EURO/USD1,17
%-0.02
Oil61,12
%-0.26
BTC0,000000
%0
ETH0,000000
%0
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. ‘Don’t Tell the Grown-Ups’, Dekolonisasi Imajinasi Anak dari Patriarki

‘Don’t Tell the Grown-Ups’, Dekolonisasi Imajinasi Anak dari Patriarki

‘don’t-tell-the-grown-ups’,-dekolonisasi-imajinasi-anak-dari-patriarki
‘Don’t Tell the Grown-Ups’, Dekolonisasi Imajinasi Anak dari Patriarki
0
Share

Share This Post

or copy the link

Alison Lurie punya definisi tentang anak dalam esainya, ‘Don’t Tell the Grown-Ups‘.

There existe in our world an unusual, partly savage tribe, ancient, and widely distributed… All of us were at one time members of this tribe: we knew its customs, amnners, and rituals, its folklore and sacred texts.

Masih ingatkah dengan dongeng-dongeng silam yang digaungkan orang tua, kakek-nenek, guru, atau orang-orang dewasa di sekitar kita tentang legenda-legenda masa lalu? Ambillah contoh Lutung Kasarung, ketika Purbasari menolak diobjektifikasi sebagai korban yang menderita. Ia beraliansi dengan Lutung Kasarung sebagai simbol tanpa gender untuk menemukan jalan menjadi pemimpin kerajaan dan mengalahkan egoisme sang kakak, Purbararang.

Di dalam cerita tersebut, anak atau pembaca muda tidak hanya diperkenalkan pada konflik antara tokoh baik dan jahat. Mereka juga diperkenalkan pada kemungkinan bahwa seseorang yang ditempatkan sebagai korban dapat mengambil kembali agensinya. Imajinasi menjadi ruang untuk membayangkan kemungkinan tersebut. 

Atau tentang Timun Mas yang dihadirkan sebagai representasi anak perempuan penuh keberanian yang melawan raksasa laki-laki (simbol kekuasaan) (Setyowati et al., 2020). Sang Ibu, yang menjadi subjek kunci dalam misi penyelamatan Timun Mas, membekalinya dengan empat senjata ampuh (biji timun, jarum, garam, dan terasi). Keempat senjata tersebut merupakan simbol konstruktif yang dianggap lekat dengan perempuan. Garam dan terasi umumnya berasal dari dapur. Biji timun berasal dari alam. Sementara itu, jarum adalah simbol penciptaan. Timun Mas dan ibunya tidak tunduk dan menolak menjadi budak hukum raksasa.

Baca Juga: Lewat The Handmaid’s Tale, Kita Membaca Indonesia dan Tubuh Perempuan di Bawah Kuasa Negara

Menariknya, perlawanan dalam Timun Mas tidak dibangun melalui kekuatan yang secara konvensional dilekatkan pada maskulinitas. Perempuan justru bertahan dengan pengetahuan, benda-benda domestik, alam, dan kecerdikannya. Sehingga dapur, alam, dan kerja-kerja yang kerap dianggap remeh dapat dibaca sebagai sumber daya perlawanan.

Penolakan legendaris serupa juga dilakukan oleh Rara Jonggrang dalam legenda Candi Prambanan. Rara Jonggrang dengan penuh keberanian menolak pernikahan paksa. Di masa pemerintahan Prabu Baka, siapa yang tidak kenal dengan figur red flag sekelas Bandung Bondowoso? Sepanjang legenda Prambanan hidup, Rara Jonggrang menjadi simbol kuat yang merepresentasikan penentangan terhadap kekuasaan yang tidak adil. Bagi beberapa masyarakat, Rara Jonggrang tidak mati. Ia abadi dan menjadi rujukan narasi besar bahwa pada masa lalu, ketika patriarki berkuasa dalam jelmaan yang besar dan menakutkan, ia menjadi perempuan yang berdiri melawan dengan strategi dan keberanian.

Tentu, membaca ulang legenda-legenda tersebut secara feminis tidak berarti menganggap semua cerita rakyat sejak awal ditulis sebagai manifesto kesetaraan gender. Cerita rakyat hidup melalui penuturan yang berulang, berubah, dan ditafsirkan kembali. Justru di situlah kemungkinan pembacaannya: cerita lama dapat menjadi ruang untuk mempertanyakan kembali nilai-nilai yang selama ini dianggap alamiah. 

Dalam konteks global, coba kita amati film Alice in Wonderland (2010) arahan Tim Burton yang memosisikan Alice (19 tahun) sebagai tokoh pendobrak tradisi pernikahan dini. Ia digambarkan berusia 19 tahun dan didorong keluarganya untuk menikah dengan seorang pemuda bangsawan yang tidak asyik, Hamish Ascot. Tentu saja, Alice menolak dan lebih memilih terdampar dalam rumitnya petualangan mengurai konflik perang saudara di negeri dongeng (Wonderland).

Alice menjadi contoh bagaimana kisah tentang anak dan dunia fantastis dapat digunakan untuk mengganggu logika orang dewasa. Alih-alih menerima masa depan yang sudah disiapkan untuknya, Alice memilih petualangan, ketidakpastian, dan kehendaknya sendiri. Dunia fantasi, dalam pengertian ini, bukan pelarian dari kenyataan, melainkan tempat untuk menguji kemungkinan-kemungkinan yang belum tersedia dalam kenyataan. 

Baca Juga: Refleksi Novel ‘The Little Prince’, Apalah Arti Usia Saat Anak Lebih ‘Dewasa’ dari Orang Dewasa?

Alison Lurie (1990), dalam esainya Don’t Tell the Grown-Ups, mengatakan bahwa dongeng dan legenda masa lalu acapkali menyimpan pesan-pesan subversif yang mendobrak tradisi patriarki dan kekuasaan yang hanya adil secara sepihak. Pesan-pesan tersebut diproyeksikan kepada anak-anak kita agar mereka memiliki ruang untuk membayangkan perlawanan terhadap kekuasaan. Anak-anak perlu menjadi subjek yang berhak membayangkan dunia di luar sistem-sistem yang dilestarikan dalam kehidupan di sekitar mereka.

Riset berjudul Ecofeminism Interpretation of Women’s Transformation in Indonesian Folktales (Lestari et al., 2026) menyatakan bahwa cerita legenda Asal Usul Kota Banyuwangi, Legenda Ikan Patin, dan Nini dan Putri Ikan menampilkan pesan-pesan subversif yang menentang dominasi terhadap perempuan. Utamanya ketika tokoh-tokoh perempuan dalam legenda-legenda tersebut mengalami metamorfosis simbolik akibat penderitaan, sebagaimana yang dialami oleh Purbasari. Transformasi penderitaan dan tekanan perempuan dalam legenda-legenda tersebut merupakan salah satu bentuk resistensi terhadap dominannya kekuasaan patriarkis. Melalui narasi cerita rakyat, sistem-sistem yang merusak dan mencemari subjek perempuan justru akan “dihukum” langsung oleh alam. Hal ini menegaskan bahwa perempuan dan alam merupakan dua entitas yang sesungguhnya tunggal dan memiliki hukum kausalitas tersendiri bila dicemari.

Anak sebagai Subjek Utama Dekolonialisme

Alison Lurie (1990) menganalogikan anak sebagai sebuah suku kuno yang liar dan menganut hukum alam mereka sendiri. Berdasarkan definisi tersebut, ia mengategorikan buku-buku petualangan anak seperti Alice in Wonderland, Peter Pan, dan Haroun and the Sea of Stories sebagai fiksi yang merayakan keliaran dan ketidaktaatan. Dengan kata lain, Lurie memberikan penegasan bahwa karya sastra anak yang patut justru memiliki nilai-nilai yang menantang tatanan konvensional yang cenderung mengagungkan kekuasaan dominan.

Namun, gagasan tentang “anak yang liar” perlu dibaca secara kritis. Anak bukanlah makhluk yang secara alamiah berada di luar kekuasaan. Sebaliknya, mereka terus-menerus dibentuk oleh keluarga, sekolah, agama, negara, media, dan norma sosial. Karena itu, persoalannya bukan apakah anak benar-benar bebas dari struktur kekuasaan, melainkan apakah sastra memberi mereka kesempatan untuk mempertanyakan struktur tersebut.

Bila sastra anak dalam kultur Barat menyimpan kritik sosial yang dikemas dalam hiburan edukatif, dalam konteks Indonesia sastra anak justru menyimpan pesan-pesan resistensi yang dibungkus dalam pesan-pesan moral. Pesan-pesan pembebasan tidak hanya muncul dalam sastra anak kontemporer, tetapi justru subur dan berkembang dalam sastra lisan seperti dongeng dan legenda Nusantara (folklore) (Rahmawati & Pamungkas, 2026).

Nenek moyang kita berupaya mewariskan penolakan dan perlawanan terhadap kolonialisme, patriarki, dan sistem-sistem yang merugikan dalam bentuk dongeng sebelum tidur kepada generasi penerus. Resistensi dan dekolonialisasi terhadap hegemoni kolonial tersebut diwujudkan dalam format pembebasan imajinasi anak.

Baca Juga: Bagaimana Kisah Siti Nurbaya Masih Relevan Hari Ini

Dalam Decolonizing Human, Animal, and Plant Relationship, Manggala (2025) mengamati bahwa cerita-cerita rakyat di Pulau Komodo, Lombok, Vietnam, dan Semenanjung Malaysia memiliki peta naratif yang cenderung menentang kolonialisme. Melalui semangat menjaga harmoni dan hidup berdampingan, makna-makna naratif dalam cerita rakyat lebih menekankan betapa manusia dan alam merupakan dua entitas yang saling membutuhkan. Hal tersebut berlawanan dengan kolonialisme dan patriarki yang cenderung individualistik.

Di Indonesia, cerita seperti Malin Kundang dapat juga dibaca dan diinterpretasi kembali sebagai kritik terhadap struktur keluarga patriarkal. Dilihat dari absennya sang Ayah, ibu Malin Kundang difokalisasi sebagai tokoh yang sangat bergantung pada laki-laki. Sebagai hukuman kepada struktur tersebut, sang Ibu dicerminkan sebagai seorang perempuan yang mengutuk karakter patriarkis Malin Kundang yang begitu memuja kekuasaan, kekayaan, dan egoisme.

Farid dan Aji (2025), dalam Decolonizing the Past: Integrating the Practical Past and Local Literature in Southeast Asian Primary History Education, mengamini bahwa sastra-sastra lokal dan regional menawarkan model dan struktur yang menentang kolonialisasi pengetahuan. Sastra lokal seperti cerita rakyat, legenda, dan novel-novel historis sangat membantu anak-anak mengenal, memahami, dan membangun ikatan batin dengan akar identitas mereka yang sesungguhnya. Strategi dekolonialisme ini juga dapat diterapkan untuk menentang ideologi-ideologi imperialisme secara epistemologis.

Agenda dekolonialisasi tersebut juga dibawa hingga ke ruang sastra kontemporer. Lelaki Harimau, karya Eka Kurniawan, menjadi salah satu agenda terstruktur untuk meredefinisi identitas kebangsaan kita (Fathonah, 2020).

Baca Juga: Belajar dari Nyai Ontosoroh yang Melawan Patriarki dan Rasisme di Masa Kolonial

Kendati demikian, penting untuk tidak meromantisasi cerita rakyat sebagai sesuatu yang selalu progresif. Cerita rakyat juga dapat mereproduksi hierarki, kekerasan, kelas, atau relasi gender yang timpang. Dekolonisasi justru menuntut kita untuk membaca warisan tersebut secara kritis: mempertahankan pengetahuan lokal tanpa menganggap seluruh isinya kebal dari kritik. 

Anak-Anak dan Dongeng: Sebuah Refleksi

Saya masih ingat bagaimana dulu Abi meninabobokan putri-putrinya dengan cerita Si Kancil, Si Pencuri Timun. Ia tidak hanya berhenti pada titik ketika Si Kancil menjadi sang antagonis yang selalu melakukan tindakan amoral. Abi justru menambahkan narasi bahwa Si Kancil hanya mencuri timun dari petani-petani yang pelit, lalu membagikan timun curiannya kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan.

Setelah dewasa, saya baru mengerti bahwa cerita itu tidak sepenuhnya benar dan juga tidak bisa dipastikan salah. Abi mungkin mendapat warisan cerita itu entah dari teks yang mana atau dari siapa. Narasinya juga mungkin sepenggal-sepenggal dan cenderung bias. Namun, saya berterima kasih karena dalam konstruksi beliau, Si Kancil menjadi tokoh protagonis. Saya tak perlu menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menerka mengapa Kancil mencuri.

Di samping itu, di tengah kondisi ketika buku anak sangat terbatas kala itu, saya merasa beruntung karena dongeng Abi menjadi salah satu alasan besar mengapa saya memiliki rasa ingin tahu dan concern di ranah sastra, gender, dan anak. 

Sebab, dongeng dan sastra anak adalah ideologi pemula untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan demokrasi. Dari sana, anak mampu membayangkan bahwa dunia yang berbeda itu mungkin.

(Editor: Luthfi Maulana Adhari)

(sumber foto: Amazon)

0
mutlu
Mutlu
0
_zg_n
Üzgün
0
sinirli
Sinirli
0
_a_rm_
Şaşırmış
0
vir_sl_
Virüslü
‘Don’t Tell the Grown-Ups’, Dekolonisasi Imajinasi Anak dari Patriarki
+ - 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.