Jelajah Space

Temukan komunitas, topik, dan suara warga.

🎭

Humaniora

Humaniora: filsafat, sejarah, bahasa, sastra, dan refleksi kemanusiaan yang memperkaya cara warga memahami dunia.

121

πŸ“–

Story

Cerpen, kisah nyata, dan narasi personal warga β€” ruang berbagi cerita yang menyentuh, menginspirasi, dan menghibur.

154

🧭

Adventure

Petualangan outdoor: pendakian gunung, jelajah hutan, arung jeram, dan cerita ekspedisi warga penikmat alam liar.

198

πŸ†

Sports

Sepak bola nasional dan dunia, bulu tangkis, olahraga tradisional, hingga capaian atlet Indonesia di panggung internasional.

189

πŸš€

Tekno & Sains

Teknologi dan sains: AI, gadget, riset terbaru, antariksa, dan temuan ilmiah yang diulas dengan bahasa yang mudah dipahami.

Beli Mikroskop

176

🌍

Internasional

Dunia luar dalam luput warga Indonesia: geopolitik, konflik, iklim global, dan isu lintas negara dari sumber tepercaya.

142

πŸ“ˆ

Ekonomi

Ekonomi rakyat: harga pangan, UMKM, pasar modal, ketenagakerjaan, dan kebijakan fiskal yang menyentuh dompet warga.

218

🚨

Peristiwa

Peristiwa dan kejadian terkini di dalam negeri: breaking news, perkara hukum, dan momen penting yang sedang menjadi sorotan.

164

πŸ˜„

Humor

Lelucon, meme, dan cerita lucu seputar keseharian warga β€” ruang untuk tertawa bareng.

187

πŸ“£

Suara Warga

Kanal aspirasi langsung warga: cerita, pengalaman, dan usulan dari keseharian di lingkungan tempat tinggal.

214

πŸ’­

Opini

Kolom opini dan sudut pandang warga mengenai isu terkini β€” dari kebijakan publik hingga kehidupan sehari-hari.

128

πŸ•Œ

Khazanah

Khasanah keilmuan dan kebudayaan Islam Nusantara: fikih, tasawuf, sejarah, seni baca Al-Qur'an, dan warisan pesantren.

Cari Buku Islam

1.156

✈️

Travel

Cerita perjalanan, rekomendasi destinasi, tips anggaran, dan hidden gems Nusantara dari sudut pandang warga perantau.

2.607

🎬

Hiburan

Film, musik, seri, dan panggung komedi β€” tempat warga berbagi resensi, gosip sehat, dan daftar tontonan terbaik minggu ini.

1.789

βš–οΈ

Politik

Panggung warga menyikapi dinamika politik nasional: pemilu, parlemen, kekuasaan, dan tarik-menarik elite β€” dengan data dan nalar, bukan bumbu sensasi.

2.314

🦜

Satwa & Konservasi

Perlindungan satwa liar, perdagangan ilegal, dan konservasi habitat.

640

🚌

Transportasi Publik

MRT, LRT, TransJakarta, KRL, dan penyeberangan: jadwal, keluhan, dan usulan rute.

2.043

♻️

Lingkungan & Sampah

Bank sampah, pengelolaan sampah, karhutla, dan aksi lingkungan warga.

1.876

🌊

Siaga Bencana

Laporan dan informasi kebencanaan terkini: banjir, erupsi, gempa, dan upaya evakuasi.

3.512

πŸ—οΈ

Infrastruktur Kota

Diskusi jalan, trotoar, drainase, jembatan, dan fasilitas publik di sekitar kita.

1.240

πŸ₯

Kesehatan Warga

Isu kesehatan masyarakat, sanitasi, gizi, dan program kesehatan publik.

1.320

πŸ“°

Kabar Daerah

Berita daerah terverifikasi dari media nasional dan sumber resmi pemerintah.

Baca Berita

1.560

πŸ›οΈ

Pemerintahan & Kebijakan

Kawal kebijakan pusat dan daerah, APBN/APBD, serta transparansi anggaran publik.

987

Kiriman Terbaru

BT
Budiman TanuredjoΒ· Warga
1 jamΒ·πŸ“–Story
Kiriman

Jabatan, Keserakahan, dan Anak Muda yang Berisik

Ada satu kata yang saya ingat dari Ahmad Jilul Qur’ani Farid (33) yang terus mengusik: monetisasi. Dalam dunia media digital, kata itu akrab. Orang membuat konten, membangun penonton, mencari pendapatan. Dalam Ruang Tamu BacktoBDM , Jilul membawa kata itu ke wilayah berbeda: kewenangan pejabat. Saya mengajak ngobrol Jilul dalam posisinya sebagai Sekretaris Kabinet “Kabinet Bayangan.” Ia bersama Feri Amsari mengarsiteki Kabinet Bayangan. Ia datang mengenakan rompi bertuliskan Kabinet Bayangan dengan naik ojek. Ia baru kembali dari Flores, daerah yang masih porak-poranda karena gempa. Menurut Direktur Eksekutif Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) itu, sebagian pengurus negara melihat jabatan sebagai kesempatan memperoleh keuntungan pribadi. Begitu berkuasa, mereka menghitung apa yang dapat dihasilkan kewenangannya. Di tangan pejabat ada izin, anggaran, keputusan, dan akses terhadap sumber daya publik. Ketika semuanya menjadi peluang pendapatan pribadi, warga harus membayar untuk memperoleh sesuatu yang sesungguhnya merupakan hak mereka. Pelayanan mempunyai tarif tersembunyi. Keputusan bisa dinegosiasikan. Orang yang memiliki uang dan kedekatan mendapat jalan lebih lapang. Mereka yang tidak memiliki keduanya harus menunggu. “…Di semua level lapisan yang mereka punya kewenangan, mereka selalu mencari kira-kira monetisasi dari kewenangan ini apa…” Di balik kamera, saya memikirkan pertanyaan yang melelahkan: berapa banyak penangkapan lagi yang diperlukan agar jabatan tidak diperlakukan sebagai kesempatan memperkaya diri? Program sakral Presiden Prabowo pun digerogoti korupsi seperti proyek makan bergizi gratis (MBG). Tokoh sentral dalam pemberantasan korupsi, Febrie Adriansyah pun terkena kasus korupsi sehingga muncul seloroh memberantas korupsi sambil korupsi. Jilul menyebut keserakahan atau rakus sebagai salah satu pangkal persoalan. Orang terus mengambil karena tidak pernah merasa cukup. Bahkan mereka yang sudah kaya dan berkuasa masih ingin mengumpulkan lebih banyak. Namun, keserakahan perlu dilihat bersama kesempatan yang disediakan sistem. Hasrat mengambil menjadi lebih berbahaya ketika kewenangan luas, pengawasan lemah, dan kemungkinan dihukum terasa kecil. Karena itu, harapan kepada orang baik perlu ditopang aturan. Warga membutuhkan mekanisme untuk menggugat keputusan. Pengawas membutuhkan kebebasan memeriksa orang yang lebih tinggi kedudukannya. Jilul menggunakan gambaran pagar: pembatasan kewenangan, pemeriksaan, dan pertanggungjawaban. Ia mengkhawatirkan pagar yang dilonggarkan ketika ruang mengambil keputusan sendiri justru diperluas. Pemerintah tentu membutuhkan keluwesan bekerja. Tetapi publik berhak mengetahui siapa yang memutuskan, untuk kepentingan apa, menggunakan anggaran berapa, dan bagaimana keputusan itu diperiksa. Uangnya milik publik. Akibatnya ditanggung bersama. Percakapan juga membawa kami kepada hubungan masyarakat dengan jabatan. Seseorang yang kemarin biasa saja tiba-tiba diperlakukan berbeda setelah menjadi pejabat. Ucapannya lebih mudah dibenarkan. Orang di sekitarnya semakin berhati-hati menyampaikan keberatan. Kita dapat lupa bahwa pejabat menjalankan pekerjaan yang dipercayakan oleh publik. Ada tanggung jawab yang harus ditunaikan dan hasil yang harus diperiksa. Alternatif anggaran Melalui Kabinet Bayangan, Jilul dan kawan-kawannya mencoba mengusik kebiasaan tersebut. Sebutan “menteri” memang dapat mengundang senyum. Mereka tidak mempunyai kementerian atau anggaran negara. Tetapi ada pertanyaan serius di dalamnya: mengapa urusan negara seolah-olah hanya boleh dibicarakan pemegang jabatan? Guru dapat menguji kebijakan pendidikan. Tenaga kesehatan dapat menunjukkan kelemahan pelayanan. Peneliti dapat menawarkan pilihan. Pengetahuan mereka tumbuh dari pekerjaan dan pengalaman sehari-hari. Kabinet Bayangan menjadi berarti apabila mampu mempertemukan pengetahuan tersebut, menguji keputusan pemerintah, dan menghasilkan alternatif yang dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu rencana Jilul adalah shadow budgeting , menyusun alternatif anggaran. Kritik dilanjutkan dengan perhitungan: jika sebuah pos dikurangi, kebutuhan apa yang dapat dipenuhi? Jika pemerintah menyatakan tidak ada uang, bagaimana prioritas belanjanya? Pekerjaan itu membutuhkan ketekunan. Data diperiksa, angka dihitung, usulan diuji. Organisasi masyarakat sipil sering memiliki tenaga dan dana terbatas. Namun, ruang bekerja bersama tetap perlu dibangun. Lalu kami membicarakan generasi muda. Jilul melihat mereka semakin sadar akan persoalan yang diwarisi. Mereka membuat satire, mengkritik pejabat, dan mengusik kekuasaan melalui media sosial. Kadang bahasanya tajam, bahkan disertai umpatan. Saya tidak menyetujui setiap cara yang digunakan. Kritik perlu menjaga ketepatan informasi dan martabat manusia. Namun, kita juga perlu bertanya mengapa sebagian anak muda merasa harus berteriak agar didengar. Mungkin mereka sudah berbicara tertib tanpa memperoleh jawaban. Mungkin media sosial menjadi tempat paling mudah dijangkau ketika saluran lain terasa jauh. Ada pula yang menyoroti barang mewah pejabat dan membandingkan harganya dengan kehidupan warga. Penampilan memang tidak membuktikan pelanggaran. Tetapi ia membuka pertanyaan tentang kepantasan: bagaimana pejabat menyerukan penghematan ketika dirinya mempertontonkan kemewahan? Kesulitannya, banyak suara protes berjalan sendiri-sendiri. Mereka bertemu ketika sebuah peristiwa memicu kemarahan, lalu hubungannya mengendur saat perhatian berpindah. Kemarahan membutuhkan tempat bertemu, kepercayaan, tuntutan yang jelas, dan pembagian pekerjaan. Siapa yang memeriksa data? Siapa yang mendampingi warga? Siapa yang mengikuti pembahasan kebijakan setelah keramaian mereda? Kerja yang sunyi itu menentukan apakah protes menghasilkan perubahan yang bertahan. Seusai percakapan, saya tidak membawa jawaban tuntas tentang bagaimana korupsi diakhiri. Tetapi saya membawa kegelisahan tentang anak-anak muda. Kita meminta mereka mencintai negeri ini, sementara mereka menyaksikan perilaku pengurusnya dan mencemaskan masa depan sendiri. Kecintaan dapat hadir sebagai keberatan, pertanyaan yang terus diulang, dan penolakan menganggap korupsi sebagai hal biasa. Di Ruang Tamu BacktoBDM , tugas saya memberi ruang bagi suara itu dan membantu penonton menimbangnya. Anak-anak muda yang berisik sedang mengingatkan bahwa ada sesuatu yang belum selesai di republik ini. Sebelum meminta mereka merendahkan suara, ada baiknya kita mendengar apa yang mereka perjuangkan. Obrolan Ruang Tamu BacktoBDM di Kanal Youtube Budiman Tanuredjo Jurnalisme untuk Sesama Memo BDM dijalankan dengan semangat “Jurnalisme untuk Sesama” dengan Komitmen 25. Artinya, minimal 25 persen kontribusi Anda disalurkan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Sebuah cara kecil agar jurnalisme tetap berpihak pada manusia. Sepanjang Juli 2025–September 2026, MemoBDM menerima partisipasi sebesar Rp 104.568.121 dan telah menyalurkan Rp 70.697.121 (67,61%). kepada mereka yang membutuhkan. Seluruh penyaluran dilakukan melalui rekening khusus BCA 111.044.1114 a.n. Budiman Tanuredjo dan dilaporkan secara berkala. Memo BDM-Memo Nurani Bangsa Tulisan ini juga telah dipublikasikan di memobdm .

Buka Komunitas

Jabatan, Keserakahan, dan Anak Muda yang Berisik
0
BT
Budiman TanuredjoΒ· Warga
1 jamΒ·πŸ“–Story
Kiriman

Ketika Politik Menyandera Masa Depan

KEGADUHANN seperti tak pernah berhenti di negeri ini. Menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, ruang publik terus diwarnai kontroversi. Pemilu 2024, yang semestinya menjadi titik awal bagi bangsa ini, untuk kembali bekerja dan membangun masa depan, dengan semangat kesinambungan, justru meninggalkan perdebatan politik yang tak kunjung selesai. Kebisingan semakin nyaring. Kabinet dibongkar dan pasang. Jumlahnya kian membesar. Ekspresi kebencian, umpatan politik, mudah ditemukan. Namun, kejernihan dan kejujuran sebagaimana diterakan Ketetapan MPR soal etika kehidupan berbangsa dan bernegara justru terasa semakin langka dan memudar. Tap MPR soal etika berbunyi, “…etika politik dan pemerintahan mengandung misi kepada setiap pejabat dan elit politik untuk bersikap jujur, amanah, sportif, siap melayani, berjiwa besar, memiliki keteladanan, rendah hati, dan siap mundur dari jabatan politik apabila terbukti melakukan kesalahan dan secara moral kebijakannya bertentangan dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat. Etika ini diwujudkan dalam bentuk sikap yang bertata krama dalam perilaku politik yang toleran, tidak berpura-pura, tidak arogan, jauh dari sikap munafik serta tidak melakukan kebohongan publik, tidak manipulatif dan berbagai tindakan yang tidak terpuji lainnya…” Kontroversi terakhir muncul setelah putusan Mahkamah Konstitusi mengenai persyaratan pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. MK menyatakan permohonan pemohon tidak dapat diterima. MK juga mengatakan, tidak menemukan bukti ijazah SMA Gibran. Namun, putusan tersebut tidak serta-merta menjawab seluruh pertanyaan substantif yang berkembang di masyarakat mengenai dokumen pendidikan Gibran. Perkara secara hukum telah diputus, tetapi perdebatan di ruang publik belum juga berakhir. Padahal, konstitusi menegaskan, putusan MK final dan mengikat. Sebagian pihak mendesak Gibran mengundurkan diri. Sebagian lainnya mengusulkan pemakzulan melalui mekanisme konstitusional. Gibran sendiri merespons dengan pertanyaan, “Kalau tak punya ijazah SMA, masak bisa kuliah S1?” Perdebatan pun melebar pada perbedaan sistem pendidikan Indonesia dan Singapura. Pertanyaan berikutnya bermunculan. Jika ada persyaratan administratif yang dipersoalkan, bagaimana proses verifikasi KPU ketika pencalonan berlangsung? Jika dokumen pendidikan itu tersedia, mengapa tidak diserahkan ke MK secara terbuka untuk meyakinkan majelis sekaligus publik. Pertanyaan bertumpuk di atas pertanyaan. Perdebatan berputar tanpa menemukan titik temu. Masing-masing pihak semakin sibuk mempertahankan keyakinannya sendiri. Ruang publik terasa pengap. Kita seperti kehilangan kemampuan membedakan antara mencari kebenaran dan memenangkan pertengkaran. Di tengah kegaduhan itu, saya teringat percakapan dalam Ruang Tamu BacktoBDM bersama Prof Elwin Tobing, profesor ekonomi dari University of California. “Bangsa ini terlalu banyak politik dan tidak memikirkan pembangunan sumber daya manusia,” katanya. Kalimat semakin relevan. Kita terlalu sibuk memperdebatkan siapa yang berhak menduduki kekuasaan, tetapi kurang memberikan perhatian pada bagaimana kekuasaan digunakan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Kualitas rapuh Pekan ini, saya mendapat kirim pesan melalui WA dari Elwin Tobing. Ia menulis demikian, “Bukan tujuan saya masuk ke riuh politik ijazah. Tetapi kontroversi ijazah ini seharusnya membuka persoalan yang jauh lebih besar. Menjadi moment of truth bagi kita untuk memahami kenyataan fundamental: kualitas pendidikan Indonesia masih rapuh.” Atas izin Elwin saya mengutip pesan WA kepada saya. Dia menulis demikian, “Anak-anak kita bisa bersekolah 12 tahun dan memperoleh ijazah SMA/SMK. Tetapi apakah mereka benar-benar memperoleh pembelajaran setara 12 tahun? Lama bersekolah (years of schooling) hanya mengukur kuantitas. Yang lebih penting adalah years of learning: berapa banyak pengetahuan, kemampuan bernalar, dan keterampilan yang benar-benar diperoleh selama bersekolah. Inilah kualitas.” Bagaimana mengukurnya? Bank Dunia mengembangkan Learning-Adjusted Years of Schooling (LAYS) , yang menggabungkan lama sekolah dengan kualitas pembelajaran. Kualitas ini diukur melalui Harmonized Test Scores, yang menyetarakan hasil berbagai asesmen internasional ke dalam satu skala global. Dengan LAYS, satu tahun bersekolah tidak otomatis berarti satu tahun belajar. Kita pun dapat membandingkan kualitas pembelajaran antarnegara. Salah satu asesmen yang digunakan untuk pembobotan kualitas adalah PISA (Programme for International Student Assessment) . Ini menguji kemampuan siswa usia 15 tahun dalam matematika, membaca, dan sains. Bukan sekadar bisa membaca, tetapi mampu memahaminya, bernalar, dan menggunakan pemahamannya untuk memecahkan masalah. Dua Dunia Pendidikan Selama 25 tahun terakhir, hasil PISA konsisten menempatkan Indonesia di kelompok terbawah dunia, sementara Singapura di jajaran teratas. Lihat saja PISA 2025, yang diikuti 91 negara dan wilayah ekonomi. Indonesia berada di peringkat 73–78, sementara Singapura di peringkat 1–2. Skor PISA 2025: Indonesia vs Singapura. Angka dalam kurung menunjukkan peringkat. •⁠ ⁠Matematika: 364 (78) vs 563 (2) •⁠ ⁠Membaca: 365 (74) vs 535 (1) •⁠ ⁠Sains: 389 (73) vs 560 (2) Namun, yang lebih mengkhawatirkan bukan sekadar selisih skor, melainkan kesenjangan kemampuan siswa. Berikut persentase siswa di bawah kompetensi dasar. Yaitu, yang belum menguasai kemampuan minimum untuk memahami informasi dan memecahkan persoalan sehari-hari. Indonesia vs Singapura •⁠ ⁠Matematika: 83% vs 11% •⁠ ⁠Membaca: 73% vs 14% •⁠ ⁠Sains: 63% vs 10% Artinya, 63%-83% (atau digeneralisasi 75%) murid Indonesia belum mencapai kompetensi dasar. Ini menjadi beban besar bagi sistem pendidikan dan masa depan bangsa. Di Singapura, angkanya hanya sekitar 10–14%. Bagaimana dengan siswa berprestasi tertinggi, yang mampu bernalar dan memecahkan persoalan kompleks, mencerminkan kompetensi kelas dunia? Indonesia vs Singapura •⁠ ⁠Matematika: ≈0% vs 37% •⁠ ⁠Membaca: ≈0% vs 22% •⁠ ⁠Sains: ≈0% vs 26% Di Indonesia, praktis nol persen (persentase sangat kecil) mencapai kompetensi tertinggi. Di Singapura, angkanya mencapai 22–37%. Jadi, Indonesia menghadapi dua masalah sekaligus: mayoritas siswa belum menguasai kompetensi dasar, sementara hampir tidak ada yang mencapai tingkat tertinggi. Di Singapura, gambarannya justru terbalik. Ini bukan lagi sekadar jurang, melainkan dua dunia pendidikan yang sangat berbeda. Lama sekolah bisa sama, tetapi pengetahuan dan kemampuan siswa bisa berbeda jauh. Kualitas pembelajaran inilah yang diperhitungkan dalam LAYS. Selain PISA, pengukurannya menggunakan TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study), PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study), serta berbagai asesmen regional. SMP Singapura vs SMA di Indonesia Dengan menggunakan LAYS (Data World Bank, 2024), Indonesia memiliki ekspektasi 12,4 tahun sekolah, tetapi hanya 7,8 tahun pembelajaran efektif. Singapura memiliki 13,9 tahun sekolah, dengan 12,8 LAYS. Selisih lama sekolah hanya 1,5 tahun. Tetapi setelah kualitas pembelajaran diperhitungkan, kesenjangannya mencapai 5 tahun. Apa artinya? Jika rasio LAYS diterapkan secara proporsional, sembilan tahun sekolah di Singapura menghasilkan sekitar 8,3 tahun pembelajaran efektif, sementara dua belas tahun sekolah di Indonesia hanya 7,5 tahun. Artinya, secara rata-rata, lulusan setara SMP di Singapura sudah mengakumulasi lebih banyak pembelajaran daripada lulusan SMA di Indonesia. Inilah persoalan besar pendidikan kita. Bangsa hanya bisa maju jika pendidikan membuat warganya mampu berpikir, bernalar, mencipta, dan memecahkan masalah. Bukan sekadar lebih lama bersekolah atau memiliki ijazah. Persoalan ini telah berlangsung puluhan tahun. Inilah yang saya sebut krisis kronis struktural (KKS) pendidikan Indonesia. Tidak cukup diatasi dengan menambah program atau anggaran tanpa membenahi akar masalahnya. Banyak yang berbicara tentang kepedulian terhadap pendidikan. Tetapi sedikit yang sungguh memahami kenyataan kualitas pembelajaran kita, apalagi memiliki solusi sistematis untuk mengubahnya. Inilah yang mendorong perlunya dikembangkan LIFT ( Literacy for the Future) , gerakan transformasi pendidikan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Murid yang belajar menjadi pusatnya, membaca menjadi kegiatan utamanya, dan ekosistem pembelajaran menjadi penggerak perubahan. Ini sudah menjangkau puluhan ribu murid, lebih 500 masing-masing kepala sekolah, guru, dan orang tua, serta melibatkan komunitas dan pemerintah daerah/provinsi. Tujuannya jelas: bukan sekadar membuat lebih banyak anak bersekolah, tetapi memastikan mereka benar-benar belajar. Kuat literasinya, tajam daya nalarnya, dan kokoh karakternya. Jangan kita lebih sibuk dengan hiruk pikuk politik kekuasaan, sementara pendidikan bangsa ini tetap carut marut. Sebelum semakin terlambat! Saya kira data pendidikan dari Elwin memberikan gambaran dimana bangsa ini berada. Di bidang pendidikan, kita jauh tertinggal dibandingkan dengan Singapura… Jurnalisme untuk Sesama Memo BDM dijalankan dengan semangat “Jurnalisme untuk Sesama” dengan Komitmen 25. Artinya, minimal 25 persen kontribusi Anda disalurkan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Sebuah cara kecil agar jurnalisme tetap berpihak pada manusia. Sepanjang Juli 2025–September 2026, MemoBDM menerima partisipasi sebesar Rp 104.568.121 dan telah menyalurkan Rp 70.697.121 (67,61%). kepada mereka yang membutuhkan. Seluruh penyaluran dilakukan melalui rekening khusus BCA 111.044.1114 a.n. Budiman Tanuredjo dan dilaporkan secara berkala. Memo BDM-Memo Nurani Bangsa Tulisan ini juga telah dipublikasikan di memobdm .

Ketika Politik Menyandera Masa Depan
0
W
WidiyaΒ· Warga
Kiriman

7 Sambutan Pembina Upacara untuk Hari Sumpah Pemuda dari Berkesan sampai Penuh Makna yang Bisa Dipilih!

Mendekati Hari Sumpah Pemuda, persiapan upacara biasanya mulai dilakukan. Selain menentukan petugas dan susunan acara, ada satu hal yang nggak kalah penting, yaitu menyiapkan teks sambutan pembina upacara untuk Hari Sumpah Pemuda.Sambutan ini sebaiknya nggak sekadar pidato formal yang isinya template. Idealnya, sambutan Hari Sumpah Pemuda membahas persatuan, semangat belajar, gotong royong, sampai peran generasi […] Tulisan ini juga telah dipublikasikan di www.hipwee.com .

7 Sambutan Pembina Upacara untuk Hari Sumpah Pemuda dari Berkesan sampai Penuh Makna yang Bisa Dipilih!
0
W
WidiyaΒ· Warga
Kiriman

Gen Z Takut Punya Anak, Dilema Nyata yang Tidak Bisa Dipandang Sebelah Mata

Di tengah biaya hidup yang terus menuntut, anak muda bukan cuma memikirkan kapan menikah, tetapi juga sanggup atau tidak membesarkan anak dengan layak. Ketakutan ini bukan selalu tanda tidak suka anak, melainkan bisa menjadi bentuk pertimbangan tentang tanggung jawab, kondisi finansial, kesehatan mental, dan masa depan keluarga. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di www.hipwee.com .

Gen Z Takut Punya Anak, Dilema Nyata yang Tidak Bisa Dipandang Sebelah Mata
0
NR
Nendra RengganisΒ· Warga
Kiriman

Cara Bikin Video AI 30 Detik di APIPod biar Wajah Karakternya Konsisten

Lagi cari cara membuat video AI 30 detik yang hasilnya rapi? Pernah bikin, terus hasilnya β€œrusak” di tengah jalan? Wajah karakter tiba-tiba berubah, warna baju ganti sendiri, atau muncul suara yang nggak ada di naskah. Masalah seperti ini biasanya bukan muncul di detik pertama, tapi di pertengahan klip.Kalau bahanmu sudah lengkap, misalnya foto karakter, cuplikan […] Tulisan ini juga telah dipublikasikan di www.hipwee.com .

Cara Bikin Video AI 30 Detik di APIPod biar Wajah Karakternya Konsisten
0
AJ
Anisa JΒ· Warga
Kiriman

Mau Bikin Video yang Mudah Dipahami Penonton? Tambahkan Caption Otomatis Aja!

Bikin video buat media sosial sekarang makin praktis. Cukup bermodal smartphone dan aplikasi edit video, kamu sudah bisa bikin berbagai konten, mulai dari vlog traveling, daily vlog, tutorial, sampai cerita misteri. Biar hasilnya makin maksimal, tambahkan caption atau teks pendamping.Caption membantu penonton memahami isi video, terutama saat mereka nonton tanpa suara atau sedang di tempat […] Tulisan ini juga telah dipublikasikan di www.hipwee.com .

Mau Bikin Video yang Mudah Dipahami Penonton? Tambahkan Caption Otomatis Aja!
0
LJ
Lila Juniyanti, Peneliti di Pusat Riset Kependudukan, Badan Riset dan Inovasi NasionalΒ· Warga
Kiriman

Karhutla membuka babak baru pemulihan gambut: Sains buktikan peran warga jadi penentu

Warga memantau kondisi gambut (Aris Sanjaya/CIFOR) , CC BY-NC-SA β€’ Kerusakan gambut berawal dari hadirnya ekspansi perkebunan berskala besar. β€’ Pemulihan perlu mengakrabkan kembali hubungan warga dengan ekosistem gambut. β€’ Warga dapat dilibatkan memantau kondisi gambut dan berladang secara ramah lingkungan. Pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) membuka babak baru dalam pengelolaan gambut Indonesia . Pemerintah menyebutkan pengelolaan gambut dari lembaga baru ini akan mengedepankan pengetahuan dan kearifan lokal untuk memulihkan lahan gambut yang rusak dan mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) . Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gambut, termasuk Masyarakat Peduli Api (MPA) , juga diharapkan berperan dalam mencegah dan menangani kebakaran. Bagi saya, hal ini penting karena Indonesia sebenarnya sudah memiliki pengalaman melibatkan masyarakat dalam pemulihan gambut. Pertanyaannya, bagaimana memastikan warga bukan sekadar penerima program, melainkan bagian penting dari pengelolaan ekosistem ini? Bagaimana kondisi gambut Indonesia? Sejak lama, warga di Sumatra dan Kalimantan hidup berdampingan dengan gambut . Mereka memanfaatkan hasil hutan dan rawa sebagai sumber pangan dan penghidupan, termasuk melalui praktik berladang yang menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan. Semua berubah sejak kanal-kanal raksasa dibangun untuk mendukung ekspansi perkebunan besar. Saat ini, sekitar 5,2 juta ha gambut di Indonesia berada dalam area konsesi sektor kehutanan dan perkebunan. Kanal membuat air yang tergenang di lahan gambut lebih cepat mengalir keluar dan mengeringkan gambut. Hasil survei 1.275 responden dan wawancara mendalam oleh saya dan tim di 17 desa di Riau dan Kalimantan Barat mendapati kanal-kanal besar ini menjadi salah satu biang keladi kebakaran berulang. Survei tersebut (tidak dipublikasi) berlangsung pada 2024 - 2025 dibawah proyek Community Movement Project (CMP), kolaborasi Kementerian Kehutanan & lembaga kerja sama internasional. Kerusakan gambut turut menyulitkan warga mencari nafkah. Selain sukar menemukan makanan dari gambut, mereka pun terancam ditangkap aparat jika membuka ladang dengan membakar. Sebagian warga kemudian mencari penghidupan lain dengan memanfaatkan lahan gambut untuk pertanian ataupun perkebunan –yang justru berpotensi menambah tekanan terhadap gambut. Baca juga: Agar tak jadi biang emisi, pemulihan lahan gambut tidak bisa setengah-setengah Pelestarian gambut oleh masyarakat Pemulihan gambut tidak cukup hanya dengan melarang pembukaan lahan. Pemerintah juga perlu membantu warga mendapatkan sumber penghasilan yang layak tanpa merusak lingkungan. Penanaman di lahan gambut berkas terbakar oleh masyarakat (Author provided). CC BY-NC-SA Riset aksi partisipatif saya bersama tim Center for International Forestry Research (CIFOR) di Siak dan Bengkalis sejak 2018 mencoba menggabungkan usaha perbaikan ekosistem gambut dengan pertanian dan perikanan warga. Dua kabupaten di Riau ini merupakan kawasan gambut terbesar di Indonesia . Semuanya dimulai dari komitmen warga untuk mengembalikan ekosistem gambut yang rusak dengan pembasahan kembali. Langkah ini dilakukan dengan membuat sekat-sekat di kanal gambut agar air kembali menggenangi lahan. Selanjutnya adalah memilih komoditas yang dibudidayakan warga. Warga menyepakati komoditas yang cepat dipanen seperti nanas ataupun jahe, hingga perikanan gabus sebagai ikan asli rawa gambut. Pembagian biaya dan manfaat juga dibicarakan antarkelompok seperti petani, perempuan, dan masyarakat adat. Baca juga: Jejak kejayaan pangan orang Dayak di tanah handil, mungkinkah bisa hidup kembali? Pendekatan ini penting karena pemulihan gambut sering kali menghadapi dilema . Masyarakat membutuhkan pendapatan sekarang, sementara manfaat lingkungannya terlihat dalam 10-15 tahun mendatang. Warga sebagai pemantau gambut Restorasi membutuhkan pemantauan yang memadai . Masyarakat dapat membantu memantau tinggi muka air, pertumbuhan tanaman, tutupan vegetasi, kejadian kebakaran, dan perubahan penghidupan mereka. Pembuatan sumur pantau untuk mengukur Tinggi Muka Air (TMA) lahan gambut oleh masyarakat (Author provided). CC BY-NC-SA Mengapa pemantauan oleh warga tetap penting ? Sebab, masyarakat yang tinggal dekat dengan lahan memiliki pengetahuan tentang perubahan sehari-hari yang mungkin tidak tertangkap oleh survei sesekali. Sebaliknya, teknologi dan metode ilmiah dapat membuat pengetahuan tersebut lebih sistematis. Keduanya seharusnya saling melengkapi. Masyarakat memantau kondisi gambut dengan perangkat berbasis Android (Author provided). CC BY-NC-SA Kegiatan restorasi telah menunjukkan hasilnya di lapangan. Pembasahan kembali ( rewetting ) membuat gambut lebih lembap sehingga risiko kebakaran dapat ditekan. Pohon yang ditanam warga di lahan gambut yang sebelumnya rusak akibat kebakaran juga menunjukkan pertumbuhan yang baik. Kita dapat memantau perkembangannya melalui dasbor pemulihan gambut berbasis masyarakat . Dari proyek menjadi pembelajaran berkelanjutan Pemulihan gambut membutuhkan waktu, evaluasi, dan pembelajaran berulang . Program jangka pendek yang hanya mengikuti siklus anggaran tahunan berisiko memutus proses tersebut ketika proyek berakhir. BPGMN berpeluang memastikan pengalaman masyarakat tidak hilang. Data pemantauan, keberhasilan maupun kegagalan budi daya, serta perkembangan usaha warga perlu dicatat dan digunakan untuk memperbaiki kebijakan. Indonesia sudah memiliki pengalaman memulihkan ekosistem ini, terutama saat Badan Restorasi Gambut dan Mangrove bertugas selama 2016 - 2024. Tantangannya berikutnya adalah menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan, dan pengalaman warga dalam sistem pengelolaan gambut yang berkelanjutan, termasuk di wilayah konsesi perusahaan. Baca juga: Menghadapi super el niΓ±o 2026: mengapa kolaborasi dengan warga lebih ampuh ketimbang instruksi terpusat padamkan karhutla? Masyarakat bukan sekadar garda terdepan ketika kebakaran terjadi. Mereka merupakan bagian penting dari pengelolaan gambut sehari-hari. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya bagaimana mencegah kebakaran, melainkan bagaimana memastikan masyarakat dapat hidup dari gambut tanpa merusak fungsi ekologisnya, sekaligus memiliki pengetahuan, kelembagaan, dan sarana untuk menjaganya. Lila Juniyanti tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Karhutla membuka babak baru pemulihan gambut: Sains buktikan peran warga jadi penentu
0
YS
Yulianty Sanggelorang, Dosen, Universitas Sam RatulangiΒ· Warga
Kiriman

Riset buktikan β€˜stunting’ membayangi daerah berstatus tahan pangan

● Status ketahanan pangan suatu daerah bukan jaminan 100% warganya tidak kelaparan dan β€˜stunting’. ● Riset di Sulawesi Utara, menunjukkan selalu ada keluarga yang kelaparan karena rumitnya dinamika sosial-ekonomi. ● Ini perlu jadi basis penanggulangan pemerintah menjamin ketersediaan pangan dan mencegah β€˜stunting’. Sentimen buruk dan prasangka negatif ternyata bukan hanya bagian dari rasa pesimis. Menurut riset saya dan tim dari Universitas Sam Ratulangi, Sulawesi Utara, , sentimenβ€”tentang pangan misalnyaβ€”bisa saja menjadi kenyataan. Tanda-tandanya dimulai dari kekhawatiran akan persediaan makanan tidak cukup, pilihan pangan terbatas dan menyempit, kualitas pangan menurun, porsi makan berkurang, atau satu waktu makan yang mulai terlewatkan. (Badan Pangan Nasional 2025) Dalam membaca rangkaian tanda-tanda kerawanan pangan tersebut, riset kami juga melihat bahwa tanda bahaya kekurangan pangan bisa tetap terjadi di daerah berstatus aman pangan. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utaraβ€”yang menjadi lokasi penelitian kami contohnya. Di lokasi ini, skor Indeks Ketahanan Pangan ( IKP ) 2021 sebesar 81,85 atau berstatus β€œsangat tahan pangan”. Namun, pada 2024, skor IKP Boltim turun 6,63 poin menjadi 75,22 dan menurunkan peringkat kabupaten ini ke kelompok lima atau berstatus β€œtahan”. Temuan ini menegaskan bahwa kondisi pangan di tingkat wilayah belum tentu dirasakan secara sama oleh setiap rumah tangga. Baca juga: Waspada dampak nyata Super El Nino hingga awal tahun 2027 Kerentanan pangan punya tanda Pangan bisa saja tersedia secara memadai di suatu daerah, tetapi selalu ada sebagian rumah tangga yang tak bisa menggapai ketersediaan tersebut. Penyebabnya beragam, mulai dari salah satu pencari nafkah kehilangan sumber nafkah, musim kemarau panjang, bencana alam, ada keluarga yang sakit, anak membutuhkan biaya tambahan untuk pendidikan, atau biaya sosial lainnyaβ€”misal kenduri yang memakan biaya banyak hingga berhutang . Baca juga: Tugas Kepala BGN baru Sudaryono: Hemat APBN, pemerataan penyaluran, perbaikan gizi, atau pembubaran lembaga Untuk mengujinya, kami menggunakan dua sumber data yang menggambarkan situasi pangan di Boltim berbasis dua skala. Pertama, data dari Indeks Ketahanan Pangan (IKP) 2021 yang menggambarkan kondisi ketahanan pangan tingkat kabupaten. Kedua, data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 yang melihat pengalaman kerentanan pangan pada rumah tangga dengan balita. Keduanya menyajikan gambaran berbeda tapi tidak bertentangan. IKP membantu melihat ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan secara umum, sementara data rumah tangga memberi gambaran apa yang terjadi di meja makan keluarga. Berdasarkan analisis data SSGI keluarga yang memiliki balita, terlihat gambaran yang lebih spesifik: sekitar 11,5% rumah tangga khawatir tidak memiliki cukup makanan, 9,1% tidak mampu mengonsumsi makanan sehat dan bergizi. Sementara itu, sebanyak 18,9% rumah tangga hanya mengonsumsi jenis makanan sekadar untuk mengisi perut. Kajian tahun 2021 juga menemukan 30,4% rumah tangga pernah melewatkan satu waktu makan bukan karena sedang berpuasa puasa atau diet, 13,2% makan lebih sedikit daripada yang dibutuhkan, dan 3,7% pernah kehabisan makanan. Kemudian, 1,2% rumah tangga pernah mengalami lapar tetapi tidak makan, dan 2,1% pernah tidak makan sepanjang hari bukan dalam rangka puasa atau diet. Baca juga: Jalan terjal mengentaskan warisan kemiskinan ke anak Kondisi keluarga menentukan tingkat keparahan Rentetan temuan di atas menunjukkan pola dampak kerawanan pangan di tingkat rumah tangga yang mendalami beragam faktor penyebab seperti perbedaan usia, gender, keadaan fisik, status sosial dalam keluarga, atau penyebab lain, bisa menentukan efeknya kelak . Masalahnya, selama ini persentase siapa yang kenyang dan lapar dalam statistik belum menggambarkan jenis kelamin, usia, atau status sosial lainnya. Bayangkan sebuah keluarga dengan balita, bisa laki-laki bisa perempuan. Ketika mereka mulai khawatir akan kekurangan pangan akibat musim kemarau tiba, pilihan makanan mereka akan menyempit. Kemudian, bila bantuan tidak tersedia dan pinjaman sulit diperoleh, mereka akan mengurangi porsi makanan atau melewatkan satu waktu makan. Kondisi kian mengkhawatirkan ketika suatu rumah tangga memiliki balita. Ketika kemampuan keluarga sulit mempertahankan makanan yang cukup, sehat, dan beragam mulai melemah, pertumbuhan anak turut terancam. Gambaran pada tingkat rumah tangga menunjukkan situasi yang lebih beragam. Menganalisis data SSGI 2021, kami menemukan bahwa 40,6% rumah tangga dengan balita di Boltim mengalami sedikitnya satu dari delapan bentuk kerentanan pangan yang diukur dalam survei. Tingkat risiko dapat meningkat ketika rumah tangga dipimpin oleh perempuan sebagai kepala keluarga. Dalam keluarga yang mengutamakan peran bapak misalnya, suami akan lebih dulu aman dibandingkan istrinya, orang tua bisa lebih dulu selamat dibandingkan anak-anaknya, anak-anak berayah-ibu akan lebih terlindungi dibandingkan anak dari ibu tunggal. Baca juga: Beban inflasi Juni akibat kenaikan BBM tak terbantahkan lagi: Lampu kuning bagi masyarakat Ancaman stunting selalu ada Kerentanan pangan kerap beriringan dengan stunting . Hasil penelitian mengungkap bahwa pada kelompok rumah tangga rawan pangan, persentase anak dengan stunting mencakup 68,7% , lebih tinggi dibandingkan proporsi anak yang tidak stunting . Analisis statistik lebih lanjut menunjukan angka odds ratio sebesar 4,7. Artinya, anak dari rumah tangga rentan panganβ€”apapun jenis kelaminnyaβ€”berisiko mengalami stunting sekitar 4,7 kali lebih tinggi dibandingkan anak dari rumah tangga tahan pangan. Penyebab stunting bukan cuma karena seorang anak melewatkan makan sekali dua kali. Gangguan pertumbuhan kronis melintasi proses panjang yang melibatkan berbagai faktor, termasuk kecukupan asupan, penyakit, pengasuhan, dan kondisi lingkungan. Namun dalam rangkaian itu, ketahanan pangan rumah tangga menjadi salah satu penyangga penting bagi kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan makan anak. Jauh sebelumnya sudah ada serentetan sinyal: kekhawatiran makanan akan habis, pilihan makanan kian terbatas, jumlah makanan berkurang, dan waktu makan mulai hilang. Jika perhatian baru muncul ketika satu keluarga benar-benar sudah kehabisan makanan, kesempatan untuk bertindak lebih dini bisa terlewatkan. Riset kami menunjukkan, dua keadaan bisa hadir bersamaan: satu daerah bisa punya statistik ketahanan pangan yang baik, sementara sebagian rumah tangga dengan balita mengalami kerentanan pangan. Padahal, data terakhir tahun 2024 melaporkan angka stunting Indonesia mencapai 19,8% . Artinya, jika pemerintah ingin mencapai target total keseluruhan kasus stunting sebesar 14,2% pada 2029, peluang masih terbuka selama piring-piring keluarga rentan belum kosong melompong. Namun, kita juga perlu mewaspadai adanya Super El Nino sejak September hingga awal tahun 2027 mendatang, yang mengancam produksi pangan nasional. Baca juga: Riset: Suhu panas β€œmembakar” pendapatan UMKM, negara harus hadir beri bantuan Yulianty Sanggelorang tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Riset buktikan β€˜stunting’ membayangi daerah berstatus tahan pangan
0
FV
Frans Viljoen, Professor of International Human Rights Law, SARChI Chair in International Constitutional Law, University of PretoriaΒ· Warga
Kiriman

Nobel Perdamaian untuk Navi Pillay menjadi bentuk dukungan terhadap tatanan hukum global yang tengah mendapat tekanan

Penganugerahan Hadiah Nobel Perdamaian 2026 kepada Navanethem β€œNavi” Pillay , pakar hukum asal Afrika Selatan yang juga pernah menjadi hakim internasional, bukan sekadar pengakuan atas kiprahnya dalam memperjuangkan keadilan. Penghargaan ini juga menjadi bentuk apresiasi atas upayanya mendorong dunia agar lebih serius menindak pelanggaran HAM. Penghargaan ini juga bermakna lebih luas, karena diberikan ketika tatanan hukum internasional tengah menghadapi tekanan dan mulai dipertanyakan. Penghargaan bagi Pillay menegaskan bahwa hukum internasional, meski penerapannya belum sempurna, tetap dibutuhkan untuk menjaga perdamaian dunia. Menorehkan sejarah Bagi Afrika Selatan, penghargaan ini menjadi momen membanggakan. Pillay menjadi warga Afrika Selatan kelima yang menerima Nobel Perdamaian. Sebelumnya, penghargaan ini diberikan kepada pemimpin perlawanan Albert Luthuli pada 1960, tokoh agama sekaligus aktivis Desmond Tutu pada 1984, serta mantan presiden Nelson Mandela dan FW de Klerk pada 1993. Ia juga menjadi perempuan Afrika Selatan pertama yang menerima penghargaan perdamaian tersebut. Pencapaian ini sekaligus mematahkan kecenderungan lama Nobel Perdamaian yang selama ini lebih sering diberikan kepada β€œlaki-laki kulit putih berpendidikan tinggi dari Eropa dan Amerika Serikat”. Seperti para penerima Nobel asal Afrika Selatan sebelumnya, perjuangan melawan apartheid dan dominasi minoritas kulit putih menjadi bagian penting dari kiprah Pillay. Namun, ada perbedaan mendasar. Jika Mandela menjadi simbol rekonsiliasi dunia, Pillay membawa pelajaran dari perjuangan Afrika Selatan ke panggung internasional. Di sana, ia membangun kepemimpinan dan institusi yang memiliki peran penting dalam penegakan keadilan. Ia mengemban tugas berat sebagai salah satu hakim internasional generasi pertama yang bertanggung jawab membentuk lembaga-lembaga internasional untuk memastikan para pelaku pelanggaran HAM berat dimintai pertanggungjawaban. Pillay menjadi bagian dari majelis hakim pertama di Pengadilan Kriminal Internasional untuk Rwanda , yang dibentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah genosida Rwanda pada 1994. Ia juga menjabat sebagai hakim di Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada 2003–2008. Kepribadian dan kegigihannya turut membangun wibawa dan legitimasi lembaga-lembaga yang saat itu masih dalam tahap awal perkembangan. Melalui kontribusinya yang merintis jalan baru, Pillay menjadi salah satu sosok yang merepresentasikan perjuangan dunia untuk memastikan pertanggungjawaban atas pelanggaran HAM. Sosok Navi Pillay yang saya kenal Sebagai akademisi yang mendalami hukum HAM internasional, saya pertama kali bertemu Pillay ketika ia menjabat sebagai presiden Pengadilan Rwanda di Arusha, Tanzania. Sejak pertemuan itu, dan dalam interaksi kami selama bertahun-tahun, saya melihatnya sebagai sosok yang sangat mudah didekati. Ia rendah hati, tidak suka menonjolkan diri, dan bersedia meluangkan waktu untuk orang lain. Ia juga kerap digambarkan sebagai pribadi yang berani, teguh memegang prinsip, dan tidak mudah goyah. Saya tersenyum ketika membaca tanggapannya yang khas dan membumi terhadap pujian Komite Nobel atas keberaniannya. Ia justru menegaskan bahwa dirinya hanya menggunakan penalaran hukum secara independen untuk berpegang pada prinsip-prinsip keadilan yang mendasar. Ketika pertama kali bertemu dengannya, saya datang bersama sekelompok mahasiswa studi HAM dari Universitas Pretoria yang berkunjung ke Tanzania untuk mengamati jalannya persidangan. Jadwal kerja Hakim Pillay yang sangat padat membuatnya tidak bisa menghabiskan banyak waktu bersama kami pada siang hari. Namun, ia menawarkan diri untuk menemui kami di hotelnya malam itu. Kami terkejut ketika ia datang mengemudi sendiri, tanpa sopir ataupun rombongan pengiring. Ia menghabiskan berjam-jam untuk menjawab pertanyaan dan membahas pekerjaan pengadilan tersebut. Pengalaman serupa terus berulang pada tahun-tahun berikutnya. Bagi saya, momen-momen itu menunjukkan bahwa Pillay memandang lembaga HAM bukan sebagai institusi yang jauh dari kehidupan masyarakat, melainkan sebagai milik bersama. Pandangan itu juga mencakup anak-anak muda Afrika yang ia harapkan kelak turut menentukan masa depan benua mereka. Dari apartheid menuju keadilan global Kisah Pillay disatukan oleh satu keyakinan mendasar, baik ketika menghadapi apartheid di Afrika Selatan, genosida di Rwanda, maupun pendudukan wilayah Palestina: hukum dapat membatasi kekuasaan yang sewenang-wenang, melindungi korban, dan memastikan pihak yang berkuasa mempertanggungjawabkan tindakannya. Setiap kali, ia menerapkan prinsip yang sama dalam lingkup yang semakin luas. Lahir di Durban pada 1941 dari keluarga keturunan Tamil India, Pillay mengalami sendiri diskriminasi rasial dan gender. Meski menghadapi berbagai hambatan tersebut, ia berhasil membangun karier di bidang hukum. Pada 1967, ia menjadi perempuan kulit berwarna pertama yang membuka praktik hukum di provinsinya. Seperti banyak pengacara lain yang menentang apartheid, ia memanfaatkan sistem hukum yang justru menopang ketidakadilan untuk melawan berbagai penyalahgunaan kekuasaan di dalamnya. Ia membela aktivis politik, mengungkap praktik penyiksaan, dan menggugat perlakuan terhadap tahanan politik. Ia juga terlibat dalam Koalisi Nasional Perempuan, yang turut merumuskan ketentuan tentang kesetaraan dalam konstitusi demokratis Afrika Selatan. Ketentuan tersebut melarang diskriminasi berdasarkan sejumlah faktor, termasuk ras, jenis kelamin, dan orientasi seksual. Setelah apartheid berakhir, Mandela mengangkatnya sebagai hakim Pengadilan Tinggi pada 1995. Pemerkosaan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan Pada tahun yang sama, Pillay mulai bertugas di Tanzania. Salah satu kontribusi internasionalnya yang paling berpengaruh kemudian lahir melalui putusan bersejarah Pengadilan Rwanda pada 1998. Dalam persidangan Jean-Paul Akayesu , yang dituduh terlibat dalam pembantaian ribuan orang, Pillay dan seorang hakim lainnya mengajukan pertanyaan kepada para saksi mengenai kekerasan seksual. Mereka membantu mengungkap pengalaman para korban dan turut mendorong perubahan dakwaan agar mencakup tindak pemerkosaan. Putusan yang dihasilkan mengakui pemerkosaan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Putusan tersebut juga menetapkan bahwa pemerkosaan dan kekerasan seksual dapat dikategorikan sebagai tindakan genosida. Keputusan itu menjadi tonggak sejarah : untuk pertama kalinya, sebuah pengadilan pidana internasional menjatuhkan vonis bersalah atas genosida, sekaligus menjatuhkan vonis kepada seseorang atas pemerkosaan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Putusan tersebut membuka jalan bagi upaya yang lebih kuat untuk meminta pertanggungjawaban atas kejahatan yang secara tidak proporsional banyak menimpa perempuan dan anak perempuan. Seperti yang dikatakan Pillay: β€œSejak dahulu, pemerkosaan dianggap sebagai rampasan perang. Kini, pemerkosaan akan dipandang sebagai kejahatan perang.” HAM di lingkungan PBB Pada 2008–2014, Pillay menjabat sebagai Komisaris Tinggi PBB untuk HAM. Ia merupakan perempuan pertama dari negara-negara Global South yang menduduki posisi tersebut. Jabatan itu menuntut bentuk kepemimpinan yang berbeda. Alih-alih memutus perkara seperti seorang hakim, ia harus berdialog dengan pemerintah, menghadapi pelanggaran HAM, dan mendorong negara-negara memenuhi kewajiban internasional mereka. Selama masa jabatannya, ia berhasil mengarahkan kerja PBB di bidang HAM melewati berbagai periode penuh gejolak, termasuk setelah krisis keuangan global, selama Arab Spring, dan di tengah perang saudara di Suriah. Sikapnya konsisten dan tegas: HAM tidak boleh dikorbankan demi kepentingan ekonomi jangka pendek, dalih kedaulatan nasional, ataupun kepentingan politik. Masa jabatannya bertepatan dengan sejumlah kemajuan penting di PBB. Ia secara konsisten memperjuangkan kesetaraan berdasarkan orientasi seksual dan identitas gender, undang-undang antidisriminasi, serta pencatatan kasus kejahatan kebencian yang memadai. Pada 2001, kota kelahirannya, Durban, menjadi tuan rumah Konferensi Dunia PBB Menentang Rasisme, Diskriminasi Rasial, Xenofobia, dan Intoleransi Terkait . Deklarasi Durban yang dihasilkan konferensi tersebut menetapkan agenda internasional untuk memerangi rasisme dan xenofobia. Deklarasi itu juga mengakui perbudakan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Meski tidak memegang jabatan resmi dalam konferensi 2001 tersebut, Pillay terlibat erat dalam proses peninjauan setelahnya ketika menjabat sebagai Komisaris Tinggi PBB untuk HAM. Ia membela deklarasi tersebut dari berbagai penafsiran yang keliru. Ia juga menekankan bahwa deklarasi itu mengutuk antisemitisme, mengakui pentingnya mengenang Holocaust, dan mengakui hak Israel atas keamanan. Meskipun sejumlah negara Barat, termasuk Amerika Serikat , memboikot konferensi peninjauan tersebut, Pillay membantu mengarahkan Konferensi Peninjauan Durban pada 2009 menuju kesepakatan untuk menegaskan kembali deklarasi tersebut, yang didukung oleh 182 negara. Perannya menunjukkan tekad untuk mengatasi perpecahan dan penolakan tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar HAM. Masa jabatan Pillay juga ditandai kontribusinya yang khas terhadap hak-hak perempuan. Ia memperjuangkan pengakuan bahwa kematian ibu yang sebenarnya dapat dicegah merupakan persoalan HAM, bukan sekadar masalah kesehatan masyarakat. Di bawah kepemimpinannya, Kantor HAM PBB menyusun pedoman penting pada 2012 yang mengharuskan pemerintah menangani diskriminasi, meningkatkan layanan kesehatan ibu, dan memastikan adanya pertanggungjawaban atas kematian yang seharusnya dapat dicegah. Palestina dan genosida Belakangan, Pillay menjalankan tugas resmi terakhirnya di PBB sebagai ketua Komisi Penyelidikan Internasional Independen untuk Wilayah Pendudukan Palestina dan Israel. Penyelidikan serta temuan komisi tersebut, termasuk mengenai perang di Gaza, memicu kontroversi besar dan kritik keras, terutama dari Israel dan Amerika Serikat. Dedikasinya terhadap tugas ini menunjukkan salah satu ciri utama perjuangannya: penerapan prinsip-prinsip hukum justru menjadi paling sulit sekaligus paling dibutuhkan ketika pihak-pihak yang memiliki kekuatan politik besar menolak untuk diawasi dan dimintai pertanggungjawaban. Saat harapan dibutuhkan Waktu penganugerahan Nobel ini memiliki makna tersendiri. Hanya beberapa hari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyebut ICC sebagai lembaga β€œjahat” dan mendesak seluruh negara anggotanya untuk keluar. Sebagai respons terhadap penganugerahan Nobel tersebut, AS menjatuhkan sanksi terhadap ICC. Dengan memberikan penghargaan kepada mantan hakim ICC, Komite Nobel memilih untuk membela lembaga-lembaga yang kini tengah β€œdiserang” dan para hakimnya dikenai β€œsanksi”. Baca juga: Trump misses out on Nobel Prize again and imposes new sanctions on the International Criminal Court. What does it mean? Penghargaan ini juga diberikan ketika Israel menghadapi isolasi internasional yang semakin besar. Pada 2025, Pillay dan timnya menyimpulkan bahwa Israel melakukan genosida di Gaza. Temuan komisi tersebut bukan merupakan putusan hukum yang mengikat secara yudisial. Namun, temuan itu memberikan kontribusi penting dalam mendokumentasikan dugaan kekejaman dan mendorong upaya meminta pertanggungjawaban, meskipun menghadapi penentangan politik yang kuat. Meski baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-85, Pillay mungkin akan kembali menyampaikan pandangannya mengenai genosida dalam waktu dekat. Sejak 2019, ia menjabat sebagai hakim ad hoc di Mahkamah Internasional (ICJ) dalam perkara yang diajukan Gambia terhadap Myanmar terkait dugaan genosida terhadap etnis Rohingya. Setelah sidang terbuka pada Januari 2026, putusan perkara ini diperkirakan terbit pada akhir tahun ini atau awal 2027. Hadiah Nobel yang diterima Pillay bukan berarti keadilan internasional telah menang. Namun, penghargaan ini mengingatkan kita bahwa berbagai institusi yang dibangun untuk memperjuangkan keadilan internasional tetap layak dipertahankan. Pengakuan terhadap Pillay merupakan penghargaan atas pencapaian yang telah diraih, sekaligus pengingat akan hal-hal penting yang tidak boleh kita biarkan hilang. Frans Viljoen tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Nobel Perdamaian untuk Navi Pillay menjadi bentuk dukungan terhadap tatanan hukum global yang tengah mendapat tekanan
0
DM
Dicki Mahardika, Podcast Producer, The ConversationΒ· Warga
Kiriman

Jauh dari rasa aman, kenapa korban kekerasan seksual malah kerap disalahkan?

Kasus kekerasan seksual yang mencuat ke permukaan sering kali menyisakan luka ganda bagi para korban. Salah satu yang muncul ke publik dan menjadi sorotan di media sosial adalah kasus di Cornell University, Amerika Serikat. Namun, alih-alih mendapatkan keadilan dan perlindungan penuh, tidak sedikit korban yang justru disudutkan oleh tuduhan publik dan mendapatkan pertanyaan skeptis. Lantas, mengapa masyarakat kerap kali lebih cepat menghakimi respons atau latar belakang korban ketimbang mengusut tuntas tindakan pelaku? Melalui diskusi dalam podcast SuarAkademia, Lucia Peppy Novianti, kandidat doktor ilmu psikologi Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa maraknya pengungkapan kasus kekerasan seksual belakangan ini tidak serta-merta menandakan peningkatan kejadian secara mendadak semata. Maraknya pengungkapan kasus di ruang publik lebih disebabkan oleh makin terbukanya wadah bagi korban untuk bersuara berkat perkembangan media sosial dan menguatnya dukungan komunitas. Baca juga: Kasus Cornell 7 harus jadi alasan kita mengevaluasi strategi pencegahan kekerasan seksual Keberanian untuk mengungkapkan trauma yang selama ini terpendam timbul ketika korban merasa ada pihak yang siap mendampingi dan memvalidasi pengalaman mereka. Sayangnya, korban kekerasan seksual seringkali mendapat pertanyaan mengapa tidak langsung melawan saat kejadian. Peppy menegaskan bahwa respons manusia terhadap situasi teror kekerasan tidak sesederhana reaksi menghadapi ancaman fisik biasa. Korban sering kali mengalami kondisi kelumpuhan sementara ( tonic immobility ) atau pembajakan emosional yang membuat tubuh membeku sehingga tidak mampu berteriak maupun merespon. Peppy mengungkapkan bahwa korban membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun untuk mengungkapkan karena diliputi evaluasi rasa bersalah pada diri sendiri ( self-blaming ) serta kecemasan akan kehilangan dukungan dari keluarga atau orang terdekat. Fenomena victim blaming dan rape culture yang masih terjadi di tengah masyarakat turut memperberat beban psikologis korban. Publik kerap menghubungkan peristiwa kekerasan dengan hal-hal yang tidak relevan, seperti cara berpakaian, lokasi beraktivitas, hingga riwayat relasi antara korban dan pelaku. Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademiaβ€”ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Jauh dari rasa aman, kenapa korban kekerasan seksual malah kerap disalahkan?
0
SA
Sofia Al Farizi, Lecturer in midwifery, Universitas AirlanggaΒ· Warga
Kiriman

Riset: Ibu melahirkan tidak hanya butuh rasa aman, tapi juga pelayanan manusiawi dari tenaga kesehatan

● Pelayanan persalinan manusiawi di Indonesia masih rendah karena maraknya kesenjangan dan perlakuan diskriminatif. ● Prosedur medis berulang sering dilakukan tanpa komunikasi terbuka, sehingga memicu trauma. ● Indonesia perlu memadukan standar pelayanan persalinan yang manusiawi ke dalam sistem kesehatan. Kesehatan dan keselamatan perempuan saat melahirkan merupakan bagian dari hak asasi perempuan. Namun, pelayanan persalinan tidak cukup hanya memastikan ibu dan bayi selamat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan pentingnya respectful maternity care (RMC), yaitu pelayanan persalinan yang menghormati martabat, privasi, dan hak perempuan untuk mengambil keputusan atas tubuhnya sendiri. Pelayanan ini penting untuk membangun kepercayaan antara perempuan dan tenaga kesehatan. Dengan komunikasi yang terbuka, perempuan dapat menyampaikan kebutuhan maupun keluhan, sementara tenaga kesehatan bisa meresponsnya dengan tepat. Intinya, pelayanan harus berpusat pada kebutuhan perempuan ( women centre care ) . Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa intervensi medis , seperti operasi sesar, induksi persalinan, dan episiotomi (pengguntingan jaringan di sekitar lubang vagina untuk memperlebar jalan lahir), dapat berkaitan dengan pengalaman persalinan yang kurang menyenangkan. Tindakan tersebut bisa terasa menyakitkan , terlebih jika dilakukan tanpa penjelasan yang memadai. Ketika perempuan tidak memahami alasan suatu tindakan atau tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan , mereka dapat merasa hak dan otonominya diabaikan . Tindakan medis yang diperlukan sekalipun tetap perlu disertai komunikasi yang baik dan penghormatan terhadap perempuan. Bagaimana penelitian RMC di Indonesia? Penelitian tentang RMC di Indonesia masih terbatas. Padahal, persalinan di Indonesia cenderung menggunakan pendekatan intervensi medis dan perempuan memiliki sedikit ruang dalam pengambilan keputusan . Data 2022 melaporkan bahwa lebih dari 33% perempuan di Indonesia mendapatkan intervensi episiotomi saat persalinan pervaginam. Selain itu, persentase persalinan sesar di Indonesia juga meningkat mulai 2012 (12%) sampai 2017 (17%). Angka ini terus meningkat dari 2019 hingga sekarang. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa metode persalinan ini meningkat selama implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) . Baca juga: Mengapa persalinan sesar naik drastis sejak ada JKN dan apa dampaknya bagi ibu? Penelitian kami menemukan bahwa rerata skor RMC hanya 62.63 dari 100. Angka ini relatif rendah dibandingkan dengan beberapa negara lainnya seperti Iran (63,42%) , Ethiopia (66%) , India (71%) , dan Tanzania (85%) . Menariknya, terdapat kesenjangan yang cukup besar antardomain RMC pada penelitian ini . Friendly care (pelayanan yang ramah) memperoleh skor yang relatif tinggi, yaitu 85.78, tetapi discrimination-free care (pelayanan tanpa diskriminasi) hanya 30.32, sedangkan abuse-free care (pelayanan yang bebas kekerasan) dan timely care (pelayanan tepat waktu) masing-masing hanya 47.50. Walaupun discrimination-free care tidak berpengaruh secara signifikan, angka tersebut tetap mengindikasikan bahwa perempuan belum tentu merasakan pelayanan maternitas yang sama dan setara. Pelayanan yang ramah belum tentu β€˜respectful’ Dalam penelitian kami, perempuan yang diberi kesempatan memilih posisi persalinan memiliki skor RMC lebih tinggi. Sebaliknya, skor cenderung lebih rendah ketika mereka tidak bisa memilih posisi yang dirasa nyaman. Hal serupa terlihat pada pemeriksaan vagina berulang untuk memantau perkembangan persalinan. Pemeriksaan ini dapat diperlukan secara medis, tetapi cara melakukannya juga penting. Perempuan perlu memahami tujuan pemeriksaan dan merasa dilibatkan. Dalam penelitian kami , 46,4% perempuan yang menjalani pemeriksaan berulang memiliki skor RMC yang lebih rendah. Episiotomi juga berkaitan dengan skor RMC yang lebih rendah. Sebanyak 32,9% perempuan dalam penelitian menjalani tindakan ini. Padahal, WHO menegaskan bahwa episiotomi rutin sebenarnya tidak direkomendasikan pada persalinan pervaginam. Tindakan ini juga seharusnya dilakukan atas indikasi klinis dan berdasarkan informasi ( informed consent ) dari pasien. Tenaga kesehatan wajib menjelaskan setiap langkah, meminta izin sebelum menyentuh area genitalia, menjaga penutupan tubuh dan privasi, serta menggunakan bahasa yang sopan. Studi etnografi kami di sebuah rumah sakit di Surabaya menemukan bahwa perempuan kerap tidak mengetahui alasan episiotomi sehingga yang membekas adalah rasa sakit dan trauma. Hal yang lebih kompleks terjadi ketika seorang perempuan harus menjalani persalinan sesar, terutama ketika keputusan tersebut muncul secara tiba-tiba. Dalam keadaan darurat, tenaga kesehatan bertindak cepat sehingga terkadang proses komunikasi yang baik tidak bisa terbangun. Padahal, mengacu pada teori women-centered care , relasi yang kuat antara perempuan bersalin dan tenaga kesehatan terbangun sejak awal kehamilan. Dalam penelitian ini , metode persalinan secara signifikan berhubungan dengan skor RMC. Secara khusus, perempuan yang menjalani persalinan sesar emergensi menunjukkan skor RMC yang lebih rendah. Penelitian yang kami laksanakan sebelumnya juga mengonfirmasi hal ini. Baca juga: Riset tunjukkan mayoritas persalinan selama pandemi melalui sesar, hak asasi kesehatan perempuan terampas Komplikasi bukan alasan mengabaikan pelayanan manusiawi Penelitian kami juga menunjukkan bahwa persalinan lama ( prolonged labour ) dan perdarahan setelah melahirkan berkaitan erat dengan skor RMC yang lebih rendah. Perempuan dengan komplikasi menghadapi rasa sakit, kecemasan, dan ketidakpastian, sekaligus kemungkinan menjalani lebih banyak tindakan medis. Perempuan memiliki skor RMC yang rendah bukan hanya karena tindakan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, melainkan karena kondisi klinis yang dialami perempuan. Tenaga kesehatan tentu perlu memprioritaskan penanganan komplikasi untuk mencegah kematian dan masalah kesehatan serius. Namun, perempuan juga membutuhkan penjelasan, dukungan, dan penghormatan selama proses tersebut. Komplikasi seharusnya menjadi alasan untuk memperkuat pelayanan yang manusiawi, bukan menghentikannya. Karena itu, RMC perlu diintegrasikan ke dalam sistem pelayanan kesehatan maternal di Indonesia. Pengetahuan dan sikap tenaga kesehatan terhadap pelayanan ini juga perlu diperkuat. Hingga saat ini, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) belum memiliki inisiatif untuk mendorong anggotanya memberikan pelayanan berbasis RMC. Padahal, Organisasi Bidan Internasional (ICM) telah memberikan pedoman dan pernyataan kepada bidan di dunia untuk menerapkan RMC. Baca juga: Seperempat ibu depresi setelah melahirkan, tapi penanganannya belum optimal. Mengapa? Selain itu, temuan terkait potensi penggunaan berlebih dan tindakan medis yang tidak perlu di Indonesia menunjukkan bahwa tingkat operasi sesar di rumah sakit rujukan terbilang tinggi (65,98% pada 2022-2023). Meski kondisi medis pasien masih menjadi penentu paling dominan, faktor-faktor non-medis justru makin menonjol pascareformasi tarif 2023. Ini termasuk kepemilikan asuransi subsidi, kelas perawatan, jalur rujukan, serta status rumah sakit swasta. Artinya, rumah sakit seharusnya melakukan audit secara berkala atas indikasi klinis tindakan medis, menilai kelengkapan dokumentasi indikasi dan informed consent , dan mengintegrasikan indikator keselamatan pasien serta pengalaman persalinan. Dengan begitu, kekerasan selama masa kehamilan, proses persalinan, dan masa nifas, tidak perlu menimpa perempuan. Sofia Al Farizi menerima dana dari Universitas Airlangga Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Riset: Ibu melahirkan tidak hanya butuh rasa aman, tapi juga pelayanan manusiawi dari tenaga kesehatan
0
SY
Senja Yustitia, Dosen, Universitas Muhammadiyah YogyakartaΒ· Warga
Kiriman

4 poin revisi UU Penyiaran yang mengancam kebebasan pers dan media sosial

Sekelompok fotografer sedang mengarahkan kamera, diambil dari sudut pandang bawah untuk menciptakan kesan visual yang kuat. Mico Medel/Pexels , CC BY ● Revisi UU Penyiaran berpotensi memperluas pengawasan negara terhadap konten digital dan jurnalistik. ● Ketidakjelasan standar, mekanisme sengketa, dan kewenangan mengancam perlindungan hukum bagi pers. ● Pengawasan berlebihan berisiko membatasi pers dan hak publik dalam memperoleh informasi. Revisi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran kembali berjalan setelah pembahasannya berhenti pada 2024 akibat penolakan masyarakat sipil, termasuk akademisi. Meski sejumlah pasal kontroversial dalam draf sebelumnya tidak lagi menjadi sorotan utama, revisi terbaru tetap menyisakan persoalan serius. Negara berpotensi memperluas pengawasan terhadap konten digital dan produk jurnalistik tanpa menjamin perlindungan tegas bagi pers. Persoalannya bukan sekadar pembaruan aturan agar sesuai dengan perkembangan teknologi. Ketika batas kewenangan regulator tidak jelas, berita investigasi, kritik terhadap pemerintah, hingga konten media di media sosial berisiko menghadapi pengawasan dan sanksi melalui mekanisme yang tidak tepat. Baca juga: Revisi RUU Penyiaran: pengaturan dahulu, pembungkaman kemudian? Revisi mengancam demokrasi Saya mencatat empat aspek kontroversial dari revisi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran ini. 1. Perluasan pengawasan terhadap konten digital Revisi ini menambahkan definisi platform digital , penyelenggara platform digital, dan konten digital. Rumusan tersebut memperluas kewenangan Komisi Penyiaran Indonesia untuk mengawasi konten di luar TV dan radio, seperti konten buatan pengguna ( user-generated content /UGC). Dampaknya dapat menjangkau hampir semua media yang kini menggunakan platform Instagram, YouTube, atau TikTok untuk membagikan cuplikan dan rangkuman berita. Jika konten tersebut masuk ke dalam cakupan pengawasan KPI, media berpotensi mendapat pengawasan tambahan di luar mekanisme yang sudah berlaku. Kasus pembatasan akses konten media Magdalene pada 2026 memperlihatkan risiko intervensi negara terhadap ruang digital. Saat itu, akun Instagram @magdaleneid memuat investigasi Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) mengenai penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andrie Yunus. Jika revisi ini memperluas kewenangan pengawasan tanpa batas yang tegas, intervensi terhadap konten jurnalistik berpotensi melibatkan lebih banyak lembaga. 2. Risiko pengabaian standar jurnalistik Pasal 42 ayat (1) draf revisi menyebutkan bahwa muatan jurnalistik dalam siaran dan/atau konten digital harus sesuai dengan Pedoman Perilaku Penyiaran (P3), Standar Isi Siaran (SIS), dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Masalahnya, ketentuan tersebut tidak secara tegas menempatkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) sebagai acuan utama. Padahal, produk jurnalistik memiliki fungsi berbeda dari konten hiburan atau konten digital biasa. Dengan pasal ini, wartawan bisa menginvestigasi dugaan korupsi, mengkritik kebijakan, dan mengungkap penyalahgunaan kekuasaan tanpa takut dinilai berdasarkan standar yang tidak dirancang untuk kerja jurnalistik. Penelitian tahun 2024 tentang kebebasan pers menunjukkan bahwa kebebasan pers di Indonesia menghadapi tantangan dari tumpang tindih kerangka hukum, termasuk UU Penyiaran, UU Pers, dan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Karena itu, ketidakjelasan standar dalam revisi justru berisiko memperbesar masalah yang sudah ada. Baca juga: Apakah demokrasi takut pada ruang berekspresi? 3. Risiko gugatan dan kriminalisasi semakin besar Pasal 42 ayat (2) draf revisi menyebutkan bahwa penyelesaian sengketa terkait muatan jurnalistik dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Rumusan ini terlalu luas apabila tidak disertai penegasan bahwa sengketa pemberitaan harus mengutamakan mekanisme dalam UU Pers. Kasus gugatan Menteri Pertanian Amran Sulaiman terhadap Tempo senilai Rp200 miliar terkait pemberitaan β€œPoles Beras Busuk”, misalnya, memperlihatkan bagaimana sengketa pemberitaan dapat masuk ke jalur gugatan perdata. Kajian tahun 2023 juga menyoroti persoalan kepastian hukum dalam penyelesaian sengketa jurnalistik, termasuk risiko penggunaan UU ITE di luar mekanisme UU Pers. Jika rumusan pasal tidak diperjelas, wartawan dan perusahaan media dapat menghadapi ketidakpastian hukum ketika menerbitkan berita yang menyangkut kepentingan publik. Ancaman gugatan atau sanksi juga dapat mendorong media menghindari isu sensitif, meskipun pemberitaannya penting bagi masyarakat. 4. Posisi Dewan Pers menjadi tidak jelas UU Pers menempatkan Dewan Pers sebagai lembaga yang berperan melindungi kemerdekaan pers dan menangani pengaduan terkait pemberitaan. Namun, revisi ini belum secara tegas menjamin batas kewenangan KPI dan Dewan Pers dalam menangani produk jurnalistik. Kajian hukum mengenai disharmoni kewenangan KPI dan Dewan Pers dalam draf revisi juga menekankan pentingnya memperjelas pembagian kewenangan kedua lembaga tersebut. Tanpa penegasan, media berisiko menghadapi standar dan mekanisme pengawasan yang tumpang tindih. Pemerintah dan DPR seharusnya menyelesaikan persoalan ini sebelum mengesahkan regulasi, bukan membiarkan media menanggung ketidakpastian setelah aturan berlaku. Ancaman bagi demokrasi Polemik revisi UU Penyiaran tidak bisa dilepaskan dari kondisi kebebasan sipil Indonesia. Lembaga Freedom House dalam masih mengategorikan Indonesia sebagai partly free . Sementara itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat berbagai bentuk kekerasan dan tekanan terhadap pers . Dalam situasi seperti ini, perluasan kewenangan pengawasan tanpa perlindungan kuat justru dapat mempersempit ruang kritik terhadap pemerintah. Penelitian tentang pembatasan kebebasan berekspresi di Indonesia juga menunjukkan bahwa penggunaan instrumen hukum dapat menimbulkan chilling effect : orang atau lembaga memilih diam karena khawatir menghadapi konsekuensi hukum. Dampaknya tidak berhenti pada wartawan. Masyarakat kehilangan akses terhadap informasi yang dibutuhkan untuk mengawasi kekuasaan dan mengambil keputusan. Baca juga: Polemik RUU Penyiaran: kebebasan pers indonesia terancam? Pengalaman Orde Baru menunjukkan bahwa kontrol negara terhadap pers dapat mengubah media menjadi alat propaganda, bukan pengawas kekuasaan. Di masa kini, pemerintah tidak perlu secara eksplisit melarang kritik untuk membatasi kebebasan pers. Ketidakjelasan aturan dan ancaman sanksi pun dapat membuat media membatasi dirinya sendiri. Karena itu, revisi UU Penyiaran harus menegaskan bahwa pengawasan KPI tidak mengambil alih kewenangan Dewan Pers atas produk jurnalistik. UU Pers dan kode etik harus menjadi rujukan dalam penanganan sengketa jurnalistik, sementara batas pengawasan terhadap konten digital perlu dirumuskan secara ketat. Regulasi seharusnya melindungi masyarakat dari penyalahgunaan informasi, bukan memberi negara ruang lebih besar untuk mengendalikan informasi. Tanpa jaminan tersebut, revisi UU Penyiaran berisiko melemahkan kebebasan pers dan hak publik untuk mengetahui apa yang dilakukan oleh pemerintahnya. Senja Yustitia tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

4 poin revisi UU Penyiaran yang mengancam kebebasan pers dan media sosial
0
JB
Josephine Bourner, Postdoctoral Research Associate, Faculty of Medicine and Dentistry, Queen Mary University of LondonΒ· Warga
Kiriman

Wabah pes di Rusia: Ahli jelaskan mengapa kita tak perlu panik

Pekerja laboratorium tersebut bertugas di fasilitas riset pencegahan penyakit pes. PeopleImages/ Shutterstock Seorang pekerja laboratorium di Institut Penelitian Antipes di Siberia, Rusia, meninggal dunia hanya beberapa hari setelah jatuh sakit akibat penyakit yang belum diketahui penyebabnya. Laporan mengenai dugaan penyakit pes beredar di media. Namun, badan pengawas kesehatan konsumen Rusia menyebut penyakit tersebut sebagai pneumonia yang penyebabnya belum diketahui . Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan bahwa penyebab kematian yang resmi belum dikonfirmasi . Karena itu, penyakit pes masih sebatas salah satu kemungkinan penyebabnya. Meskipun kematiannya tragis dan membutuhkan penyelidikan yang serius, kasus ini bukan menjadi alasan untuk panik atau tanda bahwa Wabah Hitam telah kembali. Saat ini, ketersediaan pengobatan, tes cepat, dan pelacakan kontak membuat situasi penyakit pes jauh berbeda dibandingkan di masa lalu. Mengapa muncul dugaan wabah pes? Penyebab kematian teknisi laboratorium tersebut hingga kini masih belum diketahui. Namun, karena tempat bekerjanya merupakan lembaga penelitian yang mempelajari bakteri penyebab penyakit pes, otoritas kesehatan perlu mempertimbangkan penyakit ini sebagai salah satu kemungkinan penyebabnya. Teknisi tersebut mengidap salah satu jenis pneumonia yang menyebabkan kematiannya hanya beberapa hari setelah terinfeksi. Penyakitnya juga menyerupai gejala pes pneumonik . Jenis pes ini menyerang paru-paruβ€”biasanya setelah seseorang menghirup bakterinyaβ€”dan bisa berkembang dalam waktu satu atau dua hari. Gejala-gejalanya mencakup demam, batuk, sesak napas, dan dahak yang bercampur darah. Namun, banyak infeksi lain yang menyebabkan pneumonia juga menunjukkan gejala serupa. Hanya pemeriksaan laboratorium yang bisa membedakannya. Otoritas kesehatan biasanya mengelompokkan kasus penyakit pes sebagai dugaan, kemungkinan besar, atau terkonfirmasi. Jadi, penggunaan istilah β€œdugaan” adalah klasifikasi yang wajar pada tahap awal penyelidikan. Apa yang mungkin terjadi? Kita belum mengetahui bagaimana persisnya pekerja laboratorium tersebut jatuh sakit, dan tidak ada gunanya untuk berspekulasi. Laporan awal media menyebut adanya tabung sampel pecah , tapi kabar ini telah dibantah oleh pihak berwenang. Secara umum, kasus infeksi dari dalam laboratorium memang jarang terjadi. Namun, ketika hal tersebut terjadi, kasusnya biasanya terdokumentasi dengan baik dan cenderung mengikuti pola yang serupa. Kasus penyakit pes yang berasal dari laboratorium terakhir terdokumentasi di Chicago pada 2009. Seperti kasus di Rusia, peneliti tersebut meninggal beberapa hari setelah mengidap penyakitnya. Bakteri penyebab penyakit pes, Yersinia pestis , terkonfirmasi dalam kasus tersebut. Namun, para penyidik tidak berhasil memastikan bagaimana dia bisa terinfeksi. Jika penyakit pes pada pekerja laboratorium di Rusia nantinya terkonfirmasi, penyebab infeksinya mungkin tetap sulit diketahui. Di dalam laboratorium, terdapat beberapa jalur penularan patogen yang menyerang saluran pernapasan, termasuk bakteri penyebab pes pneumonik. Risiko utamanya berasal dari penghirupan tetesan mikro yang terlepas saat tabung pecah, sampel tumpah, atau kultur mikroorganisme ditangani tanpa prosedur keselamatan yang tepat. Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui cedera akibat tertusuk jarum suntik dan percikan cairan ke mata. Penyakit pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis . MohamadOuaidat/ Shutterstock Laboratorium yang menangani patogen berbahaya menggunakan fasilitas yang dirancang khusus, peralatan pelindung, dan protokol keselamatan yang ketat . Meskipun langkah-langkah ini membantu mengurangi risiko kecelakaan, potensi bahaya tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Apa yang sudah diupayakan? Pihak berwenang telah mengidentifikasi hampir 200 orang yang pernah berkontak dengan pekerja laboratorium tersebut sejak ia mulai merasa sakit. Mereka kini berada di bawah pengawasan medis sebagai langkah pencegahan. Pembatasan penyebaran merupakan protokol standar yang sudah lama diterapkan dalam penanganan berbagai wabah penyakit menular. Langkah ini mencakup isolasi dan pengobatan pasien, serta identifikasi, pemantauan, dan penelusuran kontak terdekat, termasuk pemberian antibiotik pencegahan dan karantina jika diperlukan. Pemantauan kontak secara cepat memungkinkan siapa pun yang kemudian jatuh sakit untuk segera diisolasi dan dirawat. Langkah ini juga dilakukan untuk melindungi masyarakat, apa pun penyebab pasti penyakit tersebut. Apakah penyakit pes saat ini berbeda dari Wabah Hitam? Ketika mendengar penyakit pes, kita biasanya membayangkan Wabah Hitam ( Black Death ): dokter pes dengan topeng menyeramkan dan masyarakat abad pertengahan yang tidak berdaya, terbaring sakit dengan benjolan-benjolan yang menyakitkan dan menutupi tubuh. Wabah Hitam menewaskan jutaan orang di seluruh dunia , tetapi situasi saat ini sangat berbeda. Kita kini mempunyai akses terhadap antibiotik, pemeriksaan laboratorium, dan sistem pemantauan penyakit yang kuat sehingga penyakit pes jauh lebih kecil risikonya bagi kesehatan masyarakat dibandingkan masa Abad Pertengahan. Penyakit pes masih dapat berkembang di wilayah-wilayah masyarakat yang hidup berdekatan dengan hewan pembawa kutu . Hunian yang lebih baik, sanitasi yang bersih, dan pengendalian hama tikus dapat mengurangi paparan terhadap kutu yang terinfeksi bakteri penyebab penyakit pes. Dengan demikian, risiko tergigit kutu dan tertular pes bubonik juga berkurang. Di tempat-tempat penyakit pes menyebar secara alami, kebersihan diri yang baik dan kewaspadaan dalam menangani hewan liar yang sakit, mati, atau hasil buruan juga dapat menurunkan risiko infeksi . Baca juga: Hantavirus ditemukan pada peternak satwa liar di Vietnam: Alarm bagi Asia Tenggara Kasus pes bubonik terjadi sesekali dan jarang menular antarmanusia . Biasanya, ada beberapa ratus kasus setiap tahunnya di seluruh dunia , terutama di Madagaskar dan Republik Demokratik Kongo. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kasus-kasus di Amerika Serikat (AS), Cina, Mongolia, dan Peru juga mulai rutin dilaporkan. Pes pneumonik jauh lebih jarang terjadi . Penyakit ini dapat berkembang ketika seseorang menghirup bakteri penyebabnya atau ketika pes bubonik yang tidak diobati menyebar ke paru-paru. Pes pneumonik dapat menular dari satu orang ke orang lain, tetapi biasanya membutuhkan kontak dekat dengan seseorang yang sudah mengidap penyakitnya. Persentase pasien yang meninggal akibat penyakit pes bergantung pada seberapa cepat mereka mendapatkan penanganan. Tanpa pengobatan, pes bubonik diperkirakan menewaskan 30% hingga 60% pasien. Sementara itu, pes pneumonik yang tidak diobati berakibat fatal bagi hampir 100% orang yang tertular. Hal terpenting adalah penyakit pes dapat diobati secara efektif dengan antibiotik yang tersedia luas. Sejumlah penelitian terbaru menemukan bahwa jika mendapat pengobatan, hanya sekitar satu dari enam orang yang tertular pes bubonik atau pes pneumonik meninggal akibat infeksi tersebut. . Namun, tanda-tanda penyakit pes harus dikenali sejak dini. Sebab, gejala awal pes pneumonikβ€”seperti demam, sakit kepala, tubuh lemas, dan batukβ€”menyerupai banyak penyakit lainnya. Baca juga: Dari gawai warga, Thailand pantau penyebaran penyakit hingga ke desa: Apa yang bisa dipelajari Indonesia? Sebagian besar dokter di luar wilayah endemik mungkin belum pernah menangani kasus penyakit pes, apalagi menduganya. Oleh karena itu, penting untuk meminimalkan jarak antara terjadinya infeksi, munculnya kecurigaan itu penyakit pes, dan dimulainya pengobatan. Inilah alasan kesadaran mengenai penyakit ini dan tes cepat sangat penting, terutama bagi orang-orang yang mungkin telah terpapar. Risiko bagi masyarakat dari satu kasus dugaan penyakit pes di Siberia ini sangat rendah, baik di Rusia maupun di negara lain. Fokus utama saat ini adalah memantau apakah ada individu dalam pengawasan yang mulai menunjukkan gejala, mengonfirmasi hasil uji laboratorium, dan mengusut bagaimana pekerja laboratorium tersebut bisa terinfeksi. Ignatia Sarasvati Wahyuputro menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris. Josephine Bourner tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Wabah pes di Rusia: Ahli jelaskan mengapa kita tak perlu panik
0
IS
Imam Salehudin, Associate professor, Universitas IndonesiaΒ· Warga
Kiriman

Program buka rekening massal berpotensi memperbanyak korban jeratan pinjol, judol, dan penipuan

● Pemerintah bersiap membuat rekening massal untuk 200 juta WNI. ● Program senilai Rp11 triliun ini salah satunya bertujuan memperbaiki penyaluran bantuan sosial. ● Ada risiko yang amat besar jika program ini diluncurkan tanpa persiapan matang. Pemerintah bersama Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Syariah Indonesia (BSI) berencana membuka rekening bank bagi sekitar 200 juta penduduk Indonesia . Tak hanya rekening, pemerintah juga akan menyertai pemberian gawai gratis penunjang berupa ponsel secara bersamaan. Rencana ini akan dilakukan secara bertahap dengan menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan sinkronisasi data kependudukan. Jika terlaksana, kebijakan ini akan menjadi salah satu perluasan akses layanan keuangan terbesar di Indonesia yang sebetulnya berpotensi membawa manfaat yang besar. Bagi masyarakat yang belum terlayani perbankan, rekening dapat menyediakan tempat menyimpan uang yang lebih aman dibandingkan uang tunai dan jadi langkah awal penetrasi ke produk dan layanan keuangan. Manfaat lainnya adalah penyaluran bantuan pemerintah. Bantuan yang ditransfer langsung melalui rekening dapat membantu proses rekonsiliasi dan mengurangi kesalahan administrasi, sepanjang data penerima, rekening, dan proses pembayaran akurat. Namun, besarnya jumlah rekening yang dibuka tidak dengan sendirinya menjamin hasil yang diharapkan. Banyak hal yang perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya terlebih dahulu karena ada risiko yang tak kalah berbahaya yang mengancam. Baca juga: Selama desil kemiskinan kusut, program bansos akan terus semrawut Melanggar prinsip kerahasiaan perbankan Sebelum membicarakan manfaat dan risikonya, kebijakan ini bisa menyalahi dua hal sekaligus. Ini terkait sistem perbankan yang dibuat sangat ketat untuk keamanan. Pertama, prinsip dasar perjanjian. Produk perbankan termasuk rekening bank diawali dengan perjanjian antara kedua belah pihak: calon nasabah dan bank. Rekening bank harus dibuka dengan persetujuan calon nasabah karena prinsip perjanjian yakni asas konsensualisme, kebebasan berkontrak dan asas kepribadian. Kedua, tindakan membuka rekening tanpa persetujuan nasabah adalah pelanggaran atas perlindungan data pribadi dan prinsip mutlak kerahasiaan bank . Sebab, pembuatan rekening baru diperlukan data pribadi yang terdapat pada KTP. Maka dari itu, angka 200 rekening juta ini perlu dibaca dengan hati-hati. Rencana tersebut tidak berarti terdapat 200 juta orang Indonesia yang saat ini sama sekali belum memiliki akses keuangan. Pemerintah juga merencanakan pembukaan rekening baru bagi orang yang sudah memilikinya. Pembukaan rekening baru ini hanya akan bermanfaat apabila masyarakat mampu dan mau menggunakannya. Namun, yang perlu dipenuhi terlebih dahulu dan sangat krusial adalah, apakah individu tersebut mengetahui akan dibuatkan rekening bank dan melakukan akad perjanjian tanpa boleh diwakilkan. Baca juga: Laporan konsumen terhadap pinjol dan perbankan kian marak: Akses keuangan kurang diimbangi literasi masyarakat Pinjol, judol, dan penipuan keuangan bakal merajarela Akses keuangan di era digital saat ini sudah sangat maju. Berbagai layanan dan transaksi bernilai besar pun bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja tanpa perlu lagi mengunjungi kantor cabang. Kemudahan serupa juga diterapkan oleh penyedia pinjaman online (pinjol) bahkan operator judi online (judol), khususnya pada sistem verifikasi atau know your customer (KYC). Cukup foto selfie bersama KTP, uang langsung tersalurkan ke rekening dalam hitungan menit saja. Karena itulah, pembukaan rekening baru khususnya bagi masyarakat yang awam terhadap layanan perbankan digital justru berisiko membuka celah perilaku keuangan negatif dan kejahatan siber . Sepanjang Januari - Agustus 2026, Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) mencatat ada 26.729 pengaduan terkait pinjaman daring ilegal dan menghentikan 951 entitas pinjaman daring ilegal. Baca juga: Tak hanya melalui algoritma saja, AI juga pintar berkonten untuk pinjol dan judol Angka ini bukan bukti bahwa kepemilikan rekening menyebabkan seseorang terjerat pinjaman ilegal. Namun, angka tersebut menunjukkan lingkungan digital yang akan dimasuki nasabah baru tidak sepenuhnya aman. Tanpa pengetahuan dasar mengenai fungsi instrumen keuangan, masyarakatβ€”terutama kelompok rentan dan generasi muda (usia 15 – 17 tahun dengan tingkat literasi hanya 56,04%) cenderung memperlakukan rekening digital sekadar sebagai saluran instan memperoleh duit tanpa menyadari risiko jangka panjangnya. Indonesia sendiri, melansir Global Fraud Index , menempati peringkat kedua sebagai negara paling rentan penipuan keuangan dari 112 negara (skor kerentanan 6,53/10). Modus kejahatan yang marak terjadi adalah phishing , rekayasa sosial ( social engineering ), dan penipuan investasi. Salah-salah, kebijakan pembukaan rekening ini malah menjerumuskan lebih banyak masyarakat ke jerat utang pinjol-judol dan kejahatan finansial lainnya. Baca juga: Jebakan keuangan digital: mengapa Gen Z rentan terjerat pinjol dan β€˜paylater’? Literasi dan sistem keamanan keuangan perlu dipersiapkan Perlu diluruskan, rekening bank baru bukan penyebab penipuan, judol, pinjol ilegal, ataupun perilaku negatif keuangan lainnya. Namun, keberhasilan kebijakan inklusi keuangan seharusnya tidak bisa hanya diukur berdasarkan jumlah rekening yang berhasil dibuat. Rekening yang dibuka tetapi tidak pernah digunakan, tidak dipahami pemiliknya, atau sekadar menjadi tempat masuk dan keluarnya bantuan pemerintah belum tentu menunjukkan inklusi keuangan yang bermakna. Kita perlu memahami bahwa semakin mudah seseorang masuk ke dalam ekosistem keuangan digital, semakin besar pula paparannya terhadap risiko yang ada di dalam ekosistem tersebut, terlebih ketika orang tersebut tidak memiliki literasi yang kuat . Nasabah baru yang belum terbiasa dengan layanan digital dapat menjadi kelompok yang lebih rentan. Mereka mungkin belum mampu membedakan mana pesan resmi bank, mana pesan penipuan, dan belum memahami pentingnya menjaga PIN dan OTP. Mereka juga belum mengetahui risiko meminjamkan rekening kepada orang lain. Baca juga: Literasi keuangan syariah bisa jadi penangkal pinjol dan judol Risiko juga tidak sepenuhnya berasal dari ketidaktahuan pengguna. Desain layanan digital dapat mengubah perilaku masyarakat. Transaksi yang semakin cepat dan mudah memang memberikan manfaat, tetapi juga mengurangi hambatan ketika seseorang hendak membelanjakan atau memindahkan uang. Terlebih, Indonesia saat ini dihadapkan rendahnya pemahaman keamanan digital, tingginya intensitas penipuan yang dibarengi dengan minimnya intervensi pemerintah dalam perlindungan konsumen jasa keuangan. Penting bagi pemerintah dan OJK agar menempatkan literasi dan perlindungan konsumen sebagai bagian dari desain kebijakan sejak awal, bukan sebagai program tambahan setelah jutaan rekening dibuka. Semua ini perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya agar program pemerintah bisa sukses dan masyarakat pun bisa memahami dan memanfaatkan akses keuangan yang diberikan pemerintah secara aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan . Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Program buka rekening massal berpotensi memperbanyak korban jeratan pinjol, judol, dan penipuan
0
DF
Dian Fiantis, Professor of Soil  Science, Universitas AndalasΒ· Warga
Kiriman

Hujan deras saja tak cukup memadamkan karhutla: Apa lagi yang diperlukan?

β€’ Air hujan mungkin dapat membersihkan asap, tapi belum tentu memadamkan api. β€’ Lahan gambut akan sulit dipadamkan jika intensitas hujan amat ringan. β€’ Perlu hujan deras yang lama bahkan anomali La Nina untuk memastikan kebakaran berakhir. Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas, masyarakat berharap hujan segera turun. Hujan diharapkan mampu memadamkan api, membersihkan udara dari kabut asap, serta mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat paparan asap. Tetesan air hujan memang menangkap sebagian partikel 2,5 mikron (PM 2,5 yang tujuh kali lebih tipis dari rambut manusia) dari asap lalu membawanya ke permukaan Bumi melalui proses wet deposition atau deposisi basah . Deras atau tidaknya hujan bisa menentukan seberapa bersih langit dari asap. Namun, berkurangnya konsentrasi asap tidak berarti sumber kebakaran telah padam. Jika pembakaran masih berlangsung, partikel asap dapat kembali memenuhi atmosfer setelah hujan berhenti. Pertanyaannya, seberapa deras dan seberapa lama hujan diperlukan agar kebakaran benar-benar padam? Dan kapan hujan diperkirakan turun di wilayah yang sedang menghadapi karhutla? Baca juga: Kala rumah menjadi penjara: Menelusuri trauma dan ruang isolasi baru korban karhutla Ratusan ribu hektare terbakar Karhutla telah menghanguskan 677 ribu hektare hutan dan lahan selama Januari - Agustus 2026. Nyaris separuh di antaranya terjadi pada bulan kedelapan. Di Riau, luas kebakaran bahkan mencapai sekitar 20 ribu hektare hingga pertengahan September. Memasuki Oktober 2026, ancaman api belum berakhir. Kementerian Kehutanan masih mendeteksi 1.359 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional per 5 Oktober, termasuk 569 titik di Kalimantan Tengah . Titik panas berkepercayaan tinggi merupakan anomali suhu yang terdeteksi satelit dengan tingkat keyakinan tinggi sebagai sumber panas, meskipun belum tentu semuanya merupakan kebakaran. Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 234 titik panas berkepercayaan tinggi di Sumatera Selatan pada 11 Oktober. Hujan yang turun dalam waktu singkat di Sumatra maupun Kalimantan belum mampu mengatasinya. Api dapat terus membara di bawah permukaan tanah meskipun lapisan atasnya telah basah oleh air hujan. Mengapa hujan belum tentu memadamkan api? Di tanah mineral, kebakaran umumnya menghanguskan vegetasi, serasah (lapisan bahan organik di permukaan tanah berasal dari daun, ranting, dan bagian tumbuhan mati yang belum terurai sempurna) dan bahan organik permukaan. Hujan membantu menurunkan suhu dan membasahi bahan bakar sehingga penyebaran api terhambat. Sebaliknya, tanah gambut Indonesia terbentuk dari tumpukan bahan organik selama ribuan tahun yang ketebalannya dapat melebihi 10 meter. Ketika mengalami pengeringan berkepanjangan, lapisan gambut menjadi rentan terbakar, bahkan hingga ke lapisan bawah. Ketika terbakar, gambut mengalami smouldering combustion , yakni pembakaran membara tanpa nyala api yang jelas. Inilah mengapa air hujan yang membasahi permukaan belum tentu mencapai lapisan yang sedang terbakar. Seberapa banyak hujan yang diperlukan? Sebuah eksperimen laboratorium menguji kemampuan hujan buatan memadamkan kebakaran gambut hingga kedalaman 15 sentimeter. Hasil riset tersebut menunjukkan, intensitas hujan sekitar 4 milimeter per jam merupakan ambang minimum yang diperlukan untuk memadamkan api pada eksperimen tersebut. Berdasarkan model empiris riset, hujan berintensitas 5 milimeter per jam diperkirakan membutuhkan sekitar lima jam untuk memadamkan api. Sementara saat hujan berintensitas 10 milimeter per jam, waktu pemadaman berkurang menjadi sekitar 2 – 2,5 jam. Hujan yang lebih deras mungkin mempercepat pemadaman. Namun, angka tersebut bukan ambang universal. Kedalaman kebakaran, kadar air gambut, dan karakteristik tanah di lapanganβ€”berdasarkan penelitian di Rokan Hilir, Riau β€”menentukan seberapa ampuh air mematikan bara api. Dalam eksperimen tersebut, tiga kejadian hujan dengan intensitas 5,6; 1,4; dan 8,3 milimeter per jam menghasilkan total curah hujan masing-masing 4,8; 1,4; dan 2,5 milimeter. Nyatanya, ketiga kejadian hujan tersebut tidak berhasil memadamkan pembakaran gambut. Hasil ini menunjukkan bahwa intensitas hujan saja tidak cukup. Durasi hujan dan jumlah air yang mencapai lapisan terbakar juga menentukan keberhasilan pemadaman. Baca juga: Mengenal sabuk hujan tropis: Urat nadi kehidupan yang mengatur irama musim Indonesia Kapan hujan diperkirakan turun? Menurut perkiraan BMKG , peluang hujan masih ada pada paruh kedua Oktober 2026, tapi distribusinya tidak merata. Intensitasnya pun diperkirakan masih ringan sehingga akan sulit memadamkan api di bawah permukaan tanah terutama gambut dalam. Dalam perkiraan jangka pendek, 16 – 19 Oktober, BMKG mengindikasikan potensi hujan sedang di sebagian Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Untuk periode 21 – 31 Oktober, sebagian besar Riau dan Kalimantan Barat diprediksi menerima curah hujan sekitar 50 – 150 milimeter. Namun, sejumlah wilayah di Sumatera Selatan dan Jambi diperkirakan hanya menerima 0 – 50 milimeter selama periode yang sama. Di Kalimantan Tengah, beberapa kabupaten diprediksi memperoleh hujan 50–150 milimeter . Kalimantan Selatan masih menghadapi potensi kondisi kering di sebagian wilayah, sementara di Kalimantan Timur peluang hujan juga bervariasi antarwilayah. BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia baru akan memasuki musim hujan pada November–Desember 2026. Awal musim hujan diperkirakan lebih lambat dibandingkan kondisi normal di sekitar 61% luas daratan Indonesia. Keterlambatan musim hujan ini dapat memperpanjang durasi kebakaran, terutama di area gambut. Jangan cuma menunggu hujan Pada gambut yang telah mengalami pengeringan berat, hujan singkat belum tentu mampu membasahi lapisan tanah yang terbakar hingga kedalaman tertentu. Kebakaran gambut bahkan tetap berlangsung meskipun terjadi tiga kali hujan, dengan kedalaman pembakaran rata-rata mencapai 25 sentimeter. Api yang masih membara di bawah permukaan dapat terus menghasilkan asap setelah hujan berhenti. Baca juga: Efektivitas modifikasi cuaca masih diperdebatkan ilmuwan: Mengapa di Indonesia justru semakin diandalkan? Oleh karena itu, pemadaman perlu memastikan air mencapai lapisan gambut yang terbakar, bukan sekadar membasahi permukaan. Caranya, petugas menyemprotkan air secara berulang atau menggunakan pipa khusus yang ditancapkan ke dalam gambut untuk mengalirkan air langsung ke lapisan yang masih membara, kemudian memeriksa kembali apakah panas dan asap telah hilang. Pengendalian muka air tanah dan pembasahan kembali gambut juga penting untuk mencegah kebakaran berulang. Selain itu, pemantauan titik panas perlu dilengkapi pemeriksaan kondisi kebakaran di lapangan karena pembakaran gambut tidak selalu terlihat dari permukaan. Hujan memang membawa harapan bagi masyarakat yang menghadapi karhutla dan kabut asap. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa hujan singkat belum tentu cukup untuk menghentikan gambut yang terbakar. Langit yang kembali cerah setelah hujan bukan jaminan bahwa api di bawah tanah telah padam. Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Hujan deras saja tak cukup memadamkan karhutla: Apa lagi yang diperlukan?
0
RS
Rudi Syaf Putra, Lecturer at Universitas Muhammadiyah Riau & PhD Candidate, Universiti Malaysia TerengganuΒ· Warga
Kiriman

Darurat bencana jadi ruang korupsi akibat 4 celah penyelewengan ini

● KPK menelisik dugaan korupsi dana penanggulangan bencana karhutla BNPB. ● Ibarat tradisi, setiap ada bencana besar nasional pasti ada yang korupsi. ● Karena harus cepat dicairkan, dana bencana memiliki berbagai celah untuk dikorupsi. Anggaran negara yang memiliki perencanaan belanja yang ketat sebenarnya cukup fleksibel terhadap pencairan dana darurat, khususnya ketika menghadapi bencana seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Karhutla yang sedang terjadi sejak awal tahun ini tercatat telah menghanguskan 677 ribu hektare hutan maupun lahan. Asap mengganggu kesehatan jutaan warga hingga ke negara tetangga . Namun alih-alih digunakan untuk memadamkan api, dana darurat bencana justru memicu sangkaan korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) justru melakukan operasi tangkap tangan (OTT) yang melibatkan adik Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB sebagai tersangka korupsi dana darurat bencana karhutla. Suharyanto pun akhirnya dicopot dari jabatannya, Jumat 17 Oktober 2026. KPK membidik dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa yang berkaitan dengan Dana Siap Pakai (DSP) kebencanaan BNPB terkait dua klaster: dugaan konflik kepentingan dan suap yang turut disangka telah berlangsung sejak tahun 2022. Ini bukan kali pertama ada sejumlah pihak yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Nyatanya, momen bencana kerap menjadi salah satu ajang pesta para koruptor untuk menyelewengkan duit masyarakat. Baca juga: Mengapa penangkapan tersangka tak cukup membuat publik percaya pemberantasan korupsi? Uang pasti tersedia dan ditambah sesuai kebutuhan Bencana memang tak bisa direspons seperti biasa . Waktu sangat krusial. Salah langkah sedikit, bisa memperburuk keadaan dalam hitungan jam. Barang tertentu mungkin langka, dan penundaan pembeliannya dapat memperburuk keadaan. Dalam menanggulangi darurat bencana, BNPB bisa menggunakan dana siap pakai . Penanggulangan bencana oleh BNPB juga melibatkan lembaga lain seperti Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup (terkait teknis alam), Kementerian Kesehatan (urusan teknis kesehatan), Kementerian Sosial (bantuan sosial), Kementerian Pekerjaan Umum (infrastruktur penunjang), hingga TNI dan kepolisian (keamanan). Pun jika suatu bencana semakin parah, negara bisa menambah alokasi anggaran tanpa melalui proses revisi APBN di DPR . Kementerian Keuangan bisa β€œmenyuntik” anggaran tambahan sesuai kebutuhan tim teknis di lapangan. BNPB sendiri pada awal bulan ini mengajukan tambahan DSP kepada Kementerian Keuangan sebesar Rp5,67 triliun . Untuk tahun ini, pemerintah telah mengganggarkan setidaknya Rp53 - 60 triliun anggaran penanggulangan bencana yang bersumber dari pos belanja yang bisa ditunda, dana abadi, dan opsi penambahan utang. Para koruptor dana kebencanaan berpeluang terkena hukuman mati sesuai Undang-undang Tipikor Tahun 1999. Kemudahan akses dana siap pakai beserta penggunaannya dalam masa tanggap darurat diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 dan Peraturan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) Nomor 6 Tahun 2024 . Baca juga: Mengapa koruptor lebih suka transaksi pakai uang tunai ketimbang digital? Empat celah yang sering dimanfaatkan Dalam sudut pandang perspektif audit forensik risiko penyalahgunaan pengadaan darurat bisa dilihat sepanjang rantai transaksi, mulai dari identifikasi kebutuhan sampai penggunaan barang atau jasa. Ada setidaknya empat celah yang bisa dimanfaatkan untuk β€œbermain”. Keempatnya sulit dihindari karena dalam penanganan bencana, kecepatan adalah kebutuhan. Pengetatan pengawasan, bahkan audit di tengah jalan, bisa menghambat kebutuhan bantuan yang dibutuhkan segera. Pertama , terbukanya opsi penunjukan langsung saat bencana menjadi pintu masuk konflik kepentingan antara pejabat, tenaga ahli, dan penyedia. Artinya suatu lembaga bisa memilih penyedia barang atau jasa tanpa melalui tender yang memakan waktu. Sayangnya, proses yang sah secara formal dalam penunjukan langsung belum tentu bebas dari konflik kepentingan dan butuh pembuktian mendalam. Kedua , kewajaran harga menjadi ruang abu-abu ketika pengadaan mendesak dilakukan. Hal yang perlu diuji adalah dasar penetapan harga, kesesuaian spesifikasi, volume, waktu, lokasi, dan bukti pembanding yang tersedia. Baca juga: 74 kg emas kasus korupsi disita polisi, tapi negara belum tentu bisa merampasnya Ketiga , idealnya pengadaan pemerintah tercatat dan terdokumentasi mulai dari pesanan, kontrak jika dipersyaratkan, bukti pengiriman, berita acara penerimaan, tagihan, dan pembayaran harus membentuk jejak transaksi yang konsisten. Tapi dalam keadaan darurat, kerap ada pengecualian atas urutan prosedur normal, alasan, dan otorisasinya . Keempat , pengawasan lembaga pengawas terkait terhadap pemeriksaan dalam proses sebelum dana dibelanjakan kerap dilonggarkan. Modus serupa juga ditemukan KPK, yakni dengan memanfaatkan pengadaan alat pelindung diri (APD) pada masa pandemi COVID. Dalam uraiannya , KPK menemukan dugaan penggunaan tanggal mundur dalam penetapan pengadaan APD di Kementerian Kesehatan yang menggunakan DSP BNPB. KPK juga menguraikan dugaan pembayaran sebelum tersedia kontrak atau pesanan, penentuan harga satuan yang tidak didasarkan pada harga pasar. Selain itu, dokumen kontrak tak memuat rincian pekerjaan dan hak serta kewajiban para pihak secara memadaiβ€”sehingga memuluskan dana ghaib senilai Rp319 miliar hanya dari pengadaan APD saja . Momen menutup mata rantai setan Sebagai negara hukum, dugaan korupsi dana bencana BNPB 2026 harus diselesaikan melalui proses hukum berdasarkan bukti. Pada saat yang sama, perkara ini memberi kesempatan kita untuk mengevaluasi tata kelola pendanaan darurat tanpa menggeneralisasi kesalahan kepada seluruh lembaga atau program. Karena itu, setiap penggunaan prosedur darurat perlu memiliki dasar kebutuhan, alasan pemilihan penyedia, pertimbangan kewajaran harga, dan persetujuan yang dapat ditelusuri dengan baik oleh pengguna anggaran. Selanjutnya pemerintah bisa menerapkan pengawasan berbasis risiko untuk transaksi bernilai besar. Hubungan afiliasi, perubahan pesanan yang tidak lazim, harga yang menyimpang dari pembanding yang relevan, dan bukti penerimaan yang tidak lengkap dapat menjadi prioritas pemeriksaan. Terakhir, pertanggungjawaban pascapengadaan harus jelas. Setiap transaksi wajib punya penanggung jawab, tenggat dokumen, verifikasi hasil, dan prosedur tindak lanjut jika ada masalah. Saat memakai prosedur darurat, mekanisme pengecekan susulan harus ditentukan dan dimandatkan sejak awal. Baca juga: Koruptor tak cukup hanya dipenjara, uang rakyat harus dikembalikan Sebab mau bagaimanapun, kecepatan tetap harus diikuti dengan akuntabilitas pengelolaan duit negara dengan baik agar tetap menghasilkan manfaat publik, bukan justru membuka ruang bagi penyalahgunaan kewenangan. Rudi Syaf Putra tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Darurat bencana jadi ruang korupsi akibat 4 celah penyelewengan ini
0
DI
Dicky Indirwan, Dosen Program Studi Sarjana Terapan Promosi Kesehatan, Universitas Negeri MakassarΒ· Warga
Kiriman

Kasus ISPA meroket: Asap karhutla jadi ancaman senyap di daerah yang jauh dari pusat kebakaran

● Asap karhutla terekam sudah menyebar secara nasional hingga ke daerah yang jauh dari titik api. ● ISPA mengancam lintas wilayah akibat penyebaran asap. ● Perlu ada upaya masif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bencana berskala nasional ini. Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini merupakan yang terbesar sejak 1997, serta menjadi yang terburuk –dengan luasan kebakaran 677 ribu hektare hanya sepanjang Januari – Agustus 2026 . Dibandingkan karhutla besar sebelumnya pada tahun 2019 dan 2023, angka tahun ini lebih tinggi 47% dan 80%. Bukan hanya luasannya saja, dampaknya bagi masyarakat juga lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Asap tidak hanya berdampak pada masyarakat sekitar, tapi juga ke wilayah-wilayah yang selama ini tak pernah terdampak, seperti Pulau Jawa . Wilayah lain yang jarang terdampak seperti Aceh pun melaporkan pekatnya asap kiriman di wilayahnya. Masalahnya, banyak warga yang abai bisa terpapar bahaya akibat asap karhutla kapan saja. Terlebih jika suatu wilayah tersebut tidak sepekat daerah-daerah terdampak. Baca juga: Hujan deras saja tak cukup memadamkan karhutla: Apa lagi yang diperlukan? Angka ISPA secara nasional sudah meningkat Pertengahan Oktober 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi asap karhutla Kalimantan di atmosfer Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Partikel PM 2.5 (zat berbahaya pemicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)) bisa terbawa melintasi jarak ratusan kilometer . Di Kemayoran, Jakarta Pusat misalnya, angkanya berkisar 46,7–109,7 Β΅g/mΒ³ , tiga sampai tujuh kali ambang aman WHO untuk paparan 24 jam . Jauh hari sebelumnya (per 1 September 2026), Kementerian Kesehatan telah menyampaikan ada kenaikan kasus ISPA di banyak wilayah yang berjauhan dari titik karhutla . Laporan ISPA sudah menembus 14,08 juta kasus dengan puncak mingguan di atas 400 ribu pada Juli – September. Celakanya, 63.711 kasus di antaranya menerpa anak-anak di bawah lima tahun. Serangan ISPA tak perlu menunggu penampakan asap karhutla karena hidung kita memang bukan alat ukur yang bisa diandalkan. Ia hanya menangkap zat yang berbau, sedangkan PM 2.5 nyaris tak berbau dan tak kasat mata karena tujuh kali lebih tipis dari rambut manusia. Baca juga: Bagaimana cara melindungi diri kita dari asap karhutla yang membahayakan kesehatan? Terbuai rasa aman karena jauh dari lokasi Di daerah dekat dengan karhutla, kewaspadaan masyarakat terhadap asap pasti tinggi. Sebab mereka melihat langsung tanda-tandanya, mulai dari jarak pandang yang menyempit, langit berubah oranye, hingga bau sangit yang menempel di baju. Berbeda dengan masyarakat di wilayah yang hanya menerima kiriman asap. Aba-aba itu tidak pernah datang. Ujungnya banyak yang tiba-tiba napasnya berat yang berujung sesak napas. Fenomena tersebut merupakan hal yang wajar. Dalam perspektif Health Belief Model , seseorang cenderung lebih waspada terhadap ancaman kesehatan ketika merasa rentan, menganggap ancaman tersebut serius, meyakini tindakan pencegahan bermanfaat, dan menilai hambatannya relatif ringan. Dalam konteks asap kiriman dari jauh, jarak psikologis dapat melemahkan persepsi kerentanan kita. Semakin jauh seseorang dari sumber bencana, semakin abstrak ancaman yang ia bayangkan. Akibatnya, karhutla kerap dianggap hanya mengancam warga Palangka Raya dan Jambi. Padahal, Kementerian Kesehatan mencatat peningkatan kasus ISPA di 63 kabupaten/kota . Masyarakat yang tinggal jauh dari titik api cenderung kurang waspada karena asap tipis kerap menyerupai kabut pagi, langit mendung, atau kondisi udara saat pancaroba. Di Jakarta dan sekitarnya, dampak karhutla pun berbaur dengan polusi kendaraan ataupun pabrik-pabrik. Ketika gejala awal seperti tenggorokan gatal dan batuk mulai muncul, sebagian orang juga menganggapnya sebagai keluhan ringan akibat masuk angin, kurang tidur, atau kurang minum. Baca juga: Donasi bencana karhutla: Urunan warga bukan alasan negara lepas tangan Apa yang perlu kita lakukan? Untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat, kampanye kesehatan kita perlu mengombinasikan informasi dan alat ukurnya. Masalah di lapangan bukan semata kurangnya pengetahuan, melainkan belum adanya pemicu yang mendorong masyarakat bertindak. Karena itu, pesan yang disampaikan perlu kita geser, bukan sekadar mengingatkan bahaya asap, melainkan mengajak masyarakat berhenti mengandalkan penglihatan dan penciuman untuk menilai kualitas udara, lalu mulai merujuk pada data pengukuran. Langkah menuju perubahan itu mulai terlihat. Sejak 22 September 2026, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kesehatan telah mengintegrasikan data pemantauan kualitas udara ke dalam SatuSehat . Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga sudah meminta warga rutin memeriksanya lewat aplikasi resmi . Pekerjaan berikutnya adalah membuat kebiasaan pemeriksaan mandiri benar-benar melekat. Indeks standar pencemar udara (ISPU) punya lima kategori resmi menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2020 , mulai dari β€œBaik”, β€œSedang”, β€œTidak Sehat”, β€œSangat Tidak Sehat”, sampai β€œBerbahaya”. Informasi real-time tentang kondisi udara terkini harus disebarluaskan untuk menjangkau masyarakat. Dan diperlukan partisipasi aktif dari semua pihak terkait. Sekolah bisa mengumumkan angka ISPU di grup wali murid tiap pagi, kantor menampilkannya di layar lobi, puskesmas menempelkannya di papan informasi. Di luar keputusan politik untuk menetapkan status bencana ini sebagai bencana nasional, pada kenyataannya seluruh wilayah di Indonesia berpotensi terkena asap yang bisa merusak kesehatan dari karhutla. Sebab udara tidak mengenal batas administratif. Baca juga: Darurat bencana jadi ruang korupsi akibat 4 celah penyelewengan ini Dicky Indirwan tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Kasus ISPA meroket: Asap karhutla jadi ancaman senyap di daerah yang jauh dari pusat kebakaran
0
RK
Rayenda Khresna Brahmana, Lecturer, Deakin University Lancaster University IndonesiaΒ· Warga
Kiriman

Indonesia memang pantas masuk kategori β€˜standalone’ yang tak layak investasi

● Karena MSCI pasar saham Indonesia kembali gaduh sampai terjadi β€˜trading halt’ Jumat lalu. ● Indonesia bisa masuk kategori pasar saham β€˜standalone market’ atau tidak layak investasi. ● MSCI menilai pasar modal nasional tak transparan dan bisa β€œdikondisikan” pihak tertentu. Usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk menempatkan rating pasar modal Indonesia turun kasta dari emerging market (pasar berkembang) langsung menjadi standalone market (pasar mandiri) Jumat lalu bak halilintar di siang bolong. IHSG langsung ambruk lebih dari 10%, yang membuat sistem otomatis menghentikan perdagangan saham ( trading halt ) aktif. Pada perdagangan Senin 19 Oktober 2026 pun, IHSG ditutup melemah 3,64% di angka 4.996 . Ini adalah lanjutan dari polemik antara MSCI dan pasar saham Indonesia sejak akhir tahun lalu. Pada Juni 2026 , ancaman MSCI baru sebatas penurunan ke frontier market (pasar modal perintis). Turun ke frontier market saja sudah merupakan langkah mundur bagi pasar saham Indonesia yang saat ini berada di level emerging market . Pesan MSCI jelas: pasar Indonesia tidak bisa memberikan kepercayaan kepada investor internasional. Melansir dokumen MSCI , ada empat alasan untuk menurunkan Indonesia ke kategori suram sekelas Zimbabwe dan Rusia. Pertama, kepemilikan saham yang tidak transparan. Kedua, keraguan atas jumlah saham yang benar-benar bebas diperdagangkan. Ketiga, dugaan perdagangan terkoordinasi. Keempat, kurangnya bukti penindakan yang meyakinkan. Masyarakat, khususnya para investor ritel, perlu memantau perkembangan persoalan yang berulang ini. Tentu ada alasan mengapa MSCI tak percaya kepada pasar Indonesia meskipun pimpinan Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah berganti. Ada setidaknya tiga pertanyaan yang bisa kita bahas bersama: apa yang salah dengan Bursa Indonesia, mengapa masalah ini terjadi, dan bagaimana jalan keluarnya. Baca juga: Kegaduhan MSCI: Ujian pembenahan regulasi dan struktur bursa saham yang amburadul Pasar saham yang β€œdikendalikan” Semua bermula ketika MSCI meragukan apakah kepemilikan saham di pasar modal Indonesia benar-benar berada di tangan investor publik . Bila kepemilikan tampak tersebar tetapi sesungguhnya terpusat pada pihak yang saling terkait, angka tersebut bisa menyesatkan. Karena itu, menaikkan batas kepemilikan saham menjadi 15% tidak cukup tanpa verifikasi pemilik dan konsentrasi saham. Penurunan dua level pasar saham nasional membuktikan MSCI tak mempercayai IHSG–setinggi apapun nilainya. Sedari dulu, kenaikan ( IHSG ) kerap dijadikan simbol keberhasilan politik. Indeks naik, pemerintah dianggap berhasil. Namun, siapa yang menguji mutu pengawasannya? Tanpa itu, sulit menghilangkan rahasia umum tentang IHSG yang bisa β€˜ dikondisikan ’ oleh sejumlah pihak, khususnya bagi MSCI yang amat mengedepankan praktik pasar bebas. Dugaan pump and dump (goreng saham), wash sales (cuci saham), atau insider trading (info orang dalam) adalah beberapa topik penting yang diminta MSCI kepada otoritas. Tanpa penjelasan tentang proses dan hasil penindakan, publik bisa menganggap pengawas membiarkan praktik tersebut, meski pemeriksaan mungkin sedang berjalan. Dalam merespons hal ini, BEI dan OJK telah menjelaskan adanya auto reject asimetris (penolakan otomatis dengan batas kenaikan dan penurunan harga yang berbeda) dan short-sell (jual kosong) sebagai jaring pengaman. Secara teori, kedua hal tersebut memang e fektif melindungi nilai saham dari penurunan drastis , tetapi otoritas tak pernah transparan terhadap efektivitas saham siapa yang terlindungi maupun yang lenyap . Baca juga: Reformasi pasar modal takkan ramah investor retail jika menyepelekan aksi goreng saham dan tak transparan Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana jika Indonesia benar-benar menjadi standalone market ? Tentunya modal asing akan terbang mencari tempat berlabuh yang lebih aman. Persoalan pelik akan dihadapi oleh investor lokal dan entitas itu sendiri. Tentunya kita perlu menaruh perhatian lebih kepada investor ritel yang investasinya bakal β€œ boncos ” dan besar kemungkinan mengganggu keuangannya di tingkat rumah tangga . Persoalan ini berisiko bagi emiten . Pasar yang kurang β€œcair” membuat investor menuntut imbal hasil lebih tinggi, sehingga biaya menghimpun modal melalui penerbitan saham bukan lagi opsi yang menarik. Ketergantungan pada kredit perbankan pun bertambah. Jika pembiayaan tetap terbatas atau mahal, perusahaan dapat mengurangi atau menunda investasi. Bagi masyarakat sendiri, gonjang-ganjing pasar modal seperti saat ini akan mengikis kepercayaan investor ritel dan calon investor . Peluang naik kelas para kelas menengah Indonesia pun bisa melambat karena satu dari sedikit opsi menambah cuan akan tertutup . Selain itu, kejatuhan besar pasar saham di Indonesia berkaitan dengan perlambatan pertumbuhan penjualan ritel di pasar riil . Ketika pasar anjlok, rasa takut kehilangan dan ketidakpastian meningkat. Rumah tangga pun cenderung menahan belanja untuk berjaga-jaga. Jika konsumsi melambat, pertumbuhan ekonomi nasional akan terdampak. Ancaman MSCI bukan muncul karena kurangnya pembeli ritel, melainkan karena keraguan investor global terhadap integritas pasar. Karena itu, keberadaan 30 juta investor ritel yang dibanggakan OJK tidak cukup untuk menyelamatkan iklim investasi nasional jika kepercayaan pasar terus terkikis. Baca juga: AI pelaporan keuangan makin populer, bagaimana menjaga akurasi dan akuntabilitasnya? Bisakah reputasi ini dikembalikan? MSCI rencananya akan memutuskan status Indonesia pada 2027 mendatang. Andaikan Indonesia tetap berstatus emerging market , kita perlu merefleksikan kembali: apa keunggulan pasar saham kita ketimbang India, Brasil, atau Malaysia? Investor global bisa menilai prospek pasar modal Indonesia secara independen. Berapa pun rekor poin IHSG takkan berguna. Karena itu, jika mau memulihkan kepercayaan , OJK dan BEI perlu menerapkan pengawasan yang berani menindak manipulasi, aturan yang transparan, dan kebijakan ekonomi yang memberi perusahaan ruang untuk tumbuh Bursa harus menjadi pasar yang dipercaya investor domestik dan global, tempat modal mengalir ke perusahaan produktif melalui pembentukan harga yang wajar, transparansi, dan perlindungan investor yang kredibel. Hal yang tidak kalah penting, pemerintah juga perlu memberi kepercayaan dari sisi kebijakan ekonominya tak terkecuali urusan pengelolaan anggaran. Program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih harus dibuktikan mampu meningkatkan produktivitas, pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan peluang investasi baruβ€”alih-alih memperkuat kapitalisme negara . Pada akhirnya bursa yang lebih tertib membuat investor bersedia melirik Indonesia. Namun, ekonomi yang produktif memberi mereka alasan untuk menanamkan modal. Baca juga: Refleksi Kemerdekaan: Upaya negara menguasai pasar melalui program mercusuar harus dibatasi Rayenda Khresna Brahmana tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Indonesia memang pantas masuk kategori β€˜standalone’ yang tak layak investasi
0
YA
Yunani Abiyoso, Lecturer, Faculty of Law, Universitas IndonesiaΒ· Warga
Kiriman

Dua tahun Prabowo-Gibran: Alih-alih kreatif, program mercusuar justru berisiko menggerogoti negara

● Kabinet Merah Putih Prabowo-Gibran memasuki masa kerja dua tahun. ● Pemerintah membuat program yang mereka anggap kreatif, melalui MBG dan KDMP. ● Alih-alih kreatif dan efisien, tata kelola lembaga pemerintahan ini justru banyak masalah. Masa pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dengan Kabinet Merah Putihnya genap berumur dua tahun pada hari ini. Salah satu trademark paling menonjol dalam pemerintahan mereka adalah program mercusuarnya. Pada momen ini, evaluasi atas arah kebijakan nasional menjadi krusial tidak terkecuali aspek kelembagaan pemerintah. Sejak berkampanye, Prabowo dan Gibran menjanjikan pemerintahan yang bersih, transparan, dan inovatif . Ada sebuah gagasan bernama creative destruction yang dikembangkan oleh Philippe Aghion dan Peter Howitt (peraih Nobel Ekonomi 2025) untuk menilai sejauh mana efektivitas perubahan kelembagaan pemerintah Prabowo-Gibran. Saya mencoba menguji teori tersebut terhadap dua program mercusuar dan satu program baru pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis ( MBG ), Koperasi Desa Merah Putih ( KDMP ), dan Badan Reforma Agraria Nasional ( BRAN ). Baca juga: Refleksi Kemerdekaan: Upaya negara menguasai pasar melalui program mercusuar harus dibatasi Nyatanya, berdasarkan ulasan saya, ketiga program ini bisa jadi bumerang bagi pemerintah. Alih-alih kreatif, program-program tersebut justru bisa menggerogoti tata kelola negara. Penuh anomali Teori creative destruction atau kehancuran kreatif mensyaratkan nilai tambah baru dalam inovasi untuk menggantikan cara lama yang tidak lagi efektif. Nyatanya, program-program baru pemerintah justru menciptakan redundansi atau tumpang tindih kelembagaan. Akibatnya, yang tercipta bukanlah efisiensi, melainkan anomali kebijakan dan kelembagaan publik, hingga pemborosan sumber daya. 1. BGN dengan puskemas dan posyandu Anomali pertama tampak pada program MBG yang menghadirkan Badan Gizi Nasional. MBG digadang pemerintah sebagai solusi penyelesaian akar masalah kesehatan, yakni gizi buruk dan stunting yang masih menjadi momok di Indonesia . Namun di saat bersamaan, kebijakan sektor kesehatan yang ada masih berlaku dan belum dicabut. Jika program ini hanya mencakup pemberian makanan, pemerintah sebenarnya memiliki jaringan kesehatan dasar yang ada seperti 10.416 Puskesmas dan lebih dari 300 ribu Posyandu . Keduanya pun telah terintegrasi dalam program peningkatan gizi dan kesehatan masyarakat. Namun, pemerintah memilih membangun puluhan ribu jaringan dapur-dapur makan MBG sendiri. Di sinilah muncul duplikasi dan pemborosan lembaga. Selain itu menurut Kementerian Kesehatan, konsentrasi pemenuhan gizi dan pencegahan stunting ada pada fase kehamilan hingga anak berusia dua tahun . Namun, program MBG justru menempatkan porsi terbesar fokus dan anggarannya pada anak usia dasar hingga sekolah menengah atas. Baca juga: Darurat krisis: Pemerintah perlu dan bisa memangkas anggaran MBG hingga Rp200 triliun 2. Koperasi desa merah putih dengan BUMDes Anomali kedua terjadi pada ranah kebijakan kesejahteraan desa melalui pembentukan Koperasi Desa Merah Putih. Undang Undang Desa memandatkan pembangunan ekonomi desa diselenggarakan melalui badan usaha milik desa (BUMDes) dan koperasi. Ada 139.203 koperasi aktif dengan 31,8 juta anggota, aset Rp325,8 triliun, dan sisa hasil usaha (SHU) Rp8,84 triliun per tahun dan 56 ribu BUMdes yang ada saat ini. Namun, melalui KDMP, pemerintah justru memilih membangun 28 ribu koperasi baru . Baca juga: Kopdes Merah Putih mengikis warisan koperasi Mohammad Hatta KDMP sendiri sampai saat ini masih mencari jati dirinya. Terakhir, KDMP ditargetkan menjadi penyalur gaji aparatur sipil negara (ASN) yang berujung pada gejolak penolakan. Bahkan, program yang digadang untuk menciptakan nilai ekonomi baru di desa malah mewariskan kita utang Rp240 triliun yang akan dicicil negara selama enam tahun ke depan. 3. BRAN dengan pengadilan Anomali ketiga, meskipun mungkin bukan yang terakhir, yaitu lembaga baru Badan Reforma Agraria Nasional (BRAN) seiring dengan pengesahan Undang Undang Pengaturan Reforma Agraria 22 September lalu. Lembaga ini diciptakan untuk menyelesaikan konflik agraria dan penumpukan sengketa tanah. Namun, merespons isu agraria dengan membentuk badan eksekutif baru justru berisiko menimbulkan masalah baru. Sistem hukum saat ini memberikan wewenang kepada pengadilan negeri untuk sengketa hak perdata, pengadilan tata usaha negara untuk sengketa keputusan tata usaha negara termasuk sertifikat tanah. Alhasil, fungsi BRAN dalam memutus sengketa justru dapat bentrok dengan lembaga-lembaga peradilan. Tumpang tindih fungsi berpotensi menciptakan masalah penyelesaian dan ketidakpastian hukum di mata masyarakat pencari keadilan atas masalah tanah mereka. Baca juga: Konflik lahan Hotel Sultan: Benarkah HGB rawan sengketa bahkan diserobot mafia tanah? Bom waktu pemicu ledakan masalah Ketiga kebijakan tersebut dapat juga kita pahami dalam konsep jalan pintas kelembagaan ( institutional bypass ). Konsep yang dipopulerkan oleh cendikia hukum Amerika Latin Mariana Mota Prado (2011) tersebut mendorong strategi pembentukan jalur kelembagaan baru yang efisien untuk melangkahi institusi lama yang tersumbat. Namun, Mariana juga sudah mewanti-wanti bahwa institutional bypass akan berakhir sia-sia jika lembaga yang ada masih masih bisa diberdayakan. Kesia-siaan ini bisa kita uji melalui aturan-aturan hukum dan ketatanegaraan nasional. Ketiga program tersebut melanggar prinsip efisiensi berkeadilan sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 ayat (4) UUD 1945 , yang menuntut sumber daya (anggaran) negara wajib diukur dari sejauh mana alokasinya memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat. Selain itu ada ketidaksesuaian cita-cita otonomi daerah khususnya desa sesuai Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 . Kerangka hukum pemerintahan daerah pun telah mendelegasikan urusan pemerintahan dan ekonomi desa kepada entitas yang terdekat dengan masyarakat, yakni pemerintah desa dan BUMdes. Ada juga risiko dualisme forum penyelesaian sengketa tanah antara BRAN dan pengadilan. Pun, jika BRAN hanya difungsikan sebagai wadah mediasi saja, keberadaannya justru menambah lapisan birokrasi baru. Sengketa pertanahan dan ketidakpastian hukum berisiko semakin panjang. Perbaiki sebelum terlambat Di umur pemerintahan yang kedua ini, masih belum terlambat untuk pemerintah melakukan koreksi mendasar atas pemekaran kelembagaan yang tidak efisien. Kita mungkin mengharapkan inovasi pemerintah saat melaksanakan dan mengevaluasi kebijakan. Apalagi jika terdapat kekosongan kerangka hukum atau ketiadaan lembaga yang memadai untuk menangani persoalan baru. Namun, setiap inovasi kebijakan seharusnya bertumpu pada ide-ide yang rasional, efektif, efisien, berorientasi pada pemenuhan hak serta mempertimbangkan pendapat dan partisipasi publik, bukan bermuara pada pemborosan anggaran dan tumpang tindih lembaga. Baca juga: Darurat bencana jadi ruang korupsi akibat 4 celah penyelewengan ini Yunani Abiyoso tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Dua tahun Prabowo-Gibran: Alih-alih kreatif, program mercusuar justru berisiko menggerogoti negara
0
MD
Muhammad Dzulfikar Al Ghofiqi, Dosen dan Peneliti di Departemen Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu  Politik, Universitas Airlangga, Universitas AirlanggaΒ· Warga
Kiriman

Fasilitas ada, tapi sulit diakses: Mengapa pelayanan publik ramah difabel masih langka di Indonesia

● Aturan dan fasilitas belum menjamin layanan publik yang aksesibel bagi difabel. ● Pelibatan komunitas difabel membantu pemerintah menemukan dan memperbaiki hambatan layanan. ● Partisipasi harus dilembagakan agar perbaikan layanan tidak bergantung pada individu. Sudah sedekade Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas disahkan, tapi kondisi orang difabel tak banyak berubah. Ragam persoalan warisan dahulu kala seperti jalur pemandu yang terputus, informasi yang tidak tersedia dalam format aksesibel, dan petugas yang kesulitan berkomunikasi dengan pengguna difabel masih jadi makanan sehari-hari. Masalahnya bukan semata-mata kekurangan fasilitas. Pemerintah juga perlu memastikan orang disabilitas dilibatkan sejak layanan dirancang, bukan baru didengarkan setelah masalah muncul. Tanpa keterlibatan pengguna, kebijakan yang terlihat memadai di atas kertas bisa gagal menjawab kebutuhan warga. Melansir Ombudsman RI , laporan terkait disabilitas meningkat setiap tahun. Sementara itu, Komisi Nasional Disabilitas menilai pemenuhan hak penyandang disabilitas dalam pelayanan publik masih belum optimal. Pengalaman Mal Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menunjukkan bagaimana keterlibatan komunitas difabel dapat membantu memperbaiki layanan. Riset kami , yang melibatkan 27 informan dan diterbitkan dalam jurnal Public Administration and Development pada 2026, menemukan bahwa perbaikan membutuhkan kapasitas pemerintah sekaligus komunitas yang mampu menyampaikan kritik dan mengawal tindak lanjutnya. Baca juga: 4 tantangan pelayanan publik berbasis digital di Indonesia Standar pemerintah tak sesuai kebutuhan warga Saat MPP Lamongan mulai beroperasi, pemerintah telah memiliki standar operasional prosedur (SOP) layanan prioritas. Namun, komunitas difabel tidak dilibatkan sejak awal penyusunannya. Akibatnya, rancangan layanan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pengguna. Tak ada jalur pemandu dan informasi Braille untuk tuna netra. Teman tuli kesulitan berkomunikasi karena sedikit petugas yang memahami bahasa isyarat. Sementara itu, disabilitas fisik dipaksa melewati bidang miring yang curam dan mendatangi loket di lantai dua. Kondisi tersebut memperlihatkan kelemahan birokrasi yang terlalu mengandalkan kepatuhan administratif alias cuma sekadar memenuhi kewajiban. Keberadaan SOP dan fasilitas tidak otomatis membuktikan bahwa layanan dapat digunakan semua orang. Bagi warga yang datang untuk mengurus dokumen, mengakses layanan tanpa bantuan dan panduan yang sesuai justru membuat antrean makin mengular. Pemerintah seharusnya mengukur keberhasilan layanan dari pengalaman pengguna, bukan hanya dari fasilitas yang tersedia atau prosedur yang telah ditetapkan. Temuan ini sejalan dengan tinjauan sistematis yang mengkaji 119 penelitian tentang inklusi warga dalam layanan publik. Kajian tersebut menyoroti pentingnya memahami bagaimana interaksi warga dengan layanan membentuk pengalaman inklusi, sekaligus bagaimana hambatan administratif dapat menghalanginya. Baca juga: Mengapa layanan kesehatan untuk disabilitas di Indonesia masih belum maksimal? Ubah keluhan menjadi perubahan Di Lamongan, komunitas difabel berupaya mengubah pengalaman individual menjadi tuntutan bersama. Pada Desember 2020, melalui Festival Inklusi , mereka menyuarakan kebutuhan agar jalur pemandu tunanetra diperluas ke seluruh trotoar kota. Jalur yang tersedia di alun-alun belum menjamin perjalanan yang aman ketika akses terputus di lokasi lain. Berbagai organisasi kemudian menghimpun aspirasi melalui Forum Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas (FP2HD). Forum ini membantu komunitas menyusun usulan, berkomunikasi dengan pemerintah, dan mengawal respons atas hambatan yang mereka alami. Melalui forum konsultasi publik, masukan komunitas turut mendorong perubahan alur pelayanan yang dimulai dari area parkir, penyediaan ruang layanan khusus di lantai satu, penempatan petugas yang dibekali keterampilan bahasa isyarat, serta pengembangan kompetensi pegawai dan dukungan anggaran. Penelitian tentang aksesibilitas layanan puskesmas di Bandung juga menunjukkan pentingnya pelibatan masyarakat dalam perbaikan fasilitas publik. Namun, tentunya partisipasi ini tidak boleh menjadi cara pemerintah memindahkan tanggung jawab kepada warga. Baca juga: 6 penghalang keterlibatan penyandang disabilitas dalam proses pembangunan Partisipasi harus jadi kewajiban kelembagaan Pengalaman Lamongan menunjukkan bahwa kritik komunitas dapat membantu pemerintah mengenali kekurangan yang luput dari perencanaan. Namun, perbaikan akan rapuh jika bergantung pada pejabat tertentu atau kegigihan segelintir aktivis. Karena itu, pemerintah perlu melembagakan partisipasi melalui tiga langkah. Pertama , libatkan organisasi difabel sejak penyusunan dan evaluasi SOP, pembangunan fasilitas, hingga penentuan anggaran. Pengujian layanan harus melibatkan pengguna dengan ragam disabilitas karena kebutuhan mereka berbeda-beda. Kedua , setiap masukan harus memiliki penanggung jawab, tenggat waktu, dan tindak lanjut yang dapat diperiksa publik. Pemerintah juga perlu menjelaskan alasan jika usulan belum dapat dilaksanakan. Ketiga , sediakan forum konsultasi yang aksesibel dan dukungan bagi komunitas untuk memantau layanan secara independen. Kritik tidak boleh bergantung pada kedekatan komunitas dengan pejabat yang sedang menjabat. Riset satu kasus tidak dapat mewakili seluruh Indonesia. Namun, pelajarannya relevan: pemerintah tidak cukup mengklaim layanan telah inklusif hanya karena aturan dan fasilitas tersedia. Ukuran keberhasilannya adalah apakah orang difabel dapat memperoleh informasi, berkomunikasi dengan petugas, mengakses fasilitas, dan menyelesaikan urusan secara aman dan bermartabat. Layanan publik baru benar-benar inklusif ketika penyandang disabilitas bukan sekadar penerima layanan, melainkan turut menentukan bagaimana layanan dirancang, dijalankan, dan dievaluasi. Baca juga: Mendorong penelitian inklusif: Penyandang disabilitas perlu terlibat aktif, bukan hanya sebagai objek Muhammad Dzulfikar Al Ghofiqi tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Fasilitas ada, tapi sulit diakses: Mengapa pelayanan publik ramah difabel masih langka di Indonesia
0
BM
Ben McCann, Associate Professor of French Studies, Adelaide UniversityΒ· Warga
Kiriman

Kilas balik hingga narasi acak: Mengapa para pembuat film gemar bermain-main dengan waktu?

Kebanyakan film menggunakan narasi waktu berjalan searah. Artinya, tokoh utama memiliki tujuan, menghadapi berbagai rintangan dalam waktu yang terus bergulir, hingga akhirnya merekaβ€”dan juga penontonβ€”sampai pada babak akhir. Konsep ini dikenal sebagai narasi linier , gaya penceritaan utama dalam dunia sinema selama lebih dari seratus tahun. Kisah Andy Dufresne menghabiskan waktu tahanan selama puluhan tahun dalam film legendaris The Shawshank Redemption (1994) adalah contohnya. Alur waktu yang linear mengajak kita menyimak proses panjang dan gradual di balik rencananya meloloskan diri dari penjara Shawshank. Ada alasan mengapa film dengan alur konvensional semacam ini selalu berhasil: ceritanya mudah dipahami. Lantas, apa jadinya bila garis waktu tersebut dipecah dan film berubah menjadi tumpukan adegan yang terpisah-pisah ? Seperti yang pernah diungkapkan oleh maestro sutradara Prancis, Jean-Luc Godard: Film memang harus memiliki bagian awal, tengah, dan akhir. Tapi tidak harus disajikan dalam urutan yang sama. Eksperimen awal Struktur narasi non-linear sebenarnya telah muncul sejak masa-masa awal sejarah perfilman. Film epik karya sutradara Amerika D.W. Griffith, Intolerance (1916), memotong dan menyelingi empat alur cerita berjarak ribuan tahun dimulai dari era Babilonia kuno, Yudea, Prancis abad ke-16, hingga Amerika Serikat (AS) era modern. Sementara itu, mahakarya Orson Welles, Citizen Kane (1941), dibuka dengan adegan kematian Kane serta misteri di balik kata terakhirnya (β€˜Rosebud’). Hingga akhirnya rekam jejak hidupnya dirangkai kembali melalui ingatan-ingatan yang saling bertolak belakang dari orang-orang yang mengenalnya. Sutradara maestro asal Jepang, Akira Kurosawa, menggunakan pendekatan serupa dalam Rashomon (1950). Ia membedah peristiwa pembunuhan di dalam hutan melalui empat sudut pandang saksi mata yang tidak dapat dipercayaβ€”tanpa pernah memperjelas versi mana yang benar-benar terjadi. Retakan waktu dalam sinema β€˜arthouse’ Pada dekade 1960-an, narasi non-linear telah identik dengan sinema non-Hollywood dan perfilman berbahasa non-Inggris. Teknik-teknik penceritaan seperti analepsis (kilas balik), prolepsis (kilas maju), alur waktu yang saling bersilangan dan melingkar jadi primadona para Sineas Gelombang Baru Prancis. Film Hiroshima Mon Amour (1959) karya Alain Resnais, misalnya, merajut jalinan asmara masa kini di Hiroshima dengan rekah-rekah ingatan trauma masa perang di Prancis. Dalam Last Year at Marienbad (1961), Resnais melangkah lebih jauh dengan menyajikan narasi yang begitu membingungkan, hingga para kritikus masih berdebat tentang bagian mana yang murni ingatan, imajinasi, atau kenyataan. Eksperimentasi semacam ini pada masa itu masih terbatas di ranah sinema arthouse (film seni) dan festivalβ€”dipuji oleh para kritikus, tapi umumnya dianggap terlalu berat atau β€œrumit” bagi penonton bioskop awam. Ledakan aliran posmodernisme Tren kembali berganti di era 1990-an. Film Pulp Fiction (1994) karya Quentin Tarantino mengambil struktur non-linear khas sinema arthouse dan mengawinkannya dengan alur cerita genre sensasional yang disukai khalayak luas. Kisah Tarantino tentang pembunuh bayaran, petinju, dan sebuah koper misterius ini mengacak kronologi tiga cerita yang saling terhubung. Karakter yang perankan John Travoltaβ€”yang tewas tertembak di pertengahan filmβ€”kembali muncul dalam kondisi hidup di adegan berikutnya, karena penonton diajak menyaksikan titik waktu yang lebih awal dalam alur cerita. Pulp Fiction membuktikan bahwa penonton arus utama sanggup menikmati struktur narasi non-linear. Gelombang baru yang dijuluki oleh para akademisi film sebagai film teka-teki pun bermunculan. Dalam genre ini, kenikmatan utama penonton justru terletak pada proses pemecahan alur cerita yang sengaja dikaburkan atau diacak seperti pada Go (1999), 21 Grams (2003), Primer (2004), serta Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004). Alur berulang dan pengulangan adegan juga dapat dikemas secara komikal, seperti dalam Groundhog Day (1993), atau secara intens dan memicu adrenalin, seperti dalam Run Lola Run (1998). Sementara itu, dalam film fiksi ilmiah yang lebih mutakhir, Arrival (2016), struktur non-linear bahkan sanggup mengubah keseluruhan makna dari adegan-adegan awal yang telah ditonton. Dari eksperimen menjadi tren Mungkin contoh yang paling fenomenal dari semuanya adalah Memento (2000) karya Christopher Nolan yang menyoroti kisah Leonard Shelby, pria pengidap amnesia jangka pendek, saat berjuang melacak pembunuh istrinya. Nolan merangkai kisah Leonard melalui adegan hitam-putih yang bergerak maju secara kronologis, berselang-seling dengan adegan berwarna yang bergerak mundurβ€”di mana setiap adegan berwarna dimulai tepat di titik akhir adegan berikutnya. Kedua garis waktu ini akhirnya bersimpangan di pertengahan film, bertemu untuk menyingkap tabir misterinya. Memento mengajak penonton merasakan pengalaman yang serupa dengan gangguan ingatan Leonardβ€”tiba-tiba berada di setiap adegan tanpa tahu pasti bagaimana bisa sampai di sana, lalu dipaksa merangkai kembali konteksnya dari awal, persis seperti yang dialami sang tokoh utama. Film-film Christopher Nolan berikutnya terus memainkan dimensi waktu secara sangat kreatif , menyingkap informasi pada saat-saat krusial demi memperkuat daya pukau ceritanya. Inception (2010), Tenet (2020), Oppenheimer (2023), hingga The Odyssey (2026) semuanya memanfaatkan struktur non-linear untuk membangun ketegangan hampir di setiap proses penceritaan. Di Indonesia, salah satu film yang menggunakan permainan waktu yang sangat kentara, khususnya time loop (pengulangan) adalah Sore (2025) besutan Yandy Laurens. Daya pikat narasi non-Linear Mengapa gaya penceritaan semacam ini terus memikat perhatian kita? Pada era awal, para teoretikus formalisme Rusia membuat pembedaan teoretis antara fabula (urutan kronologis mentah dari peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita) dan syuzhet (urutan serta cara peristiwa-peristiwa tersebut disajikan kepada kita). Kita menyaksikan film-film seperti Manchester By The Sea (2016), (500) Days of Summer (2009), dan Mulholland Drive (2001) layaknya seorang detektifβ€”merangkai kembali kronologi mentah ( fabula ) dari sajian cerita yang diacak ( syuzhet ). Struktur non-linear cocok untuk mengolah kisah-kisah tentang trauma dan rasa duka. Mengikuti alur kronologi terbalik dalam film IrrΓ©versible (2002) karya Gaspar NoΓ© yang menyayat hati memaksa penonton mengetahui akhir kisah yang tragis sebelum memahami penyebabnyaβ€”memutarbalikkan hubungan emosional kita terhadap jalan cerita dan plot. Serial televisi seperti Lost (2004–2010), Westworld (2016–2022), dan True Detective (2014–) membangun seluruh musim penayangannya di atas alur waktu yang diacak atau garis waktu ganda, dan rutin menerapkan struktur tak berurutan yang dipenuhi kilas balikβ€”sebuah pendekatan yang dulunya dianggap eksklusif milik sinema arthouse . Struktur non-linear dapat menyajikan keindahan visual yang memukau, atau pengalaman kontemplatif yang puitis. Terkadang, pendekatan ini bahkan terasa begitu liar dan tak terduga, membuktikan fleksibilitas tanpa batas di dalam narasi film. Ben McCann tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Kilas balik hingga narasi acak: Mengapa para pembuat film gemar bermain-main dengan waktu?
0
BH
Barid Hardiyanto, Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto, Universitas Nahdlatul Ulama PurwokertoΒ· Warga
Kiriman

Karhutla memperparah kemiskinan, bansos apa yang paling ideal untuk menafkahi warga?

● Karhutla tak hanya menghanguskan hutan, tapi juga memiskinkan warga. ● Dahsyatnya asap merontokkan penghasilan warga, khususnya pekerja harian. ● Bansos tunai tanpa syarat jadi strategi tepat meredam risiko kemiskinan akibat karhutla. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2026 disebut-sebut sebagai salah satu yang terparah dalam siklus bencana tahunan nasional ini. Titik api yang membara sejak awal tahun tak juga padam dan telah membuat lebih dari 14 juta warga negara terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Bagi masyarakat terdampak kelas menengah perkotaan, kabut asap mungkin dimitigasi dengan bekerja dari rumah dan menghidupkan penyaring udara. Namun bagi saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani gurem, buruh perkebunan harian, masyarakat adat, serta perempuan dan anak-anak di pedesaan, karhutla adalah ancaman langsung terhadap nyawa dan ruang penghidupan. Tentu, pemerintah harus mengedepankan upaya pemadaman kebakaran sebagai prioritas utama. Tapi negara juga harus hadir menjamin kelangsungan penghidupan para warga terdampak yang aktivitas sosial-ekonominya terganggu. Setidaknya ada lebih dari 12 juta jiwa di sekitar titik api pulau Kalimantan, Sumatra, dan Papua yang harus mendapat perhatian negara. Salah satunya melalui jaminan bantuan sosial. Baca juga: Kasus ISPA meroket: Asap karhutla jadi ancaman senyap di daerah yang jauh dari pusat kebakaran Karhutla bisa memiskinkan Karhutla tidak hanya menghancurkan keanekaragaman hayati, tetapi juga melumpuhkan urat nadi ekonomi lokalβ€”terutama di daerah-daerah terdekat pusat api. Studi terkait karhutla 2015 mengungkap realitas pahit mengenai β€œekonomi politik api”. Dalam kajian tersebut, aktor-aktor bermodal besar sering kali mendapatkan keuntungan ekonomi dari pembukaan lahan dengan cara membakar karena biayanya yang sangat murah. Mereka, sebagai contoh, adalah pemilik perkebunan kelapa sawit, tokoh lokal yang menikmati 85% pendapatan dari industri sawit . Sebaliknya, masyarakat lokal, petani kecil, dan kelompok rentan justru menjadi pihak yang menanggung biaya kerugian paling besarβ€”mulai dari rusaknya lahan pertanian skala kecil, hilangnya pendapatan harian, hingga membengkaknya biaya pengobatan akibat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Riset Celios tahun 2026 menguatkan argumen tersebut. Dalam kajian mereka, kerugian ekonomi karhutla tembus Rp123,1 triliun dan mayoritas korban tak bersalah yang terpapar risiko penyakit harus menanggung segala dampak karhutla sendiri termasuk biaya pengobatan. Artinya, masyarakat di kawasan terdampak karhutla mengalami himpitan krisis berganda dari aspek kesehatan dan ekonomi. Karena aktivitas produktifnya terganggu, mereka terpaksa menjual aset produktifnya, berutang kepada rentenir, atau bahkan mengurangi asupan gizi anak-anak mereka. Selain ancaman kemiskinan yang nyata, karhutla berkepanjangan turut berisiko meningkatkan angka stunting . Selain karena paparan asap berkepanjangan yang mengganggu pertumbuhan anak usia dini , keterbatasan uang membuat banyak rumah tangga tidak bisa menyediakan makanan bergizi. Baca juga: Darurat bencana jadi ruang korupsi akibat 4 celah penyelewengan ini Bansos ideal untuk korban karhutla Selama ini, respons negara dalam menanggulangi dampak sosial Karhutla masih terjebak pada pendekatan reaktif dan konvensional. Bansos baru bisa disalurkan setelah ada pemerintah daerah menerbitkan status darurat bencana terlebih dahulu. Akibatnya, tak jarang bencana sudah keburu parah, sedangkan bansos dan dana untuk mendirikan posko kesehatan atau pembagian masker berkualitas sering kali tertunda oleh rapat dan evaluasi birokrasi. Selain itu, bansos pemerintah umumnya berhenti ketika kondisi membaik. Padahal, dampak ekonomi dari hilangnya masa panen atau pekerjaan harian masih terus dirasakan berbulan-bulan setelahnya. Oleh karena itu, kompensasi dalam bentuk paket sembako sesaat tidak cukup untuk menutupi hilangnya akses ekonomi mereka. Alih-alih memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat, BNPB terlibat kasus dugaan korupsi dana bencana. Pemerintah perlu menerapkan pendekatan bansos baru yang berkelanjutan untuk memulihkan dampak ekonomi masyarakat terdampak karhutla. Misalnya dengan menerapkan skema perlindungan sosial adaptif ( adaptive social protection /ASP) yang didukung pendekatan affirmative basic income (ABI) atau pendapatan dasar afirmatif bagi masyarakat terdampak, khususnya kalangan rentan. Gampangnya, bansos ini berbentuk pengiriman bantuan uang tunai secara rutin, serta tanpa syarat selama periode krisis hingga fase pemulihan. Pendekatan ASP dan ABI langsung menyasar populasi paling rentan terhadap guncangan bencana (seperti Karhutla). Penelitian tentang bansos kebencanaan dari Universitas Twente, Belanda, membuktikan bahwa transfer duit bansos yang terstruktur dari sebelum puncak krisis hingga masa pemulihan justru jauh lebih efektif daripada bantuan darurat pascabencana. Baca juga: Karhutla membuka babak baru pemulihan gambut: Sains buktikan peran warga jadi penentu Pemerintah bisa mengadopsi bansos seperti ini dengan berpegangan pada data peringatan dini (misalnya perkiraan kemarau ekstrem dari BMKG dan titik panas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan/KLHK) untuk memicu pencairan dana langsung ke rekening kelompok rentan. Keputusan ekonomi penggunaan dananya diserahkan kembali kepada masyarakat, karena merekalah yang paling paham akan kebutuhan spesifik keluarganya di tengah kepungan asap. Kebijakan lanjutan untuk kemandirian masyarakat setempat Kajian ilmiah tentang bansos kebencanaan menegaskan bahwa penyediaan pendapatan dasar memiliki hubungan yang kuat dengan pelestarian lingkungan hidup dan resiliensi masyarakat terhadap bencana. Dalam konteks karhutla, masyarakat yang kebutuhan dasarnya telah dijamin oleh negara tidak akan mudah tergiur untuk menjadi β€œpesuruh” bakar lahan bagi korporasi atau cukong tanah. Sebaliknya, pembiaran terhadap kelompok rentan yang menanggung beban terberat dari krisis ini justru menambah risiko pengelolaan lahan yang merusak lingkungan dan memantik horor bencana di masa depan. Persoalan APBN pun seharusnya bukan masalah. Tahun ini saja, pemerintah telah menyiapkan Rp60 triliun dana kebencanaan dari APBN 2026. Selain itu banyak sumber dari pos lain yang tersedia seperti pajak karbon, denda dari korporasi pembakar lahan, maupun hibah internasional untuk penurunan emisi. Skema transfer uang tunai langsung ke rekening kelompok rentan bukan sekadar soal otonomi warga, tetapi juga menjadi strategi antikorupsi karena memotong rantai panjang birokrasi pengadaan barang yang selama ini menjadi ladang subur praktik rente dan kebocoran anggaran bencana. Pendekatan ini juga dapat dibarengi strategi lainnya, misalnya pelayanan kesehatan gratis, akses air gratis, hingga tempat bernaung sementara yang bebas asap bagi warga terdampak. Sudah saatnya kebijakan penanggulangan karhutla tidak melupakan risiko padamnya harapan hidup kelompok rentan akibat kemiskinan ekstrem dan penyakit yang mengikutinya. Baca juga: Selama desil kemiskinan kusut, program bansos akan terus semrawut Barid Hardiyanto tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Karhutla memperparah kemiskinan, bansos apa yang paling ideal untuk menafkahi warga?
0
JM
Jessica Martha, Dosen, Universitas Katolik ParahyanganΒ· Warga
Kiriman

Kredibilitas Indonesia diuji saat bencana dan asap karhutla melintasi batas negara

Sepanjang 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali memicu krisis lingkungan dan kesehatan yang dampaknya melampaui batas negara . Analisis Greenpeace Indonesia menemukan 5.540 titik sumber asap di 22 provinsi selama 8 Agustus hingga 20 September. Kabut asap telah menyebar ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina, Thailand, Vietnam, dan Kamboja–mengganggu aktivitas warga sehari-hari. Di Sarawak , memburuknya kualitas udara memicu lonjakan kasus asma hingga 259%. Sementara itu, tingkat polusi yang tercatat di Manila dilaporkan lebih dari empat kali lipat ambang batas aman yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Di Indonesia sendiri, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dikaitkan dengan karhutla di tujuh provinsi mencapai 277.075 kasus per 12 Oktober, lebih dari dua kali lipat angka pada 9 September. Baca juga: Kasus ISPA meroket: Asap karhutla jadi ancaman senyap di daerah yang jauh dari pusat kebakaran Kejadian ini menyoroti tantangan yang lebih besar untuk Indonesia: ketika krisis dalam negeri menjadi perhatian internasional, dampaknya tidak hanya kerusakan fisik. Krisis ini juga dapat memengaruhi hubungan diplomatik, kepercayaan publik, dan persepsi negara lain terhadap Indonesia sebagai negara yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, cara Indonesia menanggapi dan mengomunikasikan krisis ini menjadi sangat penting, tidak hanya untuk penanganan bencana, tetapi juga untuk menjaga reputasinya pada kancah global. Ketika krisis dalam negeri menarik perhatian internasional Dampak karhutla tidak berhenti pada kesehatan masyarakat. Karhutla juga mengganggu aktivitas ekonomi dan transportasi. Menurut Reuters , lebih dari 1.400 penerbangan dibatalkan atau ditunda akibat karhutla sejak Agustus 2026. Respons negara tetangga menunjukkan bahwa persoalan ini tidak lagi terbatas pada dampak lingkungan. Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (NEA) mengeluarkan pemberitahuan kepada sepuluh perusahaan di Indonesia. NEA meminta perusahaan-perusahaan tersebut memadamkan api, menghentikan aktivitas pembakaran, dan menyusun langkah pencegahan agar kebakaran tidak terulang. Sebelumnya, tekanan diplomatik juga muncul dari anggota parlemen Malaysia, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman . Ia mengajak negara-negara ASEAN mengajukan protes diplomatik kepada Indonesia karena dinilai belum berbuat cukup untuk mengendalikan karhutla. Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa karhutla dapat memengaruhi hubungan Indonesia dengan negara lainnya. Bagi Indonesia yang ingin berperan lebih besar di tingkat regional dan global, krisis ini menjadi ujian kredibilitas dalam mengangani risiko lingkungan lintas batas. Kredibilitas tidak hanya ditentukan oleh penanganan di lapangan, tetapi juga oleh cara pemerintah menyampaikan informasi, merespons kekhawatiran, dan menjelaskan upaya yang sedang dilakukan. Komunikasi menjadi penting karena ikut membentuk persepsi dan kepercayaan publik internasional terhadap Indonesia. Lalu, ketika karhutla melintasi batas negara, bagaimana komunikasi pemerintah Indonesia dapat melindungi masyarakat terdampak sekaligus menjaga kepercayaan internasional? Komunikasi krisis sebagai diplomasi publik Ingrid d’Hooghe , peneliti senior dan mantan Kepala Clingendael China Centre, menjelaskan bahwa ketika krisis dalam negeri menjadi perhatian internasional, pemerintah perlu berkomunikasi dengan masyarakat di dalam maupun luar negeri melalui tiga jenis informasi: informasi untuk menghadapi dampak fisik, informasi untuk menghadapi dampak psikologis, dan komunikasi untuk memulihkan reputasi. Informasi untuk menghadapi dampak fisik berupa panduan untuk mengurangi risiko. Dalam konteks karhutla, informasi ini mencakup pembaruan kualitas udara, wilayah terdampak, risiko kesehatan, dan langkah-langkah perlindungan yang dapat dilakukan masyarakat. Ketika kualitas udara Pontianak memasuki kategori berbahaya , masyarakat membutuhkan informasi jelas mengenai risiko paparan asap dan cara mengurangi dampaknya terhadap kesehatan. Menurut WHO , tersedianya informasi kualitas udara dan imbauan kesehatan yang mudah dipahami dapat membantu masyarakat mengambil langkah untuk mengurangi dampak polusi dan melindungi kesehatan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit pernapasan. Informasi untuk menghadapi dampak psikologis berfungsi untuk mengurangi kecemasan dan ketidakpastian. Dalam situasi karhutla yang berkepanjangan, masyarakat memerlukan pembaruan informasi yang konsisten mengenai upaya pemadaman, perkembangan kondisi asap, dan langkah pemerintah untuk melindungi warga. Komunikasi juga perlu menunjukkan kepedulian terhadap kondisi masyarakat yang terdampak, bukan sekadar menyampaikan informasi teknis. Dampak komunikasi krisis juga melampaui batas negara. Informasi yang konsisten dan disampaikan tepat waktu memungkinkan pemerintah negara tetangga menilai risiko dan mengoordinasikan respons mereka masing-masing. Sebaliknya, sikap diam, informasi yang simpang siur, atau keterlambatan komunikasi dapat menyulitkan dan memengaruhi kepercayaan negara lain terhadap penanganan krisis oleh Indonesia. Krisis yang berbeda, tantangan diplomatik yang berbeda Jenis informasi ketiga, yakni komunikasi untuk memulihkan reputasi, menghadirkan tantangan tersendiri karena tidak semua bencana membawa dampak yang sama terhadap reputasi negara. Pemulihan reputasi merujuk pada strategi penyampaian informasi dan komunikasi untuk memperbaiki citra negara yang telanjur rusak. Hal ini semakin relevan ketika krisis berkaitan dengan tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak tertentu, kurangnya upaya pencegahan, atau penanganan yang tidak memadai sehingga negara dianggap bertanggung jawab dan dikritik. Kebakaran hutan menghadirkan tantangan berbeda karena sebagian besar kebakaran disebabkan oleh aktivitas manusia, kelalaian, dan lemahnya penegakan hukum. Baca juga: Mengapa sanksi pelaku karhutla amat timpang dengan kerugian berantai yang ditimbulkannya? Dalam kasus seperti ini, sekadar mengaitkan kebakaran dengan cuaca kering atau fenomena Super El NiΓ±o dapat menimbulkan reaksi negatif di luar negeri. Bagi masyarakat di Kuching atau Manila yang menghirup asap, penjelasan menggunakan kondisi iklim bisa terdengar seperti alasan untuk menghindari tanggung jawab. Kata-kata saja tidak cukup untuk memulihkan reputasi ketika masyarakat menuntut tindakan nyata. Pemerintah perlu menegakkan hukum lingkungan, mengusut pihak yang bertanggung jawab, memperkuat pencegahan kebakaran, dan mengatasi kondisi yang memungkinkan kebakaran terus berulang. Perbedaan ini sangat krusial dalam hubungan diplomatik. Bencana alam menguji kemampuan Indonesia menanggapi ancaman yang tidak dapat dihindari, sedangkan krisis kebakaran yang terus berulang juga menguji kesediaan Indonesia dan negara-negara tetangganya untuk berkomunikasi secara terbuka mengenai tanggung jawab bersama atas risiko yang melintasi perbatasan. Apa yang perlu disampaikan dan dilakukan Indonesia? Bagi Indonesia, komunikasi bencana bukan sekadar upaya menyampaikan informasi kepada masyarakat. Komunikasi juga merupakan bagian dari diplomasi publik. Pemerintah perlu menyampaikan informasi secara tepat, terbuka, dan konsisten. Namun, komunikasi harus berjalan seiring dengan tindakan nyata: melindungi masyarakat, menunjukkan akuntabilitas, dan keseriusan dalam melakukan pencegahan. Pada akhirnya, reputasi Indonesia di mata dunia selama krisis tidak hanya ditentukan oleh apa yang disampaikan pemerintah, tetapi juga oleh keselarasan antara pernyataan dan tindakan yang benar-benar dilakukan. Jessica Martha tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Kredibilitas Indonesia diuji saat bencana dan asap karhutla melintasi batas negara
0
DM
Dicki Mahardika, Podcast Producer, The ConversationΒ· Warga
Kiriman

β€˜Downgrade Lifestyle’: adaptasi masyarakat untuk bertahan hidup?

β€œIn this economy, kalian sudah downgrade apa?” belakangan ini jadi topik diskusi hangat di lini masa media sosial. Banyaknya netizen yang sukarela menunjukkan penurunan yang sedang mereka alami merupakan sinyal buruk perekonomian nasional. Namun, apa yang sebenarnya terjadi terhadap diri masyarakat kondisi ekonomi yang sedang menantang? Apakah proses bertahan hidup ini alamiah? Baca juga: Fenomena downgrade ekonomi cermin kecemasan yang mengganggu kesehatan dan pekerjaan kita Episode Podcast SuarAkademia kali ini, kami bersama Fakhirah Inayaturrobbani, dosen Psikologi Universitas Gadjah Mada, dan Zafira Shabrina, PhD candidate di Leiden University, Belanda, membahasnya dari sudut pandang psikologi sosial. Menurut Fakhirah, ada aspek yang paling mencolok saat ini yakni runtuhnya rasa malu untuk mengakui penurunan taraf hidup. Fenomena ini disebut trading down . Ini adalah kebalikan dengan kebiasaan orang di media sosial sebelumnya yang berlomba menampilkan gaya hidup glamor demi gengsi. Fenomena trading down ini menjadi lumrah karena tekanan ekonomi dirasakan banyak orang. Ketika kesulitan menjadi pengalaman kolektif, individu tidak lagi merasa terasing atau gagal, melainkan merasa memiliki kawan seperjuangan yang menghadapi badai serupa. Sedangkan dari sudut pandang psikologi, Zafira memaparkan himpitan finansial terbukti menyerap kapasitas kognitif seseorang secara drastis. Pikiran manusia ibarat sebuah lempengan dengan ruang terbatas, dan ketika ruang tersebut habis tersita oleh kecemasan seperti membayar sewa, membeli kebutuhan harian, atau ketakutan akan pemutusan hubungan kerja, fokus untuk bekerja dan berpikir jangka panjang pun menyusut. Akibatnya, individu rentan mengalami kelelahan mental dan cenderung mencari pelarian kebahagiaan instan berbiaya rendah, seperti merokok atau jajan minuman manis demi meredakan stress sesaat. Menurunkan gaya hidup secara sadar menjadi langkah realistis untuk meringankan beban mental tersebut supaya kapasitas berpikir tidak terkuras habis oleh ilusi standar hidup yang membebani. Menariknya, proses trading down tidak terjadi secara acak. Seseorang biasanya akan menukar atau memangkas hal-hal yang tidak bersentuhan langsung dengan identitas intinya terlebih dahulu. Contohnya, seorang pecinta otomotif mungkin akan lebih dulu beralih ke merk sabun yang lebih murah, atau mengurangi frekuensi makan di luar sebelum akhirnya rela melepas kendaraannya. Begitu pula dengan ritual sehari-hari, yang esensinya tetap dipertahankan namun caranya yang dinegosiasikan ulang. Orang tetap menikmati minum kopi atau membeli skincare , tetapi beralih ke opsi yang jauh lebih ekonomis. Langkah kompromi ini menunjukkan bahwa manusia memiliki daya lentur untuk beradaptasi tanpa harus kehilangan jati dirinya. Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademiaβ€”ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

β€˜Downgrade Lifestyle’: adaptasi masyarakat untuk bertahan hidup?
0
LU
Lusiana Ulfa Hardinawati, Dosen Perilaku Konsumen Muslim, Universitas JemberΒ· Warga
Kiriman

Kewajiban sertifikasi halal lebih baik ditunda daripada membingungkan dan memberatkan usaha kecil

● Pemerintah mendadak menunda kewajiban sertifikasi halal hingga 2028. ● Pelaku usaha belum sepenuhnya memahami proses pengajuan sertifikasi halal. ● Momen ini harus jadi kesempatan meningkatkan kepercayaan dan edukasi pelaku usaha. Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal ( BPJPH ) seharusnya memulai kewajiban sertifikat halal bagi makanan dan minuman yang diproduksi oleh usaha mikro dan kecil (UMK) mulai 18 Oktober 2026. Akan tetapi, setelah dievaluasi, pemberlakuan kewajiban ini diundur menjadi tahun 2028 . Penundaan disambut baik oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) , dengan harapan pemerintah bisa menggencarkan sosialisasi label halal kepada pelaku bisnis. Di sisi lain, Majelis Ulama Indonesia ( MUI ) melontarkan kekecewaannya terhadap pemerintah karena pihaknya sudah mempersiapkan implementasi kebijakan ini dengan baik sejak 2022 silam. Bagi saya, penundaan kebijakan ini masuk akal. Sebab bagi pelaku usaha, proses persiapan dokumen, penataan bahan baku, pendampingan, hingga pengajuan sertifikasi membutuhkan waktu yang tidak singkat karena minimnya pengetahuan masyarakat terhadap tata cara pengajuan label halal. Selain itu tidak ada jaminan tingkat kepatuhan UMKM akan tinggi jika kebijakan ini dipaksakan berjalan. Sebab tidak semua proses sertifikat halal bisa diajukan self declare/ gratis yang justru akan menambah beban bagi para UMKM. Baca juga: Publik mulai skeptis terhadap label halal Halal adalah kewajiban, sertifikasi adalah administrasi Meski mengandung nilai syariat Islam, sertifikasi halal pada kenyataannya masih dipandang sebagai kewajiban administratif yang harus dipenuhi agar tidak melanggar aturan oleh banyak pelaku UMKM. Namun, ketaatan pada aturan ini kerap terbentur birokrasi. Hingga sebuah sertifikat halal bisa terbit, suatu produk harus diperiksa oleh tiga lembaga. Lembaga pertama adalah BPJPH yang menerbitkan sertifikat halal. Kemudian, pengesahan kehalalan produk juga perlu diperiksa lembaga auditor independen bernama Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). Saat ini ada 136 LPH β€”baik milik pemerintah atau swasta dengan keahlian sertifikasi halalnya sendiri-sendiri. Contohnya LPH BPAFK Jakarta yang spesialisasinya di bidang kesehatan dan obat-obatan. Persoalan teknis sektor tertentu ini juga akan jadi momok bagi UMKM untuk mendapatkan label halal. Untuk tahun 2026 saja, sudah ada lebih dari 370 aturan teknis yang diterbitkan BPJPH yang kebanyakan merupakan dokumen pedoman teknis halal sektor tertentu. Hingga akhir, setelah mendapat lampu hijau dari LPH, MUI akan menerbitkan fatwa halal suatu produk. Dari situ barulah BPJPH meresmikan sertifikat halal suatu produk. Dalam mempersiapkan kebijakan label halal 2026, BPJPH mengklaim telah memudahkan proses administrasi untuk memudahkan pelaku UMKM mendapatkan sertifikasi halal seperti mempersiapkan sistem formulir online . Namun, kemudahan tersebut tentu tidak cukup jika melihat alasan pemerintah yang menyatakan bahwa pelaku usaha tidak siap . Selain itu, yang tidak kalah penting adalah persoalan akuntabilitas. Sertifikasi halal kerap diterpa isu miring tentang masalah laten pengurusan administrasi nasional yakni pungutan liar . Pentingnya meningkatkan promosi dan edukasi BPJPH belum lama ini menyatakan tak ada kewajiban dan sweeping produk jika rencana wajib halal jadi berlaku pekan lalu. Hal ini menciptakan ketidakpastian bagi dunia usaha. Jika benar tidak wajib, tentunya pelaku usaha akan memilih tidak mengurus sertifikat halal. Sebaliknya, jika penegakan aturan (misalnya sweeping ) dijalankan, hal ini akan memunculkan ketidakadilan karena bisa memicu anggapan produk yang belum bersertifikat sebagai produk ilegal. Penundaan kebijakan akan bermanfaat jika digunakan untuk membangun kesiapan, bukan sekadar memperpanjang waktu tunggu. Indonesia perlu memperjelas hak dan kewajiban pelaku usaha, serta memperbaiki layanan sertifikat agar tak membebani usaha kecil. Edukasi halal pun tidak cukup dilakukan melalui seminar atau pembagian informasi mengenai prosedur pendaftaran. Pelaku UMKM membutuhkan panduan praktis tentang pemilihan bahan baku, proses produksi, pengurusan sertifikat, dan penggunaan label halal secara tepat dalam pemasaran. Pemerintah, perguruan tinggi, pendamping halal, dan komunitas usaha juga perlu memperluas pendampingan yang mudah diakses, termasuk melalui kanal digital. Penelitian tahun 2024 terhadap 67 UMKM makanan dan minuman di Malang, Jawa Timur, menemukan bahwa meskipun pelaku usaha memahami pentingnya produk halal, pengetahuan mereka tentang regulasi dan sosialisasi sertifikasi masih terbatas . Hambatannya juga tidak sebatas pengetahuan. Keterbatasan biaya, rumitnya prosedur, dan rendahnya kesadaran menjadi persoalan yang perlu ditangani secara bersamaan . Baca juga: Apa itu rantai nilai halal dan bagaimana potensinya Mengapa sertifikasi halal penting? Terlepas dari keputusan pemerintah antara menerbitkan sertifikasi halal atau non-halal yang terus memicu debat kusir menahun , kebijakan ini perlu dilakukan. Bagi konsumen, khususnya muslim, jaminan keamanan akan produk yang dikonsumsi dan digunakannya adalah sesuatu yang penting . Sertifikasi halal terbukti meningkatkan niat membeli, loyalitas merek, dan persepsi kualitas produk karena konsumen merasa lebih yakin terhadap produk yang telah tersertifikasi. Dengan kata lain, sertifikasi halal berfungsi memupuk kepercayaan dan membantu konsumen mengambil keputusan ketika mereka tidak memiliki informasi lengkap mengenai proses produksi suatu produk. Bagi pengusaha kecil, membangun kepercayaan konsumen sering kali lebih sulit dibandingkan menghasilkan produk yang baik. Banyak usaha kecil memiliki produk berkualitas, tetapi kesulitan meyakinkan konsumen karena belum memiliki identitas dan reputasi yang kuat. Dalam kondisi tersebut, sertifikasi halal dapat menjadi salah satu instrumen yang membantu memperkuat reputasi usaha. Konsumen akan melihat adanya komitmen pelaku usaha terhadap standar produksi, transparansi bahan baku, dan kepatuhan terhadap regulasi. Karena itu, pemerintah perlu menempatkan sertifikasi halal sebagai strategi untuk meningkatkan daya saing produk nasional: memperluas pasar, meningkatkan kepercayaan konsumen, dan memperkuat daya saing produk UMKM. Baca juga: Hotel syariah: Potensi jumbo, sertifikasi nasional perlu ditinjau ulang Lusiana Ulfa Hardinawati tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Kewajiban sertifikasi halal lebih baik ditunda daripada membingungkan dan memberatkan usaha kecil
0
AP
Ameylia Puspita Rosa Dyah Ayu Arintyas, Dosen Administrasi Publik, Universitas MulawarmanΒ· Warga
Kiriman

Bukan sekadar dejavu, karhutla mengulang risiko β€˜learning loss’ saat pandemi: Kapan pemerintah mawas diri?

● Karhutla merupakan krisis tata kelola lahan yang berdampak serius pada kesehatan dan keberlangsungan pendidikan. ● Kebijakan belajar dari rumah memicu ketimpangan baru karena keterbatasan akses digital dan beban pengasuhan keluarga. ● Pemerintah harus memberi dukungan menyeluruh agar anak tidak perlu memilih antara pendidikan dan kesehatan. Sejak kebakaran hutan dan lahan besar pada 2015 yang membakar sekitar 2,5 juta hektare , tahun ini menjadi salah satu periode terburuk yang kembali dirasakan masyarakat Kalimantan. Sebanyak 283.270 penduduk dilaporkan terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) . Jarak pandang yang semakin pendek juga meningkatkan risiko kecelakaan, sementara debu dan asap yang bercampur dengan tanah membuat pandangan berubah kekuningan. Ketika kondisi kabut kiat parah, kegiatan sekolah harus ditiadakan demi keselamatan murid dan guru. Sejak akhir Agustus 2026, anak-anak di Kalimantan diminta belajar dari rumah (BDR) secara bertahap agar terhindar dari paparan asap . Kebijakan ini masuk akal, tetapi memindahkan kelas ke rumah tidak otomatis menghilangkan risiko. Anak tetap berada di lingkungan yang terpapar asap, sementara kemampuan setiap keluarga untuk membantu mereka belajar berbeda-beda. Alhasil, selain muncul risiko learning loss dan penurunan capaian belajar bagi murid, BDR juga menambah beban bagi keluarga. Baca juga: Kala rumah menjadi penjara: Menelusuri trauma dan ruang isolasi baru korban karhutla Rumah tidak bisa menggantikan sekolah Kegiatan pembelajaran daring dari rumah mengandaikan setiap anak memiliki perangkat, koneksi internet, dan ruang belajar yang memadai . Padahal, kenyataan sosial keluarga di Kalimantan sangat beragam. Ada keluarga yang memiliki laptop, Wi-Fi, dan orang tua mendampingi anak. Namun, ada pula keluarga yang harus berbagi satu telepon pintar, membeli kuota seadanya, atau tinggal di wilayah terisolasi tanpa jaringan internet. Sebagai informasi tambahan, dua provinsi di pulau Kalimantan ( Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara ) berada dalam daftar 10 provinsi dengan penetrasi internet terendah. Persoalan yang dihadapi para murid di Kalimantan bukan lagi kesenjangan teknologi semata. Kondisi rumah yang padat, orang tua yang harus bekerja sepanjang hari, dan keterbatasan waktu pendampingan turut menentukan apakah pembelajaran dapat berlangsung. Bagi sebagian keluarga, BDR berarti tambahan pengeluaran dan beban pengasuhan. Bagi keluarga lain, kebijakan tersebut hampir mustahil dilaksanakan. Di sinilah persoalan karhutla memperlihatkan dimensi sosiologisnya. Ketimpangan ekonomi dan sosial dapat berubah menjadi ketimpangan akses pendidikan. Anak-anak tidak menghadapi krisis dari titik awal yang sama. Mereka yang memiliki sumber daya lebih baik relatif mampu beradaptasi, sedangkan mereka yang paling rentan berisiko semakin tertinggal. Pengalaman serupa memang pernah terjadi pada masa pandemi COVID 2020-2023 lalu. Selang hampir tiga tahun, tantangan itu tetap sama tetapi diperparah tantangan baru: kondisi paparan asap berbeda antarlokasi, sementara wilayah yang paling membutuhkan perlindungan belum tentu memiliki akses internet . Ketika kebijakan daring diterapkan tanpa alternatif, anak di daerah terisolasi dapat kehilangan akses pembelajaran justru karena kondisi yang berada di luar kendalinya. Baca juga: Riset dampak COVID-19: potret gap akses online β€˜Belajar dari Rumah’ dari 4 provinsi Keluarga menanggung beban krisis berlapis Nalar ini kerap luput ketika pemerintah merumuskan kebijakan darurat. Anak lebih sering dipandang sebagai siswa yang harus tetap menerima materi, bukan sebagai bagian dari keluarga yang juga sedang menghadapi krisis. Keberhasilan akhirnya diukur dari terlaksananya kelas dan terkumpulnya tugas, bukan dari keamanan anak dan kemampuan keluarga mendukung pembelajaran. Padahal, jika orang tua harus mengurangi jam kerja atau kehilangan pendapatan untuk mendampingi anak, siapa yang menanggung konsekuensinya? Jika keluarga tidak memiliki perangkat atau jaringan, siapa yang memastikan anak tetap belajar? Ini bukan semata-mata urusan rumah tangga. Ketika pemerintah memutuskan menutup sekolah demi melindungi masyarakat, konsekuensi kebijakan tersebut juga harus diperhitungkan oleh pemerintah. Kami tak bermaksud menyarankan Kalimantan untuk mengadakan pembelajaran tatap muka kembali. Sebaliknya, kami menganggap penanganan pendidikan selama karhutla semestinya dimulai sejak dini dan menyeluruh . Sejak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan adanya risiko karhutla , misalnya. Pemerintah daerah bisa memulai berbagai pemetaan: jumlah dan kondisi siswa terdampak, memantau kualitas udara, kondisi sosial ekonomi keluarga, kepemilikan perangkat, dan hingga jaringan. Pemetaan tersebut menjadi dasar untuk menentukan siapa yang paling rentan dan dukungan apa yang dibutuhkan. Sebab, kebijakan yang sama belum tentu menghasilkan perlindungan yang setara. Baca juga: Karhutla memperparah kemiskinan, bansos apa yang paling ideal untuk menafkahi warga? Pentingnya menggeser fokus pelayanan pendidikan di masa krisis Dalam situasi darurat, pendidikan tidak bisa dipaksakan berjalan persis seperti hari-hari biasa. Fokus pelayanan perlu bergeser dari sekadar memastikan pembelajaran berlangsung menuju perlindungan anak, keadilan akses, dan pemulihan proses belajar . Di wilayah dengan internet memadai, pembelajaran daring dapat digunakan. Di wilayah tanpa jaringan, pemerintah perlu mempersiapkan modul cetak dan bahan belajar alternatif. Pemerintah sudah melakukan hal ini dengan membuat kebijakan yang mengacu pada Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) . Selain itu, Kemendikdasmen juga sudah menyederhanakan beban belajar selama masa darurat menjadi fokus pada literasi, numerasi, dan penguatan karakter saja . Namun, target akademis ini tetap perlu disesuaikan. Dalam situasi krisis, anak juga perlu belajar tentang kualitas udara, ekosistem gambut, kesehatan, mitigasi bencana, dan tata kelola lingkungan melalui pembelajaran yang kontekstual. Jika pembatasan aktivitas diperlukan, dukungan berupa layanan kesehatan, fasilitas aman, perangkat pembelajaran, dan bantuan bagi keluarga terdampak harus dipertimbangkan. Perumusan kebijakan harus mendengar pengalaman masyarakat dari bawah, sementara dukungan anggaran dan kelembagaan harus hadir dari atas. Pemerintah daerah tidak dapat dibiarkan menanggung seluruh beban tanpa sumber daya yang memadai. Karhutla adalah ujian bagi tata kelola lingkungan sekaligus pelayanan publik yang sangat berharga. Asap seharusnya tidak memaksa anak memilih antara kesehatan dan pendidikan. Jangan sampai, ketika sekolah dipindahkan ke rumah, negara justru membiarkan keluarga menanggung sendiri krisis yang tidak mereka ciptakan dan memperparah ketimpangan sosial. Baca juga: Tak hanya membakar hutan, karhutla Kalimantan juga menghilangkan ruang hidup kebudayaan Ameylia Puspita Rosa Dyah Ayu Arintyas terafiliasi dengan Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman Ahmad Hidayah tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com .

Bukan sekadar dejavu, karhutla mengulang risiko β€˜learning loss’ saat pandemi: Kapan pemerintah mawas diri?
0
Sudah sampai akhir feed.