Mon,25 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Ketika Lik Gareng Berdoa di Akhir Ramadlan

Ketika Lik Gareng Berdoa di Akhir Ramadlan

ketika-lik-gareng-berdoa-di-akhir-ramadlan
Ketika Lik Gareng Berdoa di Akhir Ramadlan
service

Saya berjalan pelan sambil nyincingke sarung agar tidak jadi sapu jalan. Saya jalan bersama Gareng, yang nama aslinya Warsono, waktu pulang Jumatan. Kami berdua berjalan pelan sambil guyon kecil.

Ketika melewati pos ronda RT 8, Gareng menarik lengan saya sambil bilang, “Mas Dokter, saya mau ngudo roso.”

Saya mengangguk pelan sambil bilang, “Lha kok tumben to Lik, ada yang penting rupanya?” tanya saya.

Gareng tak menjawab, tapi langsung ndlosor di pos ronda yang beralaskan tikar plastik. Saya mengikutinya dengan duduk selonjor sambil senderan di dinding, lalu memulai percakapan lagi.

“Piye Lik? Ada apa?”

Gareng diam sejenak, matanya menatap kosong ke sudut pos ronda. Saya pun membiarkannya. Tampak ada satu wajah keluh dan seperti menggendong beban berat di tubuhnya.

Setelah 2-3 menit, Lik Gareng mulai membuka mulut, bersuara, bertanya, “Mas Dokter, apa sebenarnya amalan yang baik di akhir Ramadhan ini?”

“Lho apa Lik Gareng tidak datang di pengajian Pakde Muhari semalam di langgar kidul?” jawab saya. “Ada kan semalem?” lanjut saya.

“Tapi…,” jawab Gareng.

“Apa kurang jelas?”

“Gini Lik…,” lanjut saya, “Di sepertiga akhir bulan Ramadlan ini, adalah puncak amalan Ramadlan. Diawali dengan puasa, shalat tarawih, tadarus Al-Qur`an, mendahulukan buka, mengakhirkan sahur, bersedekah kepada fakir miskin, baik sama orang di sekitar kita, tidak ngrasani orang.”

“Lalu di sepertiga akhir bulan Ramadlan ini, ada amalan yang bernama i’tikaf di masjid, di malam hari, terutama di sepertiga akhir malam,” lanjut saya. 

“Di malam-malam ini Allah membuka pintu maaf-Nya lebar-lebar, Allah sedang mengadakan sale, membuka obral besar-besaran pintu maaf dan surga.” 

Mulut saya ngecipris, lunyu menirukan isi pengajian Pakde Muhari semalam.

“Lik, menurut pengajian semalam, Pakde bilang bahwa ada doa yang sangat dianjurkan untuk diamalkan dalam malam-malam yang wingit ini…”

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أََسْأَلُكَ الْجنَّةَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan aku berlindung kepada-Mu dari api neraka.”

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemberian maaf, maka maafkanlah aku.”

Lik Gareng duduk melipat lututnya dan dibungkus dengan sarung. Dia menatap saya sesaat, lalu menunduk. Tak lama berselang saya lihat air matanya jatuh menetes membasahi sarungnya.

Saya kaget bercampur heran. Tapi saya masih juga duduk bersandar dinding.

Lalu tak lama berselang, Lik Gareng menangis sesenggukan sejadi jadinya. Sesaat kemudian saya menggeser duduk mendekati Lik Gareng yang sudah mulai agak reda.

“Ada apa sih Lik?” tanya saya dengan lembut dan setengah berbisik.

Belum ada jawaban dari Lik Gareng. Saya pun masih menunggunya.

“Mas Dokter, apa yang Mas Dokter katakan itu sepenuhnya benar. Apa yang dikatakan Pakde Muhari sepenuhnya saya ingat, dan saya hafal doa-doa itu,” kata Lik Gareng.

“Lalu…?” potong saya.

Lik Gareng diam sesaat lalu bilang sambil memandangi saya, lalu berucap, “Ketika mulut saya mengucap Allaahumma innii as-alukal jannah pikiran saya masih melayang dan terbayang atas keirian dan kedengkian saya pada orang orang di sekeliling saya.”

“Ketika bibir dan lidah saya menggetarkan wa a’uudzu bika minan-naar nafsu, gejolak, dan hati saya pedih karena iri dengan kekayaan kawan-kawan saya, lalu berbagai macam siasat sudah saya susun agar saya juga bisa kaya seperti mereka…, dengan cara apapun.”

Lik Gareng kembali menangis sesenggukan.

Agak lama kali ini dia menangis. Dan saya diamkan agar keluar semua ganjalan di dalam hatinya.

“Mas Dokter, aku hafal dan bahkan di luar kepala melantunkan doa-doa itu. Mulutku sangat fasih mengucapkan Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni tapi hatiku, pikiranku, nafsuku belum juga hilang dari maksiat-maksiat duniawi yang masih juga kurindukan.”

“Aku masuk masjid, diam, merenung, tetapi yang ada di otakku adalah gelimang pesta pora dan hura hura.”

“Aku duduk tafakkur, tetapi yang terlintas di otakku adalah aku bangga dengan jabatanku, aku bisa berbuat apa saja dengan itu.“

“Aku sama sekali tidak menghayati i’tikaf.”

“Batal i’tikafku Mas Dokter.”

“Batal sudah, walaupun wujudku duduk terdiam tafakur di dalam Masjid!”

Kami berdua terdiam.

Lik Gareng kemudian bergumam lagi.

“Lalu apakah dengan demikian Allah akan membukakan pintu maaf dan pintu surga-Nya?”

Saya merenung, dan seperti tersadarkan oleh tumpahan kekesalan Lik Gareng. Bahwa saya pun mengalami hal yang serupa.

Saya bisa melafalkan ratusan doa, tetapi saya gagal memetik maknanya!

R24

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.