Islami

Prabowo Gagas Presidential Club: Ide Bagus tapi Membahayakan!

Arina.id — Presiden terpilih Prabowo Subianto menggagas membentuk presidential club, forum komunikasi informal antara presiden yang sedang memerintah dengan para mantan presiden. Forum tersebut diharapkan dapat menjadi sarana untuk berdialog dan berbagi pengalaman serta sumbang saran atas berbagai permasalahan bangsa dan negara. Prabowo belum pernah menyampaikan langsung gagasannya yang konsep dasarnya merujuk pada the president's club di Amerika Serikat.

Arina.id — Presiden terpilih Prabowo Subianto menggagas membentuk presidential club, forum komunikasi informal antara presiden yang sedang memerintah dengan para mantan presiden. Forum tersebut diharapkan dapat menjadi sarana untuk berdialog dan berbagi pengalaman serta sumbang saran atas berbagai permasalahan bangsa dan negara.

Prabowo belum pernah menyampaikan langsung gagasannya yang konsep dasarnya merujuk pada the president’s club di Amerika Serikat. Wacana presidential club kali pertama diutarakan oleh juru bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak, dalam sebuah wawancara virtual dengan Kompas TV pada 29 April.

Sebagian kalangan mendukung gagasan tersebut di antaranya untuk menunjukkan kerukunan para elite politik atau pemimpin bangsa. Sebagian yang lain masih menimbang-nimbang terutama karena konsep terperincinya belum jelas. Namun sejumlah pihak malah mengkhawatirkan forum itu akan mengarah pada oligarki kekuasaan.

Semangat keberlanjutan

Prakarsa membentuk presidential club yang disampaikan Dahnil Anzar Simanjuntak berawal ketika dia ditanya tentang peran Presiden Joko Widodo dalam menentukan atau merumuskan komposisi kabinet menteri pemerintahan Prabowo.​​​​​​​

Prabowo, menurutnya, pasti akan meminta masukan dari Jokowi, bahkan juga dua presiden pendahulunya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri. “Bahkan Pak Prabowo secara berulang menyebutkan beliau ingin sekali duduk bareng, diskusi panjang dengan para mantan presiden nantinya,” katanya, “sehingga ada seperti istilah saya itu presidential club.”

Melalui presidential club, katanya, Prabowo ingin menjaga “semangat keberlanjutan” dan “semangat persatuan”. Karena itulah Prabowo ingin melibatkan para pemimpin terdahulu, sekurang-kurangnya melalui saran dan pertimbangan, demi melanjutkan semua agenda pembangunan.

Sang presiden, Dahnil menekankan, menyadari bahwa tantangan Indonesia pada masa depan tidak mudah, bukan hanya demi mewujudkan visi Indonesia Emas pada 2045 tetapi juga karena tantangan global geopolitik yang sangat dinamis. Dibutuhkan persatuan dan kekompakan para pemimpin bangsa untuk menghadapi segala tantangan tersebut.

Ide “presidential club” yang digagas Prabowo bukan buah pikiran sekilas pandang. Prabowo telah memiliki obsesi itu bahkan sejak satu dasawarsa silam. “Saya ingat betul, mungkin sekitar tahun 2014, Pak Prabowo itu pernah sampaikan ide tersebut,” kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Jakarta, 6 Mei 2024.

Dia mengatakan bahwa sarana diskusi paling tepat tentang kebijakan-kebijakan pembangunan bangsa adalah bersama para pemimpin tertinggi yang juga pernah merumuskan kebijakan negara pada masa silam.

Format yang spesifik tentang presidential club, kata Habiburokhman, memang belum dirumuskan secara pasti tapi Prabowo terbuka untuk menerima saran dan masukan. Yang pasti, perkumpulan presiden dengan para mantan presiden itu harus diberikan tempat yang khusus dan terhormat.

Pro dan kontra

Terutama partai politik anggota Koalisi Indonesia Maju dan sejumlah elite mendukung gagasan Prabowo membentuk presidential club. Partai Golkar, misalnya, memandang forum tersebut bisa menjadi sarana yang efektif dan efesien bagi Prabowo untuk menyerap saran dan pertimbangan dari para presiden terdahulu dalam menjalankan pemerintahan.

“Yang pasti dengan adanya masukan dari [presiden] pendahulu, akan dapat memudahkan bagi Prabowo untuk menjalankan roda pemerintahan nantinya,” kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Dave Laksono pada 5 Mei.

Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan malah sangat berharap gagasan Prabowo itu dapat secepatnya diwujudkan dan didukung terutama oleh para mantan presiden. “… sehingga mantan-mantan presiden bisa bersama-sama memberikan advice atau masukan, agar tahun 2045 kita betul-betul bisa mewujudkan Indonesia Maju,” ujarnya.

Partai Demokrat terang-terangan menyambut baik wacana yang digagas Prabowo. SBY, presiden ke-6 RI sekaligus Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, menurut Andi Mallarangeng sang sekretaris, mendukung ide tersebut apalagi kalau tujuannya memang untuk menjaga keberlanjutan dan persatuan. Dia meyakini Presiden Joko Widodo memiliki pandangan yang sama.

Andi hanya mengingatkan, “Ibu Megawati mungkin butuh pendekatan khusus”—merujuk pada hubungan renggang Megawati dengan SBY sejak dua dasawarsa lampau dan Megawati dengan Jokowi sejak setahun terakhir. Meski begitu, dia meyakini, Megawati pasti akan mengutamakan kepentingan bangsa. “Kalau idenya semacam itu yang terbaik untuk bangsa, Ibu Megawati juga tidak keberatan,” ujarnya.

Presiden Jokowi, seperti halnya SBY, menyambut baik rencana Prabowo membentuk presidential club sebagai sarana yang bagus untuk silaturahmi Presiden dengan para mantan presiden. Bahkan, katanya dengan bergurau, pertemuan presidential club kalau perlu dilakukan sesering mungkin. “Dua hari sekali, ya, enggak apa-apa,” katanya saat ditanya wartawan di Jakarta, 3 Mei.

Tetapi, ketika ditanya soal kabar bahwa dia ikut menjembatani upaya pertemuan Megawati dengan Prabowo dalam konteks rekonsiliasi seusai Pemilu, Jokowi tidak menjawab. Presiden hanya menanggapinya dengan tertawa, kepalanya tampak mengangguk-angguk mencoba memahami pertanyaan itu.​​​​​​​

PDIP tidak terang-terangan menentang atau mendukung gagasan itu tetapi responsnya cenderung negatif. Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, pada 7 Mei, malah menanggapi gagasan itu dengan menyebut partainya hanya mengenal tradisi “klub kerakyatan dengan petani dengan buruh, nelayan, guru, dan anak-anak muda”.

Pendapat lebih terbuka disampaikan Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi PDIP Djarot Saiful Hidayat yang meragukan kesungguhan dan niat Prabowo dengan gagasannya. Malahan, dia mengatakan, sehari sebelum pernyataan Hasto, “usulan ini menunjukkan indikasi Pak Prabowo kurang pede dalam mengemban tanggung jawab untuk mewujudkan empat misi Indonesia merdeka …”

Potensi oligarki

Sejumlah pakar dan pengamat politik merespons positif prakarsa Prabowo meski dengan beberapa catatan bernada kurang baik. Hal positifnya, menurut Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno, Prabowo bisa menimba pengalaman dari presiden-presiden sebelumnya dan bertukar pikiran serta informasi dengan mereka.

Tapi, Adi mengingatkan, ada masalah dalam hubungan personal para mantan presiden sehingga menciptakan jarak psikologis yang cukup serius. “Misalnya, Megawati dan SBY sejauh ini belum pernah terlihat. Apalagi Megawati dan Jokowi yang konflik politiknya baru mulai di Pilpres 2024, sulit cari obatnya. Atau antara SBY dan Jokowi pun belum terlihat akrab sekali,” ujarnya pada 4 Mei 2024, sebagaimana dikutip dari Tempo.

Jika rencana presidential club itu terwujud, apalagi kalau Megawati mendukungnya, menurut pengamat politik pada Universitas Gadjah Mada Kuskridho Ambardi, Prabowo akan mendapatkan legitimasi yang kuat sebagai presiden. Sebagian kalangan masyarakat, termasuk kelompok elite, yang sejauh ini mempertanyakan keabsahan hasil Pemilu Presiden 2024 juga akan secara perlahan mengakui Prabowo.

Kalau semua kekuatan politik dan elite, termasuk PDIP sebagai pemenang Pemilu 2024 dan Megawati selaku pemimpin tertingginya, berhasil dirangkul oleh Prabowo, sang presiden akan jauh lebih mudah untuk merumuskan kebijakan dan menjalankan janji-janji kampanyenya.

Masalahnya, seperti diperingatkan oleh peneliti politik pada Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Aisah Putri Budiatri, dikutip dari BBC Indonesia, “tidak ada kekuatan oposisi yang secara signifikan bisa menjadi penyeimbang” bagi pemerintah yang berkuasa. Apalagi ada dua partai rival Prabowo, PKB dan Partai Nasdem, yang sudah terang-terangan mendukung sang pemenang Pemilu Presiden.​​​​​​​

Aisah mengkhawatirkan presidential club pada akhirnya menjadi “klub elite para sultan” yang memunculkan “oligarki politik luar biasa”. Sebab, sebelum Pemilu 2024, katanya, sistem oligarki memang telah tampak dalam peta politik nasional dan daerah.

“Oligarki ini kan jadi penyakit yang merugikan demokrasi di Indonesia,” dia berargumen, “karena semua pasti berpihak pada kepentingan oligarki.” Dalam situasi semua kekuatan politik berkumpul menyokong pemerintah, dia menekankan, “itu bisa jadi berbahaya, karena makin mengkristalkan kekuatan oligarki”.

Pengepul kebahagiaan dari temuan abad modern, berupa listrik, internet dan komputer. Hidup harmonis bersama barisan code dan segelas kopi kenangan.

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?


    Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 226
    Awesome
    Awesome

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 15
    EW
    Ew!

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 12
    FUNNY
    Funny

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 9
    LOL
    Lol

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 98
    Loved
    Loved

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 53
    OMG
    Omg!
Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories