Fri,31 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak

Manusia

manusia
Manusia
service

Sebaris pria bertubuh liat tampak menarik seutas tali tambang keluar dari deburan ombak di pantai. Kulit mereka berwarna coklat tua terbakar sinar matahari, mata mereka menerawang jauh ke tengah lautan nan biru. Sarung lungi yang mereka kenakan diikatkan ke pinggang menyerupai rok pendek, agar mereka lebih leluasa bergerak dan tak jatuh terjerembab.

Matahari baru terbit.

Quilon Beach at sunrise

Kollam Beach, India

Para pria itu masih terus menarik. Badan mereka condong ke belakang. Tatapan mereka masih menerawang. Terus, terus menarik. Bagaikan permainan tarik tambang yang dimainkan tanpa emosi. Tanpa lawan, tiada ujung. Di belakang mereka, gulungan tali yang tertarik mulai menumpuk tinggi. Namun tarik tambang tanpa lawan itu tak kunjung usai. Mereka terus menarik dan menarik. Entah berapa lama mereka telah menarik, dan sampai kapan kah mereka akan menarik.

Aku berjalan mendekat.

Fisherman in lungi pulling fishing net from the ocean. Quilon Beach, India

Fisherman in lungi pulling fishing net from the ocean

Dan saat itu aku tersadar, ternyata di kejauhan, ada satu baris lain yang melakukan hal serupa.

“Mereka adalah para nelayan. Para penjala ikan. Yang mereka tarik sebenarnya adalah sebuah jala raksasa. Dua kelompok pria yang berjauhan itu, yang masing-masingnya menarik keluar tali dari laut, mereka menarik satu jala ikan raksasa yang sama. Segitu lebarnya jalanya!”

A row of fishermen pulling fishing net at Quilon Beach

A row of fishermen pulling fishing net

Aku mengamati burung-burung yang sedang bermain ombak.

“Para nelayan ini menebar jala raksasanya semalam. Setelah matahari tenggelam. Jalanya mungkin puluhan meter lebarnya. Mereka membawanya ke tengah laut. Ratusan meter atau mungkin malah lebih satu kilometer jaraknya dari pantai. Ujung kanan kiri jala yang sangat lebar itu dihubungkan dengan tali ke pantai. Ditinggalkan semalaman. Dan paginya, para nelayan menarik jala tersebut dari pantai, beserta ikan-ikan yang ada. Ini bukan hanya untuk konsumsi pribadi, namun juga untuk dijual.”

A bird playing with the waves at Quilon Beach, Kerala

A bird and its waves

Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan. Sebuah perahu kayu menepi. Para pria berlompatan turun dan menarik perahu ke pantai.

Aku mengamati mereka sambil melamun. Kehidupan pelayan di pesisir Kollam, Kerala, India. Tampaknya perahunya berat.

Fisherman boat - Quilon Beach, India

A fisherman boat coming

Teriakan seorang pria membuyarkan lamunanku. “Heyyy… jangan cuma bengong, bantu dong! Berat nih!” Tentu saja ini diucapkan dalam bahasa setempat. Bahasa Malayalam mungkin. Tentu saja sesungguhnya aku tak mengerti apa yang ia ucapkan, aku hanya mengira-ngira saja. Beberapa pria melambaikan tangan.

Bisa mengamati kegiatan sehari-hari penduduk setempat saja sudah membahagiakan, apalagi menceburkan diri di dalamnya.

Pulling fisherman boat to the shore at Kollam Beach, India

Helping each other

Aku berlari mendekat. Membantu mereka menarik kapal warna-warni itu ke atas pasir. Ahaha, sial! Berat sekali!

Aku pun berpikir… Lalu aku tersadar…

The face of a fisherman

I wonder what was on his mind…

Sebagai pendatang, kadang kita terjebak untuk tak mengganggu rutinitas orang lokal. Tak mau menjadi turis pengganggu. Merasa mereka begitu eksotik dan merasa suasana terlalu indah untuk diinterupsi oleh kita, orang luar. Namun para nelayan ini mengajarkan satu hal berharga bagiku: Mereka bukan sekadar objek tontonan. Objek fotografi, objek yang eksotis. Mereka adalah manusia, dan demikian pula lah diriku. Tidak ada label turis dan orang lokal. Mereka hanyalah manusia. Manusia yang sedang melakukan pekerjaan yang berat. Dan sudah seyogyanya aku, juga manusia, menolong mereka. Keberadaanku di sana bukan cuma sebagai pengamat, bukan hanya penikmat. Namun sebagai manusia biasa. Manusia yang… yang sekedar berinteraksi dengan manusia biasa lainnya. Tidak ada label turis dan penduduk lokal. Kita semua hanyalah manusia.

Dan hatiku pun terasa menghangat, seperti hangatnya pasir di pantai itu.

Fisherman pulling fishing net from the ocean

Warm sand

Fishermen in their lungi

Looking forward to a bountiful catch

The day's catch

The day’s catch

A fisherman sorting fish

Sorting the day’s catch

The day's catch

The day’s catch

Mending fishing rope

Mending fishing rope

Fishermen and the day's catch

See you!

Photos were taken using Lumix GM1 mirrorless camera.
Location: Just right outside lovely Quilon Beach Hotel where I stayed at Kollam, Kerala, India.

Thank you Kerala Tourism and the partners for the wonderful #KeralaBlogExpress journey!
Thank you Gio for the beautiful morning walk and for clicking me, thank you Tarun for the information on the fishermen 😉

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.