Bincangperempuan.com- Ingatkah kamu semasa kecil dengan cerita Putri Disney? Sang putri, dengan gaun mewahnya, hampir selalu dipertemukan dengan sosok pangeran yang datang menunggang kuda putih. Selain digambarkan sebagai keturunan bangsawan yang kaya raya, ada satu ciri fisik yang tidak pernah absen yaitu tubuhnya selalu tinggi tegap. Saat disandingkan di akhir cerita, kepala sang putri selalu bersandar pas di dada sang pangeran.
Tidak hanya di dongeng klasik, di film-film, sinetron, sampai drama romance comedy yang kita tonton hari ini, kita biasa melihat pasangan heteroseksual di mana laki-laki yang lebih tinggi daripada perempuan. Kenapa ya narasi seperti ini populer banget?
Mungkin di beberapa serial atau film ada pasangan yang perempuannya lebih tinggi, tapi narasi itu tidak sepopuler ketika laki-laki lebih tinggi. Kalaupun ada laki-laki bertubuh pendek di dalam cerita, karakternya malah dijadikan bahan komedi, digambarkan tidak dewasa, atau dianggap tidak prospektif untuk dijadiin pasangan romantis. Lantas, mengapa bisa begitu?
Baca juga: Saat Makan Bukan Lagi Soal Lapar: Mengenali Emotional Eating dan Binge Eating
Cetak Biru Visual bernama “Protector”
Sadar atau tidak, industri hiburan sudah memprogram otak kita sejak kecil lewat visual. Postur tinggi pada laki-laki selalu dilekatkan dengan peran protector—sosok yang menaungi dan memberi rasa aman. Sementara perempuan diposisikan sebagai pihak yang dilindungi.
Doktrin ini ternyata terbukti di dunia nyata. Berbagai penelitian menegaskan bahwa “norma laki-laki harus lebih tinggi” (male-taller norm) memang hidup subur, terutama di kalangan perempuan.
Studi dari Rice University dan University of North Texas menemukan bahwa hampir separuh perempuan (48,9%) enggan berkencan dengan laki-laki yang lebih pendek dari mereka. Sebaliknya, hanya 13,5% laki-laki yang mematok syarat kaku mengenai tinggi pasangan. Alasan utama di balik preferensi perempuan ini cukup konsisten: mereka merasa lebih terayomi dan “feminin” ketika berdiri di samping laki-laki yang lebih tinggi.
Temuan ini diperkuat oleh riset lintas negara di Kanada, Kuba, Norwegia, dan Amerika Serikat. Perempuan rata-rata mendambakan pasangan yang 2,3 cm lebih tinggi dari rata-rata tinggi laki-laki di negara mereka. Sementara itu, laki-laki cenderung menyukai perempuan yang 2,5 cm lebih pendek dari rata-rata nasional.
Bahkan, riset dalam jurnal Human Nature (2025) menemukan korelasi menarik antara preferensi fisik dan cara pandang gender. Perempuan dalam studi tersebut rata-rata mendambakan pasangan yang 16 cm lebih tinggi dari dirinya. Menariknya, semakin kaku seorang perempuan menuntut tinggi badan pasangan, semakin tinggi pula kecenderungannya untuk memegang pandangan gender tradisional dan menolak gagasan feminisme.
Data-data di atas membuktikan bahwa standar ini memang nyata, dan tuntutannya jauh lebih kaku di pihak perempuan ketimbang laki-laki. Lantas, apakah salah kalau seorang perempuan punya preferensi pasangan yang lebih tinggi? Tentu tidak. Memiliki selera fisik adalah hak personal yang sepenuhnya sah dalam memilih pasangan.
Masalahnya baru muncul ketika selera pribadi ini dipaksa menjadi norma sosial yang kaku. Di titik itulah, tinggi badan bukan sekadar preferensi, melainkan bergeser menjadi alat ukur pertama untuk menilai kelayakan seorang laki-laki.
Baca juga: Saat Tubuh Lelah Siaga: Mengapa Kita Butuh Glimmers di Tengah Riuhnya Dunia
Dampaknya ke Mental Laki-laki: Dari Insecure, Sorotan Publik, Hingga Langgengnya Patriarki
Ketika standar “cowok ideal” dan maskulinitas digantungkan pada variabel genetis yang berada di luar kendali manusia, dampaknya langsung menghantam mental. Dalam kehidupan nyata, pasangan heteroseksual yang perempuannya lebih tinggi kerap mendadak jadi bahan tatapan atau celetukan di ruang publik: “Kok tinggian ceweknya, sih?”
Pertanyaan semacam itu seolah menegaskan bahwa ada “kesalahan estetika” dalam hubungan mereka. Akibatnya, laki-laki berpostur pendek dikondisikan untuk merasa tidak cukup maskulin dan menginternalisasi rasa tidak berdaya dalam ranah sosial maupun romantis.
Di sisi lain, obsesi kaku pada syarat “cowok harus lebih tinggi” ini tanpa sadar terus melanggengkan sistem patriarki. Standar ini bekerja dengan asumsi kuno: bahwa perempuan adalah sosok lemah yang selalu membutuhkan simbol visual pelindung berbadan lebih bongsor.
Padahal di zaman sekarang, bentuk perlindungan tidak lagi ditentukan oleh postur tubuh yang besar. Rasa aman yang nyata di masa kini lahir dari kestabilan emosional, kemampuan meregulasi stres, kesetaraan, dan komitmen yang dibangun bersama—hal-hal yang sama sekali tidak ada korelasinya dengan ukuran sentimeter.
Sayangnya, saat filter fisik ini dipasang terlalu ketat, sifat-sifat krusial seperti empati, tanggung jawab, kehangatan emosional, hingga rasa humor seorang laki-laki mendadak dianggap kurang berbobot karena kalah di angka tinggi badan.
Media massa dan berbagai studi memang mengonfirmasi betapa kuatnya doktrin visual ini di kepala masyarakat. Namun, kita perlu lebih sadar kapan selera pribadi mulai bergeser menjadi diskriminasi halus yang merugikan. Dongeng klasik bisa tetap indah dan film romantis bisa tetap manis, tetapi kehidupan nyata jauh lebih beragam. Pasangan yang terlihat “pas dipandang” belum tentu menjadi pasangan yang paling sanggup membuat kita merasa aman, dihargai, dan dicintai secara utuh.
Referensi:
- Pisanski, K., Feinberg, D. R., Oleszkiewicz, A., & Fraccaro, P. J. (2022). Assortative mate preferences for height across short-term and long-term relationship contexts in a cross-cultural sample. Frontiers in Psychology, 13, Article 937146. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.937146
- Relationship between height preferences and endorsement of gender norms. (2025). Human Nature. https://doi.org/10.1007/s12110-025-09504-x
- Yancey, G., & Emerson, M. O. (2016). Does height matter? An examination of height preferences in romantic coupling. Journal of Family Issues, 37(1), 53–73. https://doi.org/10.1177/0192513X13508426





Comments are closed.