Sat,25 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. Hentikan Insentif Fiskal EV? ini Dampaknya bagi Harga dan Konsumen

Hentikan Insentif Fiskal EV? ini Dampaknya bagi Harga dan Konsumen

hentikan-insentif-fiskal-ev?-ini-dampaknya-bagi-harga-dan-konsumen
Hentikan Insentif Fiskal EV? ini Dampaknya bagi Harga dan Konsumen
service

KABARBURSA.COM – Direktur Eksekutif Center for Energy Policy, M. Kholid Syeirazi, menyoroti wacana pemerintah untuk menghentikan sejumlah insentif fiskal bagi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) pada 2026. Menurutnya, keputusan ini berpotensi mendorong kenaikan harga EV di pasar, sekaligus menurunkan minat konsumen yang selama ini sangat sensitif terhadap harga.

Kholid menekankan, insentif fiskal sejauh ini berperan sebagai pemanis yang mendorong masyarakat beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil (internal combustion engine/ICE) ke EV. Tahun ini, beberapa stimulus utama resmi berakhir, termasuk pembebasan bea masuk mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) impor utuh (completely built up/CBU) serta skema pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) sebesar 10 persen.

“PPN ini adalah salah satu demand booster penjualan. Tanpa insentif tersebut, kenaikan harga per unit bisa mencapai sekitar 15 persen, yang berisiko menekan penjualan kendaraan listrik di tingkat ritel,” ungkapnya di Jakarta, Kamis.

Ia menambahkan, melemahnya minat masyarakat beralih ke EV berimplikasi langsung pada meningkatnya beban subsidi bahan bakar minyak (BBM). Risiko ini semakin besar mengingat sistem penyaluran subsidi BBM di Indonesia masih bersifat terbuka. Menurut Kholid, seharusnya subsidi diberikan secara tertutup. “Ada atau tidaknya EV, subsidi BBM kita memang belum tepat sasaran. Sistem terbuka sangat rawan moral hazard dan penyimpangan,” tegas anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) tersebut.

Meski demikian, Kholid menilai penghentian stimulus fiskal merupakan langkah realistis untuk menjaga ketahanan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Penyesuaian ini diperlukan guna membuka ruang fiskal bagi berbagai program prioritas di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Ia menekankan, pemerintah sebaiknya tidak sepenuhnya melepas dukungan terhadap industri kendaraan listrik. Masih ada ruang untuk mempertahankan beberapa insentif, seperti pajak daerah rendah atau stimulus nonfiskal, termasuk pembebasan dari kebijakan ganjil-genap.

Hingga saat ini, pelaku industri otomotif dan calon konsumen masih memantau dampak riil kenaikan harga di tingkat diler terhadap penjualan nasional, terutama pada kuartal pertama tahun ini. “Yang ditunggu konsumen adalah insentif pengganti yang akan ditawarkan pemerintah. Jika PPN DTP dan relaksasi bea impor CBU dicabut, harapannya ada pada instrumen pajak lain. Selama pajaknya tetap rendah, itu masih bisa menjadi demand booster bagi pasar,” tutupnya.(*)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.