Warga · 1 jam · 3 mnt baca
GUSDURian Tasikmalaya Bagikan Praktik Inklusif Hulu-Hilir Kopi di Festival Jagat
JOMBANG – Komunitas Gusdurian Tasikmalaya menghadirkan materi pemberdayaan berbasis lingkungan melalui Kelas Ekologi Pengolahan Kopi yang dilaksanakan secara outdoor di halaman venue utama Festival Jagat, Seblak, Jombang (30/8/2026). Peserta yang hadir mendengarkan berasal dari bapak dan ibu guru MA dan MTs Salafiyah Syafiiyah Seblak. Kelas ini dipandu oleh fasilitator Kang Irfan Maulana, seorang pegiat kopi yang mengakui ketertarikannya terhadap dunia kopi karena dorongan ingin dekat dengan sang guru dan mencari tahu hal yang disukainya.
Kang Irfan mengenalkan konsep hulu-hilir kopi yang berakar dari program pemberdayaan Gusdurian Tasikmalaya di lereng Tasik Barat, kawasan perbatasan Tasikmalaya dan Garut. Wilayah tersebut memanfaatkan potensi tanaman kopi di area lereng atau jurang sebagai sarana kemandirian ekonomi dan kewirausahaan. Program pembinaan ini secara khusus menyasar anak-anak kelompok rentan yang tidak menempuh pendidikan formal karena menjadi korban intimidasi masyarakat (jemaat Ahmadiyah). Mereka kerap menghadapi diskriminasi saat mendaftar sekolah dengan pertanyaan, ”Kamu Islam apa?”. Gusdurian berupaya untuk mengisi ruang kosong yang tidak terjamah oleh pemerintah setempat sebagai wujud aksesibilitas dan pendidikan inklusif. Hingga saat ini, program tersebut telah berjalan selama tiga angkatan dengan melibatkan siswa secara langsung dalam mengelola perkebunan kopi dan unit usaha lainnya.
Pembelajaran dalam Program Pengolahan Hulu-Hilir Kopi diterapkan dengan sistem observasi sekaligus praktik secara langsung, mencakup alur pengolahan dari biji petik merah yang disebut cherry hingga penyajian kopi, yang melibatkan tiga macam jenis kopi dengan proses sangrai (roasting) yang dikerjasamakan ke pihak lain. Kang Irfan berharap praktik baik ini dapat memantik ruang belajar dan curah gagasan (brainstorming) bagi para peserta bapak dan ibu yang hadir.
Selain sisi pemberdayaan sosial, Kang Irfan turut mengedukasi mengenai kesehatan dalam mengonsumsi kopi.
”Saya perhatikan kopi-kopi yang dikonsumsi, sambil ngudud itu kopi sachetan. Yang kalau dikonsumsi berdampak buruk bagi kesehatan,” ucap Kang Irfan di sela-sela forum.
Ia memahami kebiasaan masyarakat, terutama masyarakat pesantren, yang gemar merokok sambil mengonsumsi kopi sachet. Melalui kelas ini, ia mengajak peserta untuk kemudian beralih ke kopi olahan yang berkhasiat bagi tubuh. Suasana kelas pun berlangsung hangat dan sarat canda khas pesantren, di mana Kang Irfan menceritakan bahwa kopi selalu menjadi hal pertama yang dicari oleh gurunya saat ia pulang kembali ke pondok.
Ia sempat berkelakar, untuk mencairkan suasana yang perlahan menjadi serius,
”Jadi kalau buat konten, sejauh mana kopi membawamu, kopi membawaku ke Mubes NU.” Hal ini memicu gelak tawa bapak dan ibu peserta, ditambah jokes segar yang lainnya.
”Makanya, Bapak, Ibu, sebenarnya kalau Bapak, Ibu pengen tahu kopi nggak usah datang ke sini. Belajar kopi selama seminggu itu kalau pengen pinter sercing saja, tapi kita di NU ada tradisi sanad di mana harus datang langsung, Bapak, Ibu,” kelakar Kang Irfan.
Hal ini membuat semakin riuh suasana kelas dan sekitarnya.
Materi kelas juga diperkaya dengan kisah sejarah tradisi minum kopi dunia yang bermula dari kawasan Etiopia. Kang Irfan menceritakan awal mula penemuan kopi ketika seorang penggembala mendapati kambing-kambingnya tidak bisa tidur dan bertingkah semakin agresif setelah memakan buah ceri kopi. Fenomena tersebut mendorong seorang biarawan melakukan eksperimen hingga menyadari bahwa konsumsi buah tersebut mampu menghilangkan rasa kantuk di malam hari. Tradisi ini kemudian berkembang pesat ke jalur perdagangan Yaman, di mana biji kopi mulai diolah secara luas, dan menjadi sajian untuk menemani diskusi. (SDH)
The post GUSDURian Tasikmalaya Bagikan Praktik Inklusif Hulu-Hilir Kopi di Festival Jagat first appeared on Kampung Gusdurian.
Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Gusdurian.
