Arina.id — Perang di kawasan Teluk yang melibatkan Amerika Setikat-Iran-Israel memasuki babak yang mengkhawatirkan bagi lingkungan. Serangan terhadap kapal tanker minyak di sekitar Selat Hormuz meningkatkan risiko kebakaran, kapal tenggelam, dan tumpahan minyak dalam skala besar yang dapat merusak ekosistem laut hingga garis pantai negara-negara di kawasan tersebut.
Ancaman itu muncul seiring meningkatnya serangan terhadap kapal tanker yang membawa minyak mentah dan produk petroleum. Jika kapal-kapal tersebut terkena serangan dan mengalami kebocoran, jutaan liter minyak berpotensi masuk ke perairan Teluk.
Selat Hormuz menjadi titik paling rawan karena jalur sempit tersebut dipenuhi kapal yang menunggu untuk melintas.
Data MarineTraffic pada Senin menunjukkan terdapat 42 kapal tanker yang menunggu melintasi Selat Hormuz. Ratusan kapal lainnya juga dilaporkan menunggu atau bergerak dengan kecepatan rendah di Teluk Oman dan kawasan Teluk yang lebih luas.
Dari 42 kapal tanker tersebut, 18 di antaranya membawa minyak. Total kapasitas kargo minyak dan produk petroleum kapal-kapal itu diperkirakan mencapai 1,76 juta meter kubik.
Jumlah tersebut setara sekitar 11,1 juta barel minyak, atau sekitar 11 persen dari kebutuhan minyak dunia dalam sehari.
Besarnya volume minyak yang berada di kawasan konflik membuat setiap serangan terhadap kapal tanker berpotensi berubah menjadi bencana ekologis.
Minyak yang tumpah di laut tidak berhenti di sekitar titik kebocoran. Arus dan angin dapat membawanya ke wilayah yang jauh dari lokasi kejadian, mencemari garis pantai, kawasan perikanan, serta habitat laut yang menjadi tempat berkembang biak berbagai spesies.
Tumpahan Minyak Sudah Terjadi
Sejumlah insiden dalam beberapa bulan terakhir telah menyebabkan kebocoran minyak dan kebakaran kapal di sekitar perairan Oman dan Iran.
Pada awal Juni, kapal tanker Caroline Bezengi kandas sekitar 22 mil laut atau 41 kilometer dari pantai Oman setelah awak kapal melaporkan dugaan ledakan.
Laporan Reuters memperkirakan kapal tersebut membawa sekitar 800.000 barel minyak.
Otoritas Lingkungan Oman memperingatkan tumpahan tersebut berpotensi berdampak terhadap sekitar 40 kilometer garis pantai di sekitar Ras Madraka dan Pulau Masirah.
Insiden lain terjadi pada 3 Agustus ketika Minoan Pioneer, kapal pengangkut barang curah berbendera Liberia, dihantam proyektil tak dikenal di lepas pantai Oman dan terbakar.
Citra satelit yang diambil pada 10 Agustus kemudian menunjukkan adanya tumpahan minyak besar di sekitar Pulau Qeshm. Tumpahan lainnya juga terdeteksi di dekat Pulau Sirri.
Sejumlah ahli menduga tumpahan di Qeshm berkaitan dengan insiden Minoan Pioneer. Namun, sumber tumpahan tersebut belum dapat dikonfirmasi secara independen.
Sejak perang berlangsung, sedikitnya 75 kapal dilaporkan telah menjadi sasaran serangan dan sedikitnya 21 pelaut tewas. Dari berbagai insiden tersebut, dua di antaranya menyebabkan tumpahan minyak dan enam lainnya memicu kebakaran.
Serangan terhadap kapal tanker kembali meningkat pada September.
Pada 5 September, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pasukannya menyerang tiga kapal tanker minyak Iran. Salah satunya berada di lepas pantai Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, sementara kapal lainnya berada di dekat Jask dan Teluk Oman.
Tiga hari kemudian, pada 8 September, Amerika Serikat kembali menyerang lima kapal tanker minyak Iran. Serangkaian serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer di sekitar Selat Hormuz.
Iran kemudian melakukan serangan balasan dan menyatakan telah menargetkan sejumlah kapal tanker serta kapal yang terkait dengan Amerika Serikat.
Dengan semakin banyak kapal menjadi sasaran, risiko lingkungan ikut meningkat.
Teluk Sudah Lama Menanggung Beban Polusi
Dampak potensial tersebut menjadi lebih serius karena ekosistem Teluk sudah lama berada di bawah tekanan aktivitas manusia dan pencemaran minyak.
Fares al-Momani dan Ponnumony Vethamony, peneliti di Pusat Ilmu Lingkungan Universitas Qatar, mengatakan polusi minyak telah menjadi persoalan kronis di kawasan Teluk sejak 1980-an.
“Wilayah ini telah mengalami perkembangan ekonomi, sosial, dan industri yang drastis, dan garis pantainya telah dimodifikasi dan dikembangkan secara ekstensif untuk menampung pabrik desalinasi, pembangkit listrik, anjungan pengeboran minyak, kilang minyak, dan infrastruktur pesisir lainnya,” kata keduanya dalam tanggapan tertulis kepada Al Jazeera.
“Akibatnya, Teluk ini telah menjadi salah satu wilayah laut yang paling terdampak aktivitas manusia di dunia,” tulisnya.
Kawasan tersebut sebelumnya juga pernah mengalami salah satu bencana pencemaran minyak terbesar akibat perang.
Pada 1991, saat pasukan Irak mundur dari Kuwait dalam Perang Teluk, sumur-sumur minyak Kuwait dibakar. Kebakaran berlangsung berbulan-bulan dan minyak mencemari kawasan pesisir Kuwait serta Arab Saudi.
Lebih dari 770 kilometer garis pantai, dari Kuwait selatan hingga Pulau Abu Ali di Arab Saudi, dilaporkan terdampak minyak dan tercemar.
Kerusakan terhadap sedimen pesisir, spesies laut, dan ekosistem berlangsung jauh setelah perang berakhir.
Al-Momani dan Vethamony mengatakan skala pencemaran kala itu begitu besar sehingga upaya penanganan lebih diarahkan untuk membatasi kerusakan ketimbang memulihkan ekosistem sepenuhnya.
Kini, sekitar 35 tahun setelah bencana tersebut, ekosistem yang sama kembali menghadapi tekanan akibat konflik bersenjata.
Terumbu Karang hingga Dugong Terancam
Teluk bukan sekadar jalur perdagangan minyak. Perairan semi-tertutup tersebut memiliki ekosistem yang kompleks, mulai dari terumbu karang, padang lamun, hutan bakau, dataran lumpur hingga rawa asin.
Habitat tersebut menjadi tempat mencari makan dan berkembang biak bagi ikan, penyu, dugong, serta burung migran.
Ekosistem itu juga menopang kehidupan masyarakat pesisir melalui sektor perikanan sekaligus berfungsi sebagai pelindung alami garis pantai.
Persoalannya, Teluk memiliki pertukaran air yang relatif terbatas dengan Samudra Hindia. Karena itu, pencemaran yang masuk ke dalam perairan berpotensi bertahan lebih lama dan memberikan tekanan tambahan terhadap ekosistem yang sudah menghadapi kondisi laut panas dan sangat asin.
Sebuah penelitian Universitas South Florida pada Juni menunjukkan bahwa tumpahan minyak di Teluk dan Selat Hormuz pada Maret, berdasarkan analisis citra satelit, mencapai empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peneliti juga menemukan tingginya kejadian kebocoran minyak dari kapal-kapal yang tertahan di Selat Hormuz maupun di sekitar kapal yang menunggu melintas.
Minyak yang berada di permukaan air dapat menghalangi proses alami di ekosistem laut, mencemari air, serta menutupi terumbu karang dan hutan bakau.
Hussein Samh al-Masroori, profesor madya di Universitas Sultan Qaboos, Muscat, Oman, mengatakan hidrokarbon dari minyak bumi dapat secara langsung memengaruhi ikan, karang, plankton, dan berbagai organisme laut lainnya.
Telur dan larva ikan menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap pencemaran.
“Habitat sensitif seperti terumbu karang, hutan bakau, padang lamun, dan sedimen pesisir dapat menahan polutan untuk waktu yang jauh lebih lama,” kata al-Masroori kepada Al Jazeera.
Dampaknya juga dapat menjalar melalui rantai makanan.
“Dampak tidak langsung juga dapat terjadi melalui perubahan kualitas air, produktivitas jaring makanan, distribusi ikan, dan berpotensi pola pemijahan atau migrasi,” ujarnya.
Bagi masyarakat pesisir, konsekuensinya tidak berhenti pada kerusakan lingkungan.
“Bagi perikanan, hal ini dapat berarti berkurangnya peluang penangkapan ikan, biaya yang lebih tinggi, dan hilangnya pendapatan bagi masyarakat pesisir,” kata al-Masroori.
Ancaman bagi Air Minum
Dampak pencemaran minyak juga berpotensi menyentuh kebutuhan paling mendasar: air bersih.
Negara-negara Teluk sangat bergantung pada teknologi desalinasi untuk memenuhi kebutuhan air penduduknya yang hampir mencapai 65 juta orang.
Iran juga memiliki sejumlah fasilitas desalinasi di sepanjang pantai selatannya. Sebagian fasilitas tersebut berada di kawasan yang terdampak konflik. Sekitar 15 juta orang tinggal di sepanjang garis pantai Iran.
Tumpahan minyak di sekitar fasilitas desalinasi dapat menjadi persoalan serius karena air laut merupakan bahan baku utama dalam proses produksi air tawar.
Al-Masroori menjelaskan kontaminasi minyak dapat menurunkan kualitas air baku, mengganggu proses pengolahan, dan dalam kondisi tertentu memaksa fasilitas desalinasi membatasi operasionalnya.
“Risiko sebenarnya sangat bergantung pada lokasi tumpahan, arus, jarak dan kedalaman saluran masuk, serta teknologi pengolahan,” katanya.
Meski demikian, ia mengatakan teknologi pemantauan dan pengolahan modern dapat mengurangi risiko tersebut.
Kuncinya, kata dia, adalah mendeteksi pencemaran sedini mungkin agar air yang telah terkontaminasi tidak masuk ke sistem desalinasi.
Perang di sekitar Selat Hormuz dengan demikian tidak hanya mempertarungkan kepentingan militer dan jalur perdagangan minyak. Setiap kapal yang terbakar atau tenggelam membawa risiko ekologis yang dapat bertahan jauh lebih lama daripada konflik itu sendiri.
Di laut yang semi-tertutup dan telah lama menanggung tekanan industri, satu tumpahan besar berpotensi menjadi warisan perang yang sulit dipulihkan.
