Betawi

Begini Pertunjukan Buleng Tempo Dulu di Betawi

Senibudayabetawi.com – Buleng sebagai tradisi lisan masyarakat Betawi memiliki ciri khas. Mulai dari diisi oleh satu pencerita hingga mengisahkan tentang dongeng dan kisah kerajaan-kerajaan lokal. Tradisi lisan Buleng pernah punah sejak tahun 1978 karena tiadanya lagi para pengusung tradisi lisan ini. Adapun tokoh Buleng yaitu Daud dari Condet, Jakarta Timur yang telah meninggal pada tahun

Senibudayabetawi.comBuleng sebagai tradisi lisan masyarakat Betawi memiliki ciri khas. Mulai dari diisi oleh satu pencerita hingga mengisahkan tentang dongeng dan kisah kerajaan-kerajaan lokal.

Tradisi lisan Buleng pernah punah sejak tahun 1978 karena tiadanya lagi para pengusung tradisi lisan ini. Adapun tokoh Buleng yaitu Daud dari Condet, Jakarta Timur yang telah meninggal pada tahun 1977.

Tokoh lainnya yaitu Atin Hisyam, Sueb Makhum, dan H. Dali, Atin Hisyam serta Sueb Makhum. Atin Hisyam adalah tokoh muda yang berhasil mengembalikan kembali tradisi lisan Buleng.

Dalam Raja Tanpaingan, Kajian Nilai dalam Tradisi Lisan Buleng Tempo Dulu, tradisi lisan ini dibawakan seorang diri. Adapun untuk aksen-aksen tertentu maka pebuleng menggunakan suara-suara dari mulut dan anggota tubuh lainnya seperti menepuk paha. Namun dalam perkembangannya, ditambah dengan kreasi alat musik dan instrument lainnya. Nah, sobat senibudayabetawi.com penasaran bukan bagaimana juru cerita Buleng tempo dulu?

Juru Cerita Buleng Bertutur

Ketika sedang menuturkan cerita, juru cerita Buleng akan mengawalinya dengan “nyapun” yaitu membacakan semacam mantera yang disebut dengan rajah. Pembacaan rajah ini dilakukan dua kali yaitu di awal dan akhir cerita.

Adapun tujuan pembacaan rajah ini yaitu untuk meminta izin kepada Allah, kepada yang menguasai tempat agar diberikan kelancaran, kemudahan dan tidak ada gangguan yang akan mengganggu kelancaran maksud dari yang punya hajat, juga izin kepada leluhur. Sebab, dalam cerita ini akan menyebut-nyebut nama leluhur dalam cerita, nama tempat dan sebagainya, terakhir juga meminta maaf kepada penonton.

Saat masuk ke dalam cerita maka diawali dengan pengenalan kerajaan yang akan diangkat dalam cerita ini, lalu menyebutkan silsilah raja, terus menyebutkan makna-makna yang terkandung dalam cerita, menyebutkan kerajaan-kerjaan lain yang ada dalam cerita yang akan dibawakan juga menceritakan keadaan dan suasana kerajaan lain.

Selanjutnya, terjadi konflik-konflik dalam cerita dan diakhiri dengan penyampaian pesan moral yang terkandung dalam cerita. Tak lupa bagian akhir cerita ditutup dengan nyapun yaitu pembacaan rajah penutup yang isinya sebagai ucapan terima kasih kepada semua pihak yang berjasa dan melindungi. Tahapan bercerita yang ada pada Buleng pun sebenarnya sama persis dengan tahapan bercerita pada tradisi lisan Carita Pantun.

Kemampuan mendeskripsikan sesuatu dengan lisan, yang terkadang puitis merupakan salah satu syarat bagi seorang tukang cerita atau buleng. Contohnya mendeskripsikan perkelahian dua petarung.

Kedua petarung itu berhadap-hadapan,

Saling lirik saling pandang,

Saling terjang saling tending,

Saling jotos saling tonjok

Melompat sambil menyodok

Saling dengkek saling gedig,

Saling piting salung banting

Berguling-guling kaya trenggiling

Busana Juru Cerita Buleng Tempo Dulu

Uniknya pula, pakaian atau busana yang digunakan juru cerita Buleng yaitu pakaian adat Betawi seperti memakai ikat kepala bernama stagen jengger ayam (khas Betawi), pakaian atasnya minang dan bawahannya Betawi/Sunda.

Busana lain yaitu menggunakan pakaian pangsi abu, krem dan hitam berbahan kain katun yang licin. Adapula yang menggunakan pakaian sadariyah atau pakaian koko, juga menggunakan pakaian jas ditambah kemeja koko dan bawahan sarung setengah.

Tiga Jenis Tradisi Lisan di Betawi

Pada masyarakat Betawi terdapat tiga jenis tradisi lisan yaitu Buleng, sohibul hikayat dan gembang rancak. Ketiga jenis tradisi lisan ini mempunyai perbedaan seperti buleng yang biasanya diisi oleh pencerita tunggal dan tidak diiringi instrument serta mengisahkan kerajaan lokal.

Sementara tradisi lisan sohibul hikayat yaitu cerita yang dikisahkan berasal dari cerita 1001 malam atau cerita yang berasal dari Timur Tengah seperti Aladin, Abunawas. Sedangkan, tradisi lisan gambang rancak mengisahkan cerita-cerita legenda atau mitos masyarakat Betawi seperti Si Pitung, Abang Jampang dan Si Entong Gendut. Tradisi lisan ini diiringi instrumen gamelan gambang kromong.

Ramadani Wahyu

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?


    Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 224
    Awesome
    Awesome

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 15
    EW
    Ew!

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 12
    FUNNY
    Funny

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 9
    LOL
    Lol

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 97
    Loved
    Loved

  • Warning: Undefined array key "nonce" in /home/kabarwar/public_html/wp-content/plugins/newsy-reaction/class.newsy-reaction.php on line 342
  • 53
    OMG
    Omg!
Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories