Maria Anfrida bersama keluarga terbangun saat tanah tempatnya tinggal tiba-tiba berguncang, Sabtu (15/8/26). Bersama anak dan kedua orang tuanya, mereka menyelamatkan diri melalui pintu samping diikuti sumainya, Gonsales Lorang yang lari lewat pintu depan. “Saya sudah di halaman ketika bangunan rumah ambruk. Terlambat sedikit saja pasti saya terkena reruntuhan,” kata Gonsales, warga Desa Mekendetung, Kabupaten Sikka, kepada Mongabay, Selasa (25/8/26). Perlu dua tahun bagi Gonsales bekerja sebagai buruh perkebunan di Kalimantan untuk bisa membangun rumah tembok beratap seng itu. Hanya dalam sekejap, hasil jerih payahnya itu rata dengan tanah, tak kuat menahan guncangan berkekuatan magnitudo 7,7 itu. Beberapa rumah lain di desanya juga alami kondisi serupa. Gonsales bingung. Kampung mereka jauh di pegunungan, sedang rumah-rumah di Kota Maumere, nyaris tak ada yang ambruk. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 30 Agustus, 95.567 rumah di tujuh kabupaten di Pulau Flores terdampak. Rinciannya, 46.161 rusak ringan, 21.992 rusak sedang dan 27.414 rumah rusak berat. Selain itu, peristiwa itu juga sebabkan 111 orang meninggal dunia, 1.631 luka-luka, dengan 223 luka berat dan 1.408 luka ringan serta, 188.161 orang mengungsi. Seorang warga memandangi rumahnya yang hancur terkena gempa. Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia. Kelemahan sistemik Norman Riwu Kaho, Ketua Forum Penanggulangan Risiko Bencana (FPRB) NTT, mengatakan, saat ini, prioritas penanganan masih fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar warga, i seperti berupa air bersih, pangan, hunian darurat dan sanitasi. Juga termasuk pelayanan kesehatan, perlindungan kelompok rentan, pembukaan akses jalan yang masih terputus serta pendataan penyintas berdasarkan nama dan alamat. Mengingat, kata Norman, hampir 9…This article was originally published on Mongabay
Belajar dari Bencana NTT, Bagaimana Dorong Bangun Rumah Tahan Gempa?
Belajar dari Bencana NTT, Bagaimana Dorong Bangun Rumah Tahan Gempa?
0
Share
