💭 Opini
AK
Ahmad Kosasih Marzuki

Warga · 3 hr · 3 mnt baca

Opini

KWAGEAN HOREG

KWAGEAN HOREG

Setelah ada postingan dari salah satu fp info pare raya, banyak dari alumni dan beberapa teman pribadi, yang mengirim pesan untuk bertanya dan kemudian protes dengan kejadian ini. Karena memang dalam postingan tersebut, ada gambar plang pondok Kwagean dicopot, agar truk yang memuat sound horeg bisa lewat.

Kesannya, pondok tidak dihargai.

Padahal tidak tepat seperti itu yang terjadi. Semua proses dan kejadiannya berjalan dengan aman, juga rukun saling menghargai. Tidak ada yang dirusak, tidak ada juga yang direndahkan. Bahkan kegiatan didalam pondok pun berjalan seperti biasa.

Para panitia acara sudah meminta izin sebelumnya , dan kamipun mengizinkan.

Bukan berarti kami mendukung acara ini, namun acara yang sudah diizinkan oleh pengurus desa, bukan wewenang kami untuk mempermasalahkannya.

Sikap kami, adalah mengikuti sikap bapak. Beliau selalu menempatkan segala hal pada tempatnya. Pada posisinya.

Sebagaimana dalam hal pengaspalan jalan desa dahulu, bapak tidak mau memutuskan. Semua dilemparkan kepada pejabat desa, karena mereka yang lebih berhak.

Lalu, apakah kami tidak terganggu?.

Untuk menjawab ini, saya akan menceritakan bagaimana keadaan jumat malam kemarin dipondok. Terutama di rumah bapak.

Sudah sejak habis maghrib, bapak sengaja keluar rumah, dan ngungsi sementara kerumah ibuk di tetangga kecamatan. Beliau sengaja pergi, agar tidak terganggu kesehatannya oleh sound horeg. Karena fisik beliau sudah tidak mampu menahan hentakan dari suara sound horeg.

Dan kebetulan, tahun ini ada lima truk sound horeg yang sound check bersamaan disekeliling pondok.

Bapak mengungsi ke rumah ibuk hingga acara sound check selesai, lalu pukul sebelas malam beliau sudah kembali kerumah untuk istirahat.

Saya sendiri, yang sudah terdampak sejak sore. Akhirnya tidak mampu menahan mual. Dan isya’ awal berangkat ke dokter untuk periksa lambung yang kambuh.

Suara sound yang menghentak, seringkali membuat sakit didada, dan untuk saya yang sedang pemulihan dari sakit gerd, membuat asam lambung naik.

Adapun saudara yang lain, ada yang ngungsi kerumah adek yang agak jauh dari pondok induk. Tapi ada juga yang keliling melihat check sound, sambil melihat-lihat keadaan.

Jadi mengganggu iya, namun bukan berarti harus dikonfrontasi secara langsung. Bukan begitu cara bapak saya bersikap dalam berdakwah di masyarakat.

Ketika ada suatu kejadian yang tidak diinginkan seperti ini, bapak memilih untuk diam. Tidak melarang, apalagi melawan. Karena bagi beliau, berdakwah harus dengan kesantunan, dengan penuh perhatian. Mengajarkan keislaman secara halus dan tanpa paksaan.

Seringkali justru dengan sabar memupuknya, hingga tumbuh kesadaran.

Disetiap hal yang terjadi, bapak selalu menaruh hak dan kekuasaan sesuai dengan porsinya. Saat ada sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan umum, maka beliau selalu mengikuti hukum desa yang berlaku. Bahkan urusan yang berada didalam lingkup RT dan RW pun, menurut beliau pak RT dan pak RW lebih berhak memutuskan.

Bapak saya mengajarkan untuk tidak bertindak melebihi kewenangan.

Akan saya ceritakan satu contoh nyata.

Pernah suatu ketika, kakak tertua saya matur ke bapak. Beliau sedikit mengeluhkan tentang tetangga yang kadang menyervis motornya dan mengganggu santri yang sedang ngaji.

Namun saat cerita ke bapak, beliau hanya dengan enteng njawabi:”gak eling sampean ndisek lek sepedahan Yo banter, bribeni tanggane(apakah kamu tidak ingat, kalau kamu motoran dulu juga kenceng. Sering membuat gaduh tetangga)”.Hahaha

Dalam cara bapak menanggapi ini, bukan membenarkan tetangga pondok. Tapi beliau menginstropeksi dulu kedalam, lalu selanjutnya memperbaiki. Baru setelahnya, beliau menggiring pelan-pelan menuju kesadaran bersama.

Sekali lagi. Meskipun bapak diam, namun bukan berarti membenarkan. Terutama hal-hal kurang baik yang ada didalam sound horeg. Bapak selalu istiqomah ngaji menerangkan halal dan haram. Bahkan dalam rutinan ngaji malam rebo dengan para masyarakat sekitar pun, bapak memilih kitab fiqih dasar. Dulu kitab sulam taufiq, dan sekarang kitab taqrib. Dimana kedua kitab ini adalah kitab dasar fiqih yang menerangkan tentang kewajiban dasar seorang muslim, dan hal-hal yang halal dan yang diharamkan.

Lalu saya jadi teringat, suatu ketika bapak juga pernah bercerita;”ndisek, Mbah Arif seng babat tanah kwagean, tau ngendikan:’pokok sopo AE seng ORA seneng ngaji, bakale ORA suwe neng kwagean’(dulu, Mbah Arif yang membabat desa Kwagean pernah berpesan:’siapa saja yang benci pada ngaji, maka bakal tidak lama ada di Kwagean)”.

Tapi saya husnudzan, berbaik sangka, bahwa mereka yang menyewa sound horeg ini bukan karena tidak suka ngaji. Namun mungkin karena ingin mengejar gengsi, dan unjuk kesuksesan saja.

Atau kalau tidak, ya karena fomo. Tidak ingin ketinggalan tren yang sedang fyp disemua media sosial.

Kami memahami, mereka adalah para awam yang tidak tahu hukum. Atau tahu, namun tidak punya keberanian dan atau kekuatan untuk menaatinya.

Atau mungkin, kita yang belum tahu hukum yang sejatinya.

Jadi. Sebelum saya, dan mungkin anda ingin mengkhutbahi dan atau menghakimi tentang dakwah kepada bapak saya, tolong berhenti. Tahan dulu kesombongan kita. Sejenak berkaca.

Bapak sudah berdakwah puluhan tahun. Dan sedikit banyak, perubahan baik, terutama dalam hal keislaman di kwagean, adalah jasa beliau. Dengan metode yang beliau pilih. Dengan pendekatan yang beliau jalankan.

Saya ingat bagaimana dulu, ada seorang kiai, tokoh besar dari Jakarta. Terkenal sebagai mubaligh, juga tokoh salah satu partai. Datang ke kwagean hanya untuk ‘memarahi’ bapak yang tidak mau terjun, dakwah kedalam partai politik. Menurut beliau, seorang kiai itu harus masuk kedalam partai untuk berjuang. Berdakwah.

Lalu dengan tenang bapak menjawab:”Ngapuntene, kulo bagiane mboten ten mriku(mohon maaf kiai, saya bukan bagiannya dakwah disana)”.

Jadi memang cara berdakwah dan atau cara menyikapi hal-hal seperti ini, banyak kiai yang berbeda-beda metodenya.

Untuk masalah plang pondok, jangan terlalu dibesar-besarkan. Karena itu hanya urusan kecil.

Kalau difikir dengan hati yang dingin, sebenarnya kita, pondok Kwagean, sudah semestinya mengizinkan penurunan sejenak plang pondok ini untuk dilewati sound horeg. Karena pada hakikatnya plang pondok ini berdiri melintas diatas tanah jalan milik umum. Sepanjang tahun kita ‘meminjam’nya untuk menaruh plang. Dan apabila ‘kepentingan umum’ meminta izin sejenak untuk menurunkannya, sangat tidek elok bila kita menolaknya.

Adapun yang lewat itu bis peziarah, truk molen, atau sound horeg, itu adalah urusan perangkat desa yang punya hak mengizinkan.

Mari kita berjalan dan bersikap sesuai tugas dan posisi. Jangan offside, nanti disemprit pak wasit.

Apalagi sekarang sudah zamannya var, kita tidak boleh playing victim ataupun diving.

Sekali lagi, harap disikapi dengan tenang. Karena bahkan ngaji pun tidak libur, semua kegiatan berjalan seperti biasa.

Yang tidak tenang adalah anak-anak yang kemecer pengen kabur menonton check sound yang ada didepan mata. Terutama yang ada dancernya. Hahaha

Astaghfirullahal adziim….. saya kemudian memesankan kepada teman-teman saat ngaji:”inilah yang dimaksud dengan hadis nabi, bahwa islam lahir dari keterasingan, dan akan kembali pada keterasingan. Saat semua sibuk dengan semua hal tentang sound horeg, dan dancer sexynya. Kita harus sekuat tenaga menahan diri, untuk menjaga syariat. Hingga akhirnya terasing dari sikap populer para khalayak ramai disekitar kita”.

Namun tenang, Kanjeng Nabi menutup hadisnya dengan dawuh:”namun meskipun begitu, keberuntungan akan menjadi milik para orang yang terasing tersebut”.

Semoga, semoga, dan semoga…..

#salamKWAGEAN

#soundhoreg#kwagean#ponpes

0 Jawaban & Komentar

WK

Jadilah yang pertama menjawab.