Fri,28 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. Bernadya-Hindia, Playlist Hidup yang Capek?

Bernadya-Hindia, Playlist Hidup yang Capek?

bernadya-hindia,-playlist-hidup-yang-capek?
Bernadya-Hindia, Playlist Hidup yang Capek?
service

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Lagu Gen Z kini bicara soal capek, bukan cinta besar. Apakah struktur perasaan yang sama ini yang membuat mereka gampang turun bersuara? 


PinterPolitik.com

“Berdansalah, karier ini tak ada artinya.” 

— Hindia (2023)

Malam itu, Cupin memutar ulang satu lagu yang sama untuk kesekian kalinya. Ia tidak sedang patah hati, hanya merasa hari terlalu panjang dan ingin ditemani sesuatu yang mengerti.

Yang ia dengar bukan lagu tentang cinta seukuran samudra. Lagu itu bicara tentang karier yang katanya tidak ada artinya, tentang hidup yang harus tetap berjalan meski kaki sedang berat melangkah.

Ada yang berbeda dari musik generasi Cupin. Dahulu, lagu populer menjanjikan perasaan sebesar mungkin, cinta abadi, rindu yang menembus langit, patah hati yang meruntuhkan dunia.

Kini, lagu yang paling banyak diputar justru memperkecil skalanya. Bernadya menulis tentang sisa wangi yang masih menempel di baju mantan, bukan tentang janji sehidup semati.

Hindia melangkah lebih jauh dengan menolak narasi ambisi yang menjadi bahan bakar lagu motivasi generasi sebelumnya. Lagunya bicara terang-terangan tentang rasa lelah, sesuatu yang selama ini dianggap terlalu remeh untuk dinyanyikan.

Objek liriknya mengecil, tetapi justru karena itu terasa lebih menusuk. Patah hati tidak lagi diumumkan lewat metafora langit dan laut, melainkan lewat benda paling biasa di sekitar kita.

Cupin bukan satu-satunya yang merasa demikian. Bagi banyak pendengar seusianya, lagu-lagu ini terasa seperti teman yang tidak menghakimi, yang mengakui bahwa hidup memang kadang sekadar melelahkan.

Sebuah riset fenomenologi di sebuah kampus di Padang Panjang bahkan menemukan bahwa lirik Hindia berfungsi bukan sekadar hiburan. Ia menjadi semacam ruang terapeutik, tempat memvalidasi kecemasan yang muncul dari tekanan media sosial dan standar sukses yang tidak realistis.

Generasi sebelumnya menyanyikan apa yang mereka impikan. Gen Z menyanyikan apa yang mereka jalani hari ini, lengkap dengan kelelahannya.

Lalu muncul pertanyaan yang membuat Cupin penasaran. Apakah pergeseran tema lirik ini sekadar tren selera, atau justru cermin dari sesuatu yang lebih dalam pada generasinya?

Dan bila memang ini soal cara satu generasi merasakan hidupnya, apa sebenarnya nama dari perasaan kolektif yang sedang mereka nyanyikan itu?

Struktur Perasaan di Balik Playlist

Untuk menjawab keingintahuan Cupin, kita perlu alat yang lebih tajam daripada sekadar anggapan bahwa anak muda sekarang berbeda. Alat itu sudah lama tersedia dalam kajian budaya.

Raymond Williams, kritikus budaya dari Universitas Cambridge, menawarkan konsep yang ia sebut structure of feeling atau struktur perasaan. Dalam bukunya The Long Revolution, ia berargumen bahwa setiap generasi memiliki tekstur emosi kolektif tersendiri.

Tekstur itu adalah pengalaman hidup bersama yang belum sempat dirumuskan menjadi ideologi resmi, tetapi sudah bisa dirasakan. Menurut Williams, seni, terutama musik, adalah tempat struktur perasaan itu paling dulu muncul ke permukaan.

Maka dari itu, perubahan tema lirik bukan sekadar pergantian tren. Ia adalah indikator bahwa struktur perasaan Gen Z memang berbeda dari generasi sebelumnya.

Yang muncul di permukaan lagu adalah apa yang oleh Williams disebut pengalaman dalam bentuk larutan, sesuatu yang sedang dijalani tetapi belum punya nama resmi. Bagi Gen Z, larutan itu bisa jadi adalah keintiman berskala kecil, perhatian pada hal-hal dekat yang selama ini luput dirayakan.

Simon Frith, sosiolog musik dari Universitas Edinburgh, memperkuat sudut pandang ini. Dalam bukunya Performing Rites, ia menegaskan bahwa lagu populer bekerja dengan memberi pendengar sebuah identitas yang bisa dipakai.

Ketika lirik berpindah dari cinta ideal ke keseharian, identitas yang ditawarkan pun berubah. Dari sosok pemuja yang mendamba, menjadi individu yang sekadar bertahan dan berani mengakui kelelahannya.

Menariknya, pergeseran serupa terjadi di banyak negara. Di dunia berbahasa Inggris, tahun 2025 bahkan dijuluki sebagian pengamat sebagai tahun kerinduan, sebuah gelombang lagu yang mengangkat kesepian sehari-hari alih-alih cinta heroik.

Penyanyi Inggris Olivia Dean, misalnya, menulis lirik tentang tidak adanya lagi orang untuk dikabari saat pesawat mendarat. Baris yang sangat biasa itu justru viral karena ketepatannya menangkap kekosongan yang universal.

Di Amerika Serikat, lagu berjudul Ordinary dari Alex Warren, yang secara harfiah berarti biasa, menjadi salah satu hit terbesar tahun itu. Ada ironi yang manis di sana, sebuah lagu tentang hal biasa justru menjadi peristiwa yang luar biasa.

Semua ini menegaskan satu hal yang membuat Cupin makin yakin. Estetika hal remeh bukan gejala lokal, melainkan bahasa lintas batas dari generasi yang sama.

Namun, di sinilah muncul pertanyaan berikutnya. Jika struktur perasaan ini membuat Gen Z lebih dekat dengan hal-hal keseharian, apakah kedekatan itu juga mengubah cara mereka memandang persoalan yang lebih besar?

Dan bila lagu adalah panggung pertama tempat perasaan ini muncul, adakah panggung kedua tempat ia menjelma menjadi tindakan?

Ketika Playlist Capek Menjadi Suara

Panggung kedua itu ternyata ada, dan namanya adalah politik. Struktur perasaan yang membuat lirik Gen Z berpindah ke hal remeh adalah struktur yang sama yang membentuk cara mereka bersuara.

Asef Bayat, sosiolog dari University of Illinois Urbana-Champaign, membantu menjelaskan hal ini. Dalam bukunya Life as Politics, ia menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak selalu datang lewat gerakan besar yang terorganisasi.

Sering kali ia datang lewat apa yang Bayat sebut nonmovement, yaitu tindakan sehari-hari jutaan individu yang tidak terkoordinasi. Mereka menuntut hak untuk menjalani hidup yang layak, bukan memperjuangkan ideologi abstrak.

Pola ini terlihat jelas belakangan. Isu kebijakan yang rumit cenderung terasa jauh, sampai ia diterjemahkan menjadi ancaman yang bisa dirasakan langsung di dompet, di kos-kosan, atau di ponsel.

Cupin mengenali logika ini karena ia mirip dengan lagu yang ia dengar. Bernadya tidak menyanyikan cinta yang runtuh, melainkan sisa wangi di sehelai baju, dan generasinya bergerak bukan karena abstraksi, melainkan karena hal yang menyentuh hidup harian.

Perbandingan lintas generasi memperjelas perbedaannya. Generasi X dahulu bergerak dengan bahan bakar ideologi dan cita-cita besar, sementara Milenial lebih banyak menaruh harapan pada figur dan proses elektoral.

Gen Z memakai bahan bakar yang berbeda, yaitu rasa atas hal-hal keseharian. Kebijakan abstrak baru menjadi bahan bakar ketika ia dipersonalkan menjadi pengalaman yang bisa dialami sendiri.

Pola serupa muncul di berbagai negara sepanjang 2024 hingga 2025. Di Nepal, pembatasan akses ke aplikasi menjadi salah satu pemicu langsung aksi, sementara di negara lain persoalan biaya hidup dan peluang kerja anak muda menyalakan gerakan yang sama.

Kendati begitu, gambaran ini perlu dibaca dengan jujur dan berimbang. Sejumlah kajian, termasuk studi berjudul “Complacent Democrats” di jurnal “Journal of East Asian Studies”, mengingatkan bahwa keterlibatan Gen Z bersifat cair dan tidak selalu terlembaga.

Keterlibatan itu bisa cepat menyala ketika isu terasa dekat, dan bisa surut ketika tidak. Membaca mereka sebagai apatis adalah kesalahan, sebab mereka sangat responsif, hanya terhadap pemicu yang berbeda.

Pada akhirnya, playlist yang terdengar lelah itu bukan tanda generasi yang menyerah, melainkan generasi yang jujur tentang apa yang mereka rasakan. Ketika perasaan itu berpindah dari earphone ke ruang publik, ia menjadi energi sipil yang perlu dipahami dengan empati oleh semua pihak, termasuk pemerintah, dunia usaha, dan media. (A43)


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.