Warga · 17 jam · 3 mnt baca
Tradisi yang Terancam Hilang di Sungai Lematang



Bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Lematang, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, sungai bukan sekadar bentang alam yang membelah permukiman. Sejak dahulu, Sungai Lematang yang membentang sepanjang 443 kilometer ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus ruang tempat berbagai tradisi diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Salah satunya adalah tradisi memandikan bayi di sungai. Ritual ini biasanya dilakukan setelah tali pusar bayi lepas atau putus. Bagi keluarga yang menjalankannya, tradisi tersebut bukan sekadar memandikan bayi, melainkan sebuah doa dan harapan bagi kehidupan sang anak.
Namun, tradisi yang dahulu dilakukan dengan tenang kini menyimpan kegelisahan. Perubahan lingkungan di sekitar Sungai Lematang membuat sebagian keluarga harus berhadapan dengan pertanyaan sederhana tetapi penting: masih amankah membawa bayi yang baru lahir ke sungai?
Ana, warga Desa Muara Maung, Kecamatan Merapi Barat merasakan kegelisahan itu ketika sang nenek meminta dirinya memandikan bayinya yang baru berusia sekitar sepekan di Sungai Lematang. “Awalnya, saya dan suami bingung serta takut bayi kami sakit karena air sungai kini telah bercampur limbah tambang batu bara dan dari pembuangan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU),” kata Ana awal tahun lalu.
Bagi Ana dan keluarganya, permintaan sang nenek sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Tradisi tersebut telah lama dikenal dan dijalankan oleh masyarakat di sekitar sungai. Buat mereka sungai merupakan bagian dari ruang budaya masyarakat, tempat doa, harapan, dan penanda kehidupan baru seorang anak. Hanya saja, kondisi sungai yang berubah membuat sebuah tradisi yang dahulu dianggap biasa kini harus dipertimbangkan kembali.
Ana menyadari bahwa tradisi yang mengandung banyak makna baik tersebut semakin sulit dipertahankan dalam bentuk aslinya. Perubahan lanskap di sekitar kawasan, aktivitas pertambangan batu bara, serta keberadaan industri dan PLTU telah memunculkan kekhawatiran mengenai kualitas air Sungai Lematang.
Bagi masyarakat yang telah lama menggantungkan kehidupan pada sungai, perubahan itu terasa bukan hanya pada air yang terlihat secara kasatmata, tetapi juga pada hilangnya pengalaman-pengalaman yang dahulu begitu dekat dengan kehidupan mereka.
Warga setempat mengenang masa ketika Sungai Lematang dan anak-anak sungainya masih menjadi habitat berbagai jenis ikan. Mereka mengenal istilah “ikan mudik,” yakni masa tertentu ketika ikan dalam jumlah banyak dan beragam bergerak memenuhi sungai dan anak sungai, termasuk Sungai Kungkilan.
Fenomena tersebut dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Sungai tidak hanya menjadi sumber air, tetapi juga sumber pangan dan ruang untuk berinteraksi dengan alam. Kehadiran ikan yang melimpah menjadi penanda musim sekaligus bagian dari pengetahuan lokal yang diwariskan antar-generasi.
Kini, cerita tentang ikan mudik lebih banyak tinggal sebagai kenangan. “Dulu kami mengenal ikan mudik, ada masa atau waktu tertentu ikan banyak dan beragam memenuhi Sungai Lematang dan anak sungainya, seperti Sungai Kungkilan. Tetapi, kini tinggal kenangan, karena air sungai pun kini sudah bercampur limbah,” kata seorang warga desa yang enggan disebutkan namanya.
Meski demikian, sungai masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Sebagian warga hingga kini masih memanfaatkan air sungai untuk mandi dan berbagai aktivitas lainnya, meskipun kekhawatiran mengenai kualitas air terus membayangi.
Penulis: Agung
Sumber: Simbur Cahaya
Artikel Tradisi yang Terancam Hilang di Sungai Lematang pertama kali tampil pada Jaring.
Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://jaring.id.
