Awan mendung turun berangsur menututpi terik mentari di Desa Lamedai, siang itu. Hujan mulai turun. Bagi masyarakat Desa Lamedai, Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra) ini, rintik hujan seperti pertanda bahaya. Mereka harap-harap cemas. Hujan kerap membawa banjir yang menerjang kawasan pemukiman dan persawahan. Mereka selalu cemas setiap kali hujan turun. Semang, warga Lamedai, masih ingat betul ketika banjir melanda desa 10 November lalu. Hujan intensitas sedang sekitar pukul 22.00-01.00 WITA membawa banjir besar, menerjang pemukiman dan lahan pertanian. Saat itu, Semang tengah beristirahat setelah pulang berladang. Dia terperangah banjir menggenang seisi rumah. Sekitar pukul 01.00, ketinggian air sekitar 50 centimeter. “Padahal hujan tidak deras, tapi dua jam langsung banjir,” kata Semang. Banjir menggenang berbagai perabotan, pakaian hingga peralatan elektronik meski tak sampai merendam kasur. Semang dan keluarga masih bisa tidur, meski hampir menempel genangan air. Sebelum merebahkan badan, dia sempat melihat-lihat dan menyorot dengan senter keadaan sekitar rumah yang gelap gulita tergenang air. “Jam 1.00 (dini hari) sawah sudah terendam air,” katanya. Dia menduga, banjir merupakan kiriman dari hulu yang hujan besar. Rumah warga yang kebanjiran dengan air berwarna orangye kecoklatan. Foto: Irfan Maulana/Mongabay Indonesia Selama puluhan tahun bermukim di Desa Lamedai, baru kali itu banjir besar hingga merendam pemukiman dan lahan tani. Banjir meninggalkan sedimentasi lumpur yang berdampak pada ratusan hektar lahan tani. Lumpur abu-abu di areal sawah berubah jingga usai banjir. Saat Mongabay datang, lumpur jingga terlihat menutupi sawah. Sebagian sawah bahkan tertimbun lumpur. Sisa-sisa bekas banjir masih terlihat di rumah Semang. Banjir tak lepas dari aktivitas…This article was originally published on Mongabay
Nasib Warga Kolaka Ketika Laut dan Sawah Tercemar Tambang Nikel
Nasib Warga Kolaka Ketika Laut dan Sawah Tercemar Tambang Nikel
0
Share
