Islami

Pengalaman Ditangkap Polisi Saudi karena Nusuk Haji

Oleh Akh. Muzakki Bukan judul lagu. Juga bukan kalimat untuk merayu. “Bawalah daku kemanapun kau pergi” adalah nasihat untuk jemaah haji. Khususnya pada musim haji tahun 1445 H/2024 M ini. Agar aman dan nyaman selama beribadah suci. Suksesnya penerapan kebijakan di tahun haji ini tentu akan diteruskan ke musim haji nanti. Kata “daku” di situ

Oleh Akh. Muzakki

Bukan judul lagu. Juga bukan kalimat untuk merayu. “Bawalah daku kemanapun kau pergi” adalah nasihat untuk jemaah haji. Khususnya pada musim haji tahun 1445 H/2024 M ini. Agar aman dan nyaman selama beribadah suci. Suksesnya penerapan kebijakan di tahun haji ini tentu akan diteruskan ke musim haji nanti.

Kata “daku” di situ adalah dokumen diri yang berlaku di Arab Saudi. Memang dokumen haji bisa berupa paspor, visa, tashrih, dan smart card atau kartu nusuk. Namun, saat pra, tengah, hingga beberapa hari pasca pelaksanaan puncak ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina), bawalah data diri yang bernama smart card atau kartu nusuk itu kemana pun engkau pergi. 

Apalagi di hari-hari jelang puncak ibadah haji, Armuzna. Kerap dilakukan pemeriksaan acak. Sedikit kelihatan meragukan, diperiksa. Tak bawa dokumen diri yang berlaku, dicek. Karena itu, “Bawalah daku kemanapun kau pergi” adalah nasehat diri. “Hanya saat tidur dan mandi saja bisa dilepas.” Begitulah ilustrasi ekstrem tentang kewajiban membawa serta dokumen diri itu.

Kalimat itu kusampaikan saat mendampingi tim panitia penyelenggara ibadah haji (PPIH) Sektor 9 agar mengingatkan rombongan jemaah di bawah koordinasinya di kantor sektor di daerah Misfalah pada Kamis (06 Juni 2024). 

Lain hari, bagaimana? Semua petugas haji Indonesia pasti akan mengingatkan soal itu tanpa henti. Sebab, Pemerintah Arab Saudi sangat serius menerapkan kebijakan pewajiban smart card atau kartu nusuk itu. Ditangkapnya dua lelaki jemaah haji dari Sektor 9, pada pagi hari jelang keberangkatan umrah ke Masjidil Haram pada Rabu (05 Juni 2024), penting menjadi pelajaran bersama. Khususnya tentang disiplin berkegiatan selama beribadah haji. Sebab, dua lelaki itu lalu dibawa oleh Polisi Arab Saudi untuk keluar dari kota Makkah menuju sebuah area terbuka di kawasan dekat pintu masuk kota Jeddah. Itu artinya mereka dibawa keluar dari Makkah.

Alkisah, pagi itu sekitar jam 09:00 Waktu Arab Saudi (WAS), dua bapak-bapak itu keluar dari hotel. Mereka sudah mengenakan pakaian ihram di tubuhnya. Pertanda keduanya berkehendak untuk melaksanakan umrah bersama. Tentu ritual umrah harus diawali dengan mengambil miqat atau titik berangkat. Dan miqat yang paling dekat dengan posisi hotel keduanya adalah di tan’im. Persis titik masuk ke wilayah Makkah. Barulah dari pelaksanaan shalat sunnah dan berniat di miqat itu, perjalanan berlanjut hingga ke Masjidil Haram untuk sejumlah ritual. Mulai dari tawaf, sa’i hingga tahallul.  

Dan penting dicatat, semakin mendekati pelaksanaan puncak ibadah haji di Armuzna, pemeriksaan smart card atau kartu nusuk semakin kerap dan ketat dilakukan oleh Polisi Kerajaan Arab Saudi. Semua jemaah pasti akan menggantungkan smart card atau kartu nusuk itu dengan tali pengenal di leher. Dengan begitu, dari kejauhan pun, siapapun, pasti akan segera tahu bahwa pemegangnya adalah jemaah haji resmi. Yakni jemaah haji yang datang ke Arab Saudi dengan visa resmi haji. Bukan visa selainnya. Termasuk visa ziarah. Kondisi seperti itu bisa ditemui di mana saja di wilayah Makkah hingga kira-kira beberapa hari pasca Armuzna.  

Nah, begitu keluar hotel, kedua bapak jemaah haji asal Jawa Timur ini berdiri di pinggir jalan. Mereka menikmati rokok dari pinggir jalan depan hotel itu. Mungkin begitulah kebiasaan mereka saat harus menikmati merokok selama di Indonesia. Lacurnya, tak terlihat ada tali pengenal diri bergelantung di leher mereka. Dan itu artinya tak terlihat ada smart card atau kartu nusuk dibawanya serta. Siapapun akan segera bisa mengidentifikasi itu. Apalagi aparat kepolisian Arab Saudi yang memang ditugaskan khusus di antaranya untuk pengecekan itu. 

Betul saja! Saat nikmat-nikmatnya kedua bapak itu menghisap rokok di pinggir jalan, di depan hotel tinggalnya dengan pakaian ihram di badan, datanglah aparat kepolisian Kerajaan Arab Saudi. Tanpa ‘ba bi bu’ panjang, dibawalah kedua bapak itu masuk ke kendaraan polisi. Itu sesuai dengan dipastikan mereka tak mengenakan smart card atau kartu nusuk itu. Bergeraklah kendaraan polisi itu. Makin lama, mobil itu makin tak terlihat lagi oleh pandangan dari depan hotel tempat menginap kedua bapak itu. 

Beberapa rekan kedua bapak itu melihat keduanya dengan terheran. Ada apakah gerangan sehingga kedua lelaki dewasa itu diangkut oleh Polisi Kerajaan Arab Saudi? Mereka bertanya-tanya juga soal itu. Tapi tak satu pun yang bisa memberikan jawaban. Para jemaah haji di rombongan kedua bapak itu lama-kelamaan mulai menanyakan keberadaan kedua bapak itu. Sebab, keduanya tak lagi menampakkan batang hidungnya di kamar hotel. Kalau melaksanakan ibadah umrah, mengapa para jemaah haji Indonesia di rombongan keduanya tak bertemu keduanya selama di Masjidil Haram. 

Semua bertanya-tanya tentang kondisi keduanya. Tapi, mereka pun juga tak pernah tahu keberadaan keduanya. Apakah mungkin kesasar ya? Mungkinkah keduanya tersesat jalan? Atau seperti apa? Semua tak ada yang bisa memastikan.

Untung ada di antara jemaah haji pada rombongan itu yang nyeletuk: “Coba ditelpon aja! Siapa tahu mereka bawa HP?” Opsi menelpon ini akhirnya disepakati oleh jemaah haji rombongan kedua bapak yang dianggap hilang itu. Itupun hari sudah menunjuk jam 12 siang. Artinya, tak diketahuinya atau, ekstremnya, hilangnya posisi kedua bapak itu sudah cukup lama. Sekitar empat jam.  

Diteleponlah salah satu dari kedua bapak yang hilang dari hotel. Eh tersambung pula. “Bapak di mana?” tanya seorang jemaah haji rekan dari kedua bapak itu dari hotel tempat mereka menginap. “Saya tidak tahu, Pak!” jawab salah seorang mereka dari ujung telpon. “Lha terus gimana?” tanya rekan rombongan hajinya hotel menginap. “Nggak tahu juga ya,” sergah bapak di ujung telpon yang belum bisa juga menjelaskan di mana posisinya. “Lha, sekarang Bapak sedang di mana?” tanya lebih lanjut rekan dari dua bapak yang hilang dari rombongan hajinya itu.

Lau berceritalah bapak yang hilang itu melalui telepon selulernya. Begini kisahnya: “Jadi, saya tadi pagi itu sedang merokok di pinggir jalan depan hotel. Lalu Polisi datang. Menanyakan soal kartu nusuk. Lha kami berdua sedang tidak membawanya. Eh, kami lalu diangkut oleh Polisi itu. Kami dibawa jauh. Entah kami tidak tahu di mana ini. Pokoknya, kira-kira sejaman dari hotel.” Kalimat ini disampaikan oleh bapak yang hilang bersama seorang rekan jemaah haji Indonesia lainnya itu.

Lalu, atas saran rekan jemaah haji serombongannya di hotel yang menanyainya, bapak yang hilang itu akhirnya merekam posisinya bersama seorang rekan lainnya dari kamera ponselnya. Direkamlah pemandangan lokasi di mana kedua bapak yang hilang itu kala itu berada. Tampak keduanya berada di sebuah tanah lapang yang cukup luas. Apalagi, dalam rekaman video itu, juga tergambar sederetan toko di pinggir jalan. Lalu dikirimlah rekaman video itu ke rekan jemaah haji serombongannya yang sedang gelisah di hotel bersama sejumlah jemaah lainnya. 

Akhirnya, terekamlah posisi kedua bapak yang hilang itu. Video itu lalu didiskusikan dengan pimpinan maktab yang memawahi rombongan haji keduanya. Dan kemudian diketahuilah bahwa kedua bapak itu sedang berada di titik perbatasan Makkah dan Jeddah. Artinya, dari tengah kota Makkah, kedua bapak itu diangkut oleh Polisi Kerajaan Arab Saudi untuk dibawa keluar Makkah. Itu dilakukan sebagai konsekuensi keduanya tak mengenakan smart card atau kartu nusuk sebagaimana harusnya jemaah haji resmi pada umumnya.

Ungkapan “tak mengenakan” ini segera dianggap “tak memiliki”. Inilah konsekuensi logis, konkret, dan kontan atas pemberlakuan smart card atau kartu nusuk itu.   

Akhirnya, dengan dibantu pimpinan maktab itu, kedua bapak ini dijemput di titik perbatasan Makkah-Jeddah itu. Lalu, kisah kedua bapak ini menjadi pembicaraan hebat di kalangan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Mengapa begitu? Kisah keduanya menyebar luas ke semua jemaah haji Indonesia. Melalui cerita oral, dari lisan ke lisan.

Menguatnya percakapan media sosial semakin mempercapat meluasnya cerita itu. Apalagi, video yang menceritakan posisi kedua bapak yang hilang tersebut lalu viral. Itu semakin mempercepat meluasnya berita soal hilangnya kedua bapak ini.

Kisah panjang di atas diceritakan kembali oleh Pak Sunaryo dan Pak Nur Asik. Masing-masing adalah Kepala dan Sekretaris Sektor 9.  Kami bertiga sebagai petugas haji Indonesia pun akhirnya sepakat untuk mengambil kebijakan teknis: perkuat sosialiasi ke jemaah haji di Sektor 9 agar kemana-mana membawa smart card atau kartu nusuk. Keluar hotel wajib mengenakan smart card atau kartu nusuk itu. Tak peduli apa kepentingannya.

Bahkan, di serambi depan hotel pun, smart card atau kartu nusuk itu harus dikenakan. Pengalaman kedua bapak ini harus menjadi pelajaran penting semua jemaah haji Indonesia agar tak abai dengan kebijakan pengenaan smart card atau kartu nusuk itu selama berada di Makkah.   

Pertanyaannya kemudian, mengapa Pemerintah Arab Saudi menerapkan kebijakan smart card atau kartu nusuk seketat itu? Kepentingannya adalah untuk menjamin kenyamanan dan kekhusyukan jemaah haji resmi. Diberlakukan untuk semua jemaah haji seluruh dunia. Bukan hanya jemaah haji Indonesia. Membludaknya jemaah haji seluruh dunia dan tak bertambahnya area Armuzna tampak menjadi pertimbangan utama Pemerintah Arab Saudi.

Maka, pemberlakuan smart card atau kartu nusuk justru untuk melindungi seluruh jemaah haji yang datang dengan visa resmi haji. Hadirnya jemaah dengan visa tidak resmi haji memang tak dibolehkan untuk musim haji. Apalagi, kehadirannya harus mengganggu dan mengalahkan layanan untuk jemaah dengan visa resmi haji.

Dan pelajarannya adalah: bawalah dokumen dirimu ke manapun engkau beraktivitas selama pelaksanaan ibadah haji. Termasuk sekadar hanya untuk keluar dan berdiri di depan hotel tempat menginap. Dan dokumen penting haji itu adalah smart card atau kartu nusuk

Penulis adalah Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Anggota Tim Monitoring dan Evaluasi Haji 2024

Pengepul kebahagiaan dari temuan abad modern, berupa listrik, internet dan komputer. Hidup harmonis bersama barisan code dan segelas kopi kenangan.

Sign up for a newsletter today!

Want the best of KWFeeds Posts in your inbox?

You can unsubscribe at any time

What's your reaction?

Leave Comment

Related Posts

Celebrity Philantrophy Amazing Stories About Stories