Hamparan sawah menghijau dengan air yang begitu melimpah dari perbukitan di Nagari Kamang Mudiak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) awal September. Sejumlah petani terlihat sibuk menyiangi gulma yang tumbuh di antara batang tanaman padi. Mereka senang karena beberapa tahun terakhir ini, panen bisa dua kali setahun. Kontras dengan dulu yang rata-rata hanya sekali. Yodiantono, Ketua Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) menyebut, perubahan itu tak lepas dari keberhasilan warga menghijaukan kembali hutan nagari. “Di perbukitan, sekarang tanaman kayu juga rapat. Ada pohon durian, cengkih, kayu manis, manggis, kakao hingga pisang yang bisa warga panen,” katanya kepada Mongabay. Era 1990-2000 menjadi periode paling sulit bagi hutan nagari. Kebakaran kerap terjadi saat musim kemarau tiba hingga membuat kawasan perbukitan tandus. Sawah-sawah mengering. Air pun seolah menjadi barang lagi di nagari ini. Maraknya penebangan kayu ilegal memperparah kondisi hutan nagari kala itu. Yodianto katakan, pernah suatu ketika dia mendatangi suara mesin chainsaw dari dalam hutan. Disana, dia mencoba bicara dengan pelaku yang ternyata warga setempat itu. “Kalau langsung dilarang, pasti enggak mau, pasti melawan. Jadi, saya cuma mengajaknya ngobrol saja,” katanya. Dari obrolan itu, Yodiantono menjadi lebih tahu alasan pelaku menebang kayu di hutan itu. Yakni, karena desakan ekonomi. Saat itu, kata Yodiantono, dengan panen sekali, penghasilan masyarakat memang tak menentu. Sementara di saat sama, kebutuhan makin bertambah. Ketika pilihan sumber penghasilan terbatas, hutan menjadi salah satu tempat yang dapat diandalkan. Terlebih, tingkat kesadaran warga akan dampak penebangan pohon di hutan juga masih rendah. Namun, dampak kekeringan yang semakin parah, pelan-pelan, warga mulai menyadari…This article was originally published on Mongabay
Cerita Masyarakat Kamang Mudiak Mendulang Berkah Hutan Nagari
Cerita Masyarakat Kamang Mudiak Mendulang Berkah Hutan Nagari
0
Share
