Warga Β· 3 hr Β· 3 mnt baca
DAWUH PROF. DR. KH. SA'ID 'AQIEL SIRODJ MA.

βIslam saja tanpa nasionalisme akan mudah terjebak pada sikap ekstrem, sedangkan nasionalisme saja tanpa landasan Islam akan kehilangan ruh dan arah.β
************************
Islam mengajarkan kita untuk mencintai kebaikan, menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama. Sementara nasionalisme mengajarkan kita untuk mencintai tanah air, menjaga persatuan, merawat kerukunan, dan bertanggung jawab terhadap negeri tempat kita berpijak.
Bagi seorang santri, cinta kepada agama dan cinta kepada tanah air bukanlah dua perkara yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan. Agama menjadi ruhnya, nasionalisme menjadi jalannya. Dengan agama, nasionalisme tidak berubah menjadi fanatisme buta. Dengan nasionalisme, keberagamaan tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi ikut melahirkan kepedulian terhadap bangsa dan masyarakat.
Jangan sampai atas nama agama kita mudah menyalahkan, mudah mengkafirkan, dan merasa paling benar sendiri. Sebab Islam datang membawa rahmat, bukan menjadi alasan untuk menebar kebencian. Begitu pula jangan sampai atas nama nasionalisme kita kehilangan prinsip, menggadaikan nilai-nilai agama, dan menjadikan kecintaan kepada bangsa sebagai sesuatu yang menutup mata dari kebenaran.
Santri harus punya akar yang kuat dan pandangan yang luas. Akarnya adalah akidah dan ilmu agama; batangnya adalah akhlak; buahnya adalah kemanfaatan bagi umat, bangsa, dan negara.
Kita belajar dari para kiai terdahulu: menjadi Muslim yang taat sekaligus menjadi warga negara yang baik. Mengaji kitab di pesantren, tetapi juga memahami keadaan masyarakat. Rajin beribadah, tetapi tidak abai terhadap persoalan bangsa. Teguh memegang syariat, tetapi tetap santun dalam pergaulan. Cinta ulama, cinta umat, dan cinta tanah air.
Sebab negeri ini tidak cukup hanya dibangun dengan semangat. Ia membutuhkan iman yang menuntun, ilmu yang menerangi, akhlak yang menjaga, dan persatuan yang menguatkan.
Maka, mari kita rawat keduanya dengan proporsional. Jangan mempertentangkan Islam dengan Indonesia, karena bagi seorang santri, menjaga agama dan menjaga negeri adalah bagian dari amanah. Berbeda pilihan tidak harus bermusuhan, berbeda pandangan tidak harus saling meniadakan. Selama masih berada dalam bingkai persaudaraan dan kemaslahatan, perbedaan adalah sesuatu yang perlu disikapi dengan ilmu dan adab.
Sebagaimana nasihat para kiai: jangan merasa paling suci hanya karena rajin beribadah, dan jangan merasa paling nasionalis hanya karena pandai berbicara tentang bangsa. Ukuran kemuliaan bukan pada klaim, tetapi pada seberapa besar ilmu, iman, dan kecintaan kita menghadirkan kemanfaatan bagi sesama.
Jadilah santri yang alim tanpa merasa paling alim, nasionalis tanpa menjadi fanatik, dan beragama tanpa kehilangan adab. Karena Islam mengajarkan kita untuk menjadi rahmat bagi semesta, dan tanah air adalah salah satu tempat kita mengamalkan rahmat itu.
