Sun,24 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Saat Isu Kelautan Tak Lagi ‘Seksi’ Namun Kian Mematikan

Saat Isu Kelautan Tak Lagi ‘Seksi’ Namun Kian Mematikan

saat-isu-kelautan-tak-lagi-‘seksi’-namun-kian-mematikan
Saat Isu Kelautan Tak Lagi ‘Seksi’ Namun Kian Mematikan
service

Di sebuah negara yang dipeluk oleh dua samudra, laut seharusnya menjadi detak jantung kehidupan. Namun, bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, ancaman yang datang dari riak gelombang itu masih dianggap sebagai “dongeng” yang jauh.

Sebuah survei pada 2019 mencatat anomali yang ironis: Indonesia menjadi negara dengan tingkat ketidakpercayaan tertinggi terhadap perubahan iklim. Di tengah kepungan banjir rob, abrasi yang menggerus beranda rumah warga pesisir, hingga badai yang kian tak tertekan, banyak yang masih memilih menutup mata.

“Misinformasi dan ketidaktahuan menjadi faktor kunci,” ujar Wira Ditama Pratama, Senior Analyst Ocean dari Climateworks Center, dalam diskusi Green Press Community (GPC) 2026 di Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Sabtu (7/2/2026).

Menurut Wira, ada dikotomi semu yang selama ini menghambat kita. Muncul anggapan bahwa jika ekonomi dipacu lewat sektor kelautan, maka lingkungan pasti dikorbankan. Sebaliknya, jika laut dijaga ketat, ekonomi dianggap akan jalan di tempat. Padahal, data bercerita lain.

Emas Biru di Balik Gelombang

Berdasarkan penelitian Climateworks Center, 75 persen wilayah Indonesia yang berupa lautan menyimpan potensi ekonomi biru hingga 1,3 triliun dolar Amerika. Tak hanya soal rupiah, Indonesia adalah benteng terakhir iklim dunia dengan menyimpan 17 persen cadangan karbon biru (blue carbon) global, yang tersimpan rapat di hutan mangrove, padang lamun, dan rawa air asin.

“Menjaga ekosistem laut berpotensi menumbuhkan ekonomi negara hingga 8 persen per tahun. Ini adalah kunci menuju Indonesia Emas 2045,” tambah Wira. Namun, jalan menuju ke sana terganjal oleh tata kelola yang terfragmentasi, keterbatasan data, dan pembiayaan yang belum optimal.

Senada dengan hal tersebut, Armyanda Tussadiyah dari Pesisir Lestari menekankan bahwa ekosistem karbon biru, terutama mangrove, memiliki kemampuan menyerap emisi jauh lebih efektif dibandingkan hutan di daratan. Isu ini bukan sekadar soal lingkungan, tapi soal keberlangsungan hidup masyarakat pesisir yang paling rentan terkena dampak.

Meski dampaknya nyata, isu kelautan sering kali kalah pamor dibandingkan isu kehutanan di kancah internasional. Fegi Nurhabni dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengakui tantangan berat dalam “menjual” isu kelautan agar menjadi perhatian global.

“Isu perubahan iklim dari sektor kelautan memang tidak begitu menarik bagi internasional. Namun, kami terus mendorong agar ini menjadi agenda global,” ungkap Fegi.

Saat ini, KHP tengah melakukan mitigasi dan rehabilitasi, termasuk di Sulawesi Utara. Lima poin strategis telah disiapkan, mulai dari perluasan kawasan konservasi laut hingga pengendalian ketat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Restorasi dan Adaptasi

Di sisi lain, akademisi Mahawan Karuniasa dari ISSG-Foam mengingatkan bahwa mitigasi saja tidak cukup. Kita sedang berkejaran dengan waktu untuk merestorasi terumbu karang dan mangrove yang rusak.

“Selain mitigasi, kita harus mengajarkan adaptasi terhadap masyarakat yang rentan, terutama di wilayah pesisir,” tegas Mahawan. Baginya, kata kunci “kiamat iklim” dan “bencana ekologi” bukan sekadar hiperbola, melainkan peringatan keras jika kita tetap abai.

Di Minahasa Utara, di mana langit bersentuhan langsung dengan garis pantai yang indah, diskusi ini menjadi pengingat pahit: bahwa laut yang tenang hari ini bisa menjadi ancaman mematikan esok hari jika kita tetap membiarkan ketidaktahuan memandu kebijakan kita.

Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.