Thu,6 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Sambat
  3. percakapan yang membuatku bersyukur

percakapan yang membuatku bersyukur

percakapan-yang-membuatku-bersyukur
percakapan yang membuatku bersyukur
service

Seorang pemuda menghampiriku.

“Boleh minta uang, bang?” katanya gemetar “Saya kehabisan uang”.

Kuamati dia, bersih, bukan seperti peminta yang suka pakai kostum badut. Maka aku yakin dia benar-benar orang butuh.

“Berapa?” tanyaku padanya.
“Seadanya aja bang, buat ongkos pulang”

“Habis dari mana emang?” kupastikan dia tidak kehabisan duit karena judi online.
“Habis cari lowongan bang. Nggak ada yang terima” wajahnya kecut.

Ternyata di era Linkedin masih ada orang yang cari lowongan dari pintu ke pintu. Nah itu perkara satu. Ditolak semua lowongan kerja, itu perkara dua. Kehabisan duit, itu perkara tiga.

Dia tertimpa tiga perkara dalam waktu yang sama.

Tak ada kata lain selain simpati. Sebab aku juga pernah ada di posisi itu. Posisi ketika benar-benar membutuhkan bantuan orang lain.

Aku harus bantu orang ini, batinku. Maka kubuka dompet untuk ambil uang. Tapi sial. Melompong!

“Ntar ya” kataku sambil rogoh-rogoh kantong kanan dan kiri yang juga kosong.

Hampir aku minta maaf sebelum aku temukan selembar 20 ribu yang kujadikan pembatas buku.

“Sori cuma segini” kataku sambil menyerahkan uang berwarna hijau itu.

“Makasih bang” dia menerima uang itu seperti menerima mandat dari presiden.

Sambil nunggu bus jurusan Blok M, aku coba mengorek informasi darinya.

“Udah cari lowongan di mana aja?”

“Udah nanya ke Transjakarta sama Indomaret. Nggak ada yang buka, bang” dia merogoh dompet dan memperlihatkan isinya yang sama melompongnya dengan punyaku. “Keliling dari Jaktim ke Jakpus, uang habis bang”.

“Emang tinggal di mana?”
“Jakbar, bang. Di daerah Tomang”

“Kuliah atau SMA?”
“SMK, bang”

“Jurusan?”
“Administrasi pemerintahan, bang”

“Berarti SMK di Tomang?”
“Nggak bang, saya perantauan dari Cilacap. SMK di Cilacap, bang”

“Loh kok ke Jakbar?”
“Ikut abang saya, bang. Cari kerja”.

Awalnya ingin kutanya kenapa nggak lanjut kuliah? Tapi kuurungkan niatku karena sadar sebagian besar rakyat Indonesia tidak seberuntung diriku yang mampu kuliah.

Hanya ada tiga alasan kenapa orang memilih kerja daripada kuliah: pertama, kebelet kawin. Kedua, sudah mewarisi bisnis keluarga. Ketiga, masalah paling klasik sedunia: ekonomi.

Aku yakin masalah yang dia alami adalah masalah ketiga.

“Usia berapa kalau boleh tau?” tanyaku.
“22, bang” ingin kukatakan kalau usia kami sama, tapi tidak jadi, karena sadar ternyata aku sudah dua tahun lebih tua darinya. Oh, betapa waktu cepat berlalu.

Sungguh kontras. Ketika aku berusia 22, aku sedang bergelut dengan skripsi, sementara dia sibuk mengetuk pintu lowongan kerja.

Bus jurusan Blok M nampak dari kejauhan, sebentar lagi aku harus berpisah dengan bocah hebat ini.

“Udah berapa lama di Jakarta?”

“Baru dua bulan, bang. Sebenarnya udah pernah kerja sih di cucian mobil. Tapi cuma tahan dua minggu. Duh nggak kuat, bang”

“Nggak kuat fisiknya atau duitnya?”
“Fisik, bang. Sehari kerja dari jam 8 pagi sampai jam 12 malem”

Bus yang akan aku tumpangi berhenti, pintunya terbuka. “Blok M!” kata kondektur. Seharusnya aku naik bus itu, namun kuputuskan untuk tidak naik setelah mendengar pernyataan seorang bocah yang bekerja 16 jam sehari.

Aku terdiam. Sungguh berdosanya aku yang sering mengeluh karena kerja delapan jam sehari.

“Bayarannya berapa?” tanyaku ketika bus itu meninggalkan kami.
“Komisian, bang. Satu mobil 12 ribu, kalau motor 8 ribu, bang”

“Sehari cuci berapa?”
“Paling 3 mobil. Kalau motor 5, bang”

Jadi sehari dia cuma dapat 76 ribu, tidak ada hari libur. Sebulan dia dapat 2 juta lebih sedikit. Setengah dari UMR dan dia tinggal di Jakarta.

“Cukup buat hidup?”
“Ya dicukup-cukupin, bang”.

Garis tipis mengalir dari ujung mataku. Kuusap cepat sebelum dia melihat. Oh, betapa aku sering mengeluh karena cuma diupah UMR. Sementara di luar sana orang-orang seperti dia membanting tulang ribuan kali lebih keras dariku hanya untuk upah yang tidak seberapa.

Aku tidak percaya ungkapan ‘usaha tak akan mengkhianati hasil’. Sebab kenyataan seringkali berkhianat. Jika ungkapan itu benar, maka kuli angkut, buruh pabrik, petani gabah, dan tukang cuci mobil adalah orang terkaya di dunia.

Obrolan semakin asyik.

“Awalnya mau ikut abang jadi kuli, tapi nggak ada lowongan, bang” sial, bahkan untuk menjadi kuli saja lowongan penuh. “Barangkali abang ada lowongan, jadi OB juga nggak apa-apa bang” jelas aku tidak ada lowongan karena aku juga buruh.

“Nggak kerja di Cilacap aja?” saranku.
“Susah juga, bang”.

“Orang tua masih ada?”
“Tinggal ibu aja, bang”.

“Nah, kenapa nggak di rumah aja, nemenin Ibu. Nggak semua orang bisa punya berkah buat merawat ibu lho”. HIPOKRIT! Padahal aku juga meninggalkan orang tua di desa.

“Nggak bang, nanti ngerepotin ibu saya”.

Aku yakin bahwa kasih sayang ibu tidak kenal kata ‘ngerepotin’. Aku jadi teringat ibuku yang memaksaku untuk merantau ke Jakarta, tapi aku yakin jauh di lubuk hatinya, dia ingin aku menemaninya. Tinggal di desa.

Bus jurusan Blok M berhenti dan kali ini aku menaikinya. Terima kasih adalah kalimat terakhirnya sebelum kami berpisah.

Setelah duduk dalam bus, aku buka ponsel. 5 panggilan tak terjawab dari ibu.

(percakapan nyata, terjadi 9 Juni 2024 di halte Bangau VI)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.