Islami

Sayang Dilewatkan! Ini 7 Amalan Sunnah di Hari Raya Idul Adha

Idul Adha merupakan momen istimewa bagi umat Islam untuk memperingati pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Selain melaksanakan ibadah seperti shalat Idul Adha, terdapat beberapa amalan sunnah yang dapat dilakukan untuk menambah pahala di hari raya ini. Berikut 7 kesunnahan pada Hari Raya Idul Adha yang bisa umat Islam lakukan sebagai upaya untuk menambah pahala dan meningkatkan

Idul Adha merupakan momen istimewa bagi umat Islam untuk memperingati pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Selain melaksanakan ibadah seperti shalat Idul Adha, terdapat beberapa amalan sunnah yang dapat dilakukan untuk menambah pahala di hari raya ini.

Berikut 7 kesunnahan pada Hari Raya Idul Adha yang bisa umat Islam lakukan sebagai upaya untuk menambah pahala dan meningkatkan kualitas hari raya umat Islam ini.

1. Berhias diri dengan memakai pakaian terbaik

Pada hari raya Idul Adha, umat Islam dianjurkan untuk memakai pakaian terbaik yang mereka miliki. Hal ini merupakan salah satu sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Memakai pakaian terbaik merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya. Oleh karena itu, memakai pakaian terbaik merupakan salah satu cara untuk menunjukkan kegembiraan dan kebahagiaan di hari kemenangan ini. Pakaian terbaik yang dimaksud tidak harus baru atau mahal. Yang terpenting adalah pakaian tersebut bersih, rapi, dan sopan sesuai dengan syariat Islam. 

Ibnu Qudamah, dalam kitab al-Mughni, Jilid II, halaman 113 menjelaskan hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW biasa memakai jubah merahnya pada hari raya dan hari Jumat. Hal ini menunjukkan keistimewaan kedua hari tersebut dan dianjurkannya untuk memakai pakaian terbaik pada saat itu.

 كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يلبس في العيدين برد حبرة

Artinya; “Bahwa Rasulullah SAW shalat dan mengenakan jubah merahnya pada hari raya dan hari Jumat.”

2. Mandi sebelum shalat Idul Adha

Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, Jilid V, halaman 11, menjelaskan bahwa mandi pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Dalil yang mendasarinya adalah atsar dari Ibnu Umar, yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW biasa mandi pada dua hari raya. Selain itu, mandi pada dua hari raya juga diqiyaskan dengan mandi pada hari Jumat.

قال الشافعيّ وأصحابه: يستحب الغسل في العيدين، وهذا لا خلاف فيه، والمعتمد فيه أثر ابن عمر، والقياس على الجمعة. اهـ.

Artinya; “Syafi’i dan para pengikutnya mengatakan: “Dianjurkan untuk mandi pada dua hari raya, dan tidak ada perselisihan dalam hal ini. Dalil yang mendasarinya adalah atsar dari Ibnu Umar dan qiyas (analogi) dengan hari Jumat.” [Imam Nawawi, al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, Jilid V, [Jeddah; Maktabah Irsyad, tt] halaman 11].

3. Mengucapkan takbir.

Salah satu sunnah Idul Adha yang dianjurkan adalah memperbanyak takbir. Takbir merupakan kalimat agung yang melambangkan pengagungan dan kebesaran Allah SWT. Ucapan takbir ini dimulai sejak malam takbiran hingga hari Tasyrik. 

Ibnu Qudamah dalam al-Mughni menjelaskan mengucapkan takbir saat Hari Raya termasuk dalam ibadah sunnah. Untuk itu, seyogianya setiap Muslim mengumandangkannya di rumah secara sendirian, ataupun di masjid secara berjamaah.

وَجُمْلَتُهُ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلنَّاسِ إظْهَارُ التَّكْبِيرِ فِي لَيْلَتَيْ الْعِيدَيْنِ فِي مَسَاجِدِهِمْ وَمَنَازِلِهِمْ وَطُرُقِهِمْ ، مُسَافِرِينَ كَانُوا أَوْ مُقِيمِينَ ، لِظَاهِرِ الْآيَةِ الْمَذْكُورَةِ , قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي تَفْسِيرِهَا : لِتُكْمِلُوا عِدَّةَ رَمَضَانَ ، وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عِنْدَ إكْمَالِهِ عَلَى مَا هَدَاكُمْ, وَمَعْنَى إظْهَارِ التَّكْبِيرِ رَفْعُ الصَّوْتِ بِهِ، وَاسْتُحِبَّ ذَلِكَ لِمَا فِيهِ مِنْ إظْهَارِ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ، وَتَذْكِيرِ الْغَيْرِ، وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى، يَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ ، وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا, قَالَ أَحْمَدُ : كَانَ ابْنُ عُمَرَ يُكَبِّرُ فِي الْعِيدَيْنِ جَمِيعًا، وَيُعْجِبُنَا ذَلِكَ

Artinya; “Kesimpulannya, bahwa sunnah bagi umat Islam untuk mengucapkan takbir dengan suara keras pada malam Hari Raya Idul Adha dan Idul Adha di masjid, rumah, dan jalanan, baik bagi mereka yang sedang bepergian (musafir) maupun yang menetap (mukim). Hal ini berdasarkan ayat Al-Quran yang disebutkan sebelumnya.

لِتُكْمِلُوا عِدَّةَ رَمَضَانَ ، وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عِنْدَ إكْمَالِهِ عَلَى مَا هَدَاكُمْ, 

[Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur].

Adapun makna izharul takbir adalah mengangkat suara saat mengucapkan takbir. Dianjurkan untuk melakukan takbir karena hal tersebut menunjukkan syiar Islam dan mengingatkan orang lain. Ibnu Umar biasa takbir di qubbah-nya di Mina, dan orang-orang di masjid mendengarnya dan ikut takbir. Orang-orang di pasar pun takbir sehingga Mina bergemuruh dengan takbir. Ahmad berkata, “Ibnu Umar biasa takbir di kedua hari raya dan kami menyukainya.” [Ibnu Qudamah, al-Mughni, Jilid II, [Darul Ihya Turtas al-Araby,  1985] halaman 112 ].

4. Shalat Idul Adha

Salah satu sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan pada Hari Raya ini adalah shalat Idul Adha atau shalat Id. Shalat ini dikerjakan sebanyak dua rakaat secara berjamaah, dengan 7 kali takbir pada rakaat pertama, dan 5 kali takbir pada rakaat kedua, kemudian khatib membaca khutbah setelahnya.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Ibnu Qasim al-Ghazi dalam kitab Fathul Qarib baik shalat Idul Adha maupun Idul Fitri sangat dianjurkan dalam Islam, hukumnya sunnah muakkad. Shalat ini bisa dilaksanakan secara berjamaah, maupun sendiri-sendiri. Shalat itu dianjurkan dikerjakan orang tua, khunsa, perempuan, bahkan anak-anak. Simak penjelasan berikut;

وصلاة العيدين أي الفطر والأضحى (سنة مؤكدة). وتشرع جماعة، ولمنفرد ومسافر، وحر وعبد، وخنثى وامرأة، لا جميلة، ولا ذات هيئة. أما العجوز فتحضر العيد في ثياب بيتها بلا طيب.

Artinya; “Shalat Idul Fitri dan Idul Adha adalah sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Shalat ini disyariatkan untuk dilakukan secara berjamaah, dan boleh juga dilakukan secara sendiri-sendiri bagi musafir, orang yang merdeka, budak, khunsa, dan wanita. Perempuan yang tidak cantik dan tidak berhias pun boleh menunaikan shalat Id. Adapun wanita tua, dia boleh menghadiri shalat Id dengan memakai pakaian biasa tanpa memakai wewangian.” [Syekh Ibnu Qasim al-Ghazi, Fathul Qarib [Beirut; Darul Kutub Ilmiyah, 1971], halaman 102].

5. Menempuh jalan berbeda saat pulang Shalat Idul Adha

Dalam kitab Fathul Bari, Jilid II, halaman 217, Ibnu Hajar al-Asqallani mengatakan bahwa ulama menganjurkan untuk menempuh jalan yang berbeda saat pergi dan pulang Shalat Idul Adha, baik bagi imam maupun makmum. Anjuran ini berdasarkan beberapa hadits, salah satunya dari Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

كان النبي إذا كان يوم عيد خالف الطريق

Artinya; “Nabi SAW biasa menempuh jalan yang berbeda saat hari raya.” (HR. Bukhari)

6. Pergi ke shalat Idul Adha dengan berjalan kaki

Meskipun tidak ada larangan untuk pergi ke shalat Idul Adha dengan kendaraan, namun lebih dianjurkan untuk berjalan kaki. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW:

عن ابن عمر قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يخرج إلى العيد ماشيا ويرجع ماشيا.

Artinya; “Berkata Ibnu Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah SAW pergi melaksanakan shalat Idul Adha dan Adha, dalam keadaan berjalan kaki. Begitu pun saat kembali, tetap berjalan kaki.” [HR. Ibnu Majah]  

7. Saling mendoakan yang terbaik.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, Jilid II, halaman 516 menjelaskan saling mendoakan agar amal ibadah diterima merupakan kebiasaan yang baik dilakukan para sahabat Nabi pada hari raya. Hal ini dapat mempererat tali persaudaraan dan meningkatkan rasa saling mendoakan di antara sesama Muslim.

وعن جبير بن نفير ، قال : كان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض ، تُقُبِّل منا ومنك . قال ابن حجر : إسناده حسن .

Artinya; “Dari Jabir bin Nufair, dia berkata: “Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bertemu pada hari raya, mereka saling berkata, “Semoga diterima amal ibadah dari kami dan dari kalian.” [Ibnu Hajar al-Asqallani, Fathul Bari, Jilid II, [Beirut; Darul Magrifah, tt] halaman 516].

Pengepul kebahagiaan dari temuan abad modern, berupa listrik, internet dan komputer. Hidup harmonis bersama barisan code dan segelas kopi kenangan.

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?

Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories