Mubadalah.id – Kasus Febiola dan MBG membuat kita kembali mempertanyakan sesuatu yang seharusnya sederhana yakni makanan. Ia hadir untuk mengenyangkan, menyehatkan, dan membantu seseorang menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Febiola mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 13 Agustus 2026. Ia kemudian menjalani perawatan di lima rumah sakit. Keluarganya menyebut kemampuan mengingat Febiola menurun hingga sekitar 70 persen. Ia bahkan tidak lagi mengenali ayah, adik, guru, dan teman-teman sekolahnya.
Namun, penting untuk tidak tergesa-gesa menyimpulkan bahwa MBG merupakan penyebab medis langsung dari kondisi tersebut. Pemeriksaan mengenai penyebab gangguan kesehatan Febiola masih berlangsung. Sejumlah kemungkinan medis masih ditelusuri oleh tenaga kesehatan.
Di balik proses medis tersebut, ada persoalan lain yang tidak kalah penting yakni siapa yang bertanggung jawab ketika program yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan anak justru membuat seorang anak dan keluarganya menghadapi penderitaan panjang?
Anak Bukan Sekadar Penerima Manfaat
Makan Bergizi Gratis merupakan program yang menempatkan anak sebagai salah satu penerima manfaat utama. Karena itu, anak tidak seharusnya dipandang hanya sebagai angka dalam daftar penerima makanan.
Kasus Febiola dan sepiring MBG tidak cukup dilihat sebagai persoalan makanan. Ia juga menyangkut bagaimana negara memastikan hak dan keselamatan anak dalam sebuah program publik.
Setiap anak memiliki tubuh, kesehatan, pendidikan, keluarga, cita-cita, dan masa depan yang perlu kita lindungi
Dalam perspektif Mubadalah, relasi sosial ideal tidak dibangun melalui hubungan satu arah antara pihak yang memberi dan pihak yang menerima. Relasi tersebut semestinya menghadirkan prinsip kesalingan, kemitraan, keadilan, dan kemaslahatan.
Cara pandang ini penting untuk membaca program publik.
Negara memang berkewajiban menghadirkan makanan bergizi bagi anak. Namun, tanggung jawab negara tidak berhenti ketika makanan sampai di tangan siswa. Ada tanggung jawab untuk memastikan makanan aman, proses distribusinya layak, pengawasannya berjalan, serta tersedia mekanisme penanganan ketika terjadi masalah.
Dengan demikian, keberhasilan program tidak cukup diukur dari berapa banyak makanan yang dibagikan. Pertanyaan yang lebih penting adalah “apakah anak-anak benar-benar menjadi lebih sehat dan terlindungi setelah menerima makanan tersebut?”
Karena itu, kasus Febiola dan MBG perlu menjadi bahan evaluasi agar program yang ditujukan untuk anak benar-benar menghadirkan kemaslahatan.
Bergizi Saja Tidak Cukup
Istilah “bergizi” sering membuat kita berhenti pada persoalan kandungan makanan. Padahal, makanan yang baik tidak hanya harus bergizi. Ia juga harus aman.
Anak membutuhkan makanan yang membantu pertumbuhan, bukan makanan yang justru berpotensi membahayakan kesehatan. Karena itu, kemaslahatan anak tidak dapat dipersempit menjadi persoalan perut kenyang. Kemaslahatan juga mencakup hak untuk sehat, belajar, tumbuh, merasa aman, dan mempertahankan kualitas hidupnya.
Kasus Febiola memperlihatkan mengapa standar tersebut penting. Ketika seorang anak harus menjalani perawatan berulang setelah mengalami gangguan kesehatan, persoalannya tidak lagi sebatas satu porsi makanan. Dampaknya dapat merembet pada pendidikan, hubungan sosial, kondisi psikologis, dan ekonomi keluarga.
Febiola telah menjalani perawatan di lima rumah sakit. Keluarganya juga menghadapi kebutuhan pengobatan, makanan khusus, vitamin, dan susu. Ayahnya mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan tersebut karena pengeluaran terus berjalan, sementara kemampuan bekerja ikut terganggu. Di sinilah perspektif Mubadalah menjadi penting.
Ketika Beban Perawatan Jatuh kepada Keluarga
Sakitnya seorang anak hampir selalu membawa konsekuensi bagi seluruh keluarga. Ada orang tua yang harus menemani di rumah sakit. Mereka harus meninggalkan pekerjaan dan mencari biaya tambahan. Bahkan, terdapat beban emosional ketika orang tua harus melihat kondisi anaknya berubah secara drastis.
Dalam kasus Febiola, orang tuanya disebut mengalami kesulitan bekerja karena harus mendampingi pengobatan. Keluarga juga telah mengeluarkan biaya dari tabungan dan masih harus memenuhi kebutuhan khusus Febiola.
Persoalan ini perlu kita baca sebagai persoalan keadilan perawatan. Jangan sampai ketika negara menghadirkan sebuah program sosial, manfaatnya terhitung sebagai tanggung jawab negara, tetapi risikonya dikembalikan kepada keluarga.
Apalagi, pekerjaan perawatan dalam keluarga sering kali tidak terlihat. Ia tidak masuk dalam angka pertumbuhan ekonomi, tetapi menghabiskan waktu, tenaga, uang, dan kesempatan seseorang untuk bekerja.
Perspektif Mubadalah mengajarkan bahwa relasi yang adil membutuhkan kesalingan dalam menjalankan tanggung jawab. Maka ketika seorang anak mengalami masalah kesehatan yang diduga berkaitan dengan penyelenggaraan program publik, keluarga tidak seharusnya dibiarkan menanggung seluruh konsekuensinya sendirian.
Negara Tidak Hanya Hadir Saat Memberi
Program sosial yang berpihak kepada anak seharusnya tidak hanya kuat ketika memberikan manfaat, tetapi juga kuat ketika menghadapi risiko.
Jika makanan didistribusikan kepada anak, maka harus ada sistem pengawasan keamanan pangan yang kuat. Jika terjadi dugaan kejadian luar biasa, harus ada mekanisme respons yang cepat. Serta apabila seorang anak mengalami dampak kesehatan serius, harus tersedia pendampingan medis dan perlindungan yang memadai.
Lebih jauh, keluarga korban juga membutuhkan kepastian. Mereka perlu mengetahui apa yang terjadi, bagaimana pihak berwenang menelusuri penyebabnya, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana pemerintah menjamin proses pemulihan.
Karena itu, evaluasi sepiring MBG tidak cukup berhenti pada pertanyaan tentang bagaimana makanan diproduksi dan didistribusikan. Evaluasi juga harus melihat bagaimana negara melindungi anak ketika sistem mengalami kegagalan.
Jangan Jadikan Febiola Sekadar Angka
Di tengah ramainya perbincangan mengenai MBG, kita perlu berhati-hati agar Febiola tidak kehilangan kemanusiaannya untuk yang kedua kali.
Ia bukan sekadar “anak yang kehilangan ingatan 70 persen”. Ia bukan sekadar anak yang kehilangan ingatan. Ia adalah anak perempuan, pelajar, bagian dari keluarganya, teman bagi orang-orang di sekolahnya, dan seseorang yang memiliki masa depan.
Sebelum sakit, orang-orang mengenal Febiola sebagai siswi berprestasi dan aktif di sekolah. Kini, keluarganya harus menghadapi kondisi ketika ia tidak lagi mengenali orang-orang terdekatnya.
Karena itu, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya, “Apa yang terjadi pada Febiola?” Kita juga perlu bertanya, “Apa yang akan dilakukan kita ketika seorang anak kehilangan sebagian kehidupannya setelah menerima sesuatu yang seharusnya menjadi haknya?”
Pertanyaan tersebut membawa kita kembali pada makna kesalingan. Negara tidak hanya hadir sebagai pemberi. Keluarga tidak hanya menjadi penanggung risiko. Anak tidak hanya menjadi penerima manfaat.
Semuanya harus kita tempatkan dalam relasi yang saling menjaga. Sebab makanan bergizi seharusnya membuat anak tumbuh lebih sehat, bukan membuat keluarga bertanya-tanya bagaimana mereka akan bertahan menghadapi biaya pemulihan.
Dan ketika seorang anak membutuhkan perlindungan, tanggung jawab itu tidak boleh berhenti di meja makan. Anak bukan sekadar penerima manfaat sebuah kebijakan. Anak adalah manusia yang harus kita lindungi martabat, kesehatan, keselamatan, dan masa depannya. []





Comments are closed.