Jakarta, Arina.id—Forum Sesepuh dan Mustasyar NU menyampaikan belasungkawa serta keprihatinan mendalam atas musibah banjir, longsor, dan berbagai bencana lain yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia.
Serangkaian bencana hidrometeorologi parah berupa banjir bandang, luapan sungai, dan tanah longsor menerjang wilayah utara dan tengah Pulau Sumatra pada akhir November 2025.
Bencana ini utamanya berdampak pada tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kondisi cuaca ekstrem selama beberapa hari telah memicu banjir dan longsor, dengan wilayah yang paling berdampak yaitu: Aceh Tamiang, Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.
Dalam forum yang dihadiri para ulama sesepuh di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu (6/12/2025) meminta pemerintah menindak tegas individu maupun korporasi terbukti terlibat dalam mengeksploitasi SDA.
“Memohon pemerintah mengambil langkah strategis dan antisipatif untuk mencegah terjadinya bencana serupa di kemudian hari, termasuk menindak tegas pihak-pihak baik individu maupun korporasi yang terbukti menyalahi aturan dalam mengeksploitasi sumber daya alam tanpa mempertimbangkan keseimbangan lingkungan,” tulisnya.
Para sesepuh NU dan Mustasyar NU mendoakan korban dan relawan yang terdampak bencana di Sumut, Sumbar, dan Aceh terbaru banjir bandang di sejumlah daerah seperti Malang, Jawa Timur.
“Forum mendoakan agar masyarakat yang terdampak diberi kesabaran, ketabahan, keselamatan, serta segera mendapatkan pertolongan yang mereka butuhkan. Semoga Allah Swt berkenan mengangkat segala musibah ini,” lanjut Forum.
Pemerintah juga diharapkan segera melakukan pendistribusian bantuan kepada warga yang terdampak bencana.
“Forum mengharapkan pemerintah melakukan upaya maksimal dan optimal dalam memberikan bantuan dan pertolongan kepada masyarakat yang tertimpa bencana,” pinta para ulama.
Pantauan Arina.id, selama tiga hari 4 Desember hingga 6 Desember 2025 di Banda Aceh, Pidie Jaya hingga Biereun warga membutuhkan logistik serta alat berat untuk membersihkan tumpukan kayu-kayu dan lumpur tebal sebagian lumpur bahkan mulai mengering.
Beberapa titik wilayah di Aceh susah signal dan listrik padam. Bahan pokok naik, Bahan Bakar Minyak (BBM) langka, Gas Elpiji tak ada. Donasi dari berbagai daerah menumpuk namun minimnya akses jalan membuat relawan terhambat memberikan bantuan kepada warga.
Kondisinya sangat memprihatinkan. Banyak rumah hancur, fasilitas publik rusak dan lain sebagainya. Aktivitas sehari – hari relatif lumpuh. Warga sekarang bersih – bersih apa saja yang perlu dibersihkan. Butuh pengerahan sumber daya negara lebih supaya pemulihan bisa lebih cepat.




Comments are closed.