Setiap 2 Juli, Indonesia memperingati Hari Kelautan Nasional. Peringatan ini ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1972, era Presiden Soeharto. Latar belakangnya sederhana: dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan, menjadikan Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia. Tahun ini, hari istimewa tersebut datang dengan konteks jauh lebih hidup dari sekadar peringatan tahunan. Akhir Juni 2026, dunia maya ramai dengan foto dan video ikan purba yang ditemukan mengapung di perairan Manado. Penemuan itu berawal Jumat pagi, 26 Juni 2026. Soni Pontoh, nelayan dari Pulau Siladen, Manado, melaut seperti biasa. Sekitar 100 meter dari tubir terumbu karang, matanya menangkap sesuatu yang aneh mengapung di permukaan laut: seekor ikan besar, bersisik cokelat keemasan, dengan sirip lebih mirip kaki kecil ketimbang sirip ikan biasa. Dia tidak tahu, dia menemukan makhluk paling langka di planet ini, ikan yang sempat dianggap punah selama 66 juta tahun. Ikan yang ditemukan Soni adalah Coelacanth Sulawesi, atau dalam bahasa lokal disebut “raja laut” (Latimeria menadoensis). Spesies ini berstatus Rentan (Vulnerable/VU) dalam Daftar Merah IUCN dan masuk Appendix I CITES, sehingga perdagangan internasionalnya untuk tujuan komersial dilarang. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan, spesimen ini memiliki panjang sekitar 105 sentimeter, lebar 30 sentimeter, dan berat sekitar 30 kilogram. Ikan Latimeria menadoensis yang ditemukan di perairan Maluku Utara menunjukkan persebarannya yang lebih luas dari perkiraan sebelumnya. Foto: Alexis Chappuis/Scientific Reports. Penemuan ini bukan yang pertama. Sebelumnya, spesimen lain ditemukan nelayan bernama Oskar Kaluku di perairan Gorontalo Utara pada Januari 2025, dalam kondisi mati dengan panjang sekitar satu meter dan berat 41 kilogram.…This article was originally published on Mongabay
Ikan Purba Coelacanth dan Masa Depan Laut Indonesia
Ikan Purba Coelacanth dan Masa Depan Laut Indonesia





Comments are closed.