Terima Kasih, Harry Tjahjono: Karena Orang Kampung Juga Punya Filsafat
<p>Ada buku yang selesai ditulis ketika titik terakhir dibubuhkan. Ada pula buku yang justru mulai bekerja setelah dibaca. Filosofi Orang Kampung: Si Doel Anak Sekolahan karya <a href="https://www.facebook.com/koran.madiun?__cft__[0]=AZj4nGsVIObGIixck_JiP1Pq2fQ40kqrwi7pMqiVkqjCAIzV7ASkS_PmTOM_xz7hQl_-gZTvQ1lWvvkuu_rcE-8-KkRAvA-PoSm42y0t4hd4jS53ADsldS9oobXRD7OdweVpkK9xmTGTD1hUEkyYbkDQ5w61WRSBBPMjVELt5y3sBPXd-3OrWFv4zdw&__tn__=-]K-R" rel="noopener noreferrer" target="_blank">Harry Tjahjono</a>, bagi saya, termasuk jenis kedua. Buku ini membawa kita kembali kepada Si Doel, tetapi sesungguhnya mengajak kita pulang kepada sesuatu yang lebih jauh: kampung, keluarga, tetangga, nilai-nilai hidup, dan manusia biasa yang sering luput dari narasi besar tentang Jakarta.</p><p>Terima kasih, Mas Harry, karena telah mengingatkan bahwa orang kampung bukan objek nostalgia tapi pemilik pengalaman, pengetahuan, dan filsafat hidupnya sendiri. Di tengah kota yang berlari mengejar gedung tinggi, investasi, teknologi, dan modernitas, buku ini seperti seseorang yang tiba-tiba menghentikan kita di tengah jalan lalu bertanya: “Kamu masih ingat dari mana kamu berasal?” Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya bisa mengusik cara kita memandang kota, masyarakat, bahkan diri sendiri.</p><p>Saya merasakan pertanyaan itu semakin kuat ketika pada Jumat, 11 September 2026, saya kembali ke Balai Sastra H.B. Jassin di Taman Ismail Marzuki untuk menghadiri peluncuran buku ini. Bersama Hafiz, Suwitno, dan Haekal, saya berkeliling melihat bangunan yang kini jauh lebih megah dibandingkan masa ketika kami masih mahasiswa dan ikut menggerakkan Koin Sastra untuk PDS H.B. Jassin melalui jejaring Twitter.</p><p>Kami pernah jadi bagian mengajak publik menyumbang agar rumah dokumentasi sastra itu tetap bertahan, tetapi ketika melihat milestone perjalanan lembaga tersebut. Sejarah ternyata bisa sangat kejam: orang-orang yang bekerja dapat hilang dari catatan, sementara catatan tentang pekerjaan mereka tetap hidup.</p><p>Anehnya, buku Harry justru membuat saya tidak terlalu kecewa, karena saya menemukan hubungan yang indah: seperti PDS H.B. Jassin menyelamatkan ingatan sastra, Filosofi Orang Kampung berusaha menyelamatkan ingatan tentang manusia dan dunia sosial yang melahirkan Si Doel. Keduanya sama-sama melawan lupa, hanya dengan cara berbeda.</p><p>Maka sekali lagi, terima kasih, Mas Harry, karena telah menulis sesuatu yang membuat kita memahami bahwa ketika sebuah kampung hilang, yang terancam lenyap bukan hanya rumah dan jalanannya, melainkan juga cara sebuah generasi memahami kehidupan. Semoga buku ini dibaca luas dan menjadi pintu masuk bagi resensi yang lebih kritis tentang Si Doel, Jakarta, perubahan sosial, dan nasib orang-orang yang sering tidak masuk dalam sejarah, padahal tanpa merekalah sesungguhnya sejarah tidak akan pernah melaju.</p><p></p><p></p>
AK
Ahmad Kosasih Marzuki
1 jam lalu