Mon,9 March 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. Usai Turunkan Outlook RI, Fitch Proyeksi Defisit Fiskal 2026 2,9 Persen PDB

Usai Turunkan Outlook RI, Fitch Proyeksi Defisit Fiskal 2026 2,9 Persen PDB

usai-turunkan-outlook-ri,-fitch-proyeksi-defisit-fiskal-2026-2,9-persen-pdb
Usai Turunkan Outlook RI, Fitch Proyeksi Defisit Fiskal 2026 2,9 Persen PDB
service

KABARBURSA.COM – Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings merevisi prospek (outlook) peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negative. Namun di satu sisi, Fitch tetap mempertahankan peringkat kredit jangka panjang mata uang asing atau Long-Term Foreign Currency Issuer Default Rating (IDR) di level BBB. 

Untuk diketahui, revisi outlook ini mencerminkan penilaian Fitch atas meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran terhadap konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi. 

Lembaga pemeringkat itu menilai dinamika sentralisasi pengambilan keputusan berpotensi memberi tekanan terhadap prospek fiskal jangka menengah, mempengaruhi sentimen investor, dan berdampak pada ketahanan eksternal.

Meski demikian, peringkat BBB tetap dipertahankan karena Indonesia dinilai masih memiliki fondasi makroekonomi yang relatif solid. Fitch mencatat pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang moderat, serta posisi cadangan devisa yang dinilai memadai sebagai penopang profil kredit.

Proyeksi Fiskal

Dalam proyeksi fiskalnya, Fitch memperkirakan defisit anggaran Indonesia pada 2026 akan mencapai 2,9 persen dari PDB. Angka ini lebih tinggi dibanding target pemerintah sebesar 2,7 persen. 

Perbedaan tersebut didasarkan pada asumsi penerimaan negara yang lebih konservatif serta peningkatan belanja sosial, termasuk program makanan bergizi gratis. Dengan struktur tersebut, tekanan terhadap keseimbangan fiskal dinilai masih akan berlanjut dalam jangka menengah.

Rasio penerimaan pemerintah terhadap PDB diperkirakan hanya berada di kisaran 13,3 persen pada periode 2026–2027. Posisi ini dinilai tertinggal dibanding rata-rata negara dengan peringkat BBB. Upaya peningkatan kepatuhan pajak dipandang berpotensi memperbaiki penerimaan, namun dampaknya dinilai belum signifikan dalam waktu dekat.

Selain aspek penerimaan, Fitch juga menyoroti tingginya biaya pembayaran bunga utang pemerintah sebagai faktor yang membatasi fleksibilitas fiskal. Kombinasi rasio penerimaan yang rendah dan beban bunga yang relatif tinggi dinilai menjadi tantangan struktural bagi profil kredit Indonesia.

Defisit Transaksi Berjalan

Dari sisi eksternal, Fitch memproyeksikan defisit transaksi berjalan melebar menjadi sekitar 0,8 persen dari PDB pada 2026. Pelebaran tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya ekspor bersih. Kendati demikian, cadangan devisa dinilai masih cukup kuat dengan kemampuan menutup sekitar lima bulan kebutuhan pembayaran transaksi berjalan.

Sentimen investor disebut masih rentan, terutama setelah periode volatilitas di pasar domestik dan kekhawatiran terkait tata kelola pasar modal. Dalam skenario tersebut, risiko arus keluar modal dapat meningkat, yang pada gilirannya berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.

Di tengah berbagai tekanan tersebut, Fitch tetap memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen pada 2026–2027. Pertumbuhan ini didorong oleh permintaan domestik, belanja pemerintah, serta investasi di sektor hilirisasi. 

Namun, target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029 dinilai sulit dicapai tanpa reformasi struktural yang lebih mendalam dan konsisten.

Secara keseluruhan, revisi outlook menjadi negatif menunjukkan adanya peningkatan risiko terhadap arah kebijakan dan konsolidasi fiskal dalam jangka menengah. Stabilitas kebijakan ekonomi, penguatan penerimaan negara, serta perbaikan tata kelola menjadi faktor kunci yang akan menentukan pergerakan peringkat kredit Indonesia ke depan.(*)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.