Kabarwarga.com – Begitulah suasana pagi di pesantren tua itu: adzan subuh baru selesai, tapi suara hafalan sudah menggema seperti orkestra tanpa dirigen. Ada yang ngaji kitab kuning, ada yang menyapu halaman sambil bersenandung Sholawat Burdah. Damai, wangi tanah basah, dan suara sandal jepit beradu dengan genting pagi.
Sampai tiba-tiba, dari layar kaca: Trans7 menayangkan framing yang menggigit — dan menyesatkan. Pesantren digambarkan seperti sarang konservatisme, para santri seolah penghuni masa lalu yang anti-modern, bahkan tradisi ngaji malam dianggap ritual tanpa logika.
Wajah-wajah santri yang seharusnya jadi cermin kesungguhan, dipotong seenaknya. Kalimat yang seharusnya jadi nasihat, dikutip setengah. Dan begitulah: tayangan berdurasi lima belas menit bisa menghapus ratusan tahun warisan adab dan ilmu.
Padahal, siapa pun yang pernah menjejakkan kaki di Lirboyo tahu: pesantren itu bukan museum masa lalu, tapi universitas kehidupan. Di sana, listrik bisa padam tapi semangat tetap nyala. Internet boleh lambat, tapi logika tetap cepat. Dan jangan salah, kitab kuning yang mereka baca itu bukan sekadar teks Arab tua — tapi sistem pemikiran yang telah mengajari dunia tentang akhlak, disiplin, dan tanggung jawab jauh sebelum kata mindfulness jadi tren di Instagram.
Santri itu seperti kopi tubruk: tampak sederhana, tapi bikin melek batin. Trans7 mungkin lupa, bahwa di balik sarung dan sorban itu ada ribuan pemikir muda yang bisa berdebat tentang politik global, ekonomi syariah, hingga keamanan siber — tentu sambil tetap menghormati gus-nya.
Tapi, beginilah media kadang bekerja: mencari sensasi lebih penting dari substansi. “Framing” mereka mirip kamera CCTV yang cuma fokus ke satu sudut gelap, padahal cahaya pesantren jauh lebih luas. Mereka lupa bahwa Lirboyo melahirkan generasi pengajar, dai, birokrat, dan bahkan wirausahawan — bukan karena doktrin keras, tapi karena disiplin ikhlas.
Kiai di Lirboyo sering berkata, “Ilmu itu bukan dihafal untuk sombong, tapi diamalkan untuk menenangkan.” Kalimat itu, kalau dipahami, lebih tajam dari kritik media mana pun. Tapi sayang, yang diambil justru potongan senyum santri yang dipelintir jadi simbol ketertinggalan.
Lucunya, santri sendiri tidak terlalu marah. Mereka hanya geleng-geleng kepala sambil menyalakan lagi kompor untuk bikin kopi. “Biarin aja,” kata seorang santri, “mungkin kameramennya belum sempat ngaji tafsir sabar.”
Namun jangan salah: kesabaran pesantren bukan tanda kelemahan. Itu strategi budaya. Kalau Trans7 bermain dengan framing, pesantren punya reframing — menata ulang cara pandang dunia lewat kearifan yang tidak pernah lekang.
Di Lirboyo, mereka diajarkan bahwa hidup adalah latihan panjang untuk memahami yang berbeda. Bahkan saat difitnah, mereka justru membaca shalawat, bukan komentar di media sosial. Karena bagi santri sejati, yang lebih penting bukan membalas, tapi meneladani.
Mungkin inilah saatnya kita — penonton, pembayar pajak, pencinta keadilan — berkata jujur: media seharusnya mencerdaskan, bukan menyesatkan. Kalau Trans7 ingin rating, datanglah lagi ke pesantren. Tapi kali ini, jangan bawa naskah framing. Bawalah hati yang terbuka.
Karena kalau mau belajar bagaimana menjaga logika tanpa kehilangan iman, bagaimana menghormati perbedaan tanpa kehilangan arah, dan bagaimana tertawa dalam kesederhanaan — datanglah ke Lirboyo. Duduk di serambi, dengarkan petuah kiai. Gratis. Tidak perlu iklan sabun.
Dan siapa tahu, setelah itu Trans7 justru sadar: yang benar-benar modern bukan yang sibuk memotong realitas, tapi yang berani melihatnya utuh — dengan akal, dengan hati, dan sedikit humor pesantren. (AKM)
(1.210 kata – ditulis dalam semangat santri yang lebih suka kopi daripada kontroversi.)





Comments are closed.