Islami

Kurban dengan Hewan Betina, Bagaimana Hukumnya?

Idul Adha, momen istimewa bagi umat muslim di seluruh dunia, akan segera tiba. Perayaan ini identik dengan penyembelihan hewan kurban, seperti kambing, domba, atau sapi. Namun terkadang di tengah masyarakat muncul pertanyaan terkait jenis kelamin hewan kurban yang boleh dikurban. Apakah boleh kurban dengan hewan betina? Terkait jawaban pertanyaan berkurban dengan hewan betina tersebut, dalam kitab

Idul Adha, momen istimewa bagi umat muslim di seluruh dunia, akan segera tiba. Perayaan ini identik dengan penyembelihan hewan kurban, seperti kambing, domba, atau sapi. Namun terkadang di tengah masyarakat muncul pertanyaan terkait jenis kelamin hewan kurban yang boleh dikurban.

Apakah boleh kurban dengan hewan betina?

Terkait jawaban pertanyaan berkurban dengan hewan betina tersebut, dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, Jilid 8, halaman 368, Imam Nawawi menjelaskan hukum dan syarat sah berkurban. Menurut ulama dari Mazhab Syafi’i ini, hukum berkurban adalah sunnah muakkadah bagi umat Islam yang mampu melaksanakannya.

Hewan yang sah untuk dikurbankan adalah hewan ternak, yaitu unta, sapi, dan kambing. Semua jenis unta, sapi, dan kambing diperbolehkan untuk dikurbankan, baik yang jantan maupun yang betina.

Dalam keterangan lebih lanjut, Imam Al-Nawawi menyebutkan bahwa sah berkurban dengan hewan jantan dan betina menurut ijma‘ (kesepakatan para ulama). Namun, mengenai mana yang lebih utama antara jantan dan betina, dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama fikih.

Pendapat yang sahih dan ditegaskan oleh Imam Syafi’i dalam kitab Al-Buwaiti, serta didukung oleh banyak ulama, adalah bahwa hewan jantan lebih baik daripada betina untuk dijadikan kurban.

Imam Syafi’i memiliki pendapat lain yang menyatakan bahwa hewan betina lebih baik. Namun, beberapa sahabat mengatakan bahwa Syafi’i tidak bermaksud memilih betina dalam konteks kurban, melainkan dalam konteks hadiah berburu. Ketika menilai hewan untuk diambil dagingnya sebagai makanan, betina dianggap lebih baik karena menghasilkan lebih banyak daging.

Oleh karena itu, meskipun kedua jenis kelamin hewan ternak sah untuk dikurbankan, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai mana yang lebih utama. Pendapat mayoritas mengarah pada keutamaan hewan jantan, sementara pendapat lain menyoroti kelebihan hewan betina dalam konteks yang berbeda.

 فرع. يصح التضحية بالذكر وبالأنثى بالإجماع ، وفي الأفضل منهما خلاف ( الصحيح ) الذي نص عليه الشافعي في البويطي وبه قطع كثيرون أن الذكر أفضل من الأنثى ، وللشافعي نص آخر أن الأنثى أفضل ، فمن الأصحاب من قال : ليس مراده تفضيل الأنثى في التضحية ، وإنما أراد تفضيلها في جزاء الصيد إذا أراد تقويمها لإخراج الطعام ، قال الأنثى أكثر

Artinya: “(Bab) sah berkurban dengan jantan dan betina menurut ijma’ (kesepakatan para ulama). Adapun mengenai mana yang lebih baik di antara keduanya, terdapat perbedaan pendapat. (pendapat yang sahih) yang ditegaskan oleh Syafi’i dalam kitab Al-Buwaiti dan banyak ulama yang memotongnya adalah bahwa jantan lebih baik daripada betina. Syafi’i juga memiliki pendapat lain bahwa betina lebih baik. Ada beberapa sahabat yang mengatakan bahwa Syafi’i tidak bermaksud untuk memilih betina dalam berkurban, melainkan dia bermaksud untuk memilih betina dalam hal hadiah berburu jika dia ingin menilainya untuk mengeluarkan makanan. Dia berkata bahwa betina lebih banyak (memberikan makanan).”[ Imam Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhadzab, Jilid 8, halaman 368]. 

Sementara itu, Muhammad bin Ahmad Al-Khathib Asy-Syarbini, dalam kitab Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfaz al-Minhaj, Jilid 4, halaman 328, mengatakan bahwa kurban sah hukumnya dengan menggunakan hewan jantan maupun betina. Menurut ijma‘ ulama, keduanya diperbolehkan untuk dijadikan hewan kurban. Ini menunjukkan bahwa dari segi hukum, tidak ada perbedaan dalam keabsahan berkurban dengan salah satu dari keduanya.

 ( ويجوز ذكر وأنثى) أي التضحية بكل منهما بالإجماع، وإن كثر نزوان الذكر وولادة الأنثى. نعم التضحية بالذكر أفضل على الأصح المنصوص لأن لحمه أطيب، كذا قال الرافعي، ونقل في المجموع في باب الهدي عن الشافعي : أن الأنثى أحسن من الذكر لأنها أرطب لحماً ولم يحك غير،

Artinya: “Boleh berkurban dengan jantan atau betina, artinya berkurban dengan keduanya diperbolehkan menurut ijma’ ulama, meskipun jantan lebih sering kawin dan betina lebih sering melahirkan. Ya, berkurban dengan jantan lebih baik menurut pendapat yang lebih tepat dan ditegaskan, karena dagingnya lebih lezat. Demikianlah menurut Al-Rafa’i. Dan dinukil dalam kitab Al-Majmu’ pada bab kurban dari Syafi’i: bahwa betina lebih baik daripada jantan karena dagingnya lebih basah, dan tidak ada yang meriwayatkan selain itu. ” [Syamsuddin, Muhammad bin Ahmad Al-Khathib Asy-Syarbini Asy-Syafi’i, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfaz al-Minhaj, Jilid 4 [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1978] halaman 328]

Pada intinya, tidak ada larangan untuk berkurban dengan hewan betina. Umat Islam bebas memilih jenis kelamin hewan kurbannya, asalkan memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Yang terpenting adalah niat dan keikhlasan dalam berkurban, serta kualitas hewan kurban yang baik dan sesuai dengan syariat Islam. 

Pengepul kebahagiaan dari temuan abad modern, berupa listrik, internet dan komputer. Hidup harmonis bersama barisan code dan segelas kopi kenangan.

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?

Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories