Ditulis oleh Yunila Wati •
KABARBURSA.COM – Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings merevisi prospek (outlook) peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negative. Namun di satu sisi, Fitch tetap mempertahankan peringkat kredit jangka panjang mata uang asing atau Long-Term Foreign Currency Issuer Default Rating (IDR) di level BBB.
Untuk diketahui, revisi outlook ini mencerminkan penilaian Fitch atas meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran terhadap konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi.
Lembaga pemeringkat itu menilai dinamika sentralisasi pengambilan keputusan berpotensi memberi tekanan terhadap prospek fiskal jangka menengah, mempengaruhi sentimen investor, dan berdampak pada ketahanan eksternal.
Meski demikian, peringkat BBB tetap dipertahankan karena Indonesia dinilai masih memiliki fondasi makroekonomi yang relatif solid. Fitch mencatat pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang moderat, serta posisi cadangan devisa yang dinilai memadai sebagai penopang profil kredit.
Proyeksi Fiskal
Dalam proyeksi fiskalnya, Fitch memperkirakan defisit anggaran Indonesia pada 2026 akan mencapai 2,9 persen dari PDB. Angka ini lebih tinggi dibanding target pemerintah sebesar 2,7 persen.
Perbedaan tersebut didasarkan pada asumsi penerimaan negara yang lebih konservatif serta peningkatan belanja sosial, termasuk program makanan bergizi gratis. Dengan struktur tersebut, tekanan terhadap keseimbangan fiskal dinilai masih akan berlanjut dalam jangka menengah.
Rasio penerimaan pemerintah terhadap PDB diperkirakan hanya berada di kisaran 13,3 persen pada periode 2026–2027. Posisi ini dinilai tertinggal dibanding rata-rata negara dengan peringkat BBB. Upaya peningkatan kepatuhan pajak dipandang berpotensi memperbaiki penerimaan, namun dampaknya dinilai belum signifikan dalam waktu dekat.
Selain aspek penerimaan, Fitch juga menyoroti tingginya biaya pembayaran bunga utang pemerintah sebagai faktor yang membatasi fleksibilitas fiskal. Kombinasi rasio penerimaan yang rendah dan beban bunga yang relatif tinggi dinilai menjadi tantangan struktural bagi profil kredit Indonesia.
Defisit Transaksi Berjalan
Dari sisi eksternal, Fitch memproyeksikan defisit transaksi berjalan melebar menjadi sekitar 0,8 persen dari PDB pada 2026. Pelebaran tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya ekspor bersih. Kendati demikian, cadangan devisa dinilai masih cukup kuat dengan kemampuan menutup sekitar lima bulan kebutuhan pembayaran transaksi berjalan.
Sentimen investor disebut masih rentan, terutama setelah periode volatilitas di pasar domestik dan kekhawatiran terkait tata kelola pasar modal. Dalam skenario tersebut, risiko arus keluar modal dapat meningkat, yang pada gilirannya berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, Fitch tetap memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen pada 2026–2027. Pertumbuhan ini didorong oleh permintaan domestik, belanja pemerintah, serta investasi di sektor hilirisasi.
Namun, target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029 dinilai sulit dicapai tanpa reformasi struktural yang lebih mendalam dan konsisten.
Secara keseluruhan, revisi outlook menjadi negatif menunjukkan adanya peningkatan risiko terhadap arah kebijakan dan konsolidasi fiskal dalam jangka menengah. Stabilitas kebijakan ekonomi, penguatan penerimaan negara, serta perbaikan tata kelola menjadi faktor kunci yang akan menentukan pergerakan peringkat kredit Indonesia ke depan.(*)





Comments are closed.