Sudah sejak lama masyarakat di pesisir Kepulauan Bangka Belitung (Babel) budidaya kepiting bakau. Tren produksi pun terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2024, misal, merujuk data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Babel, produksi kepiting bakau Babel mencapai 6,56 ton senilai Rp623, 350 juta, meningkat dari 2023 mencapai 5,8 ton dan 3,4 ton pada 2022. Sedangkan pada 2021, produksi kepiting bakau hanya 0,6 ton. Namun, produksi kepiting bakau budidaya ini meninggalkan persoalan karena benih kepiting sepenuhnya mengambil dari alam di sekitar kawasan mangrove. Untuk memitigasi ini, sejak 2024, Universitas IPB bekerjasama dengan pemerintah daerah itu, menginisiasi pilot project hatchery (pembenihan) kepiting bakau di Desa Guntung, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah. Saat Mongabay ke lokasi pembenihan yang berada tidak jauh dari garis pantai, Celvyn Gustiandi, penjaga sekaligus teknisi Hatchery Instalasi Guntung mengajak berkeliling. Dia menunjukkan kepiting bakau jantan sedang melindungi betinanya dari pejantan lain di sebuah kolam fiber. Celvyn bilang, ini baru tahapan awal. Proses kawin kepiting bakau terjadi saat betina berganti kulit (molting). Di mana pejantan akan memeluk dan menjaga betina selama beberapa hari agar aman dari predator, hingga cangkangnya mengeras kembali setelah proses transfer sperma selesai. “Kami menjaga proses kawin terjadi sealami mungkin dengan meletakkan satu jantan lainnya sebagai pemicu,” katanya. Pembenihan kepiting bakau bukan perihal mudah. Khusus di Pulau Bangka, upaya ini mungkin jadi yang pertama. Celvyn mengatakan, perubahan suhu menjadi tantangan tersendiri selama proses pembenihan ini. “Suhu di sini berubah-ubah, ditambah cuaca ekstrem.” Pada percobaan pertama, pembenihan gagal pada proses penetasan telur. Dugaannya karena menggunakan subtrat…This article was originally published on Mongabay
Upaya Lestarikan Kepiting Bakau di Pesisir Timur Pulau Bangka
Upaya Lestarikan Kepiting Bakau di Pesisir Timur Pulau Bangka





Comments are closed.