Mubadalah.id – Plastik adalah benda yang sering kali selesai digunakan sebelum kita sempat memikirkan ke mana benda tersebut akan pergi. Kantong plastik hanya menemani belanjaan dari toko ke rumah. Sedotan berakhir setelah beberapa tegukan. Botol minuman sekali pakai pun kerap menjadi sampah begitu isinya habis. Namun, berakhirnya penggunaan tidak berarti berakhirnya perjalanan.
Plastik mungkin hanya digunakan selama beberapa menit, tetapi jejak yang ditinggalkannya dapat bertahan jauh lebih lama daripada usia manusia. Plastik hadir dalam hampir setiap aktivitas sehari-hari. Misalnya, membungkus makanan, membawa belanjaan, menyajikan minuman, hingga mengemas berbagai produk sebelum akhirnya berpindah dari tangan manusia ke lingkungan.
Tempat sampah bukanlah akhir dari perjalanan plastik. Setelah dibuang, plastik dapat menuju tempat pembuangan akhir, tercecer ke lingkungan, terbawa aliran sungai ke laut, atau mengalami pelapukan dan terfragmentasi menjadi partikel-partikel yang semakin kecil.
Di sinilah persoalan plastik menjadi lebih kompleks. Masa gunanya yang singkat berhadapan dengan karakter material yang sangat persisten di lingkungan. Berbagai perkiraan menunjukkan bahwa sejumlah produk plastik dapat bertahan selama puluhan hingga ratusan tahun.
Bahkan lebih lama, bergantung pada jenis material dan kondisi lingkungan. Kantong plastik, botol, sedotan, hingga alat tangkap berbahan plastik seperti jaring pancing dapat meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada waktu penggunaannya.
Ketimpangan Masa Guna dan Dampaknya
Persoalannya bukan semata-mata berapa lama plastik bertahan. Persoalannya adalah ketimpangan antara masa guna dan dampaknya. Benda yang digunakan selama beberapa detik dapat meninggalkan jejak yang bertahan jauh lebih lama daripada usia manusia. Di situlah utang ekologis bermula.
Kenyamanan yang dinikmati sesaat meninggalkan konsekuensi yang harus ditanggung lingkungan dalam waktu yang jauh lebih panjang. Setiap benda plastik yang dibuang tidak serta-merta menghilang. Plastik hanya berubah bentuk dan berpindah tempat.
Seiring waktu, paparan sinar matahari, gelombang, gesekan, dan berbagai proses lingkungan dapat menyebabkan plastik mengalami pelapukan dan terfragmentasi menjadi partikel yang semakin kecil. Partikel plastik berukuran hingga lima milimeter umumnya disebut mikroplastik. Pada ukuran yang jauh lebih kecil, plastik dapat hadir dalam bentuk nanoplastik.
Mikroplastik tidak tinggal di satu tempat. Partikel ini dapat berpindah melalui berbagai media lingkungan dan kita temukan di berbagai ekosistem. Perpindahan tersebut juga membuka jalur paparan bagi manusia melalui makanan, air, dan udara.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meninjau paparan manusia melalui ketiga jalur tersebut, meskipun dampaknya terhadap kesehatan manusia masih menyisakan ketidakpastian ilmiah dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Sebelum berubah menjadi partikel yang nyaris tak terlihat, sampah plastik juga telah menimbulkan dampak yang lebih mudah kita kenali. Plastik dapat tertelan oleh satwa atau menjerat tubuh hewan hingga menghambat pergerakan dan aktivitas alaminya. Di lingkungan laut, alat tangkap berbahan plastik yang hilang juga dapat terus menjadi ancaman bagi satwa.
Dampak Mikroplastik
Dampak mikroplastik juga mulai terlihat bukan hanya dari keberadaannya di lingkungan, tetapi dari interaksinya dengan tubuh makhluk hidup. Penelitian dalam jurnal Nature Ecology & Evolution pada 2023 terhadap 85 burung laut liar, 58 Cory’s shearwaters dari Azores dan 27 northern fulmars dari Baffin Bay menemukan, bahwa jumlah mikroplastik dalam saluran pencernaan berkorelasi dengan perubahan keragaman dan komposisi mikrobioma usus.
Jumlah mikroplastik yang lebih tinggi juga berkaitan dengan menurunnya sejumlah mikroorganisme komensal serta meningkatnya mikroorganisme yang terkait dengan patogen, resistensi antibiotik, dan kemampuan mendegradasi plastik.
Temuan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa mikroplastik menyebabkan seluruh perubahan biologis itu. Namun, penelitian tersebut memperlihatkan bahwa persoalan mikroplastik tidak berhenti pada pencemaran yang kasatmata. Partikel-partikel kecil tersebut dapat berasosiasi dengan perubahan biologis yang lebih kompleks di dalam tubuh makhluk hidup.
Perubahan bentuk plastik menjadi partikel yang lebih kecil tidak berarti persoalannya menjadi lebih ringan. Sebaliknya, ukuran yang semakin kecil membuat keberadaannya semakin sulit terlihat dan terpisahkan dari lingkungan. Dari benda yang semula dapat terpegang, plastik dapat berubah menjadi partikel yang bergerak melalui ekosistem dan memasuki berbagai jalur kehidupan.
Membutuhkan Penelitian Lebih Lanjut
Di sinilah persoalan manusia menjadi relevan untuk dibicarakan. Manusia dapat terpapar mikroplastik melalui makanan, air, dan udara. Namun, sejauh mana paparan tersebut berdampak terhadap kesehatan manusia masih belum dapat terjawab secara tuntas. WHO menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami risiko paparan mikroplastik. Ketidakpastian ilmiah tersebut tidak semestinya menjadi alasan untuk menunggu.
Beberapa mungkin belum mengetahui seluruh konsekuensi mikroplastik terhadap tubuh manusia. Namun, kita telah mengetahui bahwa plastik dapat bertahan lama di lingkungan, mengalami fragmentasi menjadi partikel yang lebih kecil, berpindah melalui berbagai ekosistem, dan berinteraksi dengan kehidupan makhluk hidup.
Karena itu, mengurangi penggunaan plastik bukan semata-mata tentang mengubah satu kebiasaan kecil. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan upaya untuk menghentikan penambahan utang ekologis yang terus terwariskan.
Setiap plastik sekali pakai yang berhasil dikurangi hari ini berarti satu jejak yang tidak perlu ditanggung lingkungan dalam waktu yang jauh lebih panjang. Sebab, kenyamanan yang kita nikmati selama beberapa menit tidak semestinya menjadi utang yang harus dilunasi lingkungan selama berabad-abad. []
