Tue,1 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Bukan Cuma Soal Hubungan: Kenapa Kita Semua Sedang di Lost Spark Era?

Bukan Cuma Soal Hubungan: Kenapa Kita Semua Sedang di Lost Spark Era?

bukan-cuma-soal-hubungan:-kenapa-kita-semua-sedang-di-lost-spark-era?
Bukan Cuma Soal Hubungan: Kenapa Kita Semua Sedang di Lost Spark Era?
service

Bincangperempuan.com- Pernahkah kamu terbangun di suatu pagi dan menyadari bahwa hal-hal yang dulu membuatmu excited kini justru terasa hambar? Dulu, ada banyak hal yang mampu membuatmu melangkah dengan antusias: rencana besar yang sedang disusun, tabungan untuk mewujudkan impian, atau sekadar rasa berdebar membayangkan masa depan yang lebih baik. Namun seiring berjalannya waktu, semangat itu perlahan surut. Yang tersisa hanyalah rutinitas datar yang dijalani secara autopilot. 

Kondisi ini tidak serta-merta menandakan bahwa seseorang mendadak menjadi malas atau kehilangan arah secara total. Ada kelelahan emosional ketika usaha keras terasa tidak lagi sepadan dengan hasil yang mungkin diraih. Harapan yang dulunya riil kini tampak terdistorsi dan menjauh. Banyak dari kita yang akhirnya memilih untuk berhenti bermimpi besar, karena mempertahankan harapan itu sendiri telah menjadi sesuatu yang terlampau mahal dalam kenyataan hari ini. Fenomena penurunan energi emosional dan hilangnya daya hidup inilah yang kini populer dikenal dengan sebutan losing spark atau kehilangan percikan.

Baca juga: Kenapa Cowok Harus Lebih Tinggi dari Cewek? Membedah Mitos “Pangeran Ideal”

Apa itu Losing Spark?

Secara psikologis, istilah losing spark paling sering ditemukan dalam ruang lingkup hubungan romantis. Pada fase awal, sebuah relasi didorong oleh passionate love—sebuah fase yang dipenuhi lonjakan dopamin, obsesi menyenangkan, rasa penasaran, serta sensasi fisik berupa kepakan butterflies in the stomach. Mengutip penjelasan dari Counseling Directory, spark didefinisikan sebagai perasaan emosional dan fisiologis tentang hasrat, keintiman, keterhubungan, serta rasa ‘hidup’ di dalam hubungan. Pada masa awal ini, percikan tersebut ibarat kobaran api yang menyulut seluruh antusiasme pasangan.

Namun, otak manusia tidak dirancang untuk terus berada dalam intensitas emosional yang tinggi secara permanen. Seiring berjalannya waktu, hubungan yang bertahan akan bertransisi menuju companionate love, sebuah bentuk kasih sayang yang lebih tenang dan berbasis pada stabilitas serta rasa aman (attachment). Dalam proses transisi ini, pasangan mulai membangun struktur: mengurus rumah tangga, mengelola finansial, hingga membagi peran sehari-hari. Perubahan dinamika ini memang memberikan kepastian, tetapi di sisi lain juga terasa monoton. Pasangan dapat perlahan bergeser dari status kekasih romantis menjadi sekadar ‘rekan satu tim’ yang sibuk menyelesaikan urusan logistik.

Kondisi ini menggarisbawahi paradoks dalam relasi asmara yang dirumuskan dengan sangat tepat oleh terapis hubungan Esther Perel: “Reconciling the erotic and the domestic is not a problem to solve but the paradox of marriage.” Manusia menginginkan kepastian dan keterandalan, tetapi pada saat yang sama mendambakan kebaruan, misteri, dan ancaman ketidakpastian yang justru menjadi bahan bakar utama dari hasrat emosional. Ketika rasa aman mengeliminasi seluruh ruang kejutan, percikan itu meredup, menyisakan keputusasaan diam-diam bagi pasangan yang bertanya-tanya ke mana perginya kobaran api yang dulu pernah ada.

Baca juga: Saat Makan Bukan Lagi Soal Lapar: Mengenali Emotional Eating dan Binge Eating

Tren “In My Lost Spark Era” dan Loss-of-Identity

Menariknya, belakangan ini penggunaan istilah losing spark mengalami perluasan makna yang signifikan di media sosial. Tren narasi seperti “in my lost spark era” tidak lagi terbatas pada persoalan retaknya hubungan asmara, melainkan bergeser pada hubungan individu dengan kehidupannya sendiri. Fenomena ini menjadi salah satu bentuk hilangnya antusiasme terhadap cita-cita personal, hobi yang dulu dicintai, hingga ambisi karier. Berada di fase ini berarti memasuki modus survival: bertahan hidup dari hari ke hari dan menyelesaikan tanggung jawab dasar sudah dianggap lebih dari cukup. Rasa ingin tahu menguap, dan momentum untuk melangkah maju mendadak terhenti di tempat.

Menurut analisis ShiftGrit mengenai pola Loss-of-Identity, krisis kehilangan percikan hidup ini erat kaitannya dengan konflik persepsi diri. Seseorang yang mengalami losing spark secara konstan membandingkan dirinya yang sekarang—yang terasa hampa, lelah, dan redup—dengan versi dirinya di masa lalu yang jauh lebih berenergi, penuh wawasan, dan “hidup”. Ketidakmampuan untuk menghadirkan kembali vitalitas masa lalu tersebut menciptakan rasa duka atas kehilangan identitas lama. Kita tidak hanya merasa kehilangan semangat berkarya, tetapi merasa telah kehilangan inti dari diri sendiri.

Namun, losing spark bukan hanya kegagalan psikologis individu atau kurangnya motivasi pribadi. Ketidakpastian ekonomi yang kronis, maraknya pekerjaan tanpa jaminan masa depan, lonjakan biaya hidup, serta tuntutan produktivitas tanpa batas telah menciptakan kelelahan sistematis (systemic burnout). Ketika ruang mobilitas sosial semakin menyempit dan kerja keras tak lagi menjamin kesejahteraan, otak manusia melakukan mekanisme pertahanan diri alami: menurunkan ekspektasi dan menumpulkan emosi. Kehilangan percikan hidup menjadi bentuk kelelahan adaptif terhadap sistem yang menghisap habis energi warganya. Keinginan untuk bermimpi dimatikan secara perlahan karena realitas sosial-ekonomi di luar sana terlalu mahal untuk direspons dengan optimisme.

Pada akhirnya, losing spark bukanlah sebuah vonis mati atas potensi seseorang, melainkan sebuah sinyal peringatan yang jernih. Ia menandai titik di mana cara kita hidup, bekerja, atau berhubungan tidak lagi relevan dengan kebutuhan emosional dasar kita. Mengakui bahwa percikan itu telah hilang adalah langkah awal untuk berhenti menyalahkan diri sendiri. Memahami bahwa rasa redup ini merupakan kombinasi dari dinamika psikologis internal dan tekanan struktural eksternal memberikan kita ruang untuk bernapas, mengevaluasi kembali apa yang benar-benar esensial, dan secara perlahan mencari celah kecil untuk menyalakan kembali daya hidup yang sempat padam.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.