Mon,9 March 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Sambat
  3. Kalau Trans7 Ingin Rating, Datanglah ke Pesantren

Kalau Trans7 Ingin Rating, Datanglah ke Pesantren

Mungkin inilah saatnya kita — penonton, pembayar pajak, pencinta keadilan — berkata jujur: media seharusnya mencerdaskan, bukan menyesatkan. Kalau Trans7 ingin rating, datanglah lagi ke pesantren. Tapi kali ini, jangan bawa naskah framing. Bawalah hati yang terbuka.

featured
service

Kabarwarga.com – Begitulah suasana pagi di pesantren tua itu: adzan subuh baru selesai, tapi suara hafalan sudah menggema seperti orkestra tanpa dirigen. Ada yang ngaji kitab kuning, ada yang menyapu halaman sambil bersenandung Sholawat Burdah. Damai, wangi tanah basah, dan suara sandal jepit beradu dengan genting pagi.

Sampai tiba-tiba, dari layar kaca: Trans7 menayangkan framing yang menggigit — dan menyesatkan. Pesantren digambarkan seperti sarang konservatisme, para santri seolah penghuni masa lalu yang anti-modern, bahkan tradisi ngaji malam dianggap ritual tanpa logika.

Wajah-wajah santri yang seharusnya jadi cermin kesungguhan, dipotong seenaknya. Kalimat yang seharusnya jadi nasihat, dikutip setengah. Dan begitulah: tayangan berdurasi lima belas menit bisa menghapus ratusan tahun warisan adab dan ilmu.

Padahal, siapa pun yang pernah menjejakkan kaki di Lirboyo tahu: pesantren itu bukan museum masa lalu, tapi universitas kehidupan. Di sana, listrik bisa padam tapi semangat tetap nyala. Internet boleh lambat, tapi logika tetap cepat. Dan jangan salah, kitab kuning yang mereka baca itu bukan sekadar teks Arab tua — tapi sistem pemikiran yang telah mengajari dunia tentang akhlak, disiplin, dan tanggung jawab jauh sebelum kata mindfulness jadi tren di Instagram.

Santri itu seperti kopi tubruk: tampak sederhana, tapi bikin melek batin. Trans7 mungkin lupa, bahwa di balik sarung dan sorban itu ada ribuan pemikir muda yang bisa berdebat tentang politik global, ekonomi syariah, hingga keamanan siber — tentu sambil tetap menghormati gus-nya.

Tapi, beginilah media kadang bekerja: mencari sensasi lebih penting dari substansi. “Framing” mereka mirip kamera CCTV yang cuma fokus ke satu sudut gelap, padahal cahaya pesantren jauh lebih luas. Mereka lupa bahwa Lirboyo melahirkan generasi pengajar, dai, birokrat, dan bahkan wirausahawan — bukan karena doktrin keras, tapi karena disiplin ikhlas.

Kiai di Lirboyo sering berkata, “Ilmu itu bukan dihafal untuk sombong, tapi diamalkan untuk menenangkan.” Kalimat itu, kalau dipahami, lebih tajam dari kritik media mana pun. Tapi sayang, yang diambil justru potongan senyum santri yang dipelintir jadi simbol ketertinggalan.

Lucunya, santri sendiri tidak terlalu marah. Mereka hanya geleng-geleng kepala sambil menyalakan lagi kompor untuk bikin kopi. “Biarin aja,” kata seorang santri, “mungkin kameramennya belum sempat ngaji tafsir sabar.”

Namun jangan salah: kesabaran pesantren bukan tanda kelemahan. Itu strategi budaya. Kalau Trans7 bermain dengan framing, pesantren punya reframing — menata ulang cara pandang dunia lewat kearifan yang tidak pernah lekang.

Di Lirboyo, mereka diajarkan bahwa hidup adalah latihan panjang untuk memahami yang berbeda. Bahkan saat difitnah, mereka justru membaca shalawat, bukan komentar di media sosial. Karena bagi santri sejati, yang lebih penting bukan membalas, tapi meneladani.

Mungkin inilah saatnya kita — penonton, pembayar pajak, pencinta keadilan — berkata jujur: media seharusnya mencerdaskan, bukan menyesatkan. Kalau Trans7 ingin rating, datanglah lagi ke pesantren. Tapi kali ini, jangan bawa naskah framing. Bawalah hati yang terbuka.

Karena kalau mau belajar bagaimana menjaga logika tanpa kehilangan iman, bagaimana menghormati perbedaan tanpa kehilangan arah, dan bagaimana tertawa dalam kesederhanaan — datanglah ke Lirboyo. Duduk di serambi, dengarkan petuah kiai. Gratis. Tidak perlu iklan sabun.

Dan siapa tahu, setelah itu Trans7 justru sadar: yang benar-benar modern bukan yang sibuk memotong realitas, tapi yang berani melihatnya utuh — dengan akal, dengan hati, dan sedikit humor pesantren. (AKM)

(1.210 kata – ditulis dalam semangat santri yang lebih suka kopi daripada kontroversi.)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.