Beranda
๐Ÿ“–

Story

Cerpen, kisah nyata, dan narasi personal warga โ€” ruang berbagi cerita yang menyentuh, menginspirasi, dan menghibur.

154 anggota

Masuk untuk berkontribusi

Untuk menulis, bertanya, atau berbagi kisah, daftar atau masuk dulu ya.

BT
Budiman Tanuredjoยท Warga
22 jamยท๐Ÿ“–Story
Kiriman

Jabatan, Keserakahan, dan Anak Muda yang Berisik

Ada satu kata yang saya ingat dari Ahmad Jilul Qur’ani Farid (33) yang terus mengusik: monetisasi. Dalam dunia media digital, kata itu akrab. Orang membuat konten, membangun penonton, mencari pendapatan. Dalam Ruang Tamu BacktoBDM , Jilul membawa kata itu ke wilayah berbeda: kewenangan pejabat. Saya mengajak ngobrol Jilul dalam posisinya sebagai Sekretaris Kabinet “Kabinet Bayangan.” Ia bersama Feri Amsari mengarsiteki Kabinet Bayangan. Ia datang mengenakan rompi bertuliskan Kabinet Bayangan dengan naik ojek. Ia baru kembali dari Flores, daerah yang masih porak-poranda karena gempa. Menurut Direktur Eksekutif Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) itu, sebagian pengurus negara melihat jabatan sebagai kesempatan memperoleh keuntungan pribadi. Begitu berkuasa, mereka menghitung apa yang dapat dihasilkan kewenangannya. Di tangan pejabat ada izin, anggaran, keputusan, dan akses terhadap sumber daya publik. Ketika semuanya menjadi peluang pendapatan pribadi, warga harus membayar untuk memperoleh sesuatu yang sesungguhnya merupakan hak mereka. Pelayanan mempunyai tarif tersembunyi. Keputusan bisa dinegosiasikan. Orang yang memiliki uang dan kedekatan mendapat jalan lebih lapang. Mereka yang tidak memiliki keduanya harus menunggu. “…Di semua level lapisan yang mereka punya kewenangan, mereka selalu mencari kira-kira monetisasi dari kewenangan ini apa…” Di balik kamera, saya memikirkan pertanyaan yang melelahkan: berapa banyak penangkapan lagi yang diperlukan agar jabatan tidak diperlakukan sebagai kesempatan memperkaya diri? Program sakral Presiden Prabowo pun digerogoti korupsi seperti proyek makan bergizi gratis (MBG). Tokoh sentral dalam pemberantasan korupsi, Febrie Adriansyah pun terkena kasus korupsi sehingga muncul seloroh memberantas korupsi sambil korupsi. Jilul menyebut keserakahan atau rakus sebagai salah satu pangkal persoalan. Orang terus mengambil karena tidak pernah merasa cukup. Bahkan mereka yang sudah kaya dan berkuasa masih ingin mengumpulkan lebih banyak. Namun, keserakahan perlu dilihat bersama kesempatan yang disediakan sistem. Hasrat mengambil menjadi lebih berbahaya ketika kewenangan luas, pengawasan lemah, dan kemungkinan dihukum terasa kecil. Karena itu, harapan kepada orang baik perlu ditopang aturan. Warga membutuhkan mekanisme untuk menggugat keputusan. Pengawas membutuhkan kebebasan memeriksa orang yang lebih tinggi kedudukannya. Jilul menggunakan gambaran pagar: pembatasan kewenangan, pemeriksaan, dan pertanggungjawaban. Ia mengkhawatirkan pagar yang dilonggarkan ketika ruang mengambil keputusan sendiri justru diperluas. Pemerintah tentu membutuhkan keluwesan bekerja. Tetapi publik berhak mengetahui siapa yang memutuskan, untuk kepentingan apa, menggunakan anggaran berapa, dan bagaimana keputusan itu diperiksa. Uangnya milik publik. Akibatnya ditanggung bersama. Percakapan juga membawa kami kepada hubungan masyarakat dengan jabatan. Seseorang yang kemarin biasa saja tiba-tiba diperlakukan berbeda setelah menjadi pejabat. Ucapannya lebih mudah dibenarkan. Orang di sekitarnya semakin berhati-hati menyampaikan keberatan. Kita dapat lupa bahwa pejabat menjalankan pekerjaan yang dipercayakan oleh publik. Ada tanggung jawab yang harus ditunaikan dan hasil yang harus diperiksa. Alternatif anggaran Melalui Kabinet Bayangan, Jilul dan kawan-kawannya mencoba mengusik kebiasaan tersebut. Sebutan “menteri” memang dapat mengundang senyum. Mereka tidak mempunyai kementerian atau anggaran negara. Tetapi ada pertanyaan serius di dalamnya: mengapa urusan negara seolah-olah hanya boleh dibicarakan pemegang jabatan? Guru dapat menguji kebijakan pendidikan. Tenaga kesehatan dapat menunjukkan kelemahan pelayanan. Peneliti dapat menawarkan pilihan. Pengetahuan mereka tumbuh dari pekerjaan dan pengalaman sehari-hari. Kabinet Bayangan menjadi berarti apabila mampu mempertemukan pengetahuan tersebut, menguji keputusan pemerintah, dan menghasilkan alternatif yang dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu rencana Jilul adalah shadow budgeting , menyusun alternatif anggaran. Kritik dilanjutkan dengan perhitungan: jika sebuah pos dikurangi, kebutuhan apa yang dapat dipenuhi? Jika pemerintah menyatakan tidak ada uang, bagaimana prioritas belanjanya? Pekerjaan itu membutuhkan ketekunan. Data diperiksa, angka dihitung, usulan diuji. Organisasi masyarakat sipil sering memiliki tenaga dan dana terbatas. Namun, ruang bekerja bersama tetap perlu dibangun. Lalu kami membicarakan generasi muda. Jilul melihat mereka semakin sadar akan persoalan yang diwarisi. Mereka membuat satire, mengkritik pejabat, dan mengusik kekuasaan melalui media sosial. Kadang bahasanya tajam, bahkan disertai umpatan. Saya tidak menyetujui setiap cara yang digunakan. Kritik perlu menjaga ketepatan informasi dan martabat manusia. Namun, kita juga perlu bertanya mengapa sebagian anak muda merasa harus berteriak agar didengar. Mungkin mereka sudah berbicara tertib tanpa memperoleh jawaban. Mungkin media sosial menjadi tempat paling mudah dijangkau ketika saluran lain terasa jauh. Ada pula yang menyoroti barang mewah pejabat dan membandingkan harganya dengan kehidupan warga. Penampilan memang tidak membuktikan pelanggaran. Tetapi ia membuka pertanyaan tentang kepantasan: bagaimana pejabat menyerukan penghematan ketika dirinya mempertontonkan kemewahan? Kesulitannya, banyak suara protes berjalan sendiri-sendiri. Mereka bertemu ketika sebuah peristiwa memicu kemarahan, lalu hubungannya mengendur saat perhatian berpindah. Kemarahan membutuhkan tempat bertemu, kepercayaan, tuntutan yang jelas, dan pembagian pekerjaan. Siapa yang memeriksa data? Siapa yang mendampingi warga? Siapa yang mengikuti pembahasan kebijakan setelah keramaian mereda? Kerja yang sunyi itu menentukan apakah protes menghasilkan perubahan yang bertahan. Seusai percakapan, saya tidak membawa jawaban tuntas tentang bagaimana korupsi diakhiri. Tetapi saya membawa kegelisahan tentang anak-anak muda. Kita meminta mereka mencintai negeri ini, sementara mereka menyaksikan perilaku pengurusnya dan mencemaskan masa depan sendiri. Kecintaan dapat hadir sebagai keberatan, pertanyaan yang terus diulang, dan penolakan menganggap korupsi sebagai hal biasa. Di Ruang Tamu BacktoBDM , tugas saya memberi ruang bagi suara itu dan membantu penonton menimbangnya. Anak-anak muda yang berisik sedang mengingatkan bahwa ada sesuatu yang belum selesai di republik ini. Sebelum meminta mereka merendahkan suara, ada baiknya kita mendengar apa yang mereka perjuangkan. Obrolan Ruang Tamu BacktoBDM di Kanal Youtube Budiman Tanuredjo Jurnalisme untuk Sesama Memo BDM dijalankan dengan semangat “Jurnalisme untuk Sesama” dengan Komitmen 25. Artinya, minimal 25 persen kontribusi Anda disalurkan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Sebuah cara kecil agar jurnalisme tetap berpihak pada manusia. Sepanjang Juli 2025–September 2026, MemoBDM menerima partisipasi sebesar Rp 104.568.121 dan telah menyalurkan Rp 70.697.121 (67,61%). kepada mereka yang membutuhkan. Seluruh penyaluran dilakukan melalui rekening khusus BCA 111.044.1114 a.n. Budiman Tanuredjo dan dilaporkan secara berkala. Memo BDM-Memo Nurani Bangsa Tulisan ini juga telah dipublikasikan di memobdm .

Jabatan, Keserakahan, dan Anak Muda yang Berisik
0
BT
Budiman Tanuredjoยท Warga
22 jamยท๐Ÿ“–Story
Kiriman

Ketika Politik Menyandera Masa Depan

KEGADUHANN seperti tak pernah berhenti di negeri ini. Menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, ruang publik terus diwarnai kontroversi. Pemilu 2024, yang semestinya menjadi titik awal bagi bangsa ini, untuk kembali bekerja dan membangun masa depan, dengan semangat kesinambungan, justru meninggalkan perdebatan politik yang tak kunjung selesai. Kebisingan semakin nyaring. Kabinet dibongkar dan pasang. Jumlahnya kian membesar. Ekspresi kebencian, umpatan politik, mudah ditemukan. Namun, kejernihan dan kejujuran sebagaimana diterakan Ketetapan MPR soal etika kehidupan berbangsa dan bernegara justru terasa semakin langka dan memudar. Tap MPR soal etika berbunyi, “…etika politik dan pemerintahan mengandung misi kepada setiap pejabat dan elit politik untuk bersikap jujur, amanah, sportif, siap melayani, berjiwa besar, memiliki keteladanan, rendah hati, dan siap mundur dari jabatan politik apabila terbukti melakukan kesalahan dan secara moral kebijakannya bertentangan dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat. Etika ini diwujudkan dalam bentuk sikap yang bertata krama dalam perilaku politik yang toleran, tidak berpura-pura, tidak arogan, jauh dari sikap munafik serta tidak melakukan kebohongan publik, tidak manipulatif dan berbagai tindakan yang tidak terpuji lainnya…” Kontroversi terakhir muncul setelah putusan Mahkamah Konstitusi mengenai persyaratan pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. MK menyatakan permohonan pemohon tidak dapat diterima. MK juga mengatakan, tidak menemukan bukti ijazah SMA Gibran. Namun, putusan tersebut tidak serta-merta menjawab seluruh pertanyaan substantif yang berkembang di masyarakat mengenai dokumen pendidikan Gibran. Perkara secara hukum telah diputus, tetapi perdebatan di ruang publik belum juga berakhir. Padahal, konstitusi menegaskan, putusan MK final dan mengikat. Sebagian pihak mendesak Gibran mengundurkan diri. Sebagian lainnya mengusulkan pemakzulan melalui mekanisme konstitusional. Gibran sendiri merespons dengan pertanyaan, “Kalau tak punya ijazah SMA, masak bisa kuliah S1?” Perdebatan pun melebar pada perbedaan sistem pendidikan Indonesia dan Singapura. Pertanyaan berikutnya bermunculan. Jika ada persyaratan administratif yang dipersoalkan, bagaimana proses verifikasi KPU ketika pencalonan berlangsung? Jika dokumen pendidikan itu tersedia, mengapa tidak diserahkan ke MK secara terbuka untuk meyakinkan majelis sekaligus publik. Pertanyaan bertumpuk di atas pertanyaan. Perdebatan berputar tanpa menemukan titik temu. Masing-masing pihak semakin sibuk mempertahankan keyakinannya sendiri. Ruang publik terasa pengap. Kita seperti kehilangan kemampuan membedakan antara mencari kebenaran dan memenangkan pertengkaran. Di tengah kegaduhan itu, saya teringat percakapan dalam Ruang Tamu BacktoBDM bersama Prof Elwin Tobing, profesor ekonomi dari University of California. “Bangsa ini terlalu banyak politik dan tidak memikirkan pembangunan sumber daya manusia,” katanya. Kalimat semakin relevan. Kita terlalu sibuk memperdebatkan siapa yang berhak menduduki kekuasaan, tetapi kurang memberikan perhatian pada bagaimana kekuasaan digunakan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Kualitas rapuh Pekan ini, saya mendapat kirim pesan melalui WA dari Elwin Tobing. Ia menulis demikian, “Bukan tujuan saya masuk ke riuh politik ijazah. Tetapi kontroversi ijazah ini seharusnya membuka persoalan yang jauh lebih besar. Menjadi moment of truth bagi kita untuk memahami kenyataan fundamental: kualitas pendidikan Indonesia masih rapuh.” Atas izin Elwin saya mengutip pesan WA kepada saya. Dia menulis demikian, “Anak-anak kita bisa bersekolah 12 tahun dan memperoleh ijazah SMA/SMK. Tetapi apakah mereka benar-benar memperoleh pembelajaran setara 12 tahun? Lama bersekolah (years of schooling) hanya mengukur kuantitas. Yang lebih penting adalah years of learning: berapa banyak pengetahuan, kemampuan bernalar, dan keterampilan yang benar-benar diperoleh selama bersekolah. Inilah kualitas.” Bagaimana mengukurnya? Bank Dunia mengembangkan Learning-Adjusted Years of Schooling (LAYS) , yang menggabungkan lama sekolah dengan kualitas pembelajaran. Kualitas ini diukur melalui Harmonized Test Scores, yang menyetarakan hasil berbagai asesmen internasional ke dalam satu skala global. Dengan LAYS, satu tahun bersekolah tidak otomatis berarti satu tahun belajar. Kita pun dapat membandingkan kualitas pembelajaran antarnegara. Salah satu asesmen yang digunakan untuk pembobotan kualitas adalah PISA (Programme for International Student Assessment) . Ini menguji kemampuan siswa usia 15 tahun dalam matematika, membaca, dan sains. Bukan sekadar bisa membaca, tetapi mampu memahaminya, bernalar, dan menggunakan pemahamannya untuk memecahkan masalah. Dua Dunia Pendidikan Selama 25 tahun terakhir, hasil PISA konsisten menempatkan Indonesia di kelompok terbawah dunia, sementara Singapura di jajaran teratas. Lihat saja PISA 2025, yang diikuti 91 negara dan wilayah ekonomi. Indonesia berada di peringkat 73–78, sementara Singapura di peringkat 1–2. Skor PISA 2025: Indonesia vs Singapura. Angka dalam kurung menunjukkan peringkat. •⁠ ⁠Matematika: 364 (78) vs 563 (2) •⁠ ⁠Membaca: 365 (74) vs 535 (1) •⁠ ⁠Sains: 389 (73) vs 560 (2) Namun, yang lebih mengkhawatirkan bukan sekadar selisih skor, melainkan kesenjangan kemampuan siswa. Berikut persentase siswa di bawah kompetensi dasar. Yaitu, yang belum menguasai kemampuan minimum untuk memahami informasi dan memecahkan persoalan sehari-hari. Indonesia vs Singapura •⁠ ⁠Matematika: 83% vs 11% •⁠ ⁠Membaca: 73% vs 14% •⁠ ⁠Sains: 63% vs 10% Artinya, 63%-83% (atau digeneralisasi 75%) murid Indonesia belum mencapai kompetensi dasar. Ini menjadi beban besar bagi sistem pendidikan dan masa depan bangsa. Di Singapura, angkanya hanya sekitar 10–14%. Bagaimana dengan siswa berprestasi tertinggi, yang mampu bernalar dan memecahkan persoalan kompleks, mencerminkan kompetensi kelas dunia? Indonesia vs Singapura •⁠ ⁠Matematika: ≈0% vs 37% •⁠ ⁠Membaca: ≈0% vs 22% •⁠ ⁠Sains: ≈0% vs 26% Di Indonesia, praktis nol persen (persentase sangat kecil) mencapai kompetensi tertinggi. Di Singapura, angkanya mencapai 22–37%. Jadi, Indonesia menghadapi dua masalah sekaligus: mayoritas siswa belum menguasai kompetensi dasar, sementara hampir tidak ada yang mencapai tingkat tertinggi. Di Singapura, gambarannya justru terbalik. Ini bukan lagi sekadar jurang, melainkan dua dunia pendidikan yang sangat berbeda. Lama sekolah bisa sama, tetapi pengetahuan dan kemampuan siswa bisa berbeda jauh. Kualitas pembelajaran inilah yang diperhitungkan dalam LAYS. Selain PISA, pengukurannya menggunakan TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study), PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study), serta berbagai asesmen regional. SMP Singapura vs SMA di Indonesia Dengan menggunakan LAYS (Data World Bank, 2024), Indonesia memiliki ekspektasi 12,4 tahun sekolah, tetapi hanya 7,8 tahun pembelajaran efektif. Singapura memiliki 13,9 tahun sekolah, dengan 12,8 LAYS. Selisih lama sekolah hanya 1,5 tahun. Tetapi setelah kualitas pembelajaran diperhitungkan, kesenjangannya mencapai 5 tahun. Apa artinya? Jika rasio LAYS diterapkan secara proporsional, sembilan tahun sekolah di Singapura menghasilkan sekitar 8,3 tahun pembelajaran efektif, sementara dua belas tahun sekolah di Indonesia hanya 7,5 tahun. Artinya, secara rata-rata, lulusan setara SMP di Singapura sudah mengakumulasi lebih banyak pembelajaran daripada lulusan SMA di Indonesia. Inilah persoalan besar pendidikan kita. Bangsa hanya bisa maju jika pendidikan membuat warganya mampu berpikir, bernalar, mencipta, dan memecahkan masalah. Bukan sekadar lebih lama bersekolah atau memiliki ijazah. Persoalan ini telah berlangsung puluhan tahun. Inilah yang saya sebut krisis kronis struktural (KKS) pendidikan Indonesia. Tidak cukup diatasi dengan menambah program atau anggaran tanpa membenahi akar masalahnya. Banyak yang berbicara tentang kepedulian terhadap pendidikan. Tetapi sedikit yang sungguh memahami kenyataan kualitas pembelajaran kita, apalagi memiliki solusi sistematis untuk mengubahnya. Inilah yang mendorong perlunya dikembangkan LIFT ( Literacy for the Future) , gerakan transformasi pendidikan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Murid yang belajar menjadi pusatnya, membaca menjadi kegiatan utamanya, dan ekosistem pembelajaran menjadi penggerak perubahan. Ini sudah menjangkau puluhan ribu murid, lebih 500 masing-masing kepala sekolah, guru, dan orang tua, serta melibatkan komunitas dan pemerintah daerah/provinsi. Tujuannya jelas: bukan sekadar membuat lebih banyak anak bersekolah, tetapi memastikan mereka benar-benar belajar. Kuat literasinya, tajam daya nalarnya, dan kokoh karakternya. Jangan kita lebih sibuk dengan hiruk pikuk politik kekuasaan, sementara pendidikan bangsa ini tetap carut marut. Sebelum semakin terlambat! Saya kira data pendidikan dari Elwin memberikan gambaran dimana bangsa ini berada. Di bidang pendidikan, kita jauh tertinggal dibandingkan dengan Singapura… Jurnalisme untuk Sesama Memo BDM dijalankan dengan semangat “Jurnalisme untuk Sesama” dengan Komitmen 25. Artinya, minimal 25 persen kontribusi Anda disalurkan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Sebuah cara kecil agar jurnalisme tetap berpihak pada manusia. Sepanjang Juli 2025–September 2026, MemoBDM menerima partisipasi sebesar Rp 104.568.121 dan telah menyalurkan Rp 70.697.121 (67,61%). kepada mereka yang membutuhkan. Seluruh penyaluran dilakukan melalui rekening khusus BCA 111.044.1114 a.n. Budiman Tanuredjo dan dilaporkan secara berkala. Memo BDM-Memo Nurani Bangsa Tulisan ini juga telah dipublikasikan di memobdm .

Ketika Politik Menyandera Masa Depan
0
Sudah sampai akhir feed.