Dengarkan artikel ini:
Pernyataan Anwar dan Wong ramai dibedah warganet Indonesia. Mungkinkah gaya dua tetangga ini menjadi cermin tak diminta bagi Prabowo?
“Communities with adjoining territories, and related to each other in other ways as well, are engaged in constant feuds and in ridiculing each other.”
– Sigmund Freud, Civilization and Its Discontents (1930)
Cupin sedang menggulir lini masa ketika sebuah klip pendek berhenti di layarnya. Klip itu memuat potongan pidato Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang beredar deras di ruang digital Indonesia.
Dalam berbagai forum kawasan sepanjang 2026, Anwar tampil dengan retorika yang berani dan mudah dikutip. Ia, misalnya, menolak narasi konflik Laut China Selatan sebagai keniscayaan dan menegaskan bahwa dirinya tidak berbagi phobia soal ketegangan di perairan itu.
Tidak jauh dari lini masa yang sama, muncul pula sosok Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong. Gaya Wong berlawanan arah dengan Anwar, yakni tenang, membumi, dan terasa dekat dengan keseharian warganya.
Wong dikenal lewat kalimat yang cepat menyebar, “We hear you. I hear you”, saat merespons kritik terhadap generasi muda. Ia membingkai keberhasilan ekonomi sebagai alat, bukan tujuan, sehingga terkesan rendah hati sekaligus terukur.
Cupin memperhatikan sesuatu yang menarik dari kolom komentar. Dua pernyataan dari dua pemimpin negara tetangga itu justru mendapatkan traction yang besar di kalangan warganet Indonesia.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Sepanjang 2026, muncul kesadaran warganet serumpun yang di lini masa dikenal dengan sebutan SEAblings, gabungan dari Southeast Asia dan siblings.
Istilah itu menggambarkan gelombang solidaritas ketika warganet Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina kompak saling membela. Rivalitas lama yang biasanya menyoal rendang atau batik mencair menjadi rasa kekerabatan lintas batas.
Di tengah suasana serumpun itulah, klip Anwar dan Wong beredar tanpa hambatan bahasa maupun budaya. Warganet Indonesia menonton keduanya bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai tetangga yang bahasanya nyaris sama.
Kedekatan itu membuat gaya keduanya terasa relevan untuk diperbincangkan publik Indonesia. Cupin pun bertanya-tanya, apa sebenarnya yang membuat dua gaya berbeda ini sama-sama memikat perhatian.
Namun, ada dua hal yang perlu ditelusuri lebih dulu sebelum menjawabnya. Pertama, apa sebenarnya anatomi komunikasi yang membuat Anwar dan Wong sama-sama menonjol?
Kedua, mengapa gaya keduanya begitu mudah menemukan gaung di ruang publik Indonesia? Dua pertanyaan inilah yang akan menjadi pintu masuk ke bagian berikutnya.
Anatomi Komunikasi Sang Tetangga
Untuk memahami daya tarik Anwar, kita bisa menengok gagasan lama tentang retorika. Aristoteles dalam karyanya Retorika menjelaskan bahwa persuasi bertumpu pada tiga pilar, yakni ethos, pathos, dan logos.
Anwar tampil kuat pada dimensi pathos dan ethos, terutama saat menyuarakan posisi Global South. Ia memproyeksikan citra pemimpin bersuara lantang yang berani mengambil sikap, sehingga pesannya mudah dikutip dan dibagikan ulang.
Gaya semacam ini menemukan lahan subur di ruang digital yang menyukai pernyataan tegas. Sebuah kalimat berani jauh lebih mudah menjadi viral ketimbang paragraf penuh nuansa.
Lawrence Wong menempuh jalur yang berbeda, tetapi sama efektifnya. Pendekatannya mengingatkan pada apa yang disebut Joseph Nye dalam bukunya Soft Power: The Means to Success in World Politics sebagai daya tarik yang bekerja lewat kedekatan, bukan paksaan.
Wong membangun citra sebagai teknokrat yang hangat dan mudah didekati. Kalimat “We hear you” menempatkan dirinya sebagai pendengar, bukan sekadar penguasa yang berbicara dari atas.
Ada pula kerangka yang menjelaskan mengapa keduanya berhasil, yaitu konsep framing. Robert Entman dalam artikelnya “Framing: Toward Clarification of a Fractured Paradigm” di jurnal “Journal of Communication” menjelaskan bahwa cara sebuah pesan dibingkai menentukan bagaimana publik memaknainya.
Anwar membingkai dirinya lewat bingkai keberanian dan kedaulatan. Wong membingkai dirinya lewat bingkai empati dan kompetensi yang membumi.
Keduanya juga memahami logika ekonomi perhatian. Herbert Simon pernah mengingatkan bahwa di tengah melimpahnya informasi, yang justru langka adalah perhatian itu sendiri.
Maka, siapa pun yang mampu merebut perhatian dengan gaya yang khas akan lebih menonjol. Anwar merebutnya lewat ketegasan, sementara Wong merebutnya lewat kehangatan.
Cupin menyadari bahwa dua gaya ini bukanlah sekadar soal pilihan pribadi. Keduanya adalah strategi komunikasi yang matang dan terukur untuk audiens masing-masing.
Meski demikian, muncul dua pertanyaan lanjutan yang penting untuk dijawab. Pertama, apa dampaknya ketika gaya dua tetangga ini menjadi rujukan warganet Indonesia?
Kedua, bagaimana sebaiknya dinamika ini dibaca oleh Presiden Prabowo dan tim komunikasinya? Jawabannya menuntut pembacaan yang jernih dan berkepala dingin.
Tantangan Citra bagi Tiga Pemimpin Serumpun
Perlu ditegaskan sejak awal bahwa ini bukan soal kekurangan Prabowo. Presiden Prabowo memiliki modal citra yang khas, yakni kehangatan kebapakan dan koneksi emosional yang tulus dengan rakyat.
Persoalannya terletak pada mekanika persepsi di era konten lintas batas. Sigmund Freud dalam bukunya Civilization and Its Discontents menyebut gejala the narcissism of small differences, yakni kecenderungan komunitas yang mirip untuk paling sensitif terhadap perbedaan kecil di antara mereka.
Warganet Indonesia tidak membandingkan pemimpinnya dengan tokoh Eropa atau Amerika Latin. Mereka membandingkannya dengan Anwar dan Wong, justru karena kemiripan bahasa dan budaya membuat selisih gaya terasa lebih menonjol.
Gejala ini diperkuat oleh teori perbandingan sosial dari Leon Festinger. Menurutnya, manusia menilai diri dan pemimpinnya dengan membandingkan terhadap pihak lain yang dianggap relevan dan sebanding.
Tetangga serumpun adalah pembanding yang paling sempurna untuk itu. Maka dari itu, gaya Anwar dan Wong yang menonjol berpotensi menjadi titik acuan baru yang tidak dipilih oleh Istana.
Daniel Kahneman dan Amos Tversky lewat gagasan mereka soal titik acuan menjelaskan bahwa penilaian publik bersifat relatif. Sosok yang hadir berulang di lini masa dapat menggeser tolok ukur yang dipakai publik untuk menilai pemimpinnya sendiri.
Di sinilah letak tantangannya, yakni bukan pada substansi kebijakan, melainkan pada siapa yang menentukan sumbu penilaian. Inilah yang layak diantisipasi secara bijak oleh tim komunikasi kepresidenan.
Kabar baiknya, tantangan ini memiliki jalan keluar yang elegan. John Petrocik lewat konsep issue ownership menyarankan agar seorang pemimpin memperkuat kepemilikan atas dimensi yang memang menjadi keunggulan alaminya.
Prabowo tidak perlu bertanding di sumbu retorika ala Anwar atau sumbu keakraban ala Wong. Ia dapat menegaskan sumbunya sendiri, yaitu keberpihakan konkret pada rakyat dan diplomasi personal yang membuka peluang.
Lebih jauh, kedekatan serumpun ini sebenarnya bisa diubah menjadi kekuatan kolektif. Sikap besar hati Prabowo yang terbuka mengapresiasi keberhasilan negara tetangga adalah contoh kematangan yang justru menaikkan wibawa.
Pada akhirnya, panggung Dunia Melayu tidak harus menjadi arena persaingan yang saling meniadakan. Kehadiran tiga pemimpin serumpun secara bersamaan justru dapat menjadi momentum untuk membesarkan nama kawasan, selama masing-masing memilih untuk bersinar di sumbunya sendiri dan merawat solidaritas Nusantara yang tengah tumbuh. (A43)





Comments are closed.