Warga · 17 jam · 6 mnt baca
Gang, Kota, dan Energi yang Menghidupinya



Susur Gang Samarinda sudah beberapa kali melintasi kawasan perbukitan dan gang-gang kecil di sekitar Jalan KS Tubun, Bhayangkara, Pasundan, Kampung Jawa, hingga Samarinda Kota.
Salah satu jalur yang cukup menarik berada di sebuah gang kecil di samping Gang Arjuna 2. Jalur itu mengarah ke kawasan Jalan Bhayangkara dan Taman Samarendah. Di sana ada sebuah tembok yang dijebol. Entah siapa yang menjebolnya. Yang jelas, lubang itu menjadi jalan bagi Kawan Susur untuk masuk ke sebuah kebun di lereng bukit.
Di bawah kebun tersebut terdapat kolam air dan sebuah bangunan kecil. Tempat itu ternyata merupakan kolam pengendapan milik Perumdam Tirta Kencana Samarinda.
Jalan menuju ke lokasi cukup licin. Lumut tumbuh di beberapa bagian dan membuat langkah harus lebih hati-hati. Di ujung jalur, kami menemukan sebuah rumah tua. Atapnya berbentuk limasan, sementara dindingnya terdiri dari tembok dan kayu. Sekilas, bangunan itu mengingatkan pada rumah-rumah peninggalan Belanda. Namun, bentuknya juga tidak cukup meyakinkan untuk langsung disebut sebagai bangunan kolonial.
Di sekitar kawasan itu memang berkembang cerita tentang Hantu Anak Belanda. Konon, ada anak-anak Belanda yang tertimbun di sebuah gua setelah bermain air. Pada 1932, pemerintah kolonial Belanda membangun sistem pengolahan air di kawasan yang kini menjadi kompleks Perumdam Tirta Kencana.
Setelah beberapa kali melewati kawasan itu, kami bertemu seorang warga setempat yang sedang memberi makan ayam. Sambil menebar sisa makanan, ia bercerita bahwa rumah tua tersebut adalah bekas stasiun penyiaran pertama RRI Samarinda. Sejak saat itu, jalur tersebut kami kenal sebagai Jalur RRI.
Namun, jangan sembarangan masuk! Sebab sebagian jalurnya melewati area belakang Perumdam dan berada dekat kolam pengendapan yang termasuk kawasan Objek Vital.
****
Susur Gang Samarinda sendiri terbentuk secara organik. Kegiatan ini tidak lahir dari workshop, seminar, atau rapat panjang yang menghasilkan rencana tindak lanjut. Tidak ada pula visi, misi, AD/ART, SOP, atau dokumen organisasi yang menjelaskan ke mana kegiatan ini harus berjalan.
Kalau ada aturan, mungkin hanya satu: Datang jam 5 artinya terlambat.
Susur Gang bermula pada masa pandemi Covid-19, ketika aktivitas masyarakat dibatasi. Karena tidak bisa bepergian jauh, muncul gagasan untuk tetap bergerak tanpa melanggar aturan pembatasan sosial dan protokol kesehatan. Akhirnya, jalan kaki menjadi pilihan.
Mula-mula, komunitas ini berkumpul di daerah yang disebut Mexico, tepatnya di sekitar kawasan Jalan KS Tubun. Dari situ mereka melintasi jalur naik-turun perbukitan Argamulya, menyusuri gang-gang kecil di antara permukiman, dan sesekali melewati jalan setapak di kebun warga.
Seiring waktu, jalur yang mereka tempuh semakin panjang. Saat menuju arah kota, perjalanan bisa mencapai Citra Niaga, Pelabuhan, dan kawasan sekitarnya. Ke arah lain, mereka menjelajah Karang Mumus, Pasar Segiri, kawasan Universitas Mulawarman, Raudah, Pasar Ijabah, hingga tepian Mahakam.
Kisah dalam perjalanan tersebut kemudian dibagikan melalui akun media sosial masing-masing. Perlahan, orang mulai memperhatikan kegiatan ini, terutama ketika beberapa catatan perjalanan menyoroti berbagai persoalan kota, termasuk Program Pro Bebaya yang saat itu sedang ramai dibicarakan.
Pada dasarnya, Susur Gang adalah kegiatan yang sederhana. Murah, mudah, dan menyenangkan.
Pada akhir 2024, kegiatan ini mulai dikelola lebih serius. Jadwal jalan sore setiap Selasa dan Jumat diumumkan secara terbuka melalui media sosial. Sebuah akun Instagram resmi juga dibuat dan dikelola oleh admin. Pesertanya pun semakin banyak. Setiap perjalanan kini bisa diikuti belasan orang.
Jalur yang ditempuh juga semakin luas. Tidak hanya berkutat di Samarinda Ulu dan sebagian Samarinda Kota, Susur Gang mulai menjelajah Samarinda Ilir, Sungai Kunjang, hingga Samarinda Seberang.
****
Kota sering dipahami sebagai kumpulan jalan raya, pusat perdagangan, gedung, dan ruang-ruang tempat orang mengejar kepentingannya masing-masing.
Orang bisa tinggal puluhan tahun di sebuah kota, tetapi hanya memiliki sedikit cerita tentang tempat tinggalnya sendiri. Yang diingat mungkin hanya perjalanan karier, peluang usaha, investasi, cicilan, dan berbagai urusan yang membuat hidup semakin sibuk. Padahal, kota tidak hanya hidup di jalan-jalan besar.
Di balik gang-gang sempit, kehidupan berlangsung dengan cara yang berbeda. Warga saling menyapa. Anak-anak bermain. Aroma masakan dari dapur bercampur di udara. Rumah-rumah berdiri berdekatan, dan kehidupan sehari-hari terlihat tanpa banyak penyaring.
Gang menyimpan wajah kota yang sering tidak terlihat dari jalan utama.
Di kota, ada banyak lorong dan jalan kecil yang membentuk labirin kehidupan. Ruangnya mungkin sempit, tetapi cerita yang tersimpan di dalamnya bisa sangat luas.
Gang adalah semacam perpustakaan besar yang menyimpan kisah tentang kota. Banyak cerita di sana yang tidak masuk dalam dokumen kebijakan, tidak muncul dalam pemberitaan, dan sering luput dari perhatian.
Memasuki sebuah gang berarti masuk lebih dalam ke kehidupan kota.
Kadang, kita menemukan kawasan yang mungkin dianggap kumuh dan suatu hari direncanakan untuk digusur demi taman atau ruang terbuka hijau. Bagi sebagian orang, perubahan itu mungkin dianggap sebagai tanda bahwa kota semakin rapi dan modern. Namun, kehidupan yang ada di sana sering kali lebih rumit daripada sekadar label slum area.
Di kawasan-kawasan seperti itu, ada warga yang memproduksi tahu dan tempe. Ada pula gang kecil yang sering banjir karena dulunya merupakan rawa, tetapi dari sana lahir usaha keripik singkong yang dinikmati banyak orang.
Di tempat lain, mungkin ada sebuah rumah dan bengkel di depan kuburan yang seluruh kebutuhan energinya dipenuhi oleh tenaga surya.
Cerita-cerita seperti ini jarang terlihat jika kita hanya melewati jalan raya.
Karena itu, menyusuri gang bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Di sana ada interaksi antarsesama Kawas Susur maupun warga yang tinggal di relung kota.
Lebih dari itu, Windasari, mahasiswa Prodi Kesmas Universitas Mulawarman menilai komunitas Susur Gang Samarinda yang mengkampanyekan jalan kaki sebagai alat atau moda transportasi bebas emisi. Menurutnya dengan berjalan kaki, kita tengah diingatkan bahwa yang disebut energi bukan hanya listrik dan bahan bakar minyak. Masih banyak energi alami yang ditemukan di gang-gang. Masyarakat yang masih memakai kayu bakar atau biomassa untuk keperluan domestik. Atau warga yang memakai angin untuk menimbulkan bebunyian guna mengusir hewan atau binatang pengganggu.
Hanya saja arti energi makin menyempit hingga makan biaya. Masyarakat makin tergantung pada energi yang disediakan oleh provider, listrik oleh PLN dan BBM oleh Pertamina.
Jalan kaki yang nol biaya, nol emisi, makin terlupakan. Kalaupun ada yang berjalan kaki lebih dimaknai sebagai rekreasi dan olahraga atau malah dianggap miskin.
Menurut BPS, jumlah kendaraan roda dua di Samarinda sampai 2024 adalah 993,224 unit. Sedangkan jumlah penduduknya pada Desember 2024 adalah 881,225 jiwa. Dengan begitu, jumlah motor lebih banyak dari jumlah penduduknya.
Bukan hanya malas berjalan kaki, karena setiap orang punya motor, transportasi umum atau massal juga tak berkembang di Kota Samarinda. Transportasi yang berwatak privat membuat konsumsi energi menjadi tinggi.
Jadi memperbanyak jalan kaki, mengurangi pemakaian transportasi privat merupakan langkah awal untuk warga Samarinda berpartisipasi dalam transisi energi. Tanpa membiasakan diri untuk jalan kaki, niscaya upaya untuk membangkitkan atau mengembangkan kembali transportasi massal sebagai langkah untuk mengurangi konsumsi BBM berbasis fosil akan berakhir sia-sia.
Penulis: Yustinus Sapto Hardjanto
Sumber: kesah.id
Artikel Gang, Kota, dan Energi yang Menghidupinya pertama kali tampil pada Jaring.
Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://jaring.id.
