Wed,6 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. 7 Langkah Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali Mendidik Generasi Ulama Perempuan (Part 1)

7 Langkah Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali Mendidik Generasi Ulama Perempuan (Part 1)

7-langkah-ibu-nyai-hj.-durroh-nafisah-ali-mendidik-generasi-ulama-perempuan-(part-1)
7 Langkah Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali Mendidik Generasi Ulama Perempuan (Part 1)
service

Mubadalah.id – Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) menyelenggarakan Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BuKUPI) 2026 yang berlangsung sepanjang bulan Mei. Salah satu ulama perempuan yang dihadirkan dalam diskusi serial daring ini adalah Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali.

Saat melihat nama Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali di deretan para ulama tersebut, sebagai seorang kontributor di Mubadalah.id dan juga santri yang pernah mondok di Krapyak, ada perasaan ragu apakah saya bisa menuliskan biografi seindah suri tauladan yang telah beliau ajarkan semasa hidupnya? Tetapi dengan niat ta’dzim dan meneladaninya sebagai salah satu dari ulama perempuan khususnya di bidang al-Qur’an. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat.

Disclaimer: apabila terdapat beberapa data yang kurang tepat, mohon dapat terinformasikan kepada Redaksi Mubadalah.id guna perbaikan.

Biografi Singkat

Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali adalah putri keempat dari KH. Ali Maksum dan Ibu Nyai Hj. Hasyimah Munawwir yang lahir di Bantul, 18 Agustus 1954. Beliau berpulang di usia 71 tahun tepat pada 28 Juni 2025 pukul 04.50 WIB (2 Muharram 1447 H) di Rumah Sakit Dharmais, Palmerah Jakarta Barat.

Nama Nafisah yang KH. Ali Maksum berikan adalah doa (tafa’ulan atau pengharapan) agar kelak beliau tumbuh menjadi salah satu ulama perempuan. Sebagaimana nama tersebut terambil dari salah satu guru dari Imam Syafi’i yaitu Sayyidah Nafisah (cucu Sayyidina Hasan bin Ali dan Fathimah binti Rasulullah)

Menurut penuturan santri beliau yakni Itsnaatul Latifah saat diskusi serial daring BuKUPI berlangsung, dalam setiap pengajiannya, Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali senantiasa berkata bahwa KH. Ali Maksum ingin adanya “ulama wadon” atau ulama perempuan. Saat itu Itsnaatul mondok di Krapyak sejak tahun 2012.

Semasa hidupnya, cucu dari ulama kharismatik KH. Maksum Ahmad dan KH. Munawwir ini mengasuh Pondok Pesantren Krapyak di Kompleks Hindun Anisah. Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali memiliki putri semata wayang bernama Ibu Nyai Dr. Hj. Hindun Anisah dan lima orang cucu. Ibu Nyai Dr. Hj. Hindun Anisah sendiri merupakan pengasuh Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri Jepara.

Pondok pesantren yang menjadi tuan rumah KUPI 2 yang berlangsung pada 24-26 November 2022. Yang mana dulu ini adalah salah satu cita-cita luhur KH. Ali Maksum dari nama Nafisah, yaitu hadirnya sosok ulama perempuan. Kini cita-cita tersebut semakin teguh dan diteruskan oleh putri, dzurriyyah dan para santrinya.

Menurut Itsnaatul Latifah santri yang kini menjadi Hakim Pengadilan Agama di Rembang, Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali atau Ibu Nafis (sapaan para santri) adalah sosok yang senantiasa menjaga keindahan, penuh senyum yang tulus, dan tatapan dengan penuh kasih sayang. Selain itu tingkah laku yang jenaka, dan senantiasa memberikan teladan yang baik kepada para santri.

Menghadirkan al-Qur’an di Setiap Waktu

Ibu Nafis memang hadir dari lingkungan yang sangat qur’ani. Selain didikan dan lingkungan, Ibu Nafis secara pribadi memilih untuk tumbuh berjuang sejak muda, menuntut ilmu di lingkungan Krapyak, kemudian ke Lassem dan Kempek Cirebon.

Perjalanan hidup yang tidak mudah yang disampaikan oleh orang-orang disekitarnya maupun oleh Ibu Nafis sendiri kepada para santri lah yang pada akhirnya membentuk karakter dan keilmuan Ibu Nafis menjadi kapabel di bidangnya. Karakter yang sangat sabar dan tekun, istiqamah dan tidak mudah menyerah hingga Itsnaatul selaku narasumber diskusi BuKUPI menyebut beliau layaknya cahaya cinta yang tidak pernah padam.

Bahkan tidak hanya Itsnaatul, beberapa santri Kompleks Hindun BETA pun hingga membuat karya yang indah tentang beliau yang berjudul “Mengukir Insan, Menyemai Teladan: Catatan Hati Santri Mengenang Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali Maksum.”

Langkah pertama yang Ibu Nafis lakukan untuk mendidik generasi penerus Ulama Perempuan adalah dengan cara senantiasa menghadirkan al-Qur’an kapan pun dan di mana pun. Tidak saat di pondok saja lantunan al-Qur’an terdengar, tetapi ketika Ibu dan para santri sedang berada di luar pondok pun al-Qur’an senantiasa hadir di tengah aktivitas.

Saat di tempat makan, di tempat wisata, di toko, di salon, saat perjalanan bahkan dalam kondisi menyetir hingga ketika beliau sakit pun lantunan al-Qur’an senantiasa menghiasi hari-harinya. Bagi ibu, mencintai al-Qur’an bagaikan memiliki dunia dan seisinya. Sedang istiqamah dalam menjaga al-Qur’an adalah bentuk cinta yang harus kita tumbuhkan setiap hari bukan datang sesekali.

Langkah ini tentunya selaras dengan salah satu dari sembilan nilai dasar KUPI yaitu ketauhidan untuk rahmatan lil ‘alamin sebagai bentuk mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW.

Bukan tentang Kerasnya Suara

Langkah kedua yang ibu Nafis lakukan untuk mendidik generasi penerus Ulama Perempuan adalah dengan caranya yang khas. Saat Ibu Nafis marah atau santri tidak mengikuti peraturan yang telah ditetapkan, beliau tidak pernah melukai hati santrinya mana kala mereka harus menjalankan hukuman karena melanggar. Misal terlambat ngaji, terlambat masuk musala, hingga absen tanpa alasan yang jelas.

Ibu Nafis senantiasa mendisiplikan para santri yang terkena hukuman dengan menggunakan istilah unik seperti isik-isik atau wolak-walik. Hukuman tersebut pun bukan hukuman yang memberatkan. Isik-isik para santri pahami sebagai bentuk resik-resik atau bersih-bersih. Seperti membersihkan pintu, kaca, dan lemari. Sedangkan wolak-walik adalah seperti membersihkan piring dan sejenisnya.

Hal ini juga berdasarkan sifat beliau yang terkenal sebagai sosok yang sangat menjaga kebersihan dan keindahan. Sehingga ketika santri sudah berkiprah di masyarakat maupun di ruang domestik, yang teringat bukan hukumannya, tetapi makna dari hikmah pengajaran dalam kegiatan pendisiplinan itu sendiri.

Jika ada santri yang bermasalah atau memiliki kesulitan, sebagai ibu spiritual, beliau juga senantiasa berupaya mengetahui sekecil apapun masalah santri tersebut dan mendampingi para santri untuk merefleksikan permasalahan menjadi sebuah pelajaran.

Bukan hal yang mudah, namun Ibu Nafis senantiasa mengingatkan kepada para santrinya untuk memiliki hati yang luas dan berfikir yang jernih. Sehingga akan nampak kebijaksaan dalam bersikap. Makna kehidupan dengan cara yang ma’ruf inilah yang senantiasa membekas dan terkenang di hati para santri sekalipun sudah selesai mondok dan kembali ke rumah masing-masing.

Disiplin adalah Kunci

Selanjutnya langkah ketiga yang dilakukan oleh Ibu Nafis untuk mendidik generasi penerus Ulama Perempuan adalah dengan melatih disiplin santri sejak pukul 04.00 WIB untuk beribadah di mushola. Bahkan di pagi buta itu, santri diwajibkan sudah mandi sebelum pukul 04.00 WIB.

Terlambat satu menit pun, Ibu Nafis melarang santri untuk mengikuti kegiatan awal hari tersebut termasuk jika beliau terlambat. Ibu mengajarkan kesetaraan agar suasana mengaji menjadi nyaman dan kondusif karena baik santri maupun gurunya beraktivitas dalam keadaan bersih dan suci.

Ketegasan dan disiplin ini beliau tanamkan dengan cara yang ma’ruf serta penuh kesalingan dan keadilan agar para santri kelak tidak hanya dapat membaca al-Qur’an tetapi juga memahami dan menjaganya sepenuh hati. (bersambung). []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.