Seorang jurnalis mewawancaraiku. Baju hitam, rompi krem. Mulutnya bau sendal jepit.
Kupersilakan dia duduk di balai-balai kosan. “Boleh sambil ngrerokok?” tanyanya. Biasanya aku tak suka ada yang ngerokok di depanku, tapi kali ini kuiyakan.
Lebih baik menghirup asap beracun daripada harus mencium aroma bangkai kadal dari mulutnya.
Sebatang Gudang Garam ia nyalakan, perekam suara ia pencet. “Kita mulai wawancaranya ya mas”
Ya.
“Kali ini saya akan bertanya tentang pernikahan”.
–
“Apakah mas Alwi punya keinginan buat nikah mewah?”
Nonsense. Buang-buang duit.
“Bukankah orang tua mas pengennya demikian?”
Mereka membeli gengsi, aku nggak peduli gengsi. Pada dasarnya aku sudah ada di titik nggak peduli omongan orang. Bahkan kalau ada yang mau menggunjingku silakan saja, aku izinkan.
“Bisa ceritakan pengalaman pernikahan si abang?”
Dia dua kali resepsi, satu di Jakarta satu di Temanggung. Yang di Jakarta habis 150 juta itu full duit tabungan abangku. Yang di Temanggung pakai duit orang tuaku sih, tapi habis 400 juta. Total 650 JUTA! Asu nggak sih menurutmu?
“Ya, sungguh asu mas kalau habis segitu”
Nanti bagian aku ngomong asu di-cut ya?
“Siap mas”.
Nah orang tuaku itu pegawai. Gengsinya tinggi. Mereka bilang: ‘kalau pernikahan sukses, orang bakal ingat terus. Begitu juga kalau gagal’. Padahal nggak ada yang sepeduli itu dengan sebuah nikahan, itu menurutku.
“650 juta angka yang fantastis. Apakah orang tua mas Alwi berhutang? Boleh nggak dijawab kalau sensitif”
Alhamdulillah nggak. Anti utang mereka itu. Nah waktu nikahan abangku selesai. Ibu bilang: ‘nanti kalau kamu nikah, kita bikin 3 kali lebih mewah’. Bangsat, batinku.
“Nggak protes?”
Nggak mau jadi batu aku. Eh, bagian yang aku ngomong bangsat, di-cut juga ya?
“Siap, mas!”
“Sekarang gimana kabar si abang?”
Ya fine-fine aja, cuma lebih nyantol sama keluarga istri. Nggak pernah ngasih sangu ke aku seperti dulu hahaha. Gapapa aku juga nggak minta.
Rencananya abangku mau beli rumah. Nggak ada duit. Mau ikut KPR akhirnya. Baru lunas setelah anak kelas satu SMA. Lah kalau tau gitu mending duit nikahan buat beli rumah kan ya? Logikanya gimana sih?
Sebelum dia melanjutkan pertanyaan. Aku merasa mulutku kecut karena belum kemasukan kopi.
Ngopi dulu yuk.
“Aduh nggak usah mas”
Aku tahu jurnalis itu menolak karena lagi bokek. Upahnya nggak seberapa. Apalagi dia cuma penulis kolom remeh di majalah yang hampir bangkrut.
Maka ketika aku bilang: Aku yang bayarin. Dia mengiyakan dan langsung mengubah panggilanku dari ‘mas’ jadi ‘bos’.
Mungkin kalau kutraktir dia makan, dia akan memanggilku ‘paduka raja’. Kalau aku kasih dia 50 ribu, mungkin dia akan memanggilku ‘Yang Dipertuan Agung’.
–
Obrolan kami berlanjut di warung kopi. Si jurnalis menyalakan Gudang Garamnya lagi.
“Mas Alwi punya keriteria cewek nggak sih? Mungkin hidung mancung, kulit putih? Atau semacamnya?”
Nggak ada. Tapi orang tuaku mendikte agar aku cari cewek anak orang kaya. Kalau bisa dokter. Lah yang nikah aku kok orangtuaku yang ribut hahahaha.
“Kenapa harus anak orang kaya?”
Katanya, biar nanti kalau nikah nggak nyusahin. Kuiyakan saja di mulut, dalam hati kubantah habis-habisan. Lebih baik nurunin gengsi daripada meninggikan ekspetasi.
“Logika orang tua kan gitu mas, mereka pengen anaknya nyaman”
Aku kira ada gap zaman di sini. Mereka anak didik orde baru yang perspektifnya sempit. Seementara kita kan udah kenal dunia luar, opsinya lebih banyak, jadi lebih progresif. Mereka masih kolot. Kesuksesan versi mereka kalau nggak jadi pegawai ya jadi insinyur.
“Nggak coba meyakinkan mereka?”
Sudah dan nggak bakal bisa. Sebab definisi sukses menurut aku dan menurut mereka berbeda. Mereka ingin aku hidup nyaman mapan, sementara nyaman dan mapan nggak ada dalam kamusku. Jadi, mau debat sampai kiamat nggak bakal dapat titik temunya.
“Berarti mas Alwi nggak suka sama orang kaya?”
Nggak semua sih, tapi cewek borjuis itu kelakuannya aneh-aneh. Masa baru bisa nugas kalau ngerjainnya di cafe ditemani es matcha sama koasong? Masa ngedate harus banget di tempat ber-ac dalam mall kapitalis? Anti aku sama yang beginian. Nggak semua orang kaya, tapi aku lebih suka yang sederhana saja.
“Apakah selalu berlawanan dengan kriteria orang tua?”
Kalau lihat polanya sih gitu. Misal selain kaya, orang tuaku menyuruh buat mencari calon yang berasal dari keluarga priyayi. Aku bantah itu. Kasta priyayi adalah warisan feodal yang harus dimusnahkan. Menurutku semua manusia derajatnya sama. Mau petani atau pegawai atau presiden sekalipun sama saja. Nggak ada manusia yang derajatnya lebih tinggi dari manusia lainnya. Kecuali….
“Kecuali apa?”
Kecuali bagi mereka yang salat berjamaah, mereka lebih tinggi 27 derajat.
–
“Menyoal perempuan. Mas Alwi lebih mengedepankan pintar atau cantik?”
Pintar. Jelas itu.
“Kenapa?”
Perempuan pintar itu, cantik dengan caranya yang unik. Nggak cantik seperti gadis majalah yang pamer lingkar perut. Nggak. Tapi cantik karena pemikirannya. Mereka cantik karena sorot matanya yang berkilau ketika mereka membicarakan hal yang disukainya.
“Kembali ke pernikahan. Menurut mas Alwi idealnya seperti apa?”
Selama syarat terpenuhi, itu sudah cukup. Resepsi ngundang orang terdekat saja, malam harinya baru bikin anak hahaha.
“Kalau gitu orang tua bakal kecewa dong?”
Nggak soal. Kalau orang tua mau resepsi mewah ya silakan pakai duit sendiri. Tapi kalau 400 juta ya asu kuadrat sih. Bisa buat bikin perpustakaan itu!
Nanti yang aku ngomong asu kuadrat dihapus lho ya. Awas kamu kalau dimasukin.
“Sudah pasti, mas. Tenang aja” jawabnya.
“Mas Alwi, semisal udah nikah nih–“
Pacar aja belum ada!
“Misal nih, misal. Setelah nikah, mas Alwi mau ngapain? Selain berkembang biak lho ya hahaha”.
Terlalu jauh sih kalau mikir sejauh itu. Besok kan kita bisa saja mati, ya kan?
Tpai kalau disuruh berandai, aku bakal bersenang-senang berdua sama istri. Mumpung masih muda. Punya anak-nya ntar dulu. Sebab membesarkan anak adalah dedikasi, nggak bisa disambi. Aku nggak rela misal anakku besar di bawah pangkuan pembantu.
Kalau istri mau kerja, silakan. Aku merawat anak di rumah (kalau punya). Jadi bapak rumah tangga nggak soal bagiku.
“Mau nikah pakai adat apa?”
Nasional aja. Jawa ribet, banyak mistiknya.
“Kalau dituduh lupa budaya sendiri?”
Selama itu duitku, aku yang menentukan.
“Ada hal yang ingin dicapai sebelum nikah? Financial freedom, barang kali?”
Aku nggak percaya financial freedom. Kaya-miskin itu soal hati aja. Ada hal lain yang ingin aku capai, aku pengen menjalani hidup nomaden sebagaimana Paulo Coelho
“Hidup yang bagaimana itu?”
Hidup tanpa kepastian, berjalan keliling Indonesia atau mungkin dunia hanya mengikuti petunjuk dari sasmita alam semesta.
“Duitnya dari mana?”
Aku bisa jual cerpen di lampu bangjo. Aku bisa tidur di masjid atau emper toko. Makan bisa pakai uang hasil jualan cerpen atau mengais di tong sampah. Kebebasan mutlak, kawan!Aduh, membayangkannya saja sudah membuatku bergidik.
Si Jurnalis mematikan rokoknya dan tape recorder. “Boleh foto dulu mas?” tanyanya sambil mempersiapkan kamera.
Ya.
Si jurnalis menjepret, gayaku terlalu monoton. Si jurnalis memintaku ganti gaya. Jepret. “Ganti lagi mas”. Jepret. “Ganti lagi dong biar menarik!”. Kehabisan pose, entah ide dari mana aku acungkan jari tengah dengan tatapan lurus menghujam kamera. “Nah! Itu baru gaya!” katanya puas.
Kapan majalahnya terbit? Tanyaku.
“Kira-kira sebulan lagi mas”
Ya, aku tunggu.
“Itu pun kalau majalah sialan ini nggak bangkrut duluan hahaha”.
Aku yakin masih terbit, percayalah.
“Berani taruhan?“
50 ribu?
“100 ribu”
Deal.
Sebulan berlalu ketika edisi majalah itu sampai depan pintu kosku. Edisi terakhir. Sial, aku kalah. Lalu aku buka halaman 13 dan melihat fotoku sedang mengacungkan jari tengah. Senyumku terbit ketika membaca judulnya yang sederhana: “Percakapan Singkat Tentang Pernikahan”.





Comments are closed.