📣 Suara Warga
DM
Dicki Mahardika, Podcast Producer, The Conversation

Warga · 2 jam · 2 mnt baca

Kiriman

‘Downgrade Lifestyle’: adaptasi masyarakat untuk bertahan hidup?

‘Downgrade Lifestyle’: adaptasi masyarakat untuk bertahan hidup?

“In this economy, kalian sudah downgrade apa?” belakangan ini jadi topik diskusi hangat di lini masa media sosial. Banyaknya netizen yang sukarela menunjukkan penurunan yang sedang mereka alami merupakan sinyal buruk perekonomian nasional.

Namun, apa yang sebenarnya terjadi terhadap diri masyarakat kondisi ekonomi yang sedang menantang? Apakah proses bertahan hidup ini alamiah?


Baca juga: Fenomena downgrade ekonomi cermin kecemasan yang mengganggu kesehatan dan pekerjaan kita


Episode Podcast SuarAkademia kali ini, kami bersama Fakhirah Inayaturrobbani, dosen Psikologi Universitas Gadjah Mada, dan Zafira Shabrina, PhD candidate di Leiden University, Belanda, membahasnya dari sudut pandang psikologi sosial.

Menurut Fakhirah, ada aspek yang paling mencolok saat ini yakni runtuhnya rasa malu untuk mengakui penurunan taraf hidup. Fenomena ini disebut trading down. Ini adalah kebalikan dengan kebiasaan orang di media sosial sebelumnya yang berlomba menampilkan gaya hidup glamor demi gengsi.

Fenomena trading down ini menjadi lumrah karena tekanan ekonomi dirasakan banyak orang. Ketika kesulitan menjadi pengalaman kolektif, individu tidak lagi merasa terasing atau gagal, melainkan merasa memiliki kawan seperjuangan yang menghadapi badai serupa.

Sedangkan dari sudut pandang psikologi, Zafira memaparkan himpitan finansial terbukti menyerap kapasitas kognitif seseorang secara drastis. Pikiran manusia ibarat sebuah lempengan dengan ruang terbatas, dan ketika ruang tersebut habis tersita oleh kecemasan seperti membayar sewa, membeli kebutuhan harian, atau ketakutan akan pemutusan hubungan kerja, fokus untuk bekerja dan berpikir jangka panjang pun menyusut.

Akibatnya, individu rentan mengalami kelelahan mental dan cenderung mencari pelarian kebahagiaan instan berbiaya rendah, seperti merokok atau jajan minuman manis demi meredakan stress sesaat.

Menurunkan gaya hidup secara sadar menjadi langkah realistis untuk meringankan beban mental tersebut supaya kapasitas berpikir tidak terkuras habis oleh ilusi standar hidup yang membebani.

Menariknya, proses trading down tidak terjadi secara acak. Seseorang biasanya akan menukar atau memangkas hal-hal yang tidak bersentuhan langsung dengan identitas intinya terlebih dahulu. Contohnya, seorang pecinta otomotif mungkin akan lebih dulu beralih ke merk sabun yang lebih murah, atau mengurangi frekuensi makan di luar sebelum akhirnya rela melepas kendaraannya.

Begitu pula dengan ritual sehari-hari, yang esensinya tetap dipertahankan namun caranya yang dinegosiasikan ulang. Orang tetap menikmati minum kopi atau membeli skincare, tetapi beralih ke opsi yang jauh lebih ekonomis. Langkah kompromi ini menunjukkan bahwa manusia memiliki daya lentur untuk beradaptasi tanpa harus kehilangan jati dirinya.

Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia—ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.

The Conversation

Tulisan ini juga telah dipublikasikan di theconversation.com.

0 Jawaban & Komentar

WK

Jadilah yang pertama menjawab.