Bincangperempuan.com- Malam makin larut, kepala rasanya makin berat usai seharian dihantam tumpukan tugas dan ekspektasi yang tak kunjung surut. Keinginan untuk melarikan diri sejenak—sekadar liburan atau mematikan ponsel—cuma bisa menggantung sebagai angan-angan. Di momen ketika kapasitas emosional berada di titik paling rendah, tanganmu secara refleks membuka pintu lemari es atau berselancar di aplikasi pesan antar makanan. Kamu tahu pasti bahwa perutmu tidak sedang lapar. Namun, otakmu menjerit meminta jeda dari kepenatan. Sebungkus keripik renyah atau porsi makanan manis mendadak bertransformasi menjadi benteng pertahanan terakhir dari riuhnya dunia luar.
Di balik kebiasaan yang terasa sangat wajar dan manusiawi ini, ada garis batas tipis yang sering kali kabur di mata masyarakat. Sebenarnya, apakah respons tersebut sekadar cara alami tubuh mencari ketenangan sementara (emotional eating), atau justru sudah perlahan bergeser menjadi kondisi medis serius berupa gangguan makan (eating disorder)? Memahami perbedaannya menjadi krusial agar kita tidak terus-menerus terjebak dalam rasa bersalah yang tak beralasan, sekaligus tidak abai ketika tubuh sebenarnya sedang membutuhkan penanganan profesional.
Baca juga: Bom Waktu di Gelas Kopi Kita: Anak Muda dan Bayang-Bayang Gagal Ginjal
Emotional Eating vs. Binge Eating Disorder, Apa Bedanya?
Emotional eating sebenarnya adalah fenomena yang sangat umum dan pernah dialami oleh hampir semua orang. Saat dilanda stres, kesedihan, kejenuhan, atau bahkan kebahagiaan yang meluap, otak secara biologis mencari pelarian cepat untuk menyeimbangkan emosi. Makanan tinggi gula, garam, atau karbohidrat sering kali menjadi pilihan utama karena mampu memicu pelepasan dopamin dan serotonin—dusenyawa kimia di otak yang menghadirkan sensasi nyaman dan rileks seketika. Pada titik ini, makan berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri sementara. Setelah episode ngemil tersebut usai, kita umumnya kembali ke aktivitas biasa. Porsi yang dikonsumsi mungkin sedikit lebih banyak dari biasanya, tetapi kita masih memiliki kendali sadar, tidak dihantui rasa malu yang mendalam, dan tidak ada penderitaan emosional yang berlarut-larut.
Kondisi ini sangat berbeda dengan Binge Eating Disorder (BED), sebuah istilah gangguan makan yang belakangan kerap melintas di media sosial namun sering disalahpahami. Pada fenomena BED, seseorang mengonsumsi makanan dalam jumlah yang tergolong sangat besar dalam durasi waktu yang relatif singkat—jauh melebihi porsi normal yang dihabiskan orang lain dalam situasi serupa. Elemen kunci yang membedakannya dengan emotional eating biasa adalah hadirnya sensasi kehilangan kendali (loss of control) secara total. Seseorang yang mengalami BED merasa seolah ada dorongan tak kasatmata yang memaksanya terus mengunyah dan menelan, bahkan ketika perut sudah terasa sangat penuh, begah, atau sakit.
Begitu episode makan berlebih tersebut berhenti, tubuh tidak mendapatkan rasa lega. Sebaliknya, penderita BED langsung dihantam oleh gelombang rasa bersalah, malu, cemas, hingga rasa jijik yang mendalam terhadap diri sendiri. Berbeda dengan bulimia nervosa, penderita BED tidak melakukan tindakan fisik seperti memuntahkan makanan secara sengaja, mengonsumsi obat pencahar, atau berolahraga secara berlebihan untuk “cleansing” kalori yang masuk. Mereka hanya menanggung beban psikologis yang berat sendirian, terkunci di antara desakan untuk makan dan penyesalan yang melumpuhkan.
Membedah Data, Angka Tersembunyi, dan Bias Gender
Ketidakmampuan publik dalam membedakan kedua kondisi ini kerap melahirkan anggapan dangkal. Masyarakat sering kali menyederhanakan episode binge eating sebagai sekadar “doyan makan”, “rakus”, atau “kurang disiplin diri”. Padahal, riset medis ilmiah menunjukkan bahwa kondisi ini adalah realitas klinis yang nyata dan berdampak luas.
Berdasarkan data riset dari National Health and Wellness Survey yang melibatkan lebih dari 22.000 responden dewasa di Amerika Serikat, angka prevalensi BED dalam jangka waktu 12 bulan mencapai sekitar 1,64 persen, sedangkan prevalensi sepanjang hidup (lifetime prevalence) berada di angka 2,03 persen. Angka ini membuktikan peningkatan ketajaman kriteria diagnosis DSM-5 dibandingkan kriteria DSM-IV-TR sebelumnya. Namun, fakta yang lebih memprihatinkan terletak pada tingkat penanganannya: hanya sekitar 3,2 persen dari individu yang memenuhi kriteria medis BED yang pernah menerima diagnosis resmi dari tenaga kesehatan. Artinya, mayoritas penderita hidup dalam kesenyapan tanpa pertolongan medis yang memadai.
Riset tersebut juga menyingkap pola menarik terkait bias gender yang selama ini membayangi wacana gangguan makan. Pada gangguan seperti anorexia nervosa atau bulimia nervosa, penderita perempuan mendominasi secara mutlak dengan rasio perbandingan yang bisa mencapai 9:1. Namun pada BED, jurang perbedaan tersebut menyempit secara signifikan. Dari total 344 responden yang teridentifikasi memenuhi kriteria diagnosis DSM-5 untuk BED dalam survei tersebut, tercatat ada 242 perempuan dan 102 laki-laki.
Data ini menegaskan bahwa meskipun prevalensi pada perempuan tetap lebih tinggi, penderita dari kalangan laki-laki mengambil porsi yang sangat bermakna. Selama ini, konstruksi sosial dan stigma patriarki kerap melabeli gangguan makan sebagai “masalah perempuan”. Laki-laki yang mengalami kehilangan kendali saat makan sering kali memvalidasi perilakunya sebagai wujud “porsi makan pria” atau sekadar hobi kuliner, sehingga enggan mengakui rentannya kondisi emosional mereka. Akibatnya, laki-laki berisiko lebih tinggi terlambat mendapatkan diagnosis atau bahkan tidak pernah tersentuh intervensi medis sama sekali.
Baca juga: Melawan Gravitasi: Mengapa Posisi Berbaring Bukan Posisi Melahirkan Alami
Mengenali Sinyal Bahaya dan Langkah Pemulihan
Lantas, kapan seseorang harus mulai meningkatkan kewaspadaan dan mempertimbangkan bantuan profesional? Ada tiga indikator utama yang bisa dijadikan panduan:
- Frekuensi dan Durasi: Apabila episode makan berlebih yang disertai perasaan kehilangan kendali terjadi setidaknya sekali dalam seminggu dan bertahan selama kurun waktu minimal tiga bulan berturut-turut.
- Tingkat Morbiditas Psikologis: Ketika kebiasaan makan rahasia, rasa malu, atau dorongan mengunyah mulai merusak konsentrasi kerja, hubungan sosial, dan kestabilan mental harian.
- Sensasi Emosional Pasca-Makan: Emotional eating meninggalkan jeda ketenangan sementara, sedangkan BED meninggalkan penyesalan mendalam.
Langkah awal yang paling mendesak untuk diambil adalah menghentikan pelabelan moral pada makanan—menghapus anggapan bahwa ada makanan “baik” (good food) versus makanan “jahat” (bad food). Menggunakan makanan sebagai pelarian saat stres bukanlah cerminan kelemahan karakter atau kegagalan moral, melainkan bentuk refleks dari sistem saraf manusia yang sedang kewalahan mencari perlindungan.
Apabila Anda atau orang terdekat merasa bahwa kebiasaan makan emosional telah bergeser menjadi dorongan implosif yang tak terkendali, melangkah ke pintu konseling psikolog klinis atau psikiater adalah keputusan yang bijaksana. Melalui pendekatan berbasis bukti seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), kita diajak untuk melepaskan ikatan rasa bersalah, memulihkan regulasi emosi, serta membangun kembali hubungan yang sehat dan welas asih dengan tubuh sendiri.
Referensi
- Cossrow, N., Pawaskar, M., Witt, E. A., Ming, E. E., Victor, T. W., Herman, B. K., Wadden, T. A., & Erder, M. H. (2016). Estimating the prevalence of binge eating disorder in a community sample from the United States: Comparing DSM-IV-TR and DSM-5 criteria. The Journal of Clinical Psychiatry, 77(8), e968–e974. https://www.psychiatrist.com/jcp/prevalence-of-binge-eating-disorder-in-the-us-comparing-dsm-iv-tr-and-dsm-criteria/





Comments are closed.