Warga · 3 jam · 4 mnt baca
Hari-hari Esok Milik Siapa?

ADA kalimat Iman Zanatul Haeri dalam percakapan di Ruang Tamu BacktoBDM yang terdengar seperti kelakar, tetapi meninggalkan pertanyaan panjang. Guru sejarah yang juga menjadi Menteri Pendidikan Kabinet Bayangan dan masih berusia 35 tahun itu berbicara tentang para pengkritik kekuasaan yang kemudian bergabung dengan pihak yang dahulu mereka tentang.
“Saya sering lihat yang dulunya teriak-teriak anti sesuatu, ternyata bersatu.”
Iman menghubungkannya dengan penggalan lagu yang sering dinyanyikan dalam demonstrasi mahasiswa: “hari-hari esok adalah milik kita”. Lalu ia menyambung, “Nah, ini udah harinya ini.”
Kalimat itu getir. Bahkan terasa sungguh getir. Hari esok yang dahulu dibayangkan sebagai perubahan nasib bersama dapat menyempit menjadi kesempatan memperoleh jabatan. Orang yang pernah berdiri di luar pagar akhirnya mendapat tempat di dalam. Pertanyaannya kemudian: bagaimana nasib gagasan yang dahulu diperjuangkannya?
Tentu, bergabung dengan pemerintahan tidak dengan sendirinya berarti mengkhianati prinsip. Orang dapat memilih bekerja dari dalam dan membawa perubahan. Tetapi publik berhak memeriksa konsistensinya. Apakah ia masih menolak kebijakan yang dahulu ditentangnya? Apakah keberanian mengkritik tetap ada setelah kedudukan diperoleh?
Di balik kamera, saya memikirkan betapa mudahnya kita memaklumi perubahan sikap dengan mengatakan, “Begitulah politik.” Kalimat itu terdengar realistis. Namun, jika terus digunakan, kita bisa kehilangan ukuran untuk membedakan perubahan pandangan yang beralasan dan perubahan sikap demi keuntungan.
Iman melihat persoalan tersebut dari ruang kelas. Sebagai guru, ia ingin murid-muridnya memahami bahwa hidup menyediakan pilihan, tetapi pilihan tetap harus diuji secara etis. Sesuatu yang berulang dalam sejarah tidak otomatis layak dibenarkan.
Saya kira pesan itu penting. Anak-anak muda belajar dari buku sekaligus dari perilaku orang dewasa. Mereka mendengar pidato tentang integritas, kemudian menyaksikan bagaimana prinsip ditawar ketika kesempatan datang. Dari situ mereka dapat menarik kesimpulan yang menyedihkan: idealisme hanya diperlukan sebelum memperoleh tempat.
Percakapan kami kemudian beralih kepada pertanyaan apakah Indonesia sedang kembali ke pola pemerintahan Orde Baru. Iman menjawab dengan hati-hati. Ia melihat kemiripan metode, tetapi mengingatkan bahwa sejarah tidak pernah menghasilkan peristiwa yang persis sama.
Peringatan itu membantu kita membaca keadaan dengan lebih jernih. Kemiripan cara memerintah perlu diperiksa, sementara perbedaan zaman juga harus diperhitungkan. Masyarakat hari ini mempunyai media sosial, saluran informasi yang lebih beragam, dan pengalaman panjang menghadapi kekuasaan. Cara lama akan berhadapan dengan warga dalam situasi yang berbeda.
Kegelisahan Iman menjadi lebih konkret ketika membicarakan pendidikan. Ia menyoroti masuknya pendekatan kemiliteran ke lingkungan sekolah. Menurutnya, penguatan literasi dan numerasi justru lebih mendesak.
Saya menangkap pertanyaan mendasar di sana: manusia seperti apa yang hendak kita bentuk melalui pendidikan?
Disiplin diperlukan. Ketekunan diperlukan. Namun, sekolah juga harus memberi ruang bagi anak untuk bertanya, menguji penjelasan, dan berbeda pendapat. Mereka perlu belajar mengemukakan alasan serta mendengar alasan orang lain. Kebiasaan itu akan mereka bawa ketika menjadi warga negara.
Sekolah merupakan tempat anak berlatih menghadapi kewenangan. Bagaimana guru menjawab pertanyaan, bagaimana aturan dijelaskan, dan bagaimana keberatan diperlakukan akan membentuk pemahaman mereka tentang kekuasaan. Jika pertanyaan selalu dianggap pembangkangan, anak dapat tumbuh dengan anggapan bahwa diam adalah pilihan paling aman.
Sebagai pewawancara, saya merasa persoalan ini dekat dengan pekerjaan jurnalistik. Bertanya membutuhkan pengetahuan sekaligus keberanian. Keduanya perlu dipelihara. Masyarakat akan kesulitan mengawasi kekuasaan apabila warganya terbiasa menerima penjelasan tanpa kesempatan mengujinya.
Lalu kami berbicara tentang Indonesia Emas 2045. Iman menyebut sikapnya sebagai optimism with pessimism. Ia menyimpan harapan, tetapi mencemaskan kemampuan para pengurus negara membawa bangsa menuju harapan tersebut.
“Saya mengkritik Anda bukan karena personal, tapi saya punya cita-cita ke depan untuk Indonesia dan saat ini Anda layak kami kritik karena Anda tidak mampu.”
Kalimat itu menempatkan kritik sebagai tanggung jawab terhadap masa depan. Orang bersuara karena masih mengharapkan sesuatu dapat diperbaiki. Ia tidak ingin cita-cita besar berhenti sebagai slogan.
Tahun 2045 akan datang. Tetapi kualitas kehidupan saat itu ditentukan oleh pekerjaan hari ini: apakah anak dapat membaca dengan baik, apakah guru memperoleh dukungan, apakah sekolah menjadi tempat yang aman untuk berpikir, dan apakah pendidikan membuka kesempatan bagi mereka yang keluarganya kurang mampu.
Di situlah percakapan tentang pengkritik yang masuk Istana bertemu dengan percakapan tentang pendidikan. Keduanya menyangkut teladan. Kita menginginkan anak-anak memegang prinsip. Mereka berhak melihat orang dewasa melakukan hal yang sama, terutama setelah memperoleh kekuasaan.
Seusai berbincang dengan Iman, penggalan lagu itu kembali terlintas: “hari-hari esok adalah milik kita”.
Siapa yang termasuk dalam kata “kita”? Mereka yang berhasil mendapatkan jabatan, atau juga anak-anak yang hari ini duduk di sekolah dengan segala keterbatasannya?
Jawaban atas pertanyaan itu akan terlihat dari apa yang kita kerjakan setelah memperoleh kesempatan.
Obrolan Lengkap ada di Ruang Tamu BacktoBDM bersama Iman Zanatul Haeri
Jurnalisme untuk Sesama
Memo BDM dijalankan dengan semangat “Jurnalisme untuk Sesama” dengan Komitmen 25. Artinya, minimal 25 persen kontribusi Anda disalurkan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Sebuah cara kecil agar jurnalisme tetap berpihak pada manusia. Sepanjang Juli 2025–September 2026, MemoBDM menerima partisipasi sebesar Rp 104.568.121 dan telah menyalurkan Rp 70.697.121 (67,61%).kepada mereka yang membutuhkan. Seluruh penyaluran dilakukan melalui rekening khusus BCA 111.044.1114 a.n. Budiman Tanuredjo dan dilaporkan secara berkala.
Memo BDM-Memo Nurani Bangsa
Tulisan ini juga telah dipublikasikan di memobdm.

