Rifal Bobihu, tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Dari tepian desa, dia menunjuk hamparan sisi utara yang penuh pohon jabon dan sengon dalam konsesi hutan tanaman energi. PT Gema Nusantara Jaya (GNJ). Pohon-pohon seragam itu menutup lanskap yang dulu merupakan hutan alam dan menghidupi warga Desa Bubode, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo. Kehadiran perusahaan bukan tanpa persoalan. GNJ, semula sebagai perusahaan hutan tanaman industri (HTI) kini bertransformasi menjadi perusahaan multi usaha kehutanan (MUK) ini membawa dampak ekologis. Lanskap banyak berubah yang akhirnya menurunkan hasil panen para petani. Sebelum GNJ hadir, kata Rifai, konsesi perusahaan itu adalah hutan lebat. Kawasan itu berfungsi menyerap air, penyangga musim, sekaligus pelindung alami desa dari cuaca ekstrem. Kini, lanskap di punggung bukit itu berubah rupa, hutan alami di atasnya tergantikan barisan jabon dan sengon yang jadi pola tanaman industri. Warga mulai rasakan dampak dari perubahan yang berlangsung lebih satu dekade lalu itu . Air dari hulu datang lebih cepat dan lebih keruh dari perbukitan. Sedimen yang terbawa arus menutup daun tanaman dan merendam batang. Bagi Rifal, musim hujan kini menghadirkan cemas, bukan sekadar harap. “Perubahan itu bukan sekadar soal pemandangan. Ada rasa waswas yang menyertai setiap musim tanam. Sekarang kami menanam bukan dengan keyakinan, tapi dengan kekhawatiran,” katanya di sela kesibukan tanam jagung. Pada Januari 2025, hujan sepanjang hari sebabkan Sungai Bubode meluap. Pada malam hari, air menerobos tanggul dan merendam sawah, kebun jagung, hingga rumah-rumah warga. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat, 2.117 keluarga terdampak. Sekitar 115 hektar sawah dan puluhan hektar kebun jagung…This article was originally published on Mongabay
Warga Waswas Ketika Hutan Gorontalo Utara Terus Tergerus
Warga Waswas Ketika Hutan Gorontalo Utara Terus Tergerus




Comments are closed.