Sun,26 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Anak-Anak Pesisir Menanggung Dampak Pembangunan yang Abaikan Krisis Iklim

Anak-Anak Pesisir Menanggung Dampak Pembangunan yang Abaikan Krisis Iklim

anak-anak-pesisir-menanggung-dampak-pembangunan-yang-abaikan-krisis-iklim
Anak-Anak Pesisir Menanggung Dampak Pembangunan yang Abaikan Krisis Iklim
service

Jakarta, NU Online

Krisis iklim tidak lagi sekadar ditandai meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, tetapi telah berkembang menjadi persoalan keadilan antargenerasi. Dampak perubahan iklim kini semakin nyata dirasakan oleh anak-anak yang tinggal di wilayah pesisir, terutama di Pantai Utara (Pantura) Jawa, yang harus menghadapi ancaman banjir rob, abrasi, hingga hilangnya ruang hidup akibat kombinasi krisis lingkungan dan kebijakan pembangunan yang dinilai belum menyentuh akar persoalan.

Laporan Children’s Climate Risk Report 2026 yang dirilis UNICEF memperlihatkan besarnya ancaman tersebut. Hampir seluruh anak di dunia kini terpapar risiko perubahan iklim. Sebanyak 1,1 miliar anak menghadapi tiga ancaman sekaligus, yakni kekeringan, panas ekstrem, dan gelombang panas.

“Sedikitnya 33 juta anak terdampak banjir pesisir dan 337 juta terdampak banjir sungai. Kerentanan mereka semakin kompleks karena faktor usia, gender, dan kondisi disabilitas, terutama saat harus mengungsi dan hidup dalam ketidakpastian,” ujar Pengkampanye Perlindungan Pesisir dan Laut Wahana Lingkungan Indonesia (Walhi), Mida Saragih dalam keterangan yang diterima NU Online, Senin (29/6/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut juga terjadi di Indonesia. Sebanyak 65,8 persen wilayah pesisir Pantai Utara Jawa mengalami erosi yang diperparah oleh penurunan muka tanah. 

“Tingginya paparan bencana iklim di pantai utara Jawa menciptakan tekanan lingkungan dan ekonomi, serta tekanan fisik dan psikologis yang berdampak langsung pada tumbuh kembang anak. Akibatnya, mereka terpaksa tumbuh dalam situasi yang mengancam kesehatan, pendidikan dan masa depan,” katanya.

Senada, Direktur Eksekutif Daerah Walhi Jawa Tengah, Fahmi Bastian menyampaikan bahwa Kabupaten Demak menjadi salah satu contoh nyata wilayah yang mengalami dampak paling serius. Kecamatan Sayung tercatat terdampak banjir rob seluas 1.266 hektare sehingga memaksa masyarakat terus beradaptasi dengan kondisi yang semakin memburuk.

“Banjir rob terjadi secara berulang dan memaksa warga di Desa Sriwulan, Bedono, dan Sidogemah untuk meninggikan rumah mereka setiap beberapa tahun,” jelasnya.

Fahmi mengungkapkan, kondisi yang lebih memprihatinkan dialami warga Desa Bedono. Sejumlah permukiman di desa tersebut telah tenggelam sehingga warga terpaksa berpindah tempat tinggal, termasuk masyarakat di Dusun Tambaksari, Dusun Rejosari, dan Dusun Mondoliko. Situasi itu dipengaruhi oleh akumulasi kenaikan muka air laut sekitar 15,5 centimeter per tahun dan penurunan muka tanah antara tujuh hingga 21 sentimeter per tahun.

“Jika terus membiarkan pesisir tenggelam, maka negara bukan hanya gagal melindungi anak-anak hari ini, tetapi negara juga sedang merampas hak generasi masa depan atas ruang hidup yang aman, sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa prinsip keadilan antar generasi harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan pembangunan.

“Hak antargenerasi menuntut agar tiap kebijakan pembangunan diuji dengan melihat apa kontribusinya pada keselamatan, keberlanjutan, dan kualitas hidup. Kami menghendaki penanganan bencana iklim yang menyentuh akar kerentanan, yakni penyelamatan Pantura Jawa,” katanya.

“Pembangunan yang bertumpu pada proyek skala besar akan memperparah kerentanan pesisir. Sehingga, Pemerintah sudah sepatutnya menghentikan pengembangan mega proyek Giant Sea Wall dan Kawasan Strategis Nasional Kedungsepur yang mencakup Kendal, Demak, Ungaran, Semarang, dan Purwodadi,” pungkasnya. 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.