Arina.id-Memilih judul di atas harus siap dihujat fans Argentina. Tapi tidak apa-apa, penulis tentu punya alasan. Beberapa hari lalu, setelah pertandingan semi final antara Inggris vs Argentina saya bertemu Arfi, driver ojek online. Seperempat jam naik motor Ia ngoceh omong hasil-hasil pertandingan Piala Dunia. Anak Baru Gede (ABG) itu meluapkan emosinya gegara kemenangan Tim Tango.
“Argentina dibantu wasit pak, jelas itu. Mainnya biasa-biasa saja padahal. Saya doakan enggak juara lagi, masak juara berturut-turut, tidak ada sejarahnya,” katanya ‘nge-gasss‘ berapi-api. Lionel Messi dan kawan-kawan, kata dia, juga terlalu menyebalkan. Saya ketawa saja.
Komentar driver ojek online ini tentu sebatas luapan emosi setelah negara yang didukungnya, Inggris, kalah 1-2 dari Argentina dalam pertandingan kemarin. Sebagai Gen Z penggemar bola akut, ia mungkin tidak tahu, bahwa pernah ada dua negara juara dunia berturut-turut pada beberapa dekade lalu: Italia (1934 dan 1938) dan Brasil (1958 dan 1962).
Pandangan Arfi tentang Argentina ini seolah mewakili para haters-nya Messi dan kawan-kawan yang berlimpah ruah selama Piala Dunia 2026, tentu dengan berbagai alasan masing-masing. Banyak para pendukung negara yang dikalahkan Argentina dalam babak sebelumnya berkumpul jadi satu, mereka berisik melempar komentar dan berbagai analisis kemenangan ‘janggal’ yang diraih Tim Tango.
Beberapa haters memakai alasan agama. Mereka menganggap Argentina didukung Zionis, lalu mengaitkannya dengan konflik Timur Tengah. Mendukung Tango berarti mendukung Yahudi. Ini terutama setelah kemenangan yang dinilai kontroversial dari Mesir. Ada juga alasan politis, bahwa Argentina merupakan proxy “dari duo syaiton”: Israel dan Amerika, sehingga sengaja didesain menang melalui peluit wasit.
Akan tetapi tidak sedikit yang sok-sokan menganalisis dari sisi permainan. Permainann Argentina sebenarnya membosankan, terlalu monoton, dan cuma mengandalkan figur sentral (Lionel Messi). Gaya permainan Argentina berakar dari filosofi “La Nuestra” yang mengedepankan kreativitas individu, penguasaan bola, umpan-umpan pendek cepat, serta kelincahan pemain sudah hilang, katanya. Intinya penampilan Argentina ini tidak terlalu ciamik di mata para haters.
Ada pula analisis dari sisi kepentingan bisnis. Sasaran tembaknya FIFA. Demi bisnis seponsor, otoritas sepak bola dunia itu dianggap terlalu pro kepentingan kapitalis. Sehingga, para elite di FIFA sengaja menaruh final ideal harus melibatkan dua negara dari dua benua: Eropa dan Amerika Latin. Lalu jadilah Argentina vs Spanyol. Setelah kekalahan Brasil, tim Amerika Selatan yang memiliki magnet besar dalam bisnis perjudian hanya Argentina.
Pada beberapa bursa taruhan dunia untuk pertandingan Inggris Vs Argentina, rata-rata menempatkan Inggris sebagai pemenang dengan sekor (+152), sementara Argentina hanya (+198) untuk waktu normal. Namun secara dramatis, Argentina ternyata sukses comeback memenangkan laga. Dari sini masuk akal bila kemenangan Argentina menguntungkan bandar judi, sebab ketika bursa taruhan mengunggulkan Inggris, itu artinya banyak penjudi mempertaruhkan uang untuk kemenangan Inggris.
Begitulah, anasir kebencian terhadap Argentina yang membuncah ini, baik sekadar lucu-lucuan maupun yang seriusan pada akhirnya memenuhi ruang-ruang publik; warung kopi, kafe, pos kamling, sampai ruang daring. Begitulah menariknya sepak bola, di luar setadion benar-salah menjadi urusan belakangan.
Lalu bagaimana fans Argentina? Sudah pasti bertolak belakang. Namanya juga fans. Mereka punya banyak alasan mendebat berbagai hujatan. Tapi saya memilih argumentasi kawan fans Argentina satu ini: Thobib. Ia berceletuk, analisis-analisis tentang Argentina di luar analisis permainan profesional semuanya omong kosong dan cuma lucu-lucuan saja.
Gaya bermain “La Nuestra” justru jelas sekali pada langgam permainan Argentina dalam satu dekade ini; saat menjuarai Piala Dunia Qatar (2022), kemudian saat tampil trengginas di Piala Dunia Amerika-Kanada (2026). Skill individu para pemain hampir merata, lalu dipadukan dengan sihir kepemimpinan Messi yang kalem menjadi pelengkapnya.
Sang Messias–julukan Messi–menjadi jangkar penentu ritme permainan tim di tengah badai tekanan lawan. Perpaduan itu pula yang melahirkan kerja sama apik, tim yang kompak, punya kepercayaan diri tinggi dilengkapi ketenangan dan kedewasaan dalam permainan. Perpaduan inilah, kata dia, jadi kunci kedigdayaan Argentina yang tidak dimiliki tim-tim lain.
Lihat saja ketika Argentina berada dalam tekanan. Saat melawan Mesir–yang ia sebut sebagai negeri Firaun–mereka digempur habis-habisan. Tapi ketenangan dan kedewasaan para pemain mampu meredamnya. Sehingga kemenangan 3-2 atas Mesir bukan sesuatu yang disengaja (by design), tapi memang melalui proses permainan yang fair. Dan perpaduan skill serta ketenangan pemain Argentina terbukti lebih unggul di laga itu.
Kalau kemudian ada yang protes, mengatakan Argentina dibantu wasit, itu dinamika saja. Segala sesuatu bisa terjadi selama 45 menit pertandingan. “Mungkin kalau yang menang Mesir, fans Argentina juga bakal mengatakan hal sama seperti fans Mesir atau pembenci Argentina. Tapi yang pasti kan Argentina menang. Kemenangan itu memang diraih dari perjuangan,” katanya sambil ngakak.
Bagi saya mendengar komentar-komentar pendukung dua tim yang berlaga ini selalu menarik. Apalagi menjelang laga puncak Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol vs Argentina ini. Jadi apakah doa Argentina kalah balal terkabul? Belum tentu.
Pada bursa taruhan final, Argentina kembali tidak diunggulkan seperti saat semi final. Bursa oddschecker mengunggulkan Spanyol rata-rata -175 hingga +115, sementara Argentina sebagai underdog pada kisaran +125. Apakah hasil analisis bursa taruhan final ini dampaknya bakal sama dengan semi final kemarin? Wallahualam….
Muhammad Taufiq
Wakil Pemimpin Redaksi Arina.id



Comments are closed.