Bincangperempuan.com- Di era yang mulai membuka kesempatan setara bagi perempuan untuk berkarir, ketimpangan gender nyatanya tetap berakar kuat. Ada anggapan umum bahwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan sulitnya korban keluar dari hubungan toksik melulu disebabkan oleh ketidakberdayaan ekonomi. Namun faktanya, memiliki penghasilan sendiri—bahkan lebih tinggi dari suami—tak otomatis membebaskan perempuan dari ancaman kekerasan.
Banyak orang percaya bahwa kemandirian finansial adalah “tiket keluar” dari hubungan yang merusak. Seolah-olah, saat istri berpenghasilan lebih tinggi, posisi tawarnya otomatis menguat. Kenyataan di lapangan jauh lebih kompleks. Data dan kajian psikologi forensik menunjukkan kemandirian ekonomi tidak selalu menjadi perisai. Dalam beberapa situasi, status tersebut justru memicu reaksi yang lebih agresif dari pasangan.
Baca juga: Kekerasan yang Tak Meninggalkan Lebam: Wajah Kekerasan Ekonomi dalam Rumah Tangga
Suami yang Merasa Terancam
Mengutip dari Antara, Psikolog klinis forensik A. Kasandra Putranto menjelaskan bahwa kesenjangan finansial hanyalah salah satu pemicu kekerasan rumah tangga. Ketika perempuan berpenghasilan lebih besar, suami kerap merasa insecure. Rasa tidak aman itu kemudian diekspresikan lewat upaya mendominasi kembali. Suami ingin membuktikan kekuasaannya di rumah, sekalipun kalah secara finansial.
Kasandra menekankan bahwa potensi konflik kian melonjak saat sumber pendapatan keluarga sepenuhnya bergantung pada istri. Situasi semakin berat jika pasangan tersebut masuk kategori sandwich generation yang harus menopang anak, orang tua, hingga saudara. Tekanan ekonomi bertubi-tubi, ditambah cibiran lingkungan yang merendahkan suami, menjadi lahan subur bagi kekerasan. Saat toleransi dan kemampuan komunikasi rendah, gesekan kecil dengan cepat berubah menjadi ledakan.
Pengamatan ini diperkuat oleh data nasional. Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) mencatat bahwa perempuan yang bekerja justru melaporkan tingkat kekerasan lebih tinggi dibanding mereka yang tidak bekerja. Fakta ini meruntuhkan asumsi lama bahwa bekerja sama dengan aman.
Angka yang Mengkhawatirkan
Penelitian karya Zhang & Breunig (2023) di Australia menunjukkan bahwa perempuan dengan penghasilan lebih tinggi dari suami mengalami peningkatan risiko kekerasan dari pasangan sebesar 33 persen. Kekerasan emosional juga naik sekitar 20 persen dibanding rata-rata.
Menariknya, lonjakan risiko tersebut tidak terjadi secara bertahap. Lonjakan itu muncul tajam tepat saat istri menjadi pencari nafkah utama. Ketika pendapatannya menembus lebih dari separuh total penghasilan rumah tangga. Peneliti menyimpulkan faktor utamanya berada pada pelanggaran norma gender tradisional. Ketika “aturan main” patriarki dilanggar, sebagian laki-laki merespons dengan cara yang destruktif.
Pola ini tak ditemukan pada laki-laki. Saat suami berpenghasilan lebih rendah, suami tidak otomatis menjadi korban kekerasan dari istri. Arah kekerasan tetap bias gender.
Penelitian lain di China juga semakin mempertegas realitas ini. Perempuan yang penghasilannya konsisten lebih tinggi atau pernah lebih tinggi lalu turun menghadapi risiko kekerasan fisik yang lebih besar. Bahkan kelompok berpendapatan tertinggi sekalipun tak luput dari ancaman.
Para peneliti mencatat bahwa trauma masa kecil, ketidakcocokan pandangan soal peran gender, serta kepatuhan pada norma patriarki menjadi faktor pemicu yang terus muncul di berbagai tingkatan ekonomi. Uang memberi fleksibilitas, tetapi tak otomatis mengubah cara pandang pasangan terhadap pembagian kekuasaan di rumah.
Lebih dari Sekadar Urusan Dompet
Dari berbagai sumber tersebut, dapat disimpulkan bahwa kekerasan tidak hanya menyasar perempuan yang bergantung secara ekonomi, tetapi juga mengintai perempuan yang mandiri dan mengungguli suami secara finansial. Begitu posisi tradisional terancam, kekerasan dipakai sebagai alat untuk merebut kembali kendali.
Kondisi ini tentu bukan alasan bagi perempuan untuk berhenti bekerja atau menyembunyikan pendapatan. Karena yang salah adalah budaya patriarki yang masih melekatkan harga diri laki-laki pada perannya sebagai pencari nafkah tunggal. Selama cara pandang ini dipelihara, kemandirian finansial perempuan akan terus berhadapan dengan risiko baru.
Kuncinya ada pada komunikasi yang sehat dan toleransi yang tinggi. Tanpa dialog terbuka, ketimpangan finansial bisa berubah menjadi medan pertempuran. Lingkungan sosial pun memegang peranan; komentar yang menyindir suami karena “dihidupi istri” hanya memperkeruh suasana.
Di sisi lain, kemandirian finansial tetap krusial karena memberi perempuan pilihan. Namun, pilihan itu baru berdampak maksimal jika masyarakat mau membongkar cara pandang kaku soal peran gender. Laki-laki perlu menyadari bahwa harga diri tidak ditentukan oleh angka di slip gaji, sementara perempuan berhak berkarir tanpa perlu merasa bersalah atau sengaja merendahkan diri demi menjaga ego pasangan.
Pada akhirnya, kekerasan dalam rumah tangga berakar pada perebutan kekuasaan, bukan hanya persoalan isi dompet. Selama kekuasaan dalam hubungan dipahami secara timpang, perempuan mandiri pun tetap berisiko menjadi korban.
Referensi:
- Antara. (2023, 24 November). Benarkah istri dengan gaji lebih besar rentan jadi korban KDRT? https://www.antaranews.com/berita/3839403/benarkah-istri-dengan-gaji-lebih-besar-rentan-jadi-korban-kdrt
- Wang, Z., & Sekiyama, T. (2023). Domestic violence victimization among Chinese women and its relevance to their economic power. Frontiers in Sociology, 8, Article 1178673. https://doi.org/10.3389/fsoc.2023.1178673
- Zhang, Y., & Breunig, R. (2023). Female breadwinning and domestic abuse: Evidence from Australia. Journal of Population Economics, 36(4), 2925–2965. https://doi.org/10.1007/s00148-023-00975-9
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel





Comments are closed.