikirannya setengah goblok, sebab umrah sebenarnya juga bisa dihukumi wajib.

Gus Baha justru heran, menstatuskan umrah sunnah itu dari apa? “Kadang kan ada masyarakat yang bilang, ‘Aku umrah apa haji?’ Ya harus haji, umrah kan sunnah.”

Gus Baha mempertanyakan orang-orang yang bilang umrah sunnah itu dari mana dalilnya. “Ada tidak dalil madzhab kita yang mengatakan umrah itu sunnah? Tidak ada kan? Tapi, yang mengatakan seperti itu banyak tidak? Banyak!”

Akhirnya Gus Baha kembali bertanya, “Kamu saleh apa tidak?”

“Ya, saleh,” jawab santri itu.

“Tidak. Tidak terlalu saleh. Satu, kalau kamu saleh beneran kangen Kanjeng Nabi, saya wajibkan umrah. Bagaimana pun kangen itu tidak ada hukumnya. Kangen Nabi, mati-matian sudah tidak berpikir haji wajib atau tidak. Kalau yang gampang umrah ya umrah.”

Gus Baha lalu mengisahkan perjalanan umrahnya sebelum akhirnya menunaikan ibadah haji pada 2011.

“Saya pada 2009, saya punya uang 16 juta rupiah. Zaman itu haji masih 21 juta rupiah. Saya kangen Nabi, saya buat daftar umrah. Dalam hati saya seperti ini, ‘Wes gampang, umrah ketemu Nabi, berdoa di depan Nabi kan mustajab”.

Dalam hal ini, Gus Baha merasa mengakali. “Saya berangkat umrah. Saat di Raudhoh saya berdoa. Umumnya orang berdoa di tempat ini mustajab. Pokoknya saya pengen haji, kalau tidak berarti ada rada yang salah. Hahahaa” 

Pada tahun 2011, Gus Baha punya uang sekitar Rp 30 juta. Uang itu kemudian digunakan untuk mendaftarkan haji istrinya. “Dek, kamu daftar haji.”

“Lha, jenengan, Gus…?”

“Hubungan Allah sama aku itu biasanya tidak repot-repot,” kata Gus Baha menimpali pertanyaan istrinya

“Tidak sampai sekian hari saya bisa Haji plus. Berarti sesuai perjanjian di Raudhoh. (Hehehe).
Padahal saya tidak kaya, tapi haji saya haji plus. Karena itu tadi, kangen Nabi terus saya turuti. Sebenarnya agak salah, tapi kangen itu tidak ada hukumnya.”

“Makanya, saya tanyai dia (santri), kalau kamu saleh beneran, kangen Nabi tak suruh umrah sekarang. Tapi kalau kamu masih perhitungan, ‘Sowan Nabi atau tidak?’”

“Mau sowan Nabi kok begitu! Ciri utama orang senang itu tidak mikir, lha ini masih mikir umrah dulu apa haji dulu. Kalau masih mikir, salehnya pas-pasan.”

Kalau awalnya dia bilang begini, “Gus, saya kangen Nabi, tapi uang saya cuma Rp25 juta bagaimana?” Maka, saya wajibkan umrah. Saya ajarkan doa saya. Nah dia tidak seperti itu. (Hehehe).

Misalnya dia daftar haji, secara lahir umurnya tidak cukup. Kalau daftar sekarang berarti kapan bisa haji? Menunggu 25 tahun, berarti haji (sekitar) tahun 2040. Zahirnya umur 60 tahun. Kira-kira dia sudah taqabalallah?

Andaikan saya jadi orang itu, mesti daftar dua-duanya, ya daftar haji. Tapi, kalau ada orang yang mondok di Makkah, saya akan memakdubkan diri. Dalam arti, saya akan daftar haji menunggu sesuai Pemerintah karena harus loyal negara. Tetapi, kalau saya punya uang saya takdubkan.

Kalau ada fatwa yang berbeda dengan saya itu tidak apa-apa. Hal tersebut sebagai pengingat bahwa kebaikan itu:

‎وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ

Ternyata kalau ngeramati sampai musim haji, ya haji lagi.

Kalau ada bunyi yang bilang, “Kok rugi, haji dua kali?” Pelit berarti.

“Masalahnya, fatwa menghadapi orang pelit itu repot. Saya bolak-balik fatwa ketemu orang pelit. Repot! Cinta Allah kok pakai perhitungan. Hahahaaha”

Pengepul kebahagiaan dari temuan abad modern, berupa listrik, internet dan komputer. Hidup harmonis bersama barisan code dan segelas kopi kenangan.

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?


    Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 226
    Awesome
    Awesome

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 15
    EW
    Ew!

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 12
    FUNNY
    Funny

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 9
    LOL
    Lol

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 98
    Loved
    Loved

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 53
    OMG
    Omg!
Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories