Beranda
⚖️

Politik

Panggung warga menyikapi dinamika politik nasional: pemilu, parlemen, kekuasaan, dan tarik-menarik elite — dengan data dan nalar, bukan bumbu sensasi.

2.314 anggota

Masuk untuk berkontribusi

Untuk menulis, bertanya, atau berbagi kisah, daftar atau masuk dulu ya.

AK
Ahmad Kosasih Marzuki· Warga
Opini

NU DAN KISAH BATU BARA DI HALAMAN PESANTREN

- Ketika Tradisi Bertemu Konsesi: Sebuah Pengantar Buku Nahdlatul Ulama dalam Bingkai Puisi Oleh Denny JA Di sebuah desa, seorang perempuan mendengar berita dari radio. Nahdlatul Ulama mendapat konsesi tambang. Jauh di bawah tanah, batu bara menunggu digali. Ia memandang pohon jati di halaman. Tiba-tiba berita ekonomi itu berubah menjadi pertanyaan moral. Berapa harga sebuah kemajuan jika bumi harus membayarnya? Ia teringat pesantren. Di sana, kiai pernah mengajarkan bahwa tanah bukan sekadar benda, sungai bukan sekadar air, dan bumi adalah amanah yang dititipkan untuk anak cucu. Malam datang. Perempuan itu pergi ke masjid. Ia tidak membawa jawaban, hanya doa dan kegelisahan yang terlalu besar untuk dipendam sendirian. -000- Kisah itu terdapat dalam puisi Sri Sunarti berjudul “Batu Bara di Halaman Pesantren”. Puisi tersebut termasuk dalam antologi Nahdlatul Ulama dalam Bingkai Puisi. Buku ini bukan sekadar kumpulan sajak mengenai organisasi. Ia mencoba sesuatu yang lebih sulit: menangkap NU sebagai pengalaman kebudayaan, ingatan, kegelisahan, doa, dan harapan. Antologi ini lahir dari kerja sama PWNU Jawa Tengah dan Satupena Jawa Tengah, dengan tim editor Gunoto Saparie, Mufid Rahma …

NU DAN KISAH BATU BARA DI HALAMAN PESANTREN
#NU#Denny JA#Nahdlatul Ulama
0
AK
Ahmad Kosasih Marzuki· Warga
Opini

Nusron Wahid "Tiarap"?

Nusron Wahid, Menteri ATR/BPN, masih tiarap. WA (Whatsapp) tak dibalas, telepon tak diangkat. Tapi, detak jantungnya, bisa jadi lebih cepat dari biasanya. Nada HP-nya mungkin silent tanpa notifikasi. Tapi, kebisingan bukan lagi di telinga, tapi di dalam dada. Kalau saya, bukan 4 dari 8 tersangka yang diumumkan KPK semalam yang merupakan orang kepercayaan Menteri Nusron, melainkan ke-8-nya. Tidak hanya Fahd El Fouz alias Fahd Arafiq, legenda koruptor di Indonesia, Arif Sugiono, Erwin, dan Muhammad Fakhry. Tapi juga, Lampri, yang merupakan Dirjen di Kementerian ATR/BPN. Dirjen mustahil bukan orang kepercayaan menteri. Lalu, Sontang Coin Manurung, Adrianto Pitojo Adi, dan Rizal Pahlevi. Semuanya adalah orang kepercayaan Menteri Nusron. Minimal, orang kepercayaan dari orang kepercayaan Menteri Nusron. Jadi, wajar, Menteri Nusron masih tiarap. Bayangkan, semua unsur lengkap. Pejabat negara, pihak swasta, dan termasuk parpol. Dari parpol, Fahd Arafiq, memang satu partai pula dengan Menteri Nusron. Boleh dibilang, semua bidak-bidak yang "dimainkan" oleh sang mentari. Entahlah, pembelaan seperti apa yang sedang dipersiapkan Menteri Nusron pada saat nanti muncul di hadapan publik? Tidak tahukah? Mainan anak-anak di bawahkah? Ditipu anak buah? Dikadalin bawahan? Atau apa? Kiranya, semuanya, belum ada yang pas sebagai kata-kata mujarab, alibi, atau alasan. KPK belum menetapkan Menteri Nusron sebagai tersangka, baru bisa mengatakan bahwa 4 dari 8 tersangka adalah kepercayaan menteri, berarti masih terputus benang merah ke arah itu. Artinya, belum ada yang berani dari para tersangka atau orang yang dianggap kepercayaan menteri itu yang mau bicara. Masih bungkam. Masih melenan bulat-bulat sendiri. Apalagi, ada si lejen Fahd Arafiq di dalamnya. Orang yang sudah tiga kali (hattrick) ditangkap KPK, dan terbukti tidak bisa lolos dari hukuman. Artinya, dia sudah berpengalaman. Kalau tertangkap, maka tanggung jawab sendiri-sendiri. Di kalangan mafia, hukum seperti itu sudah menjadi semacam tradisi. Memang, sulit korupsi dihapus dari negeri ini. Jangankan dalam kenyataan, dalam mimpi pun mungkin tidak akan pernah terjadi korupsi hilang di negeri ini. (ERIZAL)

Nusron Wahid "Tiarap"?
#Nusron Wahid#Menteri ATR
0
AK
Ahmad Kosasih Marzuki· Warga
Opini

Menyepak Purbaya Bisa Menjadi “Gol Bunuh Diri” Prabowo

Makin seru saja cerita disepaknya Purbaya dari istana. Luar biasa tanggapan netizen, apalagi pengikut Partai Koptagul, paling gercep. Simak lagi lanjutannya sambil seruput Koptagul, wak! Politik itu kadang mirip sepak bola. Lawan belum menyerang, pemain sendiri malah menendang bola ke gawang. Kalau di stadion disebut gol bunuh diri. Kalau di Istana mungkin disebut penyegaran kabinet. Presiden Prabowo Subianto menyepak Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan. Suahasil Nazara masuk menggantikan. Ia langsung bersumpah dan berjanji: APBN sehat, kredibel, dapat dipercaya, defisit di bawah 3 persen, dan program prioritas pemerintah tetap jalan. Janji sudah direkam kamera. Mikrofon juga sudah bekerja. Tinggal rakyat menunggu hasil. Namun publik mulai bertanya nakal, benarkah Purbaya diganti karena persoalan ekonomi? Sebab muncul kecurigaan lain lebih gurih untuk digoreng. Ada soal Rp120 triliun harus disetor Danantara ke APBN, dana MBG tak boleh dipotong, Bea Cukai jangan diobok-obok, dan berbagai urusan fiskal lainnya. Belum tentu benar. Belum tentu juga salah. Itu baru kecurigaan publik. Tetapi kalau sudah menyangkut uang triliunan, rakyat mendadak berubah menjadi auditor. Kalkulator keluar, alis naik. Yang bikin situasi makin menarik, Purbaya bukan menteri popularitasnya sedang tenggelam. Bukan menteri yang ono, kerja tak jelas, kursi aman. Survei IndexPolitica menempatkan Purbaya peringkat kedua bursa capres 2029 dengan 22,50 persen, hanya kalah dari Prabowo. Bursa cawapres malah menempatkannya di posisi pertama dengan 28,65 persen, mengalahkan Dedi Mulyadi, AHY hingga Gibran. Beberapa lembaga juga mencatat kepuasan terhadap kinerjanya mencapai 84,1 persen. Gaya blak-blakannya yang disebut sebagian orang sebagai “Purbaya Effect” justru disukai publik yang sudah bosan dengan bahasa birokrasi yang kalau diterjemahkan ke bahasa rakyat membutuhkan tiga gelas kopi dan satu kamus. Masalahnya, popularitas Purbaya berhadapan dengan tren kepuasan terhadap Prabowo yang sedang anjlok. SMRC: 81,2 persen November 2025, turun menjadi 66,4 persen Februari-Maret 2026, lalu 51,1 persen Juli 2026. Poltracking: dari 78,1 persen Oktober 2025 menjadi 55,1 persen Agustus 2026. Tempo Data Science: 75 persen Desember 2025, turun ke 58 persen Maret, lalu ambruk ke 37 persen Agustus 2026. ASI masih mencatat 57,6 persen Juli 2026, tetapi arahnya tetap menurun. Ekonomi memang menjadi salah satu biang kerok: harga kebutuhan pokok, lapangan kerja dan daya beli terus dikeluhkan. Tapi angka fiskal Purbaya sendiri tidak sedang berantakan. Defisit APBN masih di bawah 3 persen. Realisasi Juli-Agustus 2026 sekitar 0,9 persen PDB, outlook akhir tahun 2,85 persen. Penerimaan pajak tumbuh 23,7 persen. Sementara rasio utang bertahan di kisaran 40 persen. Maka muncul pertanyaan usil, kalau bukan karena angka ekonomi, apakah ada angka lain yang bikin kursi Menkeu bergeser? Rp120 triliun Danantara? MBG? Bea Cukai? Atau tarik-menarik kepentingan fiskal lainnya? Belum ada jawaban pasti. Jangan buru-buru membuat konspirasi sampai setebal skripsi. Namun jika nanti ekonomi membaik, Prabowo tentu menang. Kalau APBN sehat dan program pemerintah lancar, pergantian Purbaya terbukti tepat. Tetapi kalau harga makin menggila, pekerjaan makin sempit, daya beli makin loyo, sementara persoalan Danantara, MBG dan Bea Cukai terus berisik, publik akan kembali mengingat satu hal, Purbaya sudah disepak ketika popularitasnya masih tinggi. Kalau ternyata keputusan itu salah, sejarah mungkin tidak menyebutnya pergantian menteri. Sejarah bisa saja menyebutnya, gol bunuh diri paling mahal di lapangan politik. Kita hanya bisa menonton aksi para elite mengendalikan negeri di tengah susahnya warga Kalimantan bernafas. Foto Ai hanya ilustrasi Rosadi Jamani #camanewak #jurnalismeyangmenyapa

Menyepak Purbaya Bisa Menjadi “Gol Bunuh Diri” Prabowo
#Prabowo#Purbaya
0
Sudah sampai akhir feed.
    Temukan lebih banyak
    politik
    Baca Isu Politik
    Politik