Mon,10 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. KDM-Sherly, Krisis Jawa Pasca-Jokowi?

KDM-Sherly, Krisis Jawa Pasca-Jokowi?

kdm-sherly,-krisis-jawa-pasca-jokowi?
KDM-Sherly, Krisis Jawa Pasca-Jokowi?
service

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Tokoh non-Jawa kini mencuri panggung nasional. Apakah Jawa sedang kehilangan sosok pemersatunya sendiri di era pasca-Jokowi? 


PinterPolitik.com

“Power is that intangible mysterious, and divine energy which animates the universe.”

  • Benedict Anderson, “The Idea of Power in Javanese Culture” (1972)

Cupin sore itu sedang menonton video blusukan seorang kepala daerah untuk kesekian kalinya. Layar ponselnya berpindah dari wajah Dedi Mulyadi di Jawa Barat, ke Sherly Tjoanda di Maluku Utara, lalu ke Muzakir Manaf di Aceh.

Ketiganya berasal dari luar jantung politik yang selama ini dianggap baku. Cupin lantas bertanya dalam hati, sejak kapan panggung nasional justru diramaikan oleh wajah-wajah dari tepi peta?

Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, kini menjelma menjadi salah satu tokoh daerah paling populer di negeri ini. Jangkauannya menembus jauh melampaui basis Sunda tempat ia berpijak.

Dari Sofifi, Sherly Tjoanda menorehkan sejarah sebagai perempuan Tionghoa sekaligus minoritas pertama yang memimpin provinsi mayoritas Muslim. Ia membangun ketokohannya bukan lewat warisan mesin partai, melainkan lewat narasi pelayanan yang personal.

Dari Banda Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem hadir dengan corak yang berbeda lagi. Bekas Panglima Gerakan Aceh Merdeka itu memimpin lewat Partai Aceh, mesin lokal yang menyerap hampir seluruh loyalitas politik pascakonflik ke dalam satu tubuh.

Cupin menyadari ada satu benang merah yang mengikat ketiganya. Mereka sama-sama sanggup memusatkan afeksi dan loyalitas wilayahnya masing-masing ke dalam satu figur tunggal.

Yang menarik, ketiga tokoh ini tumbuh dari basis yang relatif homogen dan mudah dirangkul. KDM bertumpu pada kultur Sunda, Mualem pada solidaritas Aceh pascadamai, dan Sherly pada koalisi luas di Maluku Utara.

Homogenitas basis itu, bagi Cupin, bukan sekadar kebetulan geografis. Ia justru menjadi modal utama yang memudahkan seorang tokoh menyerap seluruh loyalitas wilayahnya tanpa banyak resistensi internal.

Fenomena ini mudah dibaca sebagai sekadar “orang luar Jawa sedang naik”. Namun, bagi Cupin, pembacaan semacam itu terasa terlalu dangkal untuk sebuah pergeseran yang begitu serentak.

Sebab, yang menarik bukanlah semata menguatnya tokoh dari luar Jawa. Yang lebih menggelitik justru pertanyaan tentang kondisi di jantung Jawa itu sendiri.

Cupin membayangkan sebuah peta di mana wajah-wajah menonjol justru muncul dari tepi. Sementara itu, bagian tengah yang selama ini menjadi pusat gravitasi tampak lowong tanpa satu figur yang dominan.

Maka, dua pertanyaan menggantung di benak Cupin menjelang senja. Apa sebenarnya yang membuat seorang tokoh Jawa selama ini begitu mudah menjadi figur pemersatu nasional, dan mengapa formula itu seolah berhenti bekerja hari ini?

Anatomi Tokoh Jawa Pasca-Jokowi

Cupin membuka kembali ingatannya tentang para tokoh besar dari Pulau Jawa. Dari Sukarno hingga Joko Widodo, jantung Jawa nyaris tak pernah kehabisan figur pemersatu di tiap generasi.

Untuk memahaminya, Cupin teringat pada gagasan indonesianis Benedict Anderson. Dalam esainya “The Idea of Power in Javanese Culture”, Anderson menjelaskan bahwa kekuasaan dalam kosmologi Jawa dipahami sebagai energi konkret yang bisa dipusatkan ke dalam satu wadah.

Tanda seorang penguasa yang sah, menurut Anderson, adalah kemampuannya memusatkan kuasa, bukan membaginya. Kekuasaan yang tercerai-berai justru menjadi pertanda wahyu, mandat kosmis itu, sedang meninggalkan pusatnya.

Dari lensa ini, dominasi Jawa tidak pernah semata soal jumlah penduduk. Ia soal kemampuan memproduksi satu figur pemusat yang menyerap loyalitas lintas-wilayah ke dalam dirinya.

Jokowi, bagi Cupin, adalah contoh kasus paling mutakhir dari formula ini. Berangkat dari Solo, ia membuktikan bahwa “wahyu” itu masih bisa turun pada siapa saja, asalkan sanggup memusatkan.

Sebelum Jokowi, formula serupa telah dijalankan oleh para pendahulunya dengan gaya berbeda-beda. Sukarno memusatkan lewat retorika dan karisma, sementara penerusnya memusatkan lewat penguasaan struktur dan simbol kejawen.

Cupin mencatat bahwa keberhasilan mereka selalu bertumpu pada kemampuan menembus sekat-sekat kultural. Seorang tokoh Jawa yang besar adalah ia yang bisa diterima oleh berbagai lapisan sekaligus, dari kota hingga desa.

Cupin lalu teringat pula pada gagasan Clifford Geertz dalam bukunya The Religion of Java. Geertz memetakan masyarakat Jawa ke dalam tiga aliran kultural yang berbeda, yakni santri, abangan, dan priyayi.

Seorang tokoh pemersatu Jawa yang berhasil, dalam kerangka itu, adalah ia yang mampu merajut ketiga aliran tersebut sekaligus. Ketiadaan figur yang sanggup menjembatani ketiganya membuat pemusatan menjadi jauh lebih sulit.

Cupin menyadari bahwa formula lama itu kini menghadapi tantangan baru. Sebab, panggung nasional tak lagi bisa dicapai semata lewat restu pusat, melainkan juga lewat kanal personal dan media sosial.

Perubahan saluran ini, bagi Cupin, mengubah siapa saja yang berpeluang tampil. Seorang tokoh daerah kini bisa membangun jangkauan nasional tanpa harus lebih dahulu memenangkan restu dari lingkaran pusat.

Maka dari itu, dua pertanyaan baru muncul di kepala Cupin. Jika formula tokoh Jawa begitu kuat di masa lalu, mengapa jantung Jawa hari ini seolah kesulitan melahirkan penerusnya?

Dan, apakah persoalannya terletak pada Jawa yang menyusut, atau justru pada sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam di dalam Jawa itu sendiri?

Wahyu yang Terserak di Jantung Jawa

Sebelum melangkah lebih jauh, Cupin merasa perlu memahami betul apa itu wahyu dalam tradisi Jawa. Dalam kepercayaan lama, wahyu dipahami sebagai pulung atau anugerah ilahi yang menandai seseorang layak memegang tampuk kekuasaan.

Ia bukan sekadar restu, melainkan semacam pancaran legitimasi yang membuat rakyat secara sukarela tunduk pada satu figur. Konon, seorang pemimpin yang kehilangan wahyu akan ditinggalkan pengikutnya, sementara ia yang menerimanya akan tampak berwibawa tanpa perlu banyak memaksa.

Cupin mulai menata peta Jawa inti di dalam kepalanya. Ia membaginya menjadi tiga simpul, yakni Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Ketiganya, ia sadari, tidak pernah benar-benar tunggal. Justru di sinilah letak akar persoalan yang selama ini luput dibaca.

Yogyakarta memegang otoritas kultural tertinggi lewat Keraton. Namun, otoritas itu bersifat simbolik dan sengaja tidak dibawa ke gelanggang perebutan nasional.

Jawa Tengah, sejak episentrum politiknya bergeser, belum melahirkan pewaris tunggal yang tak terbantahkan. Basis lamanya terbelah tanpa satu figur yang sanggup menyerap seluruhnya.

Jawa Timur menyimpan pembelahan yang bahkan lebih tua. Secara historis, ia terbagi antara kultur santri dan abangan, antara jaringan Nahdlatul Ulama dan poros nasionalis.

Cupin teringat gagasan sosiolog Robert Jay dalam bukunya Religion and Politics in Rural Central Java. Jay memperlihatkan bagaimana garis kultural di pedesaan Jawa begitu menentukan afiliasi politik seseorang.

Pluralitas semacam ini, Cupin sadari, sesungguhnya menyehatkan demokrasi. Akan tetapi, pada saat yang sama, ia menyulitkan lahirnya satu tokoh pemusat lintas-Jawa.

Fenomena ini pun memiliki cermin di luar negeri. Ilmuwan politik V.O. Key Jr. dalam bukunya Southern Politics in State and Nation mencatat bagaimana mencairnya blok tunggal Selatan Amerika Serikat justru menyerakkan pengaruh ke banyak figur.

Perbedaan antar-Jawa ini, Cupin sadari, bukanlah persoalan baru. Ia berakar pada sejarah panjang yang membentang dari kawasan Mataraman, pesisir utara, hingga tapal kuda di ujung timur, masing-masing dengan dialek dan orientasi politiknya sendiri.

Maka, membayangkan satu tokoh yang sanggup mewakili semuanya sekaligus adalah pekerjaan yang jauh lebih rumit ketimbang yang terlihat di permukaan. Wahyu yang dahulu bisa turun pada satu figur kini seolah terbagi ke banyak simpul yang berbeda watak.

Inilah paradoks yang menggelitik Cupin. Justru karena Jawa begitu besar dan begitu plural, ketiadaan satu tokoh pemersatu menjadi jauh lebih mencolok ketimbang di wilayah mana pun.

Sementara itu, di luar Jawa, para tokoh seperti KDM, Sherly, dan Mualem menampilkan persis apa yang gagal dihadirkan Jawa saat ini, yakni pemusatan. Basis mereka yang lebih homogen memudahkan satu figur menyerap loyalitas secara utuh.

Pada titik ini, Cupin akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang menenangkan. Jawa sesungguhnya tidak sedang kehilangan tokoh, sebab ia justru memiliki banyak figur berbakat di tiap simpulnya.

Yang belum hadir hanyalah satu sosok yang cukup besar untuk merangkul seluruh keragaman itu sekaligus. Dalam kosmologi kuasa yang diwariskan Anderson, terseraknya wahyu bukanlah akhir, melainkan awal dari pencarian tentang siapa yang berikutnya akan mampu memusatkannya kembali. (A43)


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.