Warga Β· 16 Sep Β· 3 mnt baca
Cara SBY Menangani Tsunami Aceh!!

Perintah darurat itu lahir di hari paling gelap dalam sejarah modern Indonesia, yakni 26 Desember 2004. Hanya dalam hitungan menit, gelombang setinggi 30 meter
menyapu bersih pesisir Aceh dan menelan ratusan ribu nyawa. Saat bencana abad ini terjadi, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
baru saja menjabat sebagai Presiden RI selama dua bulan.
Saat gempa terjadi, Presiden SBY sedang
berada di Jayapura, Papua.
Mendengar komunikasi ke Aceh putus total,
insting komandonya bergerak cepat.
Malam itu juga, ia menggelar sidang darurat,
membatalkan kepulangan ke Jakarta,
dan memerintahkan pesawat kepresidenan
langsung terbang membelah rute terjauh menuju Aceh.
Setelah transit darurat di Makassar dan Batam
untuk isi bahan bakar, SBY mendarat di Lhokseumawe pada 27 Desember 2004.
Sang Jenderal purnawirawan tak kuasa menahan air mata melihat puluhan ribu
jenazah bergelimpangan dan kehancuran total
di depan matanya.
Dalam kepanikan nasional, Presiden SBY mengambil keputusan ekstrem yang sangat berisiko. Saat itu Aceh berstatus
Darurat Sipil dan tertutup akibat konflik bersenjata dengan GAM.
Menabrak protokol keamanan, Presiden SBY mengumumkan kebijakan Open Sky,
yaitu membuka pintu Aceh selebar-lebarnya untuk militer dan relawan asing.
Kebijakan berani ini mendatangkan kapal induk AS USS Abraham Lincoln
hingga bantuan puluhan negara sahabat.
Perintah tempur diubah total menjadi operasi kemanusiaan. Prajurit TNI kini bahu-membahu
dengan tentara asing, bahkan dengan anggota GAM, demi mengevakuasi korban.
Presiden SBY lalu mendirikan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias yang dipimpin teknokrat profesional.
Langkah ini menjamin pengelolaan bantuan
miliaran dolar berjalan bersih tanpa adanya korupsi. Dunia internasional pun memuji Indonesia atas manajemen krisis pascabencana terbaik di era modern.
Ketulusan merangkul semua pihak
di tengah lumpur tsunami melunakkan ego politik. Pemerintah RI dan GAM
akhirnya sepakat mengakhiri konflik bersenjata selama 30 tahun di meja perundingan Helsinki pada tahun 2005.
Tsunami yang menghancurkan Aceh, pada akhirnya mencuci bersih luka perang tiga dekade.
