
Kita mungkin perlu bertanya apa makna di balik sahur?
Rasulullah Muhammad Saw. bersabda:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَصُومَ فَلْيَتَسَحَّرْ بِشَىْءٍ
“Barangsiapa ingin berpuasa, maka hendaklah dia bersahur.” (HR Ahmad).
Sahur. Kalau hanya berpegangan pada pemahaman teologis, maka kita akan mentok pada statement ‘sahurlah sebelum puasa’. Lepas bahwa sabda Nabi tersebut merupakan ‘himbauan’ dengan kata ‘maka hendaklah…’
Sebagai insan yang berpikir, diberi akal dan otak oleh Allah Swt. maka tidak pantas kalau kita hanya berhenti sampai di situ saja. Jelas ini ada maksud dan tujuannya.
Coba kita renungkan bersama.
Nabi kita, Rasulullah Saw., adalah manusia yang futuristik. Beliau tahu bahwa umatnya nanti ke depan akan seperti umat Muhammad yang seperti kita lihat sekarang ini. Hidup di zaman modern. Bekerja dari pagi sampai malam. Hidup di tengah bermacam-macam jenis dan ragam umat manusia. Baik itu rasnya, golongannya serta agamanya, dan keyakinan umat manusia yang beragam perbedaannya.
Puasa pun dilakukan oleh umat yang bermacam-macam, agama yang bermacam-macam. Katolik, punya puasa Paskah, Yahudi punya Yomm Kippur–dengan berpuasa selama 25 jam dihitung dari terbenamnya matahari. Ada puasanya umat Hindu, ada juga puasa dalam agama Buddha yang disebut disebut dengan Uposatha (atau Uposatha-sila)–berfokus pada pengendalian diri melalui delapan aturan moral (Attha-sila), bukan sekadar menahan lapar/haus. Puasa dalam agama Buddha dilakukan pada hari bulan baru dan purnama, dengan aturan tidak makan dari tengah hari hingga keesokan paginya, namun tetap diperbolehkan minum air.
Nah kan bermacam-macam jenis dan ritualnya. Maka sabda Nabi yang mengatakan ‘hendaklah kita sahur’ (sebelum berpuasa) mempunyai makna filosofis, di mana sahur menjadi pembeda dengan puasa-puasa yang lain.
Hadits keutamaan sahur diriwayatkan oleh Amr bin ‘Ash Ra. Sabda Rasulullah Saw.:
فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ
Artinya: “Sesungguhnya perbedaan antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR Muslim).
Selain itu, sahur juga mempunyai makna yang lain tentunya. Salah satunya adalah makan sahur mengandung keberkahan.
Anas bin Malik RA berkata bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً
Artinya: “Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah.” (HR Bukhari).
Sudut pandang biologis menilai, bahwa manfaat sahur adalah memberi bekal: kalori dan nutrisi cairan, sehingga ketika umat Muhammad menjalankan ibadah puasa di siang hari, pada saat bekerja, maka kita bisa terhindar dari dehidrasi. ‘Sangu’ atau bekal yang berupa makan sahur dan disimpan dalam bentuk glikogen yang siap diurai menjadi energi di siang hari.
Lain lagi pandangan psikologi yang menyorot sahur ini. Sahur mencegah penurunan kadar gula darah yang drastis, sehingga mencegah pusing, lemas, dan mudah marah, yang penting untuk menjaga mood tetap stabil selama berpuasa, sehingga stabilitas emosi dan kognitif tetap terjaga.
Selain itu disiplin ilmu psikologi juga memandang manfaat sahur untuk melatih kedisiplinan dan manajemen waktu. Kita harus selalu bangun lebih awal untuk sahur melatih konsistensi dan kedisiplinan dalam mengatur pola tidur dan waktu, yang berdampak positif pada manajemen diri secara keseluruhan.
Waktu sahur terletak di sepertiga terakhir malam hari, sehingga waktu ini adalah saat yang tepat untuk kita bermesraan dengan Allah Swt. Waktu yang mustajab membaca doa dan keinginan kita.
Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad Saw. bersabda:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
Artinya: Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman: “Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepadaKu, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Demikianlah ampuhnya ibadah puasa termasuk sahurnya, yang ternyata banyak hal bermanfaat bagi kita yang tersembunyi di balik rahasia sahur.
Maka kalau kita meninjau dari waktunya, sahur memiliki manfaat yang penting karena dilakukan tepat sebelum fajar, yaitu saat yang strategis bagi tubuh dan spiritualitas. Manfaat tersebut meliputi keberkahan biologis-psikologis dan kesiapan spiritual, kalori/energi yang lebih tahan lama saat puasa, menjaga metabolisme dan hidrasi tubuh, serta melatih disiplin dan kesadaran waktu.
Tapi ya jangan ibadah puasa itu terus harus diistimewakan dengan menyampaikan slogan slogan oral maupun tulisan: ‘Hormatilah bulan puasa !’ lho bagaimana ini? Dalam hal ini Cak Nun pernah “ngamuk” sehubungan dengan slogan itu. “Lha kita ini berpuasa agar bisa menghormati orang lain…! Bukan kita yang harus dihormati!”
Bahkan ada yang lebih over acting lagi, dengan melarang jualan makanan di siang hari.
Saya kok nggak paham.
Malah kemarin sebelum bulan Ramadlan, di kantor ada surat edaran tentang penyesuaian jam masuk dan pulang kantor sehubungan dengan bulan Puasa ini. Intinya jam kerjanya dikurangi. Tidak selama hari-hari selain bulan Ramadlan.
Saya kok tambah tidak paham ya?
R18





Comments are closed.